Ulasan Program Tantangan samalona: cnt_69 dan cahya (lanjutan)

Tambahan dari ulasan puisi cnt_69 (sekaligus menanggapi komentarnya):

Betul bahwa tidak tertulis di sana tentang mencium. Saya hanya mengambil sugesti terdekat untuk memudahkan pembahasan. Justru saya suka sugesti semacam itu. Itulah contoh mengatakan sesuatu tanpa menyebutkan "sesuatu" itu sendiri. Kurang-lebih sama dengan ungkapan show, don't tell. Kelebihan dari cara ini adalah, pembaca akan menambahkan pengertian dari teks itu dengan citarasa sendiri yang tumbuh dari pengalaman, latarbelakang, dan pemahaman yang dimiliki masing-masing. Meskipun intinya sama, imaji yang muncul di benak pembaca menjadi beragam. Ada yang, misalnya, membayangkan wajah seseorang, ada yang membayangkan lengkap dengan rambutnya yang terurai, ada yang membayangkan secara khusus alisnya atau bulu matanya, atau ada yang membayangkan mata yang menatap begitu dekat. Atau, ada yang membayangkan bibir yang tebal-penuh, ada yang membayangkan bibir tipis, ada yang membayangkan kumis.

Terlepas dari bagusnya sugesti pada baris "sebab roda bibirmu mendarati pelupuk", saya masih bertahan pada analisa saya bahwa baris itu menyiratkan kedekatan hubungan yang sudah melampaui proses "dari mata ke hati" yang justru muncul belakangan, sehingga keutuhan puisi ini kurang terjaga.

Satu lagi syarat yang belum saya bahas yang dengan mudah dijawab oleh cnt_69 dan cahya, yaitu menggunakan kata baru atau yang jarang kita dengar. Kekurangan kecil yang dilewatkan oleh mereka adalah, membubuhi keterangan tentang kata-kata itu pada log message. Sesuatu yang tidak harus diberitahu, tetapi mestinya disadari sebagai kebutuhan pembaca yang perlu dipenuhi.

Saya sendiri terkadang sengaja tidak menambahkan keterangan itu, karena menganggap di antara sekian banyak pembaca pasti ada yang mengenali kata tersebut. Dan saya berharap di bagian komentar terjadi percakapan di antara sesama pembaca dan seseorang yang tahu artinya akan berbagi di sana. Itu, dalam situasi postingan biasa. Dalam situasi menjawab tantangan yang secara khusus meminta ada kata baru atau jarang didengar, alangkah baiknya menunjukkan apa yang dianggap sebagai kata baru atau jarang didengar itu, dan apa artinya.

(Saya jadi ingat kalau saya juga belum menambahkan keterangan itu pada puisi saya sendiri di ulasan bagian awal, hehe. Barusan saya tambahkan.)

 

Sekarang saya mencoba membahas puisi yang satu lagi.

 

Sketsa Kemarin

Tema, makna, atau pesan puisi ini tidak akan saya bahas panjang lebar. Kalau pembaca bisa termenung membacanya, atau menikmatinya, saya kira puisi ini sudah sampai kepada pembacanya. Saya sendiri meresapi imajinya yang berkisar pada "bayang", "kelam", "jejak", "kusam", "malam", "tumpukan tanah basah dan nyanyian gagak", "bertabur", "aroma surgawi", "terkubur", "sampah", "kenangan" pada satu dimensi dan pada dimensi lainnya terdapat "guratan masa depan", "tak ada gerimis", "cukup sudah raga bersimpuh", dan "awan pergi bersama angin".

Kelebihan puisi ini mungkin ada yang sekaligus merupakan kekurangannya. Tergantung sudut pandang yang mengapresiasi. Saya pribadi memiliki kecenderungan melihat keutuhan puisi, efektifitasnya dan keseimbangannya. Kalau ada kata atau frase yang sudah dianggap klise tetapi efektif (dalam arti memberi efek tertentu yang berhasil mendukung puisi secara keseluruhan), saya menganggap itu sebagai kelebihan. Contoh dalam puisi ini: baris "Seraut bayang lalu, jatuh". Frase "seraut bayang" sudah biasa, tetapi kata "seraut" digunakan untuk berasonansi dengan "lalu" dan "jatuh". Tentang kelebihan pada puisi ini, saya juga tidak akan membahas lebih panjang lagi; sama seperti saya tidak membahas kelebihan-kelebihan pada puisi jawaban tantangan cnt_69. Pembaca yang sudah akrab dengan tulisan-tulisan cnt_69 dan cahya sudah tahu kelebihan masing-masing penulis ini, atau setidaknya bisa merasakan.

Tentang rima. Ada yang unik tentang rima pada puisi ini. Bait 1 berpola bunyi vokal rima akhir /i/, /uh/, /an/, /ak/, /i/, /uh/, /an/. Bait 2 berpola /i/, /uh/, /in/, /ak/, /i/, /ah/, /an/. Berdasarkan bunyi vokal, beberapa baris itu tidak berima. Tetapi berdasarkan bunyi konsonan, benar berima. Rima yang hanya bersandar pada bunyi konsonan akhir, tanpa dukungan bunyi vokal, jarang ditemui. Apalagi bunyi konsonan /h/ yang dalam fonetik disebut konsonan "tak berbunyi", dan mengikuti bunyi vokal yang ada di sebelahnya. Jadi ini rima yang lemah menurut saya. Kecuali ada alasan dalam menerapkannya, yang mendukung pemahaman puisi secara utuh, saya menganggap pemakaian rima ini kurang berhasil.

Alusi kepada peristiwa menggetirkan dan menggetarkan yang menimpa almarhumah Ibu Ruyati cukup berhasil karena beritanya berskala nasional bahkan bilateral. Masih ada hubungannya dengan tema puisi, tetapi karena diberi porsi sedikit (hanya muncul dalam dua baris) maka cukup memenuhi syarat sebagai "sambil lalu". Sayangnya, baris-baris alusi itu berfungsi juga sebagai baris-baris penutup, sehingga mau tidak mau terasa ada penekanan makna di sana.
Ternyata menggunakan alusi secara sambil lalu itu sulit juga ya. Hmmm.

Dalam puisi yang berpola ketat, tipografi memang perlu diperhatikan. Panjang pendek setiap baris diusahakan agar kurang-lebih sama; jangan sampai ada yang terlalu pendek atau panjang menjorok sendirian. Kalau memang baris pendek atau panjang perlu ada, harus berpola juga. Di puisi ini, baris paling panjang pada setiap bait ada di baris empat. Bait satu membentuk mata panah; dimulai dari baris pendek, memanjang, berpuncak pada baris empat, kemudian memendek lagi. Bait dua tidak mencerminkan bentuk yang sama dan tidak menunjukkan keteraturan tertentu. Mestinya dijaga keseimbangannya. Dalam hal ini, tipografi memang tidak saya sebutkan dalam syarat teknis tantangan, tetapi termasuk dalam syarat "bagus menurut saya".

Kemudian, masalah Ejaan Yang Disempurnakan. Pada bait satu baris empat ada kata-kata "diantara" yang seharusnya ditulis "di antara". Kalau kekeliruan ini terjadi pada penulis baru, masih bisa dimaklumi. Mempertimbangkan jam terbang cahya, seharusnya ini bisa dihindari.

Terlepas dari pengalaman menulis setiap anggota kekom, saya biasanya memperhatikan hal ini. Setidaknya setelah satu tulisan diposting, sempatkan untuk membacanya sekali lagi dan mengecek kekurangan yang sebelumnya terlewatkan. Jangankan karya, komentarpun demikian juga. Kalau dimaksudkan sebagai komentar gaje, itu lain konteks. Tetapi begitu seorang pembaca memilih untuk memberi komentar serius, menunjukkan apa yang bagus dan apa yang kurang mengena bagi dirinya sebagai penikmat sastra, adalah kurang bijak mengritik, misalnya, salah ketik pada sebuah tulisan, sedangkan pada komentarnya sendiri terdapat banyak salah ketik. Ini sedikit di luar jalur pembahasan kita, tetapi saya menggunakan kesempatan ini untuk mengemukakan pendapat pribadi.


Kesimpulan

Sebagai puisi yang berdiri sendiri, saya menikmati membacanya. Sebagai jawaban tantangan, puisi ini tidak lulus.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

wuihhhhhhh mantep mantep dah ulasannya.hehe

100

Cengir aja dah. :D
aku tetep menta bku!
Wkwkwk

100

xixixi thnx mas.... hehehehehe.....

100

ikut menyibak dan menyimak :)

dalam hal tipografi, saya justeru tak suka panjang barisnya terlalu sama ...

100

dengan ini saia menyatakan : PERTAMAXX !!
"show, don't tell" <- sepokat om. ini hal yang paling saia pegang dalam menulis, walaupun kadang2 kiding2 (atau jangan2 sering ya) kebablasan juga. heheehee

siip. ini blum selesai, wacau. hehehe. kuposting trus kuedit lagi, biar selesai. kalo kelamaan mikir juga cepat ngantuk :))

update: ulasan sudah rampung. bahkan nambah bagian penutup. tadinya penutup itu ada di bawahnya bagian lanjutan, tapi kayaknya melewati batas jumlah kata jadi previewnya malah ilang. begitu kupisah, baru deh muncul.

horeee buku2 kita terselamatkan di habitat masing-masing... *hlooo..??

:D,