Kisah Rounan

            Orang-orang bilang, Rounan—sang putra mahkota kerajaan Galeandra—tumbuh tampan layaknya pangeran sejati, namun dua kekurangannya, yaitu karisma dan keberanian bak ksatria perang. Memang Rounan menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan kerajaan, menggeluti buku-buku tebal berdebu dan perkamen tua. Ia jelas haus pengetahuan, lain halnya dengan Liam, sang adik. Prestasinya nyata dalam adu fisik, tak seorangpun para petarung yang menantangnya berhasil membawa pulang kemenangan. Selain itu dirinya memiliki daya tarik luar biasa dengan kepandaian berbicara. Mungkin Liam tidak mengetahui banyak pengetahuan seperti Rounan, namun ia sanggup meyakinkan dan menyenangkan lawan bicaranya dengan mudah, membuatnya disegani rakyat. Sementara Rounan begitu tertutup dan enggan bicara keluar.

            Hal ini tidak luput oleh pengetahuan sang Raja tentu, membuatnya khawatir akan sang penerus tahta. Maka hari itu beliau bertatap muka dengan kedua pangeran, lalu menyiratkan kegalauannya.

            Menjelang tengah malam, Rounan kembali ke ruangannya dengan kepala mendidih. Ia belum pernah merasa dipermalukan seperti ini sepanjang hidupnya, apalagi di hadapan ayahnya. Namun yang lebih membuatnya bergidik adalah apa yang menantinya esok.

            Masih jelas dalam ingatannya, buku dongeng yang pernah ia baca semasa kecil. Tentang seorang penguasa dan ratunya yang dikaruniai putri tunggal, secantik bidadari selembut peri. Begitu sempurnanya sehingga mereka menginginkan pula pasangan sempurna bagi sang putri. Maka ia dikurung dalam sebuah kastil di menara tertinggi dengan pintu masuk yang dijaga oleh monster naga hitam, menanti kedatangan seorang ksatria terhebat yang akan berhasil mengalahkan sang monster, menyelamatkan putri, lalu mereka akan menikah dan hidup bahagia selamanya.

            Sungguh omong kosong, begitu pikir Rounan dulu saat mulai beranjak dewasa. Siapa sangka dongeng itu benar-benar terjadi, terlebih harus dijalankannya besok. Telah jelas perintah sang Raja. Di antara Rounan dan Liam, bagi yang dapat lebih dahulu mencapai kastil terlarang dan membebaskan putri Luna, akan menikahi sang tawanan jelita dan dinobatkan resmi sebagai penerus tahta, tanpa ganggu gugat. Tentu saja hal ini bukan sekedar menentukan penerus tahta, namun juga usaha aliansi perkawinan dengan kerajaan Terran yang selama ini kerap bersaing dan menjadi bebuyutan.

            Maka begitu matahari terbit, Rounan—berlapis baju zirah mengkilat—dan pelayan pribadinya Duelle berangkat memacu kuda mereka dengan semangat berapi-api, sementara Liam tersenyum meremehkan dari atas benteng, bersantai.

            “Sombong sekali tuan muda Liam,” kata Duelle sesampainya mereka di hutan.

            Rounan mengerlingnya yang berkuda pelan di samping, seketika membuatnya salah tingkah.

            “E—eh bukan maksud ham—“

            “Tak apa,” ujar Rounan tersenyum. Ia menepuk gagang pedang di pinggangnya penuh percaya diri, meski hatinya berdebar tak karuan.

            “Aku sering membaca tentang ini,” lanjutnya, “Monster naga, kastil terpencil. Klasik.” Rounan terbahak.

            “Tapi, tuanku, ini bukan cerita dongeng,” jawab Duelle gugup, membuka buntalan yang ia bawa, ”Ini masalah nyawa tuan. Aku membawa peta menuju kesana, juga petunjuk-petunjuk untuk tuanku pertimbangkan. Monster itu bukan lawan enteng.”

            Jawaban yang mengecewakan.

            “Apa kau meragukan kemampuanku juga, Duelle?”

            Pelayan malang itu bungkam, memandang tuannya salah tingkah.

            “Aku muak diremehkan oleh semua orang,” tukas Rounan, mempercepat derap kuda yang ia tunggangi, “Akan kubuktikan kalau aku bukan sekedar kutu buku!” teriaknya, melesat seperti kesetanan.

            Lalu menjelang siang, pepohonan yang sedari pagi mereka lewati kini merenggang, digantikan tanah berbatu tandus. Di kejauhan, sebuah kastil megah berdiri pada tebing curam yang terpisahkan jurang menganga. Rounan menyeringai—meski otaknya kini mulai berputar mencari akal agar tidak terbunuh konyol. Di belakangnya, Duelle tergopoh-gopoh sampai, berantakan dari ujung rambut ke bawah. Buntalan perlengkapan ia dekap asal sementara tangan kirinya masih menggenggam peta menuju kastil yang kini kusut berantakan.

            “Kau bisa simpan petamu yang tak berguna, Duelle,” Rounan tertawa lagi, memacu kudanya—berlagak bak ksatria sejati, “Sudah kubilang aku tahu betul apa yang harus kulakukan. Menyelamatkan putri… bah! Mereka akan menyesal. Begitu mudahnya tertipu dengan pesona Liam yang hanya pintar bicara.”

            Rounan mencabut pedangnya, kemudian mulai awas. Suasana hening diselingi desiran angin, namun suara sang monster tak terdengar dimanapun. Perlahan mereka berkuda mencapai tepi jurang, sebelum akhirnya harus lanjut dengan berjalan kaki menyusuri jembatan gantung.

            “Tu—tuan… rasanya aneh. Kurasa—“

            “Diam kau. Jangan bangunkan naganya,”

            Mengendap-endap seperti maling, keduanya menyeberang, menyelinap dari pintu utama dan mengahadap sebuah ruangan megah yang tidak terurus dengan lantai berlapis debu tebal.

            “Konyol sekali,” bisik Rounan, “Orang tua macam apa yang mengurung putrinya di tempat seperti ini hanya untuk mencarikannya pasangan.”

            Duelle bercucuran keringat di belakangnya, membolak-balik gugup perkamen yang ia bawa, tengah mencari apapun yang bisa membantu mereka keluar dengan selamat, ketika raungan terdengar dari kejauhan.

            “Ke puncak menara!” desis Rounan.

            Ia melesat cepat ke tangga meninggalkan Duelle yang masih terdiam mendelik ketakutan. Dua tiga anak tangga sekaligus ia lompati. Pedangnya terhunus mantap.

            Tangga batu itu melingkar naik, panjang seakan tak berujung. Nafas Rounan tersengal putus-putus saat akhirnya pijakan tangga terakhir ia langkahi. Tak ada tanda-tanda Duelle yang mengekor.

            “Lambat,” gerutu Rounan, “beribu-ribu kali kusuruh dia berolah-raga.”

            Raungan kembali menggema di kejauhan. Kali ini panjang dan membuat bulu kuduk meremang.

            Mengabaikan pelayannya, Rounan buru-buru melangkah ke sebuah koridor pendek dengan pintu tunggal  di ujung. Megah dan tergurat ukiran cantik.

            “Showtime,” Rounan tersenyum, menutup pelindung kepalanya dan mendorong pintu kayu itu.

            Kosong.

            Tidak bahkan perabotan kecil sekalipun. Lantainya berdebu tebal, polos tanpa jejak. Tembok batu itu retak di sana sini berhias sebuah jendela segi empat di seberang pintu.

            “Apa maksudnya ini!”

            “Tuanku!” Duelle menjeblak masuk, bersandar pada tembok, menggap-menggap kehabisan nafas

            “Sialan. Apa ini semacam trik?” Rounan mengabaikan pelayannya, menyusuri setiap bongkah batu di lantai dan dinding, mencari petunjuk. Sementara Duelle membelalak, baru menyadari ruangan itu kosong.

            “T—tuanku! Kamarnya kosong!”

            “Aku tahu, otak udang!” sergah Rounan, “Cepat cari petunjuk! Sebelum naga itu datang.”

            Keduanya merangkak, memukul, mencungkil, dan mendorong tiap jengkal ruangan itu namun nihil. Duelle baru saja mulai membuka-buka lagi buntalan perkamennya saat kembali raungan itu terdengar. Tetap di kejauhan, seakan ada yang mengganggu dan menahan monster itu di sana.

            “Dimana naga itu,” gumam Rounan, beranjak menuju jendela dan mengamati dataran luas dari ketinggian menara.

           Kemudian matanya menangkap sebuah siluet. Bangunan tinggi megah, hitam agak terselubung asap debu di kejauhan. Sebuah bayangan kecil hitam bersayap berputar-putar di atasnya mengitari puncak. Hatinya mencelos.

            “Oh!” seru Duelle tiba-tiba, “Tuanku! Aku tahu kenapa ruangan ini kosong! Kau perlu melihat ini!”

            Ia menyodorkan secarik perkamen tua kusut. Sebuah peta.

            Rounan tak menyambutnya, kembali memandang kejauhan. Lemas.

 

            Sialan. Aku salah kastil.

 

           

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Chlochette
Chlochette at Kisah Rounan (9 years 35 weeks ago)
100

Whuaaaaaah!
Bagus banget (>"<)
Bener-bener ngakak baca endingnya.

Writer H.Lind
H.Lind at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)
80

Ketawa saya baca endingnya. :D
Terlalu PD rupanya. :P

Writer 145
145 at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)
90

Hummm bagian akhirnya seharusnya bisa lebih seru! >_<
.
.
.
.
Tapi salah kastil boleh juga tuuh.
daripada salah putri >_<

Writer mustika
mustika at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)
70

haduh... ceritanya bener2 menghibur.
akhir yang tak terduga. :D

Writer Zhang he
Zhang he at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)

Thanks udah mampir ^_^

Writer cyber_nana
cyber_nana at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)
100

poin.. :D

Writer Zhang he
Zhang he at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)

Muah muah XD thanks!

Writer modezzty
modezzty at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)
90

lho lho..heh ?
Nyasar ??
Hahahaha..
Idenya Keren nih,
dilanjutin gk ?
karakter si pangeran kutu buku kerasa. Sip dah.. :D
nb : kalo point gk nongol, maklum d hp ol na :p

Writer Zhang he
Zhang he at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)

Waduh... cuma one-shot story aja kok ini XD

Writer alexia_dee
alexia_dee at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)
70

hahaha... Endingnya itu lho... *GUBRAK*
ini sih crta fantasy kocak.
Lumayan menghibur zhang he :D
salam kenal^^

Writer Zhang he
Zhang he at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)

Salam kenal :D thanks ya udah mampir

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)
90

Ahahaha...
ternyata percuma jadi kutu buku kalo nggak bisa baca petaaa...
XDDDDDD

Writer Zhang he
Zhang he at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)

XD lebih tepatnya sombong, gak mau baca peta

Writer Yafeth
Yafeth at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)

Kena penyakit "Prince charming" kali? Cakep doang tapi isi kepalanya nggak ada :P

Writer cyber_nana
cyber_nana at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)

eh? ini dah tamat?
ya ampuun... endingnya.. haha..

*poin nyusul yaaa*

Writer Zhang he
Zhang he at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)

Eh? memangnya mau dilanjut? O.o

Writer Yafeth
Yafeth at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)
90

Twisting yang menarik :D
Sudah seru-serunya menunggu apakah tuan putri akan diselamatkan oleh pangeran yang kelihatannya geblek, eh, malah yang bersangkutan salah kastil.
Beneran geblek euy :P

Writer Zhang he
Zhang he at Kisah Rounan (10 years 16 weeks ago)

Ahaha makasih