My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2)

“Ahahahahahaha....!!!” Suara tawa seorang wanita membahana di salah satu sudut Restoran Seratus Bunga, seperti ingin berlomba dengan kerasnya suara guntur di langit dan derai air hujan yang jatuh di permukaan bumi. Mungkin bila hujan tidak turun – yang mengakibatkan jalanan kota menjadi lengang sekaligus meredam suara-suara yang terjadi di balik pintu restoran yang ditutup agar air hujan tidak menerobos masuk – orang-orang pasti sudah melongok ke dalam tempat itu dengan wajah penasaran, ingin tahu orang sinting macam apa yang terkurung di dalamnya.

Suara tawa itu keluar dari mulut Bai Hua, si pemilik restoran, yang sedang sibuk tertawa hingga terbungkuk-bungkuk di bangku panjang yang didudukinya. Mingyue hanya bisa diam memandangi perapian sambil mengeringkan baju dan menghangatkan tubuh, benar-benar heran kenapa Bai Hua yang sebelumnya begitu anggun dan tenang sekarang menjadi... entah apa sebutan untuk itu. Benaknya kacau balau.

Beberapa saat sebelumnya Mingyue melihat Bai Hua hendak mencium Bai Yu Tang di tengah guyuran hujan. Ketika itu pikirannya menjadi kosong dan pandangannya kabur. Lalu saat dia hendak berlari, entah ke mana, seseorang menangkap dan menyeretnya masuk  ke dalam restoran Seratus Bunga untuk berteduh. Semua berakhir dengan Mingyue berjongkok di dekat perapian yang menyala-nyala, mendengar tawa histeris wanita bernama Bai Hua itu.

Di pihak lain, Bai Yu Tang yang juga sedang mengeringkan ujung bajunya di sebelah Mingyue memandangi Bai Hua dengan sorot mata yang berkata sudah-kuduga-pasti-akan-jadi-begini. “Tidak lucu tahu, mempermainkan orang seperti ini! Kebisaan burukmu itu benar-benar keterlaluan,“ omel Bai Yu Tang kesal.

Bai Hua berhenti tertawa dengan susah payah. Wajah cantiknya merah padam dan napasnya tersengal-sengal. Sambil mengusap matanya yang berair dengan satu tangan, wanita itu berjalan mendekati Bai Yu Tang kemudian menepuk-nepuk bahunya dengan riang. “Hihihi... siapa suruh kau membawa teman kecil semanis itu? Baru kali ini Si Tikus Berbulu Emas begitu memperhatikan orang selain empat saudara angkatnya. Aku kan jadi tergoda untuk mengerjainya.” Bai Hua menepuk-nepuk kepala Bai Yu Tang dan memainkan rambutnya.

“Hentikan! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, Jie*!” gerutu Bai Yu Tang sambil menepiskan tangan Bai Hua dari kepalanya.

Panggilan Bai Yu Tang pada wanita itu terdengar seperti petir yang membangunkan Mingyue dari kondisi trans-nya. “Jie? Apa... apa maksudnya...”

Bai Hua terkekeh melihat ekspresi Mingyue. “Ah, Yu Tang, kau ini benar-benar payah. Masa belum-belum kau sudah membongkarnya,” ujar wanita itu sambil mendecakkan lidah dan melipat tangannya di depan dada.

Memperhatikan raut wajah dan sikap wanita itu dengan lebih seksama, barulah Mingyue menyadari kalau memang ada kemiripan antara Bai Yu Tang dengan Bai Hua. Gadis itu berdiri dan dengan tangan gemetar menuding Bai Hua dan Bai Yu Tang bergantian. “Jadi dia kakakmu? Kakak kandungmu?” Matanya terbelalak begitu lebar hingga tampak hampir lepas dari rongganya.

Bai Yu Tang menyunggingkan senyum masam, melirik jengkel ke arah Bai Hua, kemudian mengangguk pasrah. “Yah, begitulah. Nama aslinya adalah Bai Yu Hua, tapi di dunia persilatan lebih dikenal dengan panggilan Bai Hua. Dia juga tak pernah mengaku sebagai kakakku.”

“Tentu saja! Kalau ketahuan Bai Hua ini adalah kakak Bai Yu Tang Si Tikus Berbulu Emas yang terkenal, maka...”

“Maka akan ketahuan umurmu yang sebenarnya, begitu kan?” sambung Bai Yu Tang mengejek.

Bai Hua melontarkan tatapan keji pada pemuda itu. “Diamlah atau kujahit mulutmu!” desisnya.

Bai Yu Tang tahu kalau Bai Hua, seperti pula dirinya, tak pernah main-main dengan kata-kata yang telah mereka ucapkan. Ditambah lagi, pemuda itu tahu kalau kakaknya ini memang punya kemampuan untuk... yah, benar-benar menjahit mulutnya. Maka dia hanya bisa mengangkat bahu dan menoleh ke arah Mingyue yang masih terbengong-bengong menyaksikan percakapan mereka.

“Ke... kenapa tak kau katakan sebelumnya?” tanya Mingyue setelah menemukan kembali suaranya.

“Untuk apa? Toh seandainya kau tak membuat kacau dengan naik ke atas panggung, aku juga tak ingin mengakui orang seperti itu sebagai kakak,” cibir Bai Yu Tang

“Oooh, teganya dirimu, adik kecil. Padahal sejak ayah dan ibu tiada, akulah yang telah merawat dan membesarkanmu,” seloroh Bai Hua sakit hati.

“Apanya? Yang kau lakukan sepanjang hari hanya menyuruh-nyuruh dan mengerjaiku. Lalu dengan seenaknya kau meninggalkanku yang masih kecil sendirian di rumah selama berbulan-bulan. Kemudian saat kau akhirnya pulang, yang kau lakukan hanya memamerkan jurus-jurus silat baru, memaksaku mempelajarinya, dan kembali memperlakukanku seperti budak. Lalu kau pergi lagi tanpa kabar berita, dan begitulah seterusnya. Bila tak ada Kakak Pertama Lu dan yang lainnya, mungkin aku sudah lama hanya tinggal nama,” gerutu Bai Yu Tang. 

“Lho, apa kau lupa tentang ‘singa yang melemparkan anaknya sendiri ke dalam jurang’? Itu semua kan demi kepentinganmu, adikku sayang. Lihatlah, berkat pelatihanku, kau sekarang sudah menjadi seorang pendekar ternama, bahkan bisa melampaui keempat kakak angkatmu yang payah itu. Seharusnya kau berterima kasih pada Jie-jiemu ini,” ujar Bai Hua tersenyum manis sambil mengangguk-angguk. Wanita itu tampak puas dengan dirinya sendiri.

Bai Yu Tang hanya bisa melotot ke arah kakaknya, kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Mingyue memandangi kakak beradik itu dan sedikit demi sedikit pemahaman mulai muncul dalam benaknya. ‘Jadi beginilah masa kecil Sang Tikus Berbulu Emas’ pikirnya takjub. Memiliki kakak perempuan seperti itu, tak heran kalau sifat Bai Yu Tang menjadi lain daripada yang lain. Gadis itu tak bisa menahan diri untuk tersenyum sambil menggeleng-geleng.

“Jadi, selama bertahun-tahun ini apa yang kau lakukan? Kenapa bisa tiba-tiba muncul di Kaifeng dan berubah menjadi Nyonya Pemilik Restoran?” tuntut Bai Yu Tang.

“Nona,” ralat Bai Hua kalem. “Wah, kenapa kau tiba-tiba ingin tahu? Bukankah tadi kau bilang tak ingin mengakuiku sebagai kakak? Lagipula, sepertinya ceritaku takkan semenarik ceritamu yang bisa menggaet seorang gadis manis seperti itu,” sindir Bai Hua sembari menunjuk ke arah Mingyue.

Wajah Mingyue merah padam sebelum tiba-tiba dia menyadari sesuatu. “Sa... saya bukan.... Eh? A... anda tahu kalau saya wanita? Bagaimana...” ujar Mingyue terbata-bata.

Bai Hua tertawa. “Ya Tian**! Hanya perlu sekali melihat dan mendengar suaramu saja aku sudah tahu kalau kau ini seorang gadis yang berpakaian laki-laki. Coba katakan, orang bodoh macam apa yang bisa tertipu dengan penyamaranmu itu?” selorohnya di sela-sela suara tawa.

Spontan Mingyue melirik ke arah pemuda berbaju putih yang berdiri kaku di tempat dengan ekspresi panik. Bai Hua ikut menoleh ke arahnya. Dan tak pelak lagi, tawa wanita itu semakin menjadi-jadi.

“Sudahlah! Memangnya kenapa kalau aku tertipu? Kuakui, waktu itu aku memang terlalu ceroboh hingga dibutakan oleh kesombonganku sendiri. Yang ada di benakku saat itu hanyalah keinginan untuk bertarung dengan Zhan Zhao hingga tak memperhatikan yang lainnya, termasuk identitas dia yang mengaku sebagai murid si Kucing.” Bai Yu Tang mengatakan semuanya dengan pandangan mata menerawang. Mengenang pertemuan pertamanya dengan seorang gadis aneh yang mengaku sebagai murid si Kucing Istana dan dengan nekat menantangnya berkelahi.

“Lalu? Setelah kau tahu kalau dia seorang gadis, apa yang kau lakukan?” desak Bai Hua penasaran.

“Lalu si Kucing itu datang dan... aaah, pokoknya setelah itu keinginan bertarungku lenyap. Yah, toh bagaimanapun masih banyak kesempatan untuk benar-benar bertarung dengannya. Apalagi...”

“Apalagi sekarang kau mendapatkan muridnya yang manis ini, begitu kan? Jadi, apa saja yang sudah kalian lakukan, heh?” sela Bai Hua dengan senyum jahil menghiasi wajahnya.

Warna merah tampak merambat di telinga Bai Yu Tang. “Memangnya kau pikir aku ini sepertimu yang hobi mempermainkan perasaan orang lain? Sebesar apapun keberanianku, mana mungkin aku berani macam-macam dengan...” Ucapan pemuda itu terputus saat melihat sorot memperingatkan di mata Mingyue. “Aaargh! Pokoknya, aku lebih memilih mati daripada melakukan hal-hal yang melanggar kehormatan dan harga diriku sebagai pendekar sejati!”

“Wah, adik kecilku sudah dewasa rupanya,” goda Bai Hua sembari berjalan ke arah Mingyue. Gadis itu menurut saja saat Bai Hua menggandeng dan mendudukkannya ke atas bangku panjang. “Nona kecil, sepertinya kau bukan orang biasa ya, bisa menjadi murid Zhan Zhao si Pendekar Selatan dan juga menarik perhatian adikku yang besar kepala itu. Kurasa Zhao Yun itu bukan namamu yang sebenarnya, kan?” tanyanya ramah.

“Sa... nama saya Zhao Mingyue. Salam kenal...” jawab Mingyue spontan.

“Zhao Mingyue? Nama yang indah. Hmmm... marga Zhao ini sepertinya cukup familier...” gumam Bai Hua sambil mengangkat sebelah alisnya. “Oya, panggil saja aku Hua Jie,” tambahnya. Wanita itu tersenyum aneh dan memegang dagu Mingyue, mengamati wajahnya dengan seksama.

Bagi Bai Yu Tang, ekspresi kakaknya itu seperti hendak menelan gadis yang duduk di depannya. Tak urung pemuda itu merasa cemas. “Oi! Jangan perlakukan dia seperti mainan barumu! Kau ini benar-benar menji...”

Belum juga kalimat Bai Yu Tang selesai diucapkan, kilauan warna-warni menyambar dari tangan Bai Hua yang terayun dengan cepat ke arahnya.

Syuuut

Dziiing! Ziiing!!

Bruuk!

Jleb! Jlep, clep! Traap! Tap! Tap!

Sedetik kemudian, Bai Yu Tang sudah menempel di dinding restoran dengan sejumlah besar jarum menancap di pakaiannya, mengelilingi seluruh sisi tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki, membuatnya terpaku tak bisa bergerak di tempat itu. Ujung masing-masing jarum itu terikat pada seutas benang dengan warna berbeda-beda. Ujung benangnya tersembunyi dalam lengan baju Bai Hua. Dengan wajah pucat pasi Bai Yu Tang membelalak ngeri ke arah kakaknya. Mingyue yang juga tak kalah kagetnya menyaksikan kemampuan Bai Hua ternganga memandang wanita itu.

Bai Hua duduk dengan santai di bangku di sebelah Mingyue. “Hmmm... lumayan. Sekarang aku punya hiasan dinding yang baru. Bagaimana menurutmu, Mingyue Mei-mei***?” tanya wanita itu pada Mingyue sambil bertopang dagu, dengan wajah puas memandangi hasil karyanya.

“Apakah ini tak berlebihan?” tanya Mingyue sambil menelan ludah.

“Tenang saja, adik kecilku itu perlu diberi sedikit pelajaran untuk mulutnya yang sembarangan. Nah, bagaimana kalau kita ngobrol dulu di sini sambil makan selagi menunggu hujan reda. Aiih, senang sekali dapat adik perempuan yang manis sepertimu.” Bai Hua memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya membawakan makanan dan arak terbaik. “Kau beruntung, baru kemarin aku mendapatkan Nu Er Hong berusia puluhan tahun. Nah, aku akan mentraktirmu.”

Tak lama kemudian, si pelayan kembali membawa nampan berisi beberapa piring camilan dan masakan serta seteko arak hangat yang dari jauh saja sudah menguarkan aroma khas yang harum. Wangi masakan yang masih mengepul tak urung membuat Mingyue merasa lapar.

Bai Yu Tang yang terpancang di dinding berusaha meronta untuk melepaskan diri sambil menyumpah-nyumpah dan mengomel. Mendengar makiannya, Bai Hua hanya berkomentar, “haiiih, hiasan dinding ini sepertinya terlalu berisik, ya.” Wanita itu menjentikkan jarinya dan sebuah jarum perak tiba-tiba tertancap cukup dalam di dinding, tepat di sisi leher Bai Yu Tang. Sedikit saja bergeser ke arah leher, urat nadi di leher itu pasti sudah putus tersambar jarum yang dilemparkan dengan tenaga dalam itu.

“Ah, sayang sekali meleset. Baiklah, karena aku sedang merasa senang, kali ini aku maafkan. Tapi sekali lagi mulut itu berani mengatakan hal yang tidak sopan, kupastikan wajah tampanmu akan dihiasi sulaman hasil karya Bai Hua ini. Kau boleh pilih, mau gambar Meihua, kupu-kupu, atau kura-kura. Oh ya, jangan terlalu banyak bergerak karena pakaian bagusmu itu bisa sobek-sobek. Yah, kecuali kalau kau memang mau memamerkan tubuh telanjangmu di depannya,” ujar Bai Hua dengan nada seperti orang yang mengatakan kalau hari ini cerah. “Nah, Mei-mei, makanlah, kau pasti sudah lapar,” tambahnya seperti tak terjadi apa-apa.

Setelah itu, Bai Yu Tang hanya mampu memelototi kakaknya dengan sorot mata penuh dendam kesumat. Mingyue cuma bisa nyengir ke arah pemuda itu dengan ekspresi kasihan sekaligus minta maaf. Bai Hua dengan cuek menuangkan arak ke dalam dua buah cawan dan mengangsurkan salah satunya pada Mingyue. Dengan patuh Mingyue menenggak araknya dan makan seraya dengan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh Bai Hua, kecuali tentang keluarganya.

Beruntung, Bai Hua sebagai orang dunia persilatan bisa memaklumi kalau Mingyue tak mau menceritakan tentang keluarganya, jadi dia tak memaksa. Setelah cerita Mingyue usai, giliran Bai Hua yang menceritakan pengalamannya selama ini.

Selama bertahun-tahun, Bai Hua berkelana ke berbagai penjuru negeri – dari Dali di wilayah Selatan hingga melewati Jalur Sutera di Utara lengkap dengan gurun pasirnya – berdagang dan mengenal berbagai macam orang. Mencari dan mempelajari berbagai macam ilmu silat langka entah dari mana, serta mengunjungi banyak tempat yang terkenal. Danau Shihu yang jernih hingga memantulkan pemandangan alam di sekitarnya dan Pulau Persik yang berkabut bagai dalam mimpi. Menelusuri Kanal Besar dan Tembok Besar yang perkasa, serta mengunjungi kuil-kuil yang didirikan untuk memperingati seorang biksu yang melakukan perjalanan ke India pada masa Dinasti Tang****.

Semuanya adalah tempat yang selama ini hanya didengar Mingyue dari cerita-cerita para pedagang luar negeri yang berkunjung ke istana untuk meminta surat ijin melintas. Bai Hua mengakhiri cerita itu dengan keputusannya untuk menetap di Dataran Tengah dan membuka restoran dengan uang hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun.

Pikiran Mingyue melayang, membayangkan keindahan tempat-tempat itu. Tapi dari semua tempat yang diceritakan oleh Bai Hua, yang paling menarik bagi gadis itu adalah Dali, sebuah negara kecil yang damai di Yunnan, di wilayah Selatan. Tempat yang cuacanya jauh lebih bersahabat daripada di ibukota yang terletak di Utara. Perkebunan teh yang menghijau dan penduduk ramah yang tak mengenal kata peperangan. Bila suatu saat bisa pergi berkelana, Dali adalah impiannya.

Tak cukup bagi Bai Hua kalau hanya bercerita, karena itu dia memanggil beberapa pemusik yang memang sudah disiapkannya sebagai hiburan. Dalam waktu singkat, beberapa orang yang memainkan sitar, seruling, dan kecapi sudah siap di tempatnya. Wanita itu melangkah ke atas panggung kecil di salah satu sudut restoran dan mulai bernyanyi dengan suara jernih dan tinggi:

 

Menjalani  hidup, lalui berbagai suka dan duka

Bersamamu, berdua menjelajah dunia

Melewati gunung yang jauh, menuju cakrawala

Denganmu, bermimpi melayang dalam harum bunga

 

Untukmu, seumur hidup, cinta ini tiada dua di dunia

Bayangan pedang, air beriak

Semuanya telah lewat, telah lewat

 

Untukmu, seumur hidup, cinta ini tiada dua di dunia

Selama ada bagiku, kawan tuk berkelana

Wajah yang mulai layu, sulit dilupakan, sulit dilupakan

 

Mendengar lagu yang dinyanyikan sepenuh hati itu, secara refleks Mingyue menoleh ke arah Bai Yu Tang yang terpaku di dinding. pemuda itu juga memandangnya dengan sorot mata penuh kehangatan yang begitu memabukkan. Dalam hati gadis itu mengesah, betapa lagu itu menggambarkan keinginan terdalamnya! Bebas berkelana ke ujung dunia, berdua menuju batas cakrawala...

 

***

 

Tanpa terasa, hujan deras berangsur-angsur reda. Matahari juga sudah condong ke Barat, mengecat langit dengan warna merah. Aroma tanah selepas hujan begitu menyegarkan.

“Wah, tak terasa matahari sudah hampir terbenam. Hua Jie, saya harus segera pulang,” ujar Mingyue, merasa kenyang dan agak mabuk karena pengaruh arak.

“Aih, kalau sedang senang, rasanya waktu cepat sekali berlalu ya. Pulanglah. Apa perlu kusuruh pelayan mengantarmu?”

“Terima kasih atas tawarannya. Tapi tak perlu, saya bisa pulang sendiri.” Mingyue jelas tak mungkin membiarkan orang suruhan Bai Hua mengantarnya karena rumahnya tak lain adalah istana.

Bai Hua membukakan pintu restoran dan mendapati beberapa orang pria berseragam pengawal pengadilan berdiri di halaman depan. Sebuah tandu kosong diparkir di dekat mereka. Saat melihat Bai Hua muncul dari balik pintu, salah seorang pengawal itu memberi salam kemudian berkata, “kami adalah utusan dari Kaifeng Fu untuk menjemput Tuan Muda Zhao. Apakah dia ada?”

“Ya... yah, dia ada di dalam,” ujar Bai Hua. ‘Kenapa orang-orang Kaifeng Fu sampai repot-repot menjemputnya?’ batin wanita itu, mulai merasa curiga. Meski begitu, dipanggilnya juga Mingyue yang memang sudah bersiap untuk pergi.

Begitu melihat rombongan pengawal yang bahkan sudah menyiapkan tandu untuknya, Mingyue tahu kalau mereka pasti diutus oleh Gongsun. Karena tak ingin mengulur waktu lagi, gadis itupun segera berpamitan pada Bai Hua. Sebelum pergi dia melirik cemas ke arah Bai Yu Tang yang – tentu saja – masih menempel di dinding seperti cicak putih berukuran besar.

Bai Hua yang menyadari arti tatapan Mingyue terkekeh. “Biarkan saja dia, apalagi aku masih ingin bicara empat mata dengan adikku tersayang itu. Nah pergilah. Lain kali ajak gurumu, Perwira Zhan, main ke sini, ya. Aku ingin berkenalan dengan Sang Pendekar Selatan itu lebih dekat,” ujarnya mengedipkan sebelah mata.

Tiba-tiba Bai Yu Tang berseloroh di belakang mereka. “Hahaha... aku prihatin dengan apa yang bakal menimpa Zhan Zhao nantinya.”

Bai Hua menyunggingkan seutas senyum menawan ke arah adiknya. Melihat senyuman itu, wajah Bai Yu Tang berubah pucat. Mingyue pun merasakan rambut halus di tengkuknya berdiri. Masih menyunggingkan senyum, Bai Hua mendorong Mingyue keluar dari pintu restoran kemudian melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Selanjutnya, wanita itu menutup pintu rapat-rapat.

Dari balik pintu, samar-samar terdengar suara teriakan Sang Tikus Berbulu Emas...

 

~ FIN ~

 

Footnotes:

* Jie : panggilan untuk kakak perempuan

** Tian: Langit. Sebutan orang China jaman dulu untuk menyebut sang Pencipta / Tuhan.

*** Mei-mei: panggilan untuk adik perempuan

**** Yang dimaksud adalah Biksu Tang San Zang dalam kisah Perjalanan ke Barat atau di Indonesia lebih dikenal dengan cerita Kera Sakti.

- Nu Er Hong: nama salah satu varian arak kuning. info wiki: http://en.wikipedia.org/wiki/Huangjiu

Read previous post:  
94
points
(3247 words) posted by Kurenai86 11 years 11 weeks ago
94
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | historical fiction | Justice Bao | wuxia
Read next post:  

kakaknya ckc :o

Writer stezsen
stezsen at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (10 years 25 weeks ago)
90

aaa aaa aaa
ternyata cc nya
(emang tak pandai menebak cerita saia) XD
.
lanjut lagi aahh XD

Lagunya yang Tian Xia Wu Shuang itu kan? Ru guo hai you, tie xin de liu lang... Ku wei de rong yan nan yi wang... *kalo ga salah, udah lupa* <--terakhir nonton ROCH 2006 tahun lalu, jarang nonton di tipi ikan terbang =3=v
Wuxia... nice. Dari dulu sering coba bikin cerita ala wuxia tapi gagal total, terutama dalam pendeskripsiannya. Kesimpulannya, bikin yang kayak begini itu nggak mudah. Good job (/'^')/

Writer Kurenai86
Kurenai86 at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (10 years 26 weeks ago)

yup, that's it! :3
.
soal sulit atau mudah dalam bikin suatu cerita, itu tergantung selera dan kebiasaan sih
yah, karena saya sering nonton silat, ya enak aja sih nulisnya. Nah, kalo suruh saya nulis teenlit, angkat tangah deh :p
btw, thanks udah mampir ^^

Waduh, teenlit lebih susah lagi ( '^')
Biasa nulis fantasy --v

Sama-sama. :DD

90

eh, baca cerita Bai Yu Tang punya kakak jago berantem gini jadi inget sama Meteor Garden pas si Tomingse dijotosin ame kakaknya dewh xD
ahahaha! lanjut lagi ah...

Writer Kurenai86
Kurenai86 at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (10 years 38 weeks ago)

ehehe..
saya suka peran kakak perempuan jagoan sih XDDD

80

...Sudah kuduga.
*new pairing detector mode on*

Pairing siapa?
ZZ n Hua Jie?
he3... ZZ tuh di versi aslinya dah punya istri lho... (DHUEEER!!! sepertinya bakal banyak yang patah hati XDDD)
CUma memang di serial2 JB hampir nggak pernah disebutin

OAO
*patah hati betulan*

Writer meli2
meli2 at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (11 years 10 weeks ago)
100

hahaha
ternyata... bisa aja keluar kakak sadis gitu
kasian

100

waw, keren..
Gak kbayang Bai hua yg cantik bak bidadari pnya sifat yg lbih kejam dari iblis, ckckck..
Gmana nasib bai yu tang yak?
*ngelus2 jenggot..

the Condor Heroes itu Yoko yak? Film zaman SD kan?

Writer Kurenai86
Kurenai86 at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (11 years 10 weeks ago)

Nah, itu dia... sejak awal pengen banget bikin karakter yang rada 'nyeleneh'. Pesan moral: jangan liat orang cuma dari penampilan hue3....
Nasibnya gimana... silakan pembaca berimajinasi sendiri ^^
.
Iya, lebih tepatnya;
Legend Of the Condor Heroes = Kwee Cheng (Guo Jing)
Return Of the Condor Heroes = Yoko (Yang Guo)
ini lagu dari versi barunya ROCH yang dibikin tahun 2006. Jadi pemerannya bukan Andy Lau.
info: http://en.wikipedia.org/wiki/The_Return_of_the_Condor_Heroes_%282006_TV_...

saya taunya soundtrack yoko yg kira2 begini:
Siapa yang membuatku pilu
Kembali datang masa lalu
Semakin dalam gejolak jiwa
Benci dan cintamu menyatu
Kenangan indah pun memudar..bla.bla.bla...

Aih, kau mengingatkanku sewaktu SD..
Jd ingat waktu nangis2 minta beliin baju n celana yg ada gambar yokonya, XD

Writer Kurenai86
Kurenai86 at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (11 years 10 weeks ago)

Itu soundtrack versi tahun 80-an
nih, kalo mau lagu yang bahasa aslinya (bahasa Canton)
http://www.megaupload.com/?d=7XF02AIO

90

dan... tebakan saya benar, hahaha ^__^

Writer Kurenai86
Kurenai86 at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (11 years 10 weeks ago)

Hebaaat!!! (*keplok keplok*)
akhirnya ada yang bisa nebaak \(^O^)/

Writer bss
bss at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (11 years 10 weeks ago)
100

Kasian Bai yu tang :)
ketemu Nemesis akhirnya

Writer Kurenai86
Kurenai86 at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (11 years 10 weeks ago)

iya... (tertawa di atas penderitaan orang lain ^__^ )

Writer Kurenai86
Kurenai86 at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (11 years 11 weeks ago)

Begitulah... yah, mau dibilang rada2 s*****g juga boleh. Pokoke seenaknya sendiri tapi tak terkalahkan. Tipe yang dibunuhpun nggak mati (*lho?*)
(*aaa~~~ ampun Hua Jieee~~*)
.
Ugh... justru saya berusaha menghindari kata2 kasar dan vulgar >__< . Ckckck... Anak baik ndak boleh memaki.
Saya lebih suka kalo orang ngomong halus pake kata2 biasa tapi tepat sasaran n nancep (sedang berusaha biar bisa bikin begitu). Nggak perlu keluar kebun binatang segala. Rasanya lebih kena aja :P
Kayak omongan si Forgo itu, yang paling kena ke saya justru pas dia abis ngerusak pedangnya si gede itu (lupa namanya) terus dengan santai bilang: 'turut berduka cita'. Asli ngakak abis tiap kepikiran kata2 itu.
.
Lagipula, Hua Jie itu gitu2 orangnya sensi-an, apalagi masalah penampilan dan umur. Jadi disentil dikit aja dijamin tuh jarum maut bakal melayang (-.-"). wkwkwkwk...

Writer cat
cat at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (11 years 11 weeks ago)
80

Oooooooo kakaknya tooooh

:‎​​(˘_˘)ck! (˘_˘)ck! (˘_˘)ck !

Aku penasaran Bai Yu Tang di apain tah ma Bai hua.

Lanjuuuuut.

Writer Kurenai86
Kurenai86 at My Rat My Love - Seratus Bunga (2/2) (11 years 11 weeks ago)

kenapa mak? kecewa ya? wkwkwkwkwk
kejutaaan!