Pengakuan Terakhir

 

SATU

 

            Pernikahanku dengan gadis itu telah diambang mata. Dua bulan lagi saja, aku dan Laras, akan menyandang status baru, sebagai sepasang suami istri. Hanya dengan memikirkan hal itu saja mampu membuat perutku serasa diaduk. Seperti menaiki jetcoaster  yang diklaim Trans Studio Bandung sebagai jetcoaster tercepat di dunia. Mendebarkan sekaligus memacu adrenalinku. Seperti berusaha menembus jebakan maze di permainan TV Jepang, Takeshi Castle, kau tak pernah tahu apa yang bisa menyambutmu di depan sana (hantu, jalan keluar, atau malah tercebur ke kubangan air keruh), namun kau tahu kau harus berusaha keras menemukan jalan keluar—sebuah proses yang menyenangkan untukku. Analogi yang paling ku suka dan cocok untuk semua ini adalah, seperti menghirup aroma secangkir kopi, kemudian menyesapnya perlahan; menenangkan seluruh panca inderaku, namun memacu degup jantung, dan membuatku terjaga penuh antusias. Ya, itulah yang kurasakan setiap kali mengingat detik-detik yang kulalui bersama Laras, gadis yang telah mengisi setiap sudut hatiku selama hampir bertahun-tahun belakangan ini. Aku masih merasa ini seperti mimpi. Rasanya baru kemarin aku berdiri di atas panggung Balai Sidang, mengenakan toga dan berfoto bersama keluarga (dan tentunya dengan Laras di sisiku), dan tahu-tahu saja Tuhan menganugerahkan pekerjaan di bidang jurnalistik untuk sebuah stasiun TV swasta ternama yang dikenal khusus menayangkan berita. Dan rasanya tinggal beberapa langkah lagi saja, malam-malam penuh kerinduan itu akan usai, penantian itu akan berakhir di sebuah stasiun bernama pernikahan.

            Namun tak pernah kusangka, di Minggu pagi yang cerah itu, semua angan bahagiaku terusik oleh sebuah kado pernikahan yang berbalut kertas kado berwarna pink pastel yang cantik.

            “Ada paket nih buat lo,” bilang Ratih, adik yang lebih muda dua tahun dariku. Gadis itu melempar sebuah plastik putih tepat di hadapanku yang sedang berbaring di atas tempat tidurku, baru saja terbangun setelah semalaman terjaga di depan komputer.

            “Hmm?” gumamku, setengah mengantuk. Dengan malas-malasan kuraih kantung plastik putih itu. Siapa pun yang mengirimnya, sepertinya ia begitu berniat. Pertama, pernikahanku dan Laras masih dua bulan lagi, namun ia sudah mengirimkan sebuah kado pernikahan (omong-omong aku tahu ini kado pernikahan soalnya bungkus kadonya berhiaskan tulisan “Happy Wedding”). Kedua, orang itu sepertinya begitu telaten membungkus kado ini, hingga aku yang tadinya setengah mengantuk dan malas-malasan, mau tidak mau jadi sedikit berhati-hati ketika membuka bungkusan kado ini. Tidak tega juga rasanya membuka bungkusan sebuah kado yang bahkan tiap sudut-sudut kotak kado sama sekali tidak terlihat lipatan tidak rapi. Semua masih terlihat dalam kondisi mulus dan halus.

            Kuputuskan untuk membaca belakangan sebuah kartu ucapan kecil yang dimasukkan ke dalam sebuah amplop putih, dan lebih memilih untuk langsung membuka kotak itu. Apa ya isinya? Kuguncang-guncangkan perlahan kotak itu, dan bunyi ‘klotak klotak’ pun terdengar dari dalamnya. Sepertinya buku….

            “Ati-ati, bom buku kali,” goda Ratih iseng.

            “Hush! Ngaco kamu. Udah sana! Syuh syuh!” Usirku. Ratih mengerucutkan bibirnya, kemudian berlalu sambil menyibakkan rambut panjangnya.

            Tapi, aku jadi ingat…beberapa bulan yang lalu memang ramai bertebaran paket berisi bom buku. Mulai dari politikus sampai artis, dapat giliran kunjungan paket buku tak diinginkan. Bagaimana dengan orang yang tidak punya track record sebagai public figure ya? Apa ada orang yang cukup “iseng” untuk mengirimi paket bom buku untukku? Atau…mantan pacar Laras yang tidak terima gadis itu akan menikah dengan orang sepertiku? Baik, tenangkan dirimu, Damar. Aku mungkin kebanyakan dicekoki berita-berita seperti itu, hingga menimbulkan paranoid tersendiri. Sebaiknya kuperiksa saja dari kartu ucapannya, sehingga jelas bukan siapa yang mengirim.

            “Sial! Enggak ada nama pengirimnya!”

            Ah, sial sekali Ratih! Gara-gara dia ngomong yang enggak-enggak, gue jadi kepikiran juga nih paket misterius.

            “Eh, Damar, udah bangun. Apa tuh? Ada hadiah buat kamu? Coba mama buka,” ucap Mamaku yang tau-tau saja sudah masuk ke dalam kamarku dan langsung meraih kotak kado berwarna biru yang masih tergeletak rapi di hadapanku. “Jangan dulu ma—“

            “Wah, kamu dapet buku bagus nih. Sakinah bersamamu-nya mbak Asma Nadia, pengarang favorit mama.” Mamaku berujar riang, dan dengan polosnya segera membolak-balik halaman demi halaman buku itu. Aku melongo. Ah, sial, parno gue tadi! Hahaha….

Dan sekarang benda putih yang teronggok di sisi kotak biru itu kembali menarik perhatianku. Sebuah amplop tanpa nama yang membuatku sempat panik. Dengan tanpa pikiran, kubaca sebuah kartu kecil berwarna dasar putih, dengan hiasan bunga yang membuat tekstur kartu ucapan itu tidak rata karena ada bentukan sisi-sisi bunga itu. Ucapan selamat yang biasa—hanya saja tanpa nama pengirim.

Dan di sanalah kalimat itu berada, yang membuat mataku terpaku cukup lama. Yang membuat napasku nyaris berhenti di tenggorokan. Yang membuat jantungku berdebar lebih kencang, seperti habis menyesap secangkir kopi.

PS: Damar, maaf, selama ini sejujurnya..aku selalu mencintaimu.

(Kamu boleh buang kertas ini begitu kamu membacanya. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kamu dengan Laras :) )

 

***

            Damar, maaf, selama ini sejujurnya..aku selalu mencintaimu.

           Sudah beberapa hari ini kalimat itu terus mengusik pikiranku, seperti ada yang memutar kaset rusak di otakku. Aku tahu, seharusnya aku tidak usah terlalu menanggapi hal-hal semacam itu, maksudku kalau kau mau ambil gampangnya, anggap saja ucapan sekaligus pernyataan dari anonim itu Cuma ungkapan kekaguman semata. Ya, mungkin aku bisa memosisikan diriku layaknya superstar yang sudah terbiasa dengan ungkapan cinta. Tapi mau bagaimana lagi, karena pada kenyataannya aku Cuma seorang Damar, lulusan komunikasi Universitas Indonesia yang punya sedikit keberuntungan lebih dari Yang Maha Kuasa untuk bisa kerja di stasiun TV. Meski begitu, kalau mau narsis sedikit, penampilan luarku sih memang kata beberapa teman wanitaku cukup cool (mungkin karena kalau kalian pertama bertemu denganku, biasanya aku jadi agak diam).

            Terkecuali bagi gadis yang ada di depanku ini mungkin.

Rarasati Prameswari, atau biasa dikenal dengan nama Raras. Meski begitu aku menolak memanggilnya ‘Raras’, karena hanya akan mengingatkanku pada sosok Laras yang Cuma bisa kutemui setiap akhir pekan (dan itu pun tidak selalu, mengingat ongkos Bandung-Depok kan lumayan juga). Jadi, aku memanggil gadis kurus itu dengan panggilan yang agak berbeda dari kebanyakan orang, Rara. Dialah satu-satunya teman wanita yang paling dekat denganku di kampus, dan paling mengerti tabiatku yang sesungguhnya. Sebenarnya dia satu SMA denganku, hanya saja kami tidak pernah sekelas (mengingat dia anak IPS, sedangkan aku IPA). Kami baru saling mengenal setelah sama-sama berada di jurusan Komunikasi FISIP UI, dan menjadi dekat berkat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di bidang jurnalistik bernama “Suara Mahasiswa” (SUMA), selama dua tahun berturut-turut terhitung semenjak kami jadi mahasiswa tingkat dua. Dan dialah satu-satunya teman wanita yang kupercaya, bahkan hingga kami telah lulus dan menempuh jalan kami masing-masing. Terkadang kami masih bertemu. Aku pun secara khusus meminta Raras menjadi fotografer untuk foto pre-weddingku dengan Laras nanti, dan ia menyanggupi dengan senang hati (entah karena rasa setia kawannya yang tinggi denganku atau kecintaannya pada dunia fotografi yang berhasil mengalahkan kenyataan bahwa kami bahkan meminta jasanya secara cuma-cuma).

Dan dialah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa di saat-saat menjelang pernikahanku ini, aku malah dapat pernyataan cinta dari seorang wanita misterius (omong-omong, dia beneran wanita kan? Kalau kata Rara yang cukup mengerti seluk-beluk bentuk tulisan, ia cukup yakin tulisan itu milik seorang wanita. Well, dia sendiri kan wanita--di luar kenyataan bahwa dia senang sekali memakai kemeja gombrong yang cocok dipakai pria).

           “Ra, lo…mau bantuin gue enggak?”

           “Bantu apa?” tanya Raras sambil meneguk botol air mineralnya dengan gahar. “Bantu memecahkan misteri ini.” Raras mematung, kemudian melirikku.

            “Plis, Ra. Gue butuh bantuan orang, dan gue saat ini enggak bisa mikir siapa orang itu, kecuali elo,” ucapku, hopeless, “dulu…gue pernah mengalami kejadian semacam ini. Lo inget kan, cerita gue tentang seragam itu.”

            “Oh… iya. Tapi lo Cuma cerita garis besarnya aja sih, jadi gue ya enggak paham-paham amat, hubungan cerita seragam lo dan kejadian saat ini.”

Pada siang yang menyengat itu, di kantin bakso di kampus yang dulu jadi langganan kami, kuceritakan semua kegelisahanku pada Rara. Mulai dari paket misterius dari seorang anonim yang menyatakan cintanya padaku, hingga pengalamanku yang sebelumnya. Kejadiannya nyaris mirip. Aku menamainya sebagai “misteri pengakuan di atas seragam”.Bagaimana usahaku mencari sosok yang telah membuatku penasaran setengah mati dengan tulisan pernyataan cintanya pada baju seragamku di saat kelulusan SMA, dan aku sampai-sampai mengunjungi beberapa teman wanitaku, mulai dari si bendahara Ambar, Firda, Rianda, Eka, dan beberapa lainnya yang berujung pada insiden aneh (dan membuatku mendapat cap aneh). Dan misteri itu belum terungkap hingga saat ini. Ketika memasuki masa awal perkuliahanku –tepatnya pada saat ospek jurusan- aku nyaris menemukan jawaban dari misteri itu, tapi ternyata “si tertuduh” pemilik tulisan dengan tinta pink pucat itu tidak mau mengakui tulisannya. Sosok itu teman satu jurusanku juga yang ketika SMA sama-sama berada di jurusan IPA, tapi tak pernah sekelas denganku.

Ia bernama Dewi. Padahal awalnya aku cukup yakin bahwa dialah pemilik tulisan pengakuan itu, tapi ia tak juga mau mengakuinya. Hingga aku terpaksa “membuntutinya” selama tiga bulan berturut-turut dengan menjadi pengikut setia Dewi setiap ada tugas kelompok. Aku pastikan aku harus satu kelompok dengan Dewi, agar aku bisa memerhatikan gerak-geriknya saat menulis, bagaimana bentuk tulisannya yang sesungguhnya. Dan sekaligus memantau tindak-tanduknya jika ia berada di dekatku. Lagi-lagi aku terpaksa harus mengubur misteri itu dalam-dalam, karena ternyata Dewi memang tak pernah ada rasa padaku (meski aku masih merasa tulisannya sangat mirip dengan yang ada pada sudut kanan hem bawah kemeja bersejarahku itu). Nyatanya, tak lama setelahnya Dewi malah jadian dengan seorang kakak senior tingkat tiga, dan tak lama setelah kakak senior itu lulus dan bekerja di sebuah perusahaan besar, keduanya menikah. Sekarang sih aku rasa Dewi telah memiliki beberapa anak, jadi kurasa analisisku bahwa Dewi ‘lah pengagum rahasiaku, gugur total.

Dan kini kasus serupa mencuat. Yang membuatnya menjadi lebih gawat adalah kasus ini terjadi menjelang pernikahanku. Aku HARUS menemukan orang yang memberikan pernyataan cinta ini. Dan kali ini, aku tak mau lagi sendiri dalam menguak misteri ini. Ya, aku memilih Raras sebagai partnerku. Dan Sabtu siang ini, kami pun berencana untuk mendatangi kantor paket kilat yang mengantar barang itu. Aku harus menanyakan siapa orang yang mengirim barang itu padaku. Namun, bukannya mendapat jawabannya, aku justru diusir petugas.

            “Elo sih, Mar, ngotot banget nanyanya. Itu rahasia perusahaan mungkin.” Raras tergelak.

             “Hmm, tenang aja, Ra, gue ada ide lagi.”

              “Hah? Mau ngapain lagi? Udah lupain aja deh,” kikik Raras, “anggap aja pernyataan itu angin lalu—“

               “Nggak bisa, Ra!” sentakku sambil menatap gadis itu. Kulit sawo matangnya terlihat sedikit lebih terbakar akibat sengatan sinar matahari siang itu. Peluh pun mengalir membasahi wajahnya yang mulus tak bercela.”Sori, Ra. Beginilah gue kalo udah penasaran,” gumamku, sedikit menyesal, menyadari sorot mata bulat Raras meredup sejenak.

                “Ah, udah biasa, haha. Ya udah, emang lo ada ide apa lagi?” sahut Raras berusaha terdengar santai.

                 “Hmmm….”

***


Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Pengakuan Terakhir (9 years 11 weeks ago)
80

Lumayan menyesuaikan dengan tokoh Damar. Tapi kalau kamu kesulitan, sebenernya nggak masalah kalau bikin dari sudut pandang orang ke-3. Ide konflik barunya sangat menarik, sebab muncul di setting yang berbeda. Tapi untuk ukuran cerbung, rasanya openingnya terlalu terburu-buru. Untuk membuat kesan 'panik' dan 'bingung', pengaturan tempo sangat penting. Di sini kesan panik itu sudah muncul dari kalimat pertama, padahal saya pikir akan lebih baik kalau baru dimunculkan saat Damar menerima kado.

Terus betul juga kata Dansou. Istilah potongan rambut Jakarta itu saya pikir kurang spesifik. "Stylish kayak AGJ" juga sama aja. Lebih bagus kalau dideskripsikan bentuk rambutnya seperti apa, walau cuma satu kalimat. Karena terus terang saya ga bisa membayangkan apa-apa dengan deskripsi seperti itu.

Surat dari Anonim itu juga rasanya terlalu pendek. Untuk ukuran rentang waktu 4 tahun lebih, rasanya yg diomongin si Anonim ga ada perkembangan dgn yg dia tulis di seragam waktu SMA. Dan dia sepertinya kepedean banget kalau tulisan satu kalimatnya itu bisa merusak hubungan Damar dgn calon istrinya. hehe.

Btw, jangan lupa harus dilanjutin....!

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Pengakuan Terakhir (9 years 11 weeks ago)

Hmmm.. gimana ya, awalnya saya pikir mau bikin pov 3 aja sih, sesuai dengan yg biasa saya lakukan. Tp tiba2 aja pas mau mulai ngetik, coba deh pake pov 1. Hmm..soal openingnya..memang kan tadinya mau buat cerpen, xD. tp karena saya pikir kayaknya bakal kepanjangan (pede banget, xD), ya udah saya bikin jd cerbung. >.<. Oh, rambut ya..xD. My mistake, sorry >.<. Hmmm, gitu ya.... ah, jd baiknya gimana? Feel si anonimnya kurang ya?

Siaaaaap! Makasih udah mampir kak :D

Writer ianz_doank
ianz_doank at Pengakuan Terakhir (9 years 11 weeks ago)

ditunggu lanjutannya..

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Pengakuan Terakhir (9 years 11 weeks ago)

Sip..makasih udah mampir :D

Writer cat
cat at Pengakuan Terakhir (9 years 11 weeks ago)
80

Aku uda baca di fesbuk dan merasa ah ni cowok payah udah mau merit kok sempat2nya cari si pengagum rahasia. Kalo gitu dia ndak full cinta ma Laraas.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª.

Mungkin huruf C dari Cuma yg itimatis jd huruf kapital di word kamu harus perhatikan krn aku juga sering kena itu.

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Pengakuan Terakhir (9 years 11 weeks ago)

Wkwkwkwk... aduuuh, gimana sih Damar, tuh..kamu dibilang payah tuh sama kak Cat :p.
Ehehe, iya kak.. blm di edit itu,xD #penyakitmales #plakk
Makasih ya kak udah mampir :D

Writer dansou
dansou at Pengakuan Terakhir (9 years 11 weeks ago)
90

Hai, Mbak Devi ^^. Saya udah baca scene pertama di note di FB sebagai ghost reader -___-" Hehehe... .___.
.
Ah, kayaknya saya belum pernah baca Pengakuan di Atas Seragam punyanya Kak Rivai, deh. Atau udah, ya, dulu. Entahlah.
.
Satu kata. Menarik :D. Saya belum mau nikah, sih, tapi rasanya bisa ngerasain gimana ribet dan labilnya orang yang mau nikah ^^. Dan pemenggalannya bener-bener bikin penasaran.
.
Sejauh ini belum ada masalah, sih, menurut saya. Dan entah kenapa saya punya perasaan kalau si pengirim hadiah itu si Raras. Moga-moga aja nggak >,<
.

Quote:
Gadis berambut panjang dengan potongan khas anak muda Jakarta itu...

Ini gimana bentuknya? Apakah potongan rambut dibedakan berdasarkan asal kota? Jadi, nanti ada potongan rambut khas anak muda Bandung, anak muda Jogja, anak muda Semarang, dong? >,<
.
Ditunggu lanjutannya :)

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Pengakuan Terakhir (9 years 11 weeks ago)

Halo Dansou, makasih udah mau mampir lagi ^^. Hemm, coba aja dibaca.. ;)).
Oh, bs kerasakah? yokatta, hehe. (saya jg blm gitu ngerti sih gimana perasaan orang2 yg mau nikah, nebak2 aja itu xD #plakk).

Hmmm, kita lihat aja nanti :p

Btw, maksud saya gaya rambut adeknya stylish kayak AGJ (Anak Gaul Jakarta) :p

Okeee..makasih yaa :D