Startling Surprises At Every Step (步步惊心) - Chapter 5 Part 1

Chapter 5 - Part 1

 

 

Salju pertama musim dingin datang tanpa peringatan. Langit begitu cerah sehari sebelumnya, tapi keesokan harinya, bumi tampak seperti diselimuti tepung atau bagai diukir dari sebongkah giok putih.

Sejak lulus dari universitas dan pindah ke Shenzen untuk bekerja, sudah lebih dari tiga tahun aku tak melihat salju. Menyaksikan pemandangan berkilauan serupa giok yang terhampar di hadapanku tanpa terduga seperti ini, sebuah perasaan kaget dan takjub yang tak terlukiskan memenuhi hatiku, dan dengan penuh semangat kuputuskan untuk berjalan-jalan keluar.

Qiaohui, melihat kalau dia tak bisa membujukku untuk tetap di dalam rumah, pasrah pada keinginanku dan buru-buru mencari jubah dan topi salju untukku. Aku memilih sebuah jubah sutra berwarna merah cerah yang dihiasi bulu kelinci putih di tepinya. Aku juga mengenakan sebuah topi salju dengan warna senada sebelum buru-buru melangkah keluar.

Di belakangku, Qiaohui berteriak, “jangan pulang terlalu malam.”

Salju masih turun, dan meski tidak deras, semuanya tampak begitu kabur. Sulit melihat ke depan lebih dari sepuluh langkah.

Tak ada tempat yang ingin kutuju, jadi kubiarkan saja kakiku melangkah sesukanya. Tak ada siapapun di sini. Aku berjalan, satu langkah dengan ringan, langkah selanjutnya mengikuti dengan berat. Sementara itu aku berpikir kalau, meski dunia ini sungguh luas, aku berbeda dengan semua orang di sini. Rasanya sepi, seperti kalau ‘terjebak sendirian di antara langit dan bumi’.

Saat aku menyusuri duniaku sendiri, tiba-tiba kudengar suara langkah seseorang. Seseorang yang mengikutiku dari belakang dan akhirnya berjalan beriringan denganku.

Kutolehkan kepala ke samping dan melihat kalau orang itu ternyata adalah Pangeran ke Delapan. Dia mengenakan jubah bulu musang hitam dan sebuah topi bambu bertepian lebar yang juga berwarna hitam. Aku tahu kalau aku seharusnya memberikan salam hormat, tapi entah kenapa aku ingin mengabaikannya. Jadi, aku mengalihkan pandangan darinya dan terus saja berjalan sesuka hati seperti sebelumnya.

Pangeran ke Delapan tidak bicara, tidak juga pergi. Dia terus saja berjalan di tanah bersalju di sisiku.

Salju masih berguguran. Semuanya begitu sunyi dan yang terdengar hanya suara langkah kami berdua. Aku merasa kalau di dunia putih yang luas ini, hanya ada aku dan dirinya. Meski tak satupun dari kami yang bicara, rasa sepi yang sebelumnya kurasakan mulai menghilang, dan hatiku berangsur-angsur menjadi tenang dan damai. Aku merasa kalau aku bisa terus berjalan dan berjalan.

Tanpa sengaja, aku menginjak sebongkah batu yang tersembunyi di balik salju. Kakiku terpeleset dan hampir saja aku jatuh. Aku mengesah menyesali kesialanku saat sebuah tangan terulur dan dengan kokoh menopang tubuhku. Setelah menyeimbangkan diri, aku tak berkata apa-apa dan mulai berjalan lagi. Pangeran ke Delapan juga tak bicara dan hanya terus memegangi tanganku. Beberapa kali aku berusaha melepaskan genggamannya, tapi saat menyadari kalau aku tak bisa menarik tanganku darinya, maka kubiarkan saja dia begitu.

Dengan tanganku berada dalam genggamannya, Pangeran ke Delapan berjalan selama beberapa saat. Aku tak memperhatikan pemandangan di sekitarku dan hanya melangkah mengikutinya. Karenanya aku jadi kehilangan arah. Ditambah lagi, semuanya tampak berselimut salju, jadi aku sama sekali tak tahu aku berada di mana saat itu.

Saat kami berjalan, kasim pribadi Pangeran ke Delapan, Li Fu menghampiri kami. Dia sudah begitu dekat saat aku menyadari kehadirannya. Karena panik, aku buru-buru berjuang untuk menarik tanganku, tapi Pangeran ke Delapan malah mengencangkan genggamannya. Kudengar Pangeran ke Delapan memerintahkan, “bubarkan semua orang yang berada di ruang belajar.”

Li Fu membungkuk dan menjawab, “baik,” sebelum kemudian berbalik dan bergegas pergi. Beberapa kali lagi aku berusaha menarik tanganku, tapi genggamannya masih begitu kokoh. Masih menggandengku, Pangeran ke Delapan melanjutkan langkahnya. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya kusadari kalau kami sudah tiba di depan ruang belajar.

Hanya ada Li Fu yang berdiri mengawasi pintu menuju halaman, dan saat melihat kami, dia buru-buru membungkuk. Pangeran ke Delapan tak mau repot-repot memperhatikannya dan langsung membawaku masuk ke dalam ruangan.

Begitu kami masuk, barulah Pangeran ke Delapan melepaskan tanganku, membantu melepas topi saljuku, kemudian mengulurkan tangan untuk membantu melepas ikatan pada jubahku. Dengan was-was aku buru-buru melompat mundur beberapa langkah dan berkata, “saya bisa sendiri.”

Pangeran ke Delapan tersenyum dan tak lagi memperhatikanku saat dia melepaskan jubah dan topinya sendiri kemudian menggantungnya.

Api menyala-nyala di dalam perapian, membuat ruangan itu menjadi hangat dan nyaman. Kulepaskan jubahku, tapi setelah menggantungnya, aku tak tahu harus berbuat apa. Jadi aku hanya bisa berdiri diam.

Pangeran ke Delapan menuangkan secangkir teh panas dan mengangsurkannya padaku. Refleks aku menerimanya dan menggunakan cangkir panas itu untuk menghangatkan tanganku.

Pangeran ke Delapan berjalan memutari meja, duduk di belakangnya, mengambil beberapa dokumen, dan mulai membaca. Dengan cangkir teh masih berada di tangan, aku berdiri di sana seperti orang bodoh. Setelah lewat beberapa saat, dia mendongakkan kepalanya dan bertanya sambil tersenyum, “apa kau sebegitu sukanya berdiri?”

Aku terlonjak dan buru-buru menempati kursi yang terletak paling jauh darinya. Masih menyunggingkan senyum, Pangeran ke Delapan menggeleng pelan tapi tak memperhatikanku dan terus saja membaca dokumennya dengan kepala menunduk. Sesekali, dia akan mengambil kuas dan menuliskan sesuatu.

Dan begitulah, kami terus saja duduk seperti itu. Beberapa kali Li Fu datang diam-diam, dua kali menukar teh, dan menambahkan batu bara ke perapian. Gerakannya singkat dan terlatih, bahkan tak menimbulkan satu suarapun sebelum akhirnya mengundurkan diri dari ruangan.

Mulanya, aku tak berani melirik ke arahnya dan hanya mengamati lantai di depanku. Belakangan, kudapati kalau Pangeran ke Delapan begitu berkonsentrasi membaca dokumennya hingga tak mengangkat lagi kepalanya. Barulah kemudian keberanianku bertambah, dan aku mulai diam-diam mengamatinya. Dia mengenakan pakaian abu-abu pucat. Wajahnya cerah dan halus, rautnya tegas, dan seulas senyum samar tampak di sudut bibirnya. Saat membaca dokumen, terkadang alisnya akan sedikit berkerut, tapi dengan cepat kerutannya menghilang. Saat menggenggam kuas untuk menulis, gerakannya anggun dan penuh perhitungan. Dilihat dari sudut pandangku, yang bisa menggambarkan dirinya adalah ‘keanggunannya bagai pohon bambu dan hembusan angin sejuk, penampilannya bagai mutiara dan pualam’.

Pangeran ke Delapan adalah sosok yang memiliki keanggunan dan ketampanan tanpa tanding. Aku benar-benar tak mampu membayangkan bagaimana Yongzheng akan – bisa-bisanya dia – sampai hati untuk memberikan julukan ‘A’qi’na* padanya. Mungkin inilah cara terbaik Yongzheng untuk mengekspresikan kebenciannya, jauh lebih kuat dan mengerikan daripada hanya menghabisi nyawanya.

Memandangnya, hatiku dibanjiri oleh ribuan emosi dan ratusan desah.

Entah sudah berapa lama aku duduk di sini, tapi perutku mulai kelaparan. kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan melihat kalau di atas meja Pangeran ke Delapan terdapat dua piring camilan. Setelah ragu selama beberapa saat, akhirnya kuputuskan untuk mengambilnya. Aku berdiri, melangkah, memilih salah satunya dengan seksama, dan mulai makan. Pangeran ke Delapan menengadah, melirikku, dan bibirnya melengkung membentuk senyuman.

Kukatakan padanya, “kalau saya tak pulang sekarang juga, Jie-jie pasti akan mulai merasa khawatir.”

Sudut bibirnya masih mengandung sisa-sisa senyuman. Dia menunduk untuk beberapa saat kemudian menengadah lagi. Sambil memijit pelipisnya, Pangeran ke Delapan memanggil, “Li Fu.”

Dengan cepat Li Fu masuk ke dalam ruangan, menunduk, kemudian menunggu instruksi.

“Antar Nona ke Dua pulang.”

Buru-buru Li Fu mengambilkan jubah dan topiku kemudian menungguku mengenakannya. Setelah semuanya siap, kami berdua mendorong pintu hingga terbuka dan melangkah keluar.

Salju masih turun, dan tak ada siapapun di tempat ini. Li Fu melangkah di depan untuk membuka jalan. Aku melihat sekeliling dengan hati-hati. Jalur yang dipilih Li Fu adalah jalan yang tersembunyi yang dalam kondisi normal jarang dilalui orang apalagi di saat seperti ini; ketika bahkan seekor burungpun tak terlihat. Setelah melalui sekian banyak tikungan dan belokan, jalannya tersambung dengan jalan yang lain. Sambil menunduk, Li Fu berkata, “ikuti jalan ini dan Anda akan segera melihat kediaman Nyonya Lan. Hamba masih harus kembali untuk menanti perintah selanjutnya, jadi hamba tak bisa menemani Nona lebih jauh lagi.”

Aku mengangguk dan menjawab, “pergilah.”

Li Fu memberikan penghormatan resmi** kemudian pergi.

 

***

 

Beberapa hari terakhir ini, tanpa sadar aku akan memandangi tangan kiriku dan melamun. Rasanya aku bisa memahami apa yang dipikirkan oleh Pangeran ke Delapan tapi pada saat bersamaan, aku juga tak mengerti. Saat masih di SMU, aku pernah menjalin hubungan serius, tapi pada saat itu kami hanya seorang gadis dan pemuda kecil yang isi hatinya mudah dipahami. Namun sekarang, aku sama sekali tak tahu apa yang dia pikirkan.

Suka? Tidak suka? Bermain-main? Serius? Dorongan sesaat? Direncanakan? Mana kutahu!

Bagi para pria istana yang terus-menerus memikirkan taktik dan strategi, wanita-wanita cantik hanyalah bagai pemandangan yang kau nikmati saat sedang merasa senang atau seseorang untuk diajak bersenang-senang dan memeriahkan suasana saat kau bosan. Bahkan Pangeran ke Sepuluh yang bersifat lurus dan penuh semangat merasa kalau dia bisa memiliki Mingyu Ge’ge dan aku sekaligus. Aku benar-benar tak berani berharap pada pria-pria itu.

Sejak mulai mempelajari pola-pola geometris, aku mengembangkan sebuah kebiasaan. Kalau aku tak bisa menyelesaikan suatu permasalahan saat itu juga, aku akan mengesampingkannya. Terkadang, setelah beberapa saat berlalu, aku akan mampu menyelesaikannya. Jadi kali ini, saat kusadari kalau aku tak bisa membereskannya, kuputuskan untuk membiarkan saja masalah yang teramat sulit ini. Waktulah yang akan memberikan jawaban untukku.

Masalah yang harus kuhadapi sekarang adalah pernikahan Pangeran ke Sepuluh yang akan dilangsungkan tiga hari kemudian.

Selama lebih dari sebulan, sejak saat aku masuk ke istana untuk menemuinya, kami belum pernah bertemu lagi. Kabar yang kudengar hanyalah kalau Kangxi telah memberi Pangeran ke Sepuluh kediaman sendiri.

Aku terus merasa ragu, ‘haruskah aku menghadiri pernikahannya atau tidak?’ Tapi yang ada dalam benakku adalah: makin banyak masalah yang bisa kuhindari, berarti makin baik. Akan lebih baik kalau aku tidak hadir.

Saat Jie-jie mendengar kalau aku tidak akan hadir, dengan cuek dia menjawab, “kalau begitu jangan hadir.”

Bagaimanapun juga, tepat setelahnya, Qiaohui menarikku ke samping dan menyarankan, “selain saat Tahun Baru dan hari raya lain ketika Nyonya harus pergi memberi perhormatan resmi pada Di’fujin, Nyonya tak pernah sekalipun memberi salam. Pihak Di’fujin sudah merasa tak begitu senang. Kalau Nona tidak pergi untuk memberi selamat pada Ge’ge mereka, saya takut pihak mereka akan menyalahkan Nyonya dan mengatakan kalau kita tak tahu sopan santun.”

Jadi aku tak punya pilihan selain menemui Jie-jie lagi dan bilang kalau aku ingin hadir. Nada suara Jie-jie masih saja datar tapi dia cepat-cepat menambahkan, “kalau kau datang, kau sama sekali tak boleh membuat masalah.”

Aku tersenyum dan menjamin kalau aku takkan membuat masalah.

 

***

 

Sepertinya, dalam sekejap saja, hari pernikahan Pangeran ke Sepuluh telah tiba. Kupilih baju luar berwarna merah muda dengan benang emas pada pinggirannya untuk membuat diriku tampak lebih ceria dan juga untuk menutupi penolakan yang kurasakan dalam hati.

Bei’le ke Delapan sudah berangkat lebih dulu. Beberapa saat kemudian, Jie-jie dan aku duduk berdua dalam tandu dan berangkat. Upacara pernikahannya diadakan di kediaman baru Pangeran ke Sepuluh, dan saat kami tiba, sudah banyak tandu dan kereta mewah berjajar rapi di halaman depan.

Meski kediaman ini tak bisa dibandingkan dengan kediaman Bei’le ke Delapan, di mata orang yang pernah tinggal di kota modern, kediaman ini bisa disebut menakjubkan.

Lentera dan spanduk menghiasi berbagai sisi. Lampu-lampu berkilauan dan asap dupa melayang di udara. Musik yang diiringi tabuhan genderang membahana. Tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan suasana kemewahan dan status sosial ataupun menandai keberuntungan dan kebahagiaan seperti ini.

Suara tawa, nyanyian, percakapan. Seluruh aula terasa bagai samudera kegembiraan. Semua orang merayakan, tapi Jie-jie dan aku hanya duduk berdiam diri. Dalam suasana seperti ini, kami berdua tampak seperti berada di tempat dan waktu yang salah.

Meski aku terus menundukkan kepala, aku tahu kalau sejak memasuki aula, semua orang di sini sudah mengawasiku. Mereka berpura-pura kalau tatapan mereka hanya kebetulan padahal sebenarnya itu disengaja untuk diam-diam menilaiku. Ketika duduk, aku merasa sangat tidak nyaman dan berharap bisa segera berdiri dan pergi. Bagaimanapun, aku tahu kalau aku pergi sekarang juga, penghinaannya akan menjadi lebih parah. Jadi tak peduli apapun yang terjadi, aku harus menunggu setidaknya sampai sang mempelai wanita tiba.

Mengesah diam-diam, aku membatin, ‘karena sudah terlanjur seperti ini, seharusnya aku juga ikut bersandiwara’. Kucoba menaikkan sudut bibirku dan menyadari kalau aku masih bisa memaksakan sebuah senyum. Buru-buru kupasang senyum cerah, mengangkat kepala, dan melihat berkeliling dengan santai. Perlahan-lahan, mataku bertatapan dengan berbagai macam sorot ingin tahu. Yang lucu adalah, aku tak perlu melakukan apapun yang aneh, tapi begitu bertemu dengan tatapanku, orang-orang itu segera mengalihkan pandangan mereka.

Dalam hati aku menggeram dan membuat senyumanku menjadi lebih indah dan memukau. Tiba-tiba, mataku bersirobok dengan tatapan Pangeran ke Empat. Mata gelap yang sedingin es itu tampak tanpa ekspresi, tapi aku merasa kalau senyuman di wajahku agak memudar. Rasanya seperti kalau semua kesedihan dan kebingungan dalam hatiku terpapar jelas, dan tak ada tempat untuk bersembunyi dari tatapannya yang menusuk.

Kutarik napas dan memaksa diriku tersenyum. Aku bahkan mengedip padanya sebelum kembali mengarahkan sorotan mataku pada sepasang mata yang tak siap selanjutnya.

Seorang pelayan memburu masuk dan mengumumkan, “mempelai wanita sudah berada di dekat gerbang. Bersiap untuk menyambut tandu.”

Barulah kemudian semua orang menyadari kalau selama ini mereka belum melihat si mempelai pria. Mataku menyapu ke sekeliling aula dan mendapati kalau Bei’le ke Delapan juga tidak ada. Jie-jie dan aku saling tatap, kami berdua sama-sama merasa sedikit gugup.

Cepat-cepat aku menyelinap ke dekat Pangeran ke Empatbelas dan bertanya dengan suara direndahkan. “Apa yang terjadi?”

Raut panik juga terpasang di wajah Pangeran ke Empatbelas. “Saat kemarin kulihat kakak ke Sepuluh, semuanya tampak normal.”

Aku mulai merasa gugup. ‘Astaga! Pangeran ke Sepuluh, sebaiknya kau tak membuat masalah di saat penting seperti ini.’ Melihat kalau wajahku mulai pucat, Pangeran ke Empatbelas buru-buru menenangkan. “Jangan khawatir. Kakak ke Sepuluh berada di sini. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Aku hanya bisa mengangguk.

Keriuhan di dalam aula makin lama makin keras, dan jantungku terasa seperti diremas, makin lama makin kuat. Tepat pada saat itu, dari arah luar pintu, terdengar sebuah suara yang berteriak, “Pangeran ke Sepuluh, Pangeran ke Sepuluh!”

Aku melongok dan melihat Pangeran ke Sepuluh, mengenakan pakaian pengantin, berdiri di ambang pintu bersama Pangeran ke Delapan sebelum kemudian diserbu oleh para kasim yang mengantarnya ke gerbang depan.

Seulas senyum menghiasi wajah Pangeran ke Delapan saat dia dengan anggun memasuki ruangan sambil menyalami orang-orang yang sepanjang jalan berpapasan dengannya. Saat dia memberi hormat pada sang Putra Mahkota, sang Putra Mahkota bertanya, “apa yang terjadi?”

Pangeran ke Delapan terkekeh, “Si Pangeran ke Sepuluh meributkan kalau pakaian pengantinnya tak muat. Dia merasa malu dan tak mau keluar.”

Saat semuanya mendengar hal ini, suara tawa meledak di dalam aula. Seseorang menyahut, “Pangeran ke Sepuluh takut mempelai wanitanya tak suka dan menolak masuk ke dalam kamar pengantin bersamanya.” Tawa semuanya menjadi semakin keras.

Dengan tangan bertaut di punggung dan seutas senyum samar terpasang di bibirnya, Pangeran ke Delapan berdiri si belakang Putra Mahkota. Setiap saat menyalami semua orang yang ada di situ dengan tatapan ramah.

Melihat kalau matanya hampir bertemu denganku, buru-buru kutundukkan kepala. Inilah kali pertama aku melihatnya setelah hari kami berjalan bersama di tengah salju. Entah kenapa, aku merasa takut saat melihatnya. Dengan kepala menunduk, kudapati sosok Pangeran ke Empat di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang tertawa. Ekspresinya masih saja dingin dan dia menatap kosong ke luar aula.

Beberapa saat kemudian, suara genderang dan musik bergaung, dan semua orang berkerumun di pintu masuk aula.

Aku berdiri di bagian belakang kerumunan. Samar-samar bisa kulihat sosok Pangeran ke Sepuluh, dengan tangan menggenggam seutas pita panjang berwarna merah memimpin sang mempelai wanita yang kepalanya tertutup cadar pengantin, ke dalam aula. Kemudian, diiringi oleh tawa dan canda semua orang, keduanya diantar menuju kamar pengantin.

Melihat hingga di titik ini, aku mengesah diam-diam. Beberapa saat lagi Pangeran ke Sepuluh harus keluar dan berkeliling di antara meja-meja untuk menyulangi para tamu. Aku tak tahu bagaimana dia bisa menyulangiku. Aku memberi isyarat pada Jie-jie, menunjuk ke arah pintu. Jie-jie mengangguk.

Melihat berkeliling, mendapati kalau tak ada seorangpun yang memperhatikan, diam-diam aku menyelinap keluar dari aula resepsi.

Pada bulan ke dua belas***, suhu udara di Beijing sangatlah dingin. Tapi aku merasa kalau hawa dingin inilah yang kubutuhkan. Hanya ini yang bisa meringankan rasa tak enak dalam hatiku.

 

Bersambung

 

Footnotes:

* Julukan yang diberikan oleh Yongzheng pada Pangeran ke Delapan yang bunyinya berarti ‘Anjing’ dalam bahasa Manchuria.

** Penghormatan dengan cara berlutut dengan kaki kiri di depan kaki kanan, tangan kanan lurus mengarah ke bawah, dan tubuh bagian atas agak membungkuk.

*** menggunakan penanggalan lunar, jadi sekitar bulan Januari atau Februari kalender Masehi

Read previous post:  
Read next post:  
90

kasian pangeran ke-10 -_-

100

Lanjuut

100

sundul

90

Ah penasaran dengan lanjutannya.

:‎​​(˘_˘)ck! (˘_˘)ck! (˘_˘)ck !
Kasihan sekali pangeran ke sepuluh. Semoga saja hidupnya bahagia.

Lanjuuuuut lanjuuuut lanjuuuuut lanjuuuuuut!!!!

Ah, kapan di lanjuuutkan??

doakan saja tanggal 20 nanti sudah bisa posting lanjutannya, okeh?