My Rat My Love - Seratus Bunga (1/2)

Kaifeng, Dinasti Song Utara, masa pemerintahan Kaisar RenZong.

 

Seperti biasa, pagi yang cerah di kota Kaifeng. Para penduduk kota berseliweran di jalan, para pedagang ramai berteriak menawarkan dagangannya yang digelar di pinggir jalan. Di depan Kaifeng Fu, kantor pemerintah tempat Gubernur Bao Zheng bertugas, berdirilah tiga sosok manusia.

“Jadi hari ini Tuan Bao dan Perwira Zhan sedang tidak di tempat?” tanya seorang pemuda berwajah manis yang mengenakan topi dan pakaian pelajar berwarna hijau.

“Begitulah, Tuan Pu... maksud saya Tuan Muda Zhao,“ jawab seorang pria setengah baya - Gongsun Ce - yang ditanyai si pemuda. Hampir saja dia kelepasan bicara. Si pemuda, yang tak lain adalah Putri Mingyue yang sedang dalam penyamaran, melotot memperingatkan.

“Tuan Bao dan Perwira Zhan sejak dua hari yang lalu pergi ke SuZhou untuk menginspeksi para korban banjir yang terjadi di sana. Saya tak tahu kapan mereka akan pulang,” sambung Gongsun Ce.

“Hahahaha... jadi rencanamu untuk menonton persidangan Tuan Bao kali ini gagal total ya, Kucing Kecil,” tawa seorang pemuda berbaju putih sambil melipat tangannya di depan dada.

Mingyue meliriknya dengan sebal. “Huh, padahal aku sudah susah payah membujuk dan merayu Kakanda Kaisar agar bisa keluar... dan sekarang Kaifeng Fu malah sepi begini... Aiiih, padahal aku punya waktu senggang sampai matahari terbenam...” omel gadis itu.

“Ah, bagaimana kalau Anda berdua masuk dan beristirahat dulu di dalam?” tawar Gongsun.

Mingyue melihat pintu masuk Kaifeng Fu yang lengang. ‘Masa aku susah payah keluar istana hanya untuk kembali terkurung, menganggur seharian di dalam Kaifeng Fu?’ pikirnya. Maka Mingyue tersenyum dan berujar, “terima kasih atas tawaran Anda, tapi... saya ingin berjalan-jalan di kota. Siapa tahu ada hal menarik yang bisa dilihat.”

Gongsun tersenyum penuh pengertian. “Kalau begitu bagaimana kalau kalian pergi ke bagian Barat Kaifeng? Saya dengar hari ini ada sebuah restoran yang baru dibuka dan pemiliknya mengadakan berbagai pertunjukan yang meriah. Mereka sampai mengundang kelompok akrobat dan juga mengadakan Biwu* dengan hadiah yang cukup besar...”

Mendengar kata ‘Biwu’, mata Mingyue langsung berbinar-binar. Gadis itu menoleh ke arah pemuda di sampingnya – Bai Yu Tang – dengan penuh semangat. Bai Yu Tang juga tersenyum lebar ke arahnya. Mingyue segera menoleh kembali ke arah Gongsun. “Kalau begitu sudah diputuskan! Kami akan pergi melihat pertunjukan di sana. Tuan Gongsun mau ikut juga?” tanya Mingyue ceria.

Gongsun tertawa dan mengelus-elus janggutnya. “Hahaha... saya ini sama sekali tak mengerti silat, jadi tak ada gunanya saya menonton Biwu. Lagipula masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di Kaifeng Fu. Tuan Muda Zhao dan Pendekar Bai pergilah bersenang-senang. Oh, sebaiknya saya meminta beberapa pengawal menyertai Anda karena di sana pastilah ramai sekali.”

Mingyue langsung menggeleng sekuat tenaga. “Jangan! Para pengawal hanya membuat kami susah bergerak dan malah jadi mencolok. Ya ampun, tadi Kakanda Kaisar juga mengatakan hal yang sama, dan dengan susah payah aku menolaknya. Anda tahu, saya sengaja menggunakan penyamaran ini, bukannya arak-arakan megah dengan tandu dan rombongan pengawal, untuk ‘menyembunyikan pohon di tengah hutan’. Si Tikus ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi penjaga saya, jadi tak perlu ditambah dengan pengawal yang merepotkan,” ujar Mingyue sambil menunjuk ke arah Bai Yu Tang di sisinya. Yang ditunjuk mengangkat dagunya dan menyunggingkan senyum meremehkan.

“Oh, baiklah kalau begitu. Ah setidaknya Anda membawa...” ujar Gongsun sambil memanggil seorang pengawal jaga di gerbang Kaifeng Fu dan membisikkan sesuatu padanya. Si pengawal bergegas masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar membawa dua buah payung. Gongsun menerima benda itu dan mengangsurkannya pada Mingyue. “Ini, bawalah ini,” sambung Gongsun.

“Eh? Untuk apa membawa payung? Langit begitu cerah, kok. Lagipula, mataharinya tak terlalu terik sehingga harus menggunakan payung.” Mingyue menatap Gongsun dengan kebingungan.

“Meski sekarang cerah, dari kondisi udara saat ini, saya rasa tak lama lagi hujan akan turun. Jadi lebih Anda membawanya untuk berjaga-jaga,” jawab Gongsun.

Meski masih meragukan ucapan pria itu, Mingyue akhirnya menerima juga benda itu. “Terima kasih,” gumamnya. Gongsun hanya tersenyum dan mengangguk.

Mingyue dan Bai Yu Tang berpamitan dan berbalik pergi. Gongsun Ce hanya tersenyum sambil menggeleng pelan dan mengelus-elus janggutnya saat memandangi punggung keduanya menghilang di balik kerumunan.

 

***

 

Di salah satu sisi jalan utama kota, berdiri sebuah restoran baru yang berukuran cukup besar dengan papan kayu bertuliskan ‘Restoran Seratus Bunga’ tergantung di atasnya. Sepintas saja dilihat dari arah pintu depan yang terbuka lebar, jelas terlihat kalau tempat itu sudah penuh sesak oleh pengunjung. Para pelayan hilir mudik di antara meja-meja yang berjajar rapi, saling meneriakkan pesanan para pelanggan baru mereka ke arah dapur.

Tapi meski – seperti layaknya restoran-restoran yang baru dibuka - restorannya penuh sesak, pemandangan itu bukanlah apa-apa dibandingkan dengan apa yang terletak tak jauh dari situ. Sebuah panggung yang cukup megah berdiri di salah satu sisi alun-alun kota. Berbagai ornamen yang terbuat dari kertas berwarna-warni menghiasi bagian belakang panggung dan sebuah papan bertuliskan “Perayaan Pembukaan Restoran Seratus Bunga” tergantung di tengah-tengahnya. Orang-orang berdesak-desakan di bawah panggung dengan wajah ingin tahu, saling mengobrol dan tertawa-tawa.

Seperti yang diceritakan Gongsun sebelumnya, di atas panggung sedang diadakan pertunjukan akrobat. Masing-masing penampil mempertontonkan kebolehannya. Ada yang sibuk menelan pedang, menyemburkan api, melakukan atraksi melipat tubuh dan menangkap piring dengan kaki, dan ada pula yang berjalan menyebrangi seutas tali yang dipasang amat tinggi di udara. Dua ekor barongsai berwarna kuning dan merah menari-nari mengelilingi panggung, saling mengoperkan bola bersulam berwarna merah diiringi tabuhan genderang dan alat musik lainnya.

Mingyue dan Bai Yu Tang menerobos ke tengah-tengah kerumunan penonton hingga akhirnya berhasil tiba di barisan depan penonton. Mulanya mereka tertarik dengan pertunjukan itu, tapi setelah beberapa saat, keduanya mulai merasa bosan. Memang, yang mereka nantikan bukanlah pertunjukan akrobat ataupun barongsai, melainkan acara Biwu yang tampaknya akan diadakan setelah pertunjukan akrobatnya usai.

Matahari semakin tinggi di langit, penonton yang berkerumun pun semakin banyak. Para pengunjung restoran yang sudah menyelesaikan santapannya dan tak punya kegiatan lain ikut menjadi penonton. Kini setelah jam makan usai, perlahan tapi pasti restorannya pun mulai sepi. Para pelayan sibuk membereskan meja dan kursi, mungkin berharap agar tidak ketinggalan menonton Biwu.

Akhirnya musik yang mengiringi tarian barongsai berakhir. Orang-orang di kelompok akrobat menyelesaikan pertunjukan mereka kemudian berdiri berjajar di atas panggung, membungkuk ke arah penonton diiringi tepukan tangan meriah. Setelah kelompok akrobat itu turun, seorang wanita berjalan dengan anggun ke tengah panggung dan mulai berbicara dengan suara nyaring dan jernih.

“Selamat siang, bapak dan ibu serta saudara-saudara warga kota Kaifeng yang terhormat. Hari ini perkenankan saya, Bai Hua**, meresmikan pembukaan Restoran Seratus Bunga saya. Saya berharap Anda sekalian terhibur dengan pertujukan tadi. Untuk lebih memeriahkan suasana hari ini, berikutnya akan diadakan Biwu dengan Anda sekalian sebagai pesertanya. Peraturannya sederhana, yaitu tak boleh menggunakan senjata dan tak boleh membunuh lawan. Hadiah lima puluh tail perak dan makan gratis sepuasnya di restoran saya sudah tersedia!” 

Mingyue tak mendengar kelanjutan pidato itu dan hanya bisa terpana melihat wanita pemilik restoran yang sedang berdiri di atas panggung itu. Wanita bernama Bai Hua itu sepertinya berusia sekitar dua puluhan. Parasnya luar biasa cantik, dan bahkan Mingyue yang seorang gadis pun terpana melihatnya.

Wajahnya berbentuk oval dengan mata hitam yang berkilauan di bawah naungan alis yang melengkung indah. Bibir tipisnya dipulas pewarna bibir merah muda, membentuk seulas senyum menawan. Kulitnya putih dan tampak berkilau di bawah cahaya mentari. Kerah pakaian yang agak terbuka menampakkan leher jenjangnya yang mulus tanpa noda. Tubuhnya langsing dengan lekukan menggiurkan yang semakin ditonjolkan oleh cara berpakaiannya. Tatanan rambut hitam yang disanggul sederhana semakin menambah keanggunan penampilannya. Saat berjalan tadi, langkahnya tampak begitu ringan, membuat Mingyue yakin kalau wanita ini sedikit banyak menguasai ilmu silat. Suaranya merdu dan terdengar jelas meski wanita itu tak berteriak.

Bila Mingyue saja sampai terpesona, bayangkan bagaimana reaksi para penonton lainnya yang sebagian besar terdiri dari kaum pria. Selama Bai Hua berbicara, para penonton yang sebelumnya begitu berisik tiba-tiba seperti kehilangan suaranya. Semua orang seperti sudah tersihir oleh pesona yang dipacarkan wanita pemilik restoran itu hingga hanya bisa memandanginya dengan mulut terbuka lebar. Reaksi mereka seperti orang yang menyaksikan bidadari turun dari khayangan.

Iseng-iseng Mingyue melirik ke arah Bai Yu Tang yang berdiri di sampingnya, ingin tahu bagaimana reaksi Sang Tikus Berbulu Emas yang biasanya selalu membanggakan dirinya sendiri itu. Yang tak disangka oleh Mingyue, Bai Yu Tang memang tampak terpana, tapi ekspresi terpananya berbeda dengan yang ditunjukkan orang-orang lainnya. Bila penonton lain kelihatan terpesona dan jatuh hati, ekspresi pemuda itu justru menunjukkan gabungan rasa kaget, tak percaya, dan khawatir. Bibirnya komat-kamit tak jelas. Baru kali ini Mingyue melihat wajah panik Sang Tikus Berbulu Emas. Bai Yu Tang tampaknya mengenali siapa wanita itu.

“Yu Tang! Apa kau mengenal wanita pemilik restoran baru itu?” bisik Mingyue sambil menarik-narik lengan baju Bai Yu Tang.

Bai Yu Tang tersadar dari kondisi shock-nya dan langsung gelagapan dengan pertanyaan yang dilontarkan Mingyue tadi. “Eh... ti... tidak, ma... mana mungkin aku mengenalnya!” elak pemuda itu dengan nada panik sambil menggelengkan kepalanya mati-matian.

Mendapati reaksi seperti itu, tentu saja kecurigaan Mingyue makin besar. ‘Dia berbohong!’ batin Mingyue. Gadis itu memicingkan mata dan melirik tajam ke arah Bai Yu Tang dengan tatapan menuduh. “Kau pasti mengenalnya!” desis Mingyue.

Bai Yu Tang berusaha menenangkan dirinya, memasang ekspresi datar yang tak bisa dibaca, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Tangannya bersidekap di depan dada sambil memeluk pedangnya, pertanda kalau dia tak mau lagi mengatakan apa-apa. Mingyue hanya bisa menggertakkan gigi dengan kesal melihat sikapnya itu. Ingin sekali gadis itu berteriak frustasi, tapi mengingat mereka berada di tengah kerumunan orang, dia berusaha menahan diri. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan kembali melihat ke arah panggung.

Rupanya saat Mingyue sibuk menginterogasi Bai Yu Tang, acara Biwu sudah dimulai. Dua orang pria berukuran tubuh sedang asyik bergelut di atas panggung, masing-masing berusaha menjatuhkan lawannya. Sementara itu, Bai Hua sudah duduk di sebuah kursi yang terletak di sudut belakang panggung, bertopang dagu mengamati para petarung dengan seulas senyum tipis menghias bibirnya.

Salas seorang petarung berhasil melemparkan lawannya ke luar arena dan dengan bangga mengacungkan tinjunya ke udara. Penonton riuh bertepuk tangan menyemangati. Selanjutnya seorang pria lain melompat dari tengah kerumunan dan menantang si pemenang. Pertarungan kembali dimulai. Dan begitulah selanjutnya hingga tak ada lagi yang bersedia naik ke atas panggung untuk menantang si pemenang.

Bai Hua berdiri dan berjalan mendekati si pemenang. Sambil meletakkan sebelah tangan di bahu si pemenang, wanita itu mengumumkan, “apakah ada lagi yang mau menantangnya? Ayolah, tak adakah di antara tuan-tuan sekalian yang memiliki keberanian dan kemampuan untuk maju?” Wanita itu mengedarkan pandangan ke arah kerumunan dengan sorot mata menantang. “Hmmm... bagaimana kalau hadiahnya saya tambah dengan sebuah kecupan di pipi?” tambahnya dengan senyum menggoda sambil mengedipkan sebelah mata.

Kontan para penonton langsung heboh berteriak-teriak dan saling dorong. Mereka berebutan naik ke atas panggung dan pertandingan pun dimulai kembali. Dengan raut wajah puas, Bai Hua melenggang pergi dan duduk kembali di bangkunya.

Di tempatnya berdiri, Mingyue mulai menggerutu. “Dasar laki-laki! Hanya dengan sedikit rayuan, mereka semua berubah menjadi seperti kawanan serigala yang berebut mangsa. Aku jadi penasaran, bila aku yang menang, apakah Bai Hua itu juga akan menciumku?” Dengan ucapan itu, Mingyue mengambil ancang-ancang untuk melompat.

Bai Yu Tang yang menyadari niat Mingyue itu buru-buru menarik tangannya sambil menggelengkan kepala. “Jangan sembarangan! Bukankah kita sudah sepakat untuk tak melakukan tindakan yang menarik perhatian? Lebih baik kita pergi dari sini dan kembali ke Kaifeng Fu.”

Mingyue memelototi Bai Yu Tang dengan sengit dan menyentakkan tangannya hingga lepas dari genggaman pemuda itu. “Kau tak berhak mengaturku. Aku akan melakukan apapun yang kusuka!” semburnya. Setelah mengatakan itu, Mingyue langsung melompat dan melayang ke arah panggung. Bai Yu Tang ternganga melihat sikap Mingyue yang tiba-tiba menjadi galak dan tak sempat lagi menahannya.

Mingyue mendarat dengan ringan di atas panggung dan berdiri menghadap ke arah penonton. Gadis yang berpakaian pria itu bersoja dan dengan suara diberat-beratkan berkata, “saya, Zhao Yun ingin ikut berpartisipasi dalam Biwu ini.” Kemudian dia menghadap ke arah pemenang terakhir yang masih berdiri di atas panggung dan bersiap-siap. “Mari!”

Setelah saling memberi hormat, pertarunganpun kembali terjadi. Mingyue yang mendapat pelatihan dari Zhan Zhao, Sang Pendekar Selatan yang terkenal jelas bukan lawan sembarangan. Dalam beberapa jurus, gadis itu berhasil melompat ke belakang lawannya dan dengan satu pukulan keras menghantam tengkuknya. Lawannya itu langsung tersungkur di lantai, pingsan.

Para penonton semakin riuh berteriak-teriak. Mereka benar-benar tak menyangka kalau pemuda bertubuh kecil dan berwajah manis itu bisa menumbangkan lawannya yang jauh lebih besar dengan mudah. Beberapa orang lagi maju untuk mengadu keberuntungan, tapi akhirnya mengalami nasib yang sama dengan lawan pertama Mingyue.

Pertandingan terus berlanjut hingga akhirnya tak ada seorangpun yang berani maju melawan gadis berpakaian pria itu. Mingyue mengedarkan pandangannya ke arah penonton dan memfokuskan tatapannya pada Bai Yu Tang. Sebenarnya Mingyue berharap kalau Bai Yu Tang juga ikut maju, tapi ternyata dia hanya berdiri diam dan memandangi gerak-gerik gadis itu dengan ekspresi yang sulit dibaca artinya. Melihat sikap Bai Yu Tang yang cuek, kemarahan yang sejak awal ditahan oleh Mingyue akhirnya meledak.

“Apakah tak ada lagi yang berani maju melawanku? Hah! Ternyata hanya segini kemampuan pria-pria yang mengaku sebagai lelaki sejati!” ejeknya. Tiba-tiba Mingyue menghadap ke arah Bai Hua dan menudingnya. “Kalau tak ada lagi yang mau bertarung, bagaimana kalau Anda saja yang maju, Nona Bai Hua? Sejak tadi Anda hanya melihat sambil tersenyum-senyum dan memanas-manasi orang. Apakah Anda mengadakan Biwu ini untuk mendapat tontonan gratis? Jadi Anda menganggap kami semua ini seperti ayam aduan?!” teriaknya lantang.

Mingyue melirik ke arah kerumunan dan memperhatikan reaksi Bai Yu Tang. Tepat seperti dugaan gadis itu, wajah Bai Yu Tang yang semula tanpa ekspresi mulai berubah cemas. ‘Ternyata benar dugaanku, Yu Tang berusaha menghindari wanita bernama Bai Hua ini. Lihat saja, akan kubongkar semuanya!’ batin Mingyue.

Sementara itu, Bai Hua yang mendapat tantangan tak terduga dari seorang pemuda kecil pada mulanya tampak kaget. Wanita itu memperhatikan pemuda aneh yang mengaku bernama Zhao Yun itu dengan seksama dan menyadari kalau si pemuda seringkali melirik ke arah kerumunan penonton. Dan saat melihat siapa orang yang mendapat lirikan tajam dari si pemuda, yaitu seorang pendekar tampan berpakaian putih, pemahaman muncul di wajahnya dan seulas senyum aneh terkembang di bibirnya.

“Aih, Anda bercanda mengatakan ingin melawan saya, Tuan Muda... ah, Tuan Muda Zhao? Saya ini hanya seorang wanita lemah yang menyukai laki-laki perkasa, tapi saya sendiri tak bisa berkelahi. Jadi tolong maafkan kalau saya tak bisa menerima tantangan Anda.” Bai Hua berdiri dan berjalan mendekat, kemudian sedikit membungkuk di hadapan Mingyue untuk memberi salam.

Mingyue sama sekali tak tergerak dengan sikap merendah itu. “Jangan pura-pura! Dari cara berjalan dan pidatomu saja aku tahu kalau kau itu punya kemampuan. Terima ini!” Tanpa basa-basi, Mingyue langsung menerjang ke arah Bai Hua, berniat menyarangkan tapaknya ke bahu wanita itu.

Bai Hua hanya tersenyum melihat serangan Mingyue. Dengan langkah anggun seperti menari, dengan mudah wanita itu mengelak bahkan menepis tangan Mingyue. Meski dari luar tampak kalau tepisan Bai Hua ringan dan sambil lalu, Mingyue merasakan tangannya yang bersentuhan dengan tangan wanita itu terasa kebas.

Mingyue mengibas-ngibaskan tangannya yang kesemutan dan terpana memandangi Bai Hua yang masih berdiri dengan tenang seperti tak terjadi apa-apa. Ternyata wanita ini memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Ditambah lagi, Mingyue mencurigai gerakan langkahnya tadi sebagai jurus Langkah Gelombang Anggun***, sebuah jurus mengelak yang konon hanya dikuasai oleh seorang Raja Dali****. Rasa penasaran dalam diri gadis itu makin memuncak dan diapun semakin gencar menyerang Bai Hua.

Serangan-serangan Mingyue semakin kuat dan cepat, tapi Bai Hua sama sekali tak tampak kesulitan mengelak dan menangkisnya. Masih menyunggingkan senyum, Bai Hua menghindar dengan gerakan ringan dan gesit, berputar-putar seperti menggoda dan mempermainkan gadis itu. Tak satupun serangan Mingyue yang berhasil mengenainya. Sebaliknya, Bai Hua beberapa kali menyentuh tubuh Mingyue, membuat bagian-bagian yang tersentuh terasa seperti disengat.

Dari sudut pandang penonton, terutama bagi Bai Yu Tang, melihat pertarungan itu seperti melihat kupu-kupu atau lebah yang terbang mempermainkan seekor anak kucing. Mingyue yang dikuasai amarah jelas bukan tandingan Bai Hua. Kalau dibiarkan keadaan akan semakin runyam. Bila wanita itu mulai menyerang dengan lebih serius, nyawa Mingyue bisa terancam. Bai Yu Tang tahu, gadis itu sengaja menantang Bai Hua untuk memancing dirinya. Masalahnya, Mingyue sama sekali tak tahu kalau wanita yang dilawannya itu bisa jadi lebih menakutkan daripada siluman rubah yang dulu pernah mereka hadapi.

Bai Yu Tang memutuskan untuk melompat ke atas panggung dan menengahi pertarungan yang masih berlangsung. “Sudah, hentikan!” teriaknya. Dengan telapak tangan yang dialiri tenaga dalam, pemuda itu memantulkan serangan yang terlanjur dilepaskan Mingyue dan membuat gadis itu terdorong beberapa langkah ke belakang akibat benturannya. Di belakang Bai Yu Tang, Bai Hua melontarkan senyum puas penuh kemenangan. Mingyue memelototi Bai Yu Tang dan wanita di belakangnya dengan raut tak percaya sambil berusaha menyeimbangkan diri.

“Akhirnya kan muncul juga, Yu Tang-ku sayang,” ujar Bai Hua dengan nada manja.

Cukup dengan mendengar satu kalimat itu saja, darah di sekujur tubuh Mingyue terasa mendidih. “Siapa kau?! Apa hubunganmu dengan Bai Yu Tang?!” bentaknya panas.

“Sebenarnya dia adalah mmmppph...!” Bai Yu Tang buru-buru menjawab, tapi kata-katanya terputus karena tangan Bai Hua yang berjari lentik sudah bertengger di depan mulutnya, membekapnya kuat-kuat. Wanita itu menggelendot manja ke sisi tubuh Bai Yu Tang dengan tangan yang satunya memeluk lengan pemuda itu. Bai Yu Tang seperti membeku. Dia hanya bisa menggerakkan bola matanya, melirik Bai Hua dengan panik.

Angin mulai berhembus. Awan hitam berarak di langit, menutupi matahari. Dalam sekejap suasana menjadi gelap. Para penonton yang sejak tadi asyik menonton pertandingan antara wanita pemilik restoran dengan seorang pendekar muda mulai bergumam was-was. Satu-persatu penonton membubarkan diri dan buru-buru pulang ke rumah masing-masing. Keinginan mereka untuk terus menonton kalah dengan keinginan untuk berteduh dari hujan dan angin yang bertiup makin kencang. Hingga akhirnya, yang tersisa di tempat itu tinggal tiga sosok yang berdiri di atas panggung.

“Yu Tang, kau ini jahat sekali sih. Masa tak memperkenalkanku pada teman kecilmu itu dan malah bersembunyi seperti Tikus Pengecut saat melihatku?” seloroh Bai Hua sambil tersenyum genit dan meniup telinga pemuda di sebelahnya. “Tuan Muda Zhao, Bai Hua ini adalah kekasih Sang Tikus Berbulu Emas, Bai Yu Tang,” ujarnya tersenyum ke arah Mingyue.

Petir menyambar, guntur menggelegar, dan angin bertiup makin kencang. Tak lama kemudian hujan deras pun turun membasahi bumi beserta ketiga orang yang masih berdiri terpaku di sana. Ketiganya seperti tak menyadari kalau air hujan mulai membasahi pakaian mereka.

Kemudian, seperti masih belum cukup puas dengan pernyataannya yang mengejutkan, dengan gemulai Bai Hua mengelus wajah Bai Yu Tang, mendekatkan bibirnya ke wajah pemuda itu dan...

 

Bersambung

 

Footnotes:

* Biwu: baca 'piwu', artinya pertandingan silat.

** Bai Hua di sini berarti Seratus Bunga, sama seperti nama restorannya. Sementara itu, kata Bai dalam nama Bai Yu Tang berarti Putih. Jadi meski sama2 dibaca 'Bai', artinya berbeda.

***  Ling Bo Wei Bu (凌波微步), kalau diterjemahkan inggris berarti Graceful Wave Steps. Moga2 terjemahan indonesianya nggak terlalu meleceng jauh.

**** Merujuk pada Duan Yu, salah satu tokoh utama dalam cerita Tian Long Ba Bu / Pendekar Negeri Tayli karangan Jin Yong. Sebenarnya menurut wiki dia lahir tahun 1072, sementara setting JB tahun 1030-1040-an. Eng... anggap saja ini leluhurnya. Remix suka2 saya... XP

Read previous post:  
120
points
(2214 words) posted by Kurenai86 11 years 6 weeks ago
92.3077
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fanfic | historical romance | lagu | Qixi
Read next post:  
Writer stezsen
stezsen at My Rat My Love - Seratus Bunga (1/2) (10 years 18 weeks ago)
90

eyaaa ada cewe lainnya bai yu tang di sini
.
(lupa terakhir baca sampe mana)
(moga2 ga ada yg kelewat) XD

90

Aaaaaa! Tidak~~! Bai Hua genit banget. >.<
saya suka! lanjut dulu ya...

I love this epic legend about judge Bao. Tapi ini fanfic atau berdasarkan novel yah? Habis banyak banget versi di luaran sana, saya sampai lupa cerita aslinya.

fanfic kok
cuma pinjam nama tokoh saja
isi ceritanya campur sari XDDD

Writer meli2
meli2 at My Rat My Love - Seratus Bunga (1/2) (11 years 4 weeks ago)
100

Hem... apa dia yang disebut2 di cerita sebelumnya?

90

wogh, saya kira wanita itu kakaknya o__o
memang pertempuran antara 2 wanita lebih menyeramkan daripada duel sesama lelaki

Writer bss
bss at My Rat My Love - Seratus Bunga (1/2) (11 years 4 weeks ago)
100

Nice pic ^^
haha... bisa tiba2 ujan

thanks

80

#np Beethoven's symphony no. 5

Writer cat
cat at My Rat My Love - Seratus Bunga (1/2) (11 years 5 weeks ago)
90

Aaaaa harus di cetak jd buku iniiii.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª.
Kereeeeen.

mak cat yang nyetakin ya? XDDD
tinggal di-print terus fotocopy perbanyak jadi deh ^^
kalo halamannya kurang ditambah Putri Ting2 yak

Masa? nggak tahu sih...
nggak dapet data tentang kelarganya Om Gongsun sih ><
Soal nama Zhao Yun... kan memang nama keluarga Kaisar dinasti Song itu Zhao. Nah, jadi mikir enaknya belakangnya apa.
Terus *cling!* jadi kepikiran Zhao Yun dah... pas toh, buat episode awal waktu BYT dkk ngetawain namanya ^^
.
Soal ujan itu disengaja, biar lebay wkwkwkwk...
lagian di sub-story 'rubah', secara sekilas si siluman nyebut Mingyue sebagai titisan naga. Nah, di legenda2 China kan naga itu pengatur cuaca, jadi iseng2 dibikin ujan badai aja kalo suasana hatinya Mingyue amat sangat buruk XDDD. Apalagi di awal kan Gongsun sudah bilang kalau hujan bakal turun (aih, aku melupakan payungnya!!).
Jadi... apa Gongsun juga sudah bisa menebak kalau Mingyue bakal ngamuk waktu ngasih tahu tentang pembukaan resto itu? He3... yang tahu cuma dia sih ><
Jadi jangan main2 ama Mingyue kalo nggak mau disamber geledek huehehehehe... (becanda kok)
.
Novel budaya China?
pengen sih... tapi kan nggak pernah ke sana (kapaaan ya punya duit bwt ke China)
modalnya cuman wiki dan film2 silat, jadi nggak berani bikin yang terlalu rumit, takut melenceng.
.
thanks yah dah mampir

Iya, naga itu pengatur hujan tepatnya.
Cari aja di google tentang Raja Naga Laut Timur / Dong Hai Long Wang. Kan di cerita Nezha juga ada.
.
He3... suka tuh baca Kho Ping Ho sama novel2-nya Jin Yong
sayangnya bahasanya masih EYBD, jadi rada perlu mikir dulu. Apalagi nama2-nya ituuuu... kenapa masih pake dialog Hokkiaaan! belum pernah nemu novel terjemahan cersil bhs. Indo yang pake nama Mandarin... padahal film2 serinya yang baru pakenya mando semua TT-TT. Versi inggrisnya juga sudah pake mando, kenapa yang indonesia enggak (*hiks...*)
Su-heng, moai-moai, ci-ci...
laah, malah curcol XD

100

ga sabar baca klanjutannya...

Ditunggu aja ya ^^
thanks dah mampir