Startling Surprises At Every Step (步步惊心) - Chapter 4 Part 5

Chapter 4 - Part 5

 

Aku duduk di kereta kuda bersama Pangeran ke Empatbelas. Sepanjang jalan, tak ada yang bicara.

Melihat Jie-jie tak menanyakan apapun saat aku pergi, Pangeran ke Delapan pasti sudah memberitahukan semuanya. Kereta yang kami tumpangi akhirnya sampai di gerbang depan istana. Kami turun dan beralih naik tandu. Setelah kira-kira lewat setengah hari, akhirnya tandu kami berhenti dan seorang dayang muncul untuk membantuku turun.

Pangeran ke Empatbelas mengantarku sampai ke sebuah halaman kemudian berhenti dan menuding pintu di hadapan kami, “aku takkan masuk bersamamu.”

Aku mengangguk dan sudah berjalan beberapa langkah sebelum kemudian dia menambahkan, “aku tak bisa lama-lama menahan para kasim. Cepatlah.”

“Baik,” ujarku sebelum memasuki pintu itu.

Begitu masuk, kudapati diriku berada di ruang tamu. Bisa kucium aroma keras alkohol menguar ke seluruh ruangan tapi tak seorangpun berada di sana. Aku melirik ke salah satu sisi ruangan sebelum berjalan melewati tirai manik-manik, membuat manik-maniknya saling berbenturan, menghasilkan suara yang merdu.

Pangeran ke Sepuluh berbaring miring di tempat tidur. Dengan masih memejamkan mata, dia berteriak, “kubilang tinggalkan aku sendiri! Keluar!”

Aku segera maju dan hampir mengatakan sesuatu saat kusadari kalau aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Pangeran ke Sepuluh tiba-tiba membuka matanya dengan marah. Saat melihatku, kemarahan di matanya berubah menjadi rasa terkejut, kemudian kesedihan. Pelan-pelan dia bangkit dan duduk.

Aku duduk di salah satu bangku, memungut teko arak di atas meja dan mengguncangnya sebelum meletakkannya kembali. Masih ada arak tersisa di dalamnya.

Untuk sesaat aku berdiam diri, kemudian bertanya, “apa Anda ingin terus-terusan mabuk seperti ini? Apa Anda pikir kalau Anda mabuk maka Anda tak perlu menikahi Mingyu Ge’ge?”

Pangeran ke Sepuluh tak mengatakan apapun hingga akhirnya berkata, “aku hanya merasa gelisah.”

“Kenapa?” tanyaku.

Dengan kepala menunduk, Pangeran ke Sepuluh memakai sepatunya. “Masa kau tak tahu?” ujarnya frustrasi.

Aku tak merasa segugup saat pertama kali memasuki ruangan dan bisa dengan kalem menjawab, “pertama-tama, Anda tak menyukai Mingyu Ge’ge tapi tetap harus menikahinya. Kedua, Anda menyimpan perasaan pada diri saya tapi tak bisa menikahi saya.”

Pangeran ke Sepuluh berdiri dan ikut duduk di sisi meja. Dia mengambil teko arak dan menuangkan secawan arak untuk dirinya sendiri kemudian memandangi cawan dalam genggamannya dengan tatapan kosong. Beberapa saat kemudian dia bertanya pelan, “apa kau bersedia menjadi Ce’fujinku?”

Untuk sesaat aku terpana, sama sekali tak siap menghadapi percakapan seperti ini. Aku benar-benar lupa kalau di masa lampau, memiliki beberapa orang istri adalah hal yang lumrah.

Pangeran ke Sepuluh menatapku penuh damba dengan wajah berharap. Dengan tulus dia berkata, “aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik, aku akan...”

Buru-buru kusela ucapannya, “saya tak bersedia.”

Pangeran ke Sepuluh menggertakkan giginya, memandangku, dan mengangguk. Tiba-tiba dia mengangkat cawannya dan meminum araknya dalam sekali tenggak.

“Aku tahu! Bahkan meski aku ingin menjadikanmu sebagai Di’fujinku, kau mungkin takkan setuju. Sebelumnya aku memiliki sedikit harapan, tapi sekarang,” tawanya pahit, “mustahil.”

Kuambil dan kuamati cawan araknya. “Kalau Anda sudah tahu, maka bersikaplah dewasa. Jangan membuat Bei’le khawatir atau membuat Kaisar marah.”

Pangeran ke Sepuluh kembali menuang secawan arak dan meminumnya. “Aku sudah mematuhi perintah Ayahanda Kaisar. Apa aku tak boleh mengungkapkan perasaanku sendiri?”

Aku mengambil teko araknya dan menuang secawan untuk diriku sendiri. “Anda sudah menerima hal yang besar. Jadi mengapa melakukan hal-hal kecil seperti ini yang hanya akan ‘menyakiti keluargamu dan menyenangkan musuhmu’?”

Aku menenggak araknya dan - mungkin karena terlalu cepat meminumnya – tersedak. Dengan saputangan kututupi mulutku dan memuntahkan araknya sambil terbatuk-batuk. Aku sedang mengusap bibirku saat Pangeran ke Sepuluh bertanya dengan nada suara rendah, “Ruoxi, pernahkah kau menyukaiku?”

Aku mendongak dan melihat rasa mendamba, penghargaan, dan takut berbaur di matanya. Kuturunkan pandanganku, meremas-remas saputangan dalam genggamanku dan selang beberapa saat, dengan suara pelan kujawab, ”saya pernah menyukai Anda.”

Pangeran ke Sepuluh menghela napas kemudian terkekeh, “Ruoxi, aku benar-benar senang. Apa kau tahu? Beberapa hari belakangan ini, aku ingin menanyakan hal itu padamu, tapi aku takut dengan jawabanmu.” Dia menenggak secawan arak lagi. “Jangan khawatir. Mulai saat ini, aku akan baik-baik saja. Aku akan mengenang saat kau bernyanyi untukku, membuatku begitu gembira, menjadi bersedih karenaku. Dan karena itu, aku akan bisa tertawa kembali.”

Pangeran ke Sepuluh berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan, “sejak aku kecil, semua orang menganggapku bodoh. Aku tak bisa belajar dengan baik dan kemajuanku juga lambat. Mereka tak tahu kalau aku telah berusaha mati-matian. Tak peduli seberapa besarpun usahaku, aku tetap tak bisa menyamai Kakak ke Empat, ke Delapan, atau bahkan Adik ke Empatbelas. Mereka hanya perlu membaca sesuatu sekali dan langsung bisa menghapalnya di luar kepala. Aku harus membacanya tiga kali dan masih belum hapal juga. Apapun yang dikatakan oleh Ayahanda Kaisar, mereka dengan cepat bisa memahaminya; sementara aku harus memeras otak seharian dan masih belum juga paham. Emosiku juga buruk dan berkali-kali hal itu membuatku berada dalam masalah. Orang-orang akan menertawakan dan mengejekku di belakang. Hanya Kakak ke Delapan yang peduli dan mau melindungiku.”

Dia berhenti lagi sebelum kemudian bertanya dengan merana, “Ruoxi, apa kau pikir aku ini bodoh?”

Aku terkikik, “tentu saja! Kalau tidak, bagaimana saya bisa mengerjai Anda selama ini?” Aku berhenti sejenak. “Tapi alasan saya suka bermain dengan Anda adalah karena Anda bodoh dan selalu menunjukkan perasaan Anda dengan jujur. Jika Anda senang, maka Anda akan bersenang-senang. Jika Anda sedih, maka Anda akan bersedih. Jika Anda menyukai sesuatu, maka Anda menunjukkan rasa suka itu. Jika Anda membenci sesuatu, Anda juga akan menunjukkannya. Anda tak seperti orang-orang munafik itu, yang wajahnya penuh senyum tapi di dalam hati menyimpan kedengkian. Karena itulah, di depan Anda, saya bisa tertawa lebar bila merasa senang dan sebaliknya. Tahukah Anda? Saat bersama Anda, saya merasa gembira, benar-benar gembira.”

Selama aku bicara, Pangeran ke Sepuluh memandangiku, tapi dia segera memalingkan wajah dan terdiam saat aku selesai bicara.

“Aku juga senang sekali,” bisiknya dengan suara serak.

Untuk sejenak kami berdua sama-sama tak tahu harus berkata apa dan hanya bisa duduk dalam diam. Akhirnya kudengar suara Pangeran ke Empatbelas, “kita harus segera kembali!”

Aku berdiri, menuangkan arak ke dalam dua buah cawan dan menyodorkan satu pada Pangeran ke Sepuluh. Kuangkat cawanku dalam gerakan bersulang, meminumnya, kemudian meletakkan cawannya ke meja. Melihatku menghabiskan arakku sendiri, dia juga menenggak miliknya.

Aku tersenyum dan menekuk lutut dalam gerakan menghormat. “Ruoxi ingin berpamitan,” ujarku sebelum kemudian menyibak tirai manik-manik dan melangkah pergi.

 

End of Chapter 4

 

Footnotes:

- Di'fujin = istri pertama / istri utama

- Ce'fujin = istri kedua / istri muda / selir

Read previous post:  
Read next post:  
90

Aaaa pangeran ke sepuluh nasib yah nasib. Thieeen aaaa. Wei sem mooo.

#plaaak ditabok kurenai.

Walah, saya nggak hobi nabok2 kok mak, tenang aja :)
Tapi... kan kalo Ruoxi jadian sama Pangeran ke 10, ceritanya selesai sampai di sini dong

100

Kasian Pangeran ke 10

90

lanjuut...

100

wuuiiihhhh. percakapan mereka sungguh menyentuh. hampir menangis ku karenanya. kasihan sekali pangeran 10.
.
btw, di awal cerita dibilang kalo: setelah lewat setengah hari. itu istana segitu besarnya? sampai harus makan waktu 12 jam-an untuk sampai ke tempat 10 age?

Mungkin hitungannya setengah hari itu cuma siang ya
jadi kira2 6 jam gitu?
Eng... bayangin perlu waktu 6 jam naik tandu... segede apa ya tempatnya