BLC - Kolak Pisang Hanifa

“Pokoknya ini punya Hani buat buka puasa!” tandas Hanifa pada sang adik, Ihsan. Di hadapan mereka tampak kolak pisang buatan Bunda, hanya tinggal semangkuk di pagi itu. Kolak pisang buatan Bunda teramat sedap hingga kedua bersaudara itu tidak ada yang rela membagi jatah masing-masing.

“Tapi Ihsan juga mau, Kak Hani!” balas sang adik, tak mau kalah. Wajahnya masam, bibirnya menekuk ke bawah karena ia tidak mendapat bagian.

Hanifa menghiraukannya, dengan langkah-langkah menghentak, ia menyambar mangkuk itu dan membawanya. “Kau sudah makan jatah Hani waktu sahur tadi!”

“Kak Hani pelit!!!” jerit Ihsan, ia tampak kecewa. Sedangkan Hanifa, sekilas mendengus lalu melengang menuju kamar untuk menyembunyikan kolak pisangnya.

Tak boleh ada orang lain yang memakan kolaknya, pikir Hanifa saat itu.

***

Hanifa adalah anak perempuan yang duduk di kelas tiga SD sementara Ihsan, adik laki-lakinya, lebih muda dua tahun darinya. Mereka sering memperebutkan milik saudaranya sendiri, saling iri jika ada barang yang hanya dimiliki saudaranya.

Sore hari di bulan Ramadhan saat biasanya anak-anak bermain di luar, Hanifa malah tengah mengomel-ngomeli sang adik di rumah. Anak perempuan itu bertolak pinggang, dengan wajah memerah karena kesal ia menuding sang adik telah mencuri kolak yang disembunyikannya tadi pagi.

Ya, kolak pisangnya lenyap.

“Padahal sudah Hani sembunyikan! Kamu yang makan, kan? Ngaku deh!” tandasnya.

Ihsan menggeleng kuat, “Bukan Ihsan, Kak! Bahkan Ihsan enggak tau Kak Hani taruh dimana!” raut wajahnya serius.

Namun Hanifa tetap tidak terima. Siapa lagi orang di rumah ini yang memiliki kemungkinan untuk menemukannya selain sang adik? Tidak ada, pikirnya. Apalagi Ihsan sering puasa setengah hari.

“Bunda sama Ayah kan puasa, enggak mungkin makan kolak pisang Hani!”

“Tapi Ihsan juga puasa!” bela Ihsan.

“Bohong! Paling-paling kamu puasa setengah hari, kan?” tudingnya lagi, berburuk sangka.

“Ihsan enggak puasa setengah hari!” ujarnya sambil menggelengkan kepala, tanda serius.

Ketika Hanifa hendak mendesak adiknya lagi, sebuah suara memotong, “Hayo, ada apa ini anak-anak Bunda kok berantem?” Sosoknya yang berjilbab biru langit melangkah masuk dari arah dapur.

“Ihsan tuh Bunda, dia makan kolak pisang Hani!” adu Hanifa yang kontan membuat sang Bunda kini menoleh pada Ihsan. Ia masih jengkel pada sang adik rupanya.

“Bukannya kamu puasa, Ihsan?” tanya Bunda, lembut seraya menepuk puncak kepala anak laki-laki itu penuh kasih sayang.

Ihsan langsung mengangguk. “Ihsan puasa, Bunda.”

Bunda tampak tersenyum, “Alhamdulillah, Bunda bangga!” pujinya seraya mencubit pipi Ihsan, gemas.

Ihsan segera membusungkan dada seolah baru saja mencetak gol di pertandingan sepakbola. “Ihsan enggak bohong, Kak!” pamernya lagi yang kontan membuat Hanifa cemberut.

Bunda yang segera memahami situasinya lantas menggandeng kedua anak itu menuju ruang depan. Seraya duduk santai bersama di sofa, Bunda memastikan, “Hanifa, bukannya kamu menyimpannya sendiri?”

Masih dengan wajah cemberutnya, Hanifa mengangguk. “Hani taruh di kamar, di meja.”

Bunda sontak terbelalak, “Astagfirullah, kamu sampai menyembunyikannya, Sayang? Supaya enggak diambil Ihsan?” Bunda tampak memandang Hanifa lekat-lekat, “Bunda selalu mengajari kalian untuk saling memberi, enggak boleh saling iri. Paham itu, Hanifa? Ihsan?”

Hanifa mengangguk lemah, mendadak merasa jika tindakannya tersebut salah di bawah tatapan sang Bunda. Ihsan pun sama, ia merasa bersalah karena telah memakan jatah kolak pisang kakaknya saat sahur.

“Allah enggak suka sama orang kikir, juga yang selalu iri hati pada saudaranya. Kalian berdua, anak-anak kesayangan Bunda, enggak mau dibenci Allah, kan?” tegur sang Bunda. Tangan hangatnya perlahan merangkul Hanifa dan Ihsan sekaligus.

Di dalam pelukan sang Bunda, Hanifa bertanya dengan nada cemas, “Kalau begitu, Bunda, Allah benci Hani? Soalnya Hani pelit sama Ihsan dan suka iri.”

Ihsan menyusul, “Ihsan juga sering pelit sama Kak Hani, Bunda,” akunya.

“Nah, Hanifa sama Ihsan mau janji enggak akan saling iri dan pelit lagi sama siapapun?” Bunda melepas rangkulannya sambil menatap kedua anak tersayangnya itu. Hanifa dan Ihsan segera mengangguk mantap, mata mereka basah karena air mata.

“Anak Bunda emang pintar!” puji Bunda sambil menghapus air mata Hanifa dan Ihsan dengan tisu.

Tak lama kemudian terdengar suara berat Ayah dari luar. “Assalammualaikum!”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” serempak Hanifa, Ihsan dan Bunda menjawab salam. Ihsan langsung berlari menyongsong Ayah. Tampak anak laki-laki itu menggelayut manja di gendongan sang Ayah.

“Ada apa ini? Kok pada muram?” heran Ayah yang baru pulang dari masjid, membantu persiapan buka bersama. “Padahal sebentar lagi buka puasa,” tambahnya dengan nada menggoda.

“Kapan? Kapan maghrib, Ayah?” celetuk Ihsan sambil memegangi perutnya yang mendadak keroncongan. Sudah tak tahan ingin diisi rupanya.

Ayah tersenyum bangga, “Ihsan puasa sampai maghrib hari ini?”

Anak laki-laki itu mengangguk bangga, sekali lagi ia busungkan dada.

“Terus, kenapa Hanifa dan Ihsan kayak habis nangis?” ulang Ayah tak mengerti.

Disertai senyum menenangkan, Bunda tampak menjelaskan, “Ayah tau kolak pisang yang Hanifa sisakan sahur tadi?”

Tampak Ayah mengerutkan dahi sebelum akhirnya menjawab, “Kolak pisang yang di kamar Hanifa?”

Hanifa dan Ihsan sekali lagi mengangguk serempak. “Iya! Ada yang mencurinya, Ayah!”

“Pencuri?” Sekali lagi Ayah tampak mengerutkan dahi. “Ah, kalau itu baru saja Ayah beri ke Pak Hari, pengurus masjid!” lanjut Ayah enteng.

Hanifa kontan terbelalak, tak menyangka bahwa ayahlah sang pencuri.

“Karena diletakkan gitu aja di kamar, Ayah pikir kolak itu sudah tidak akan dimakan. Daripada mubazir, Ayah beri untuk anak perempuan Pak Hari, Siti. Katanya ia ingin sekali kolak pisang,” lanjut sang Ayah.

"Hanifa menaruhnya di kamar supaya tidak dimakan Ihsan," jawab Bunda yang sukses membuat Ayah sejenak mengangguk-angguk.

“Memang kenapa Bundanya enggak masakin kolak buat dia?” mendadak Ihsan bertanya, bingung karena selama ini ia hanya pernah memakan kolak buatan sang Bunda.

Ayah lantas melempar pandang dengan Bunda sesaat. “Karena dia sudah tidak punya Bunda, Ihsan,” jawabnya lembut.

Mendengar hal tersebut, Hanifa kontan terkejut lalu mulai memilin-milin bagian depan jilbabnya―yang selalu ia lakukan jika gugup atau malu. Ia makin merasa bersalah dengan sifatnya yang pelit.

“Hitung-hitung beramal kan, Nak?” bujuk Ayah yang kini berjongkok di hadapan Hanifa.

Hanifa mengangguk setuju lantas ia menghadap Bunda, “Bunda, besok bikin kolak pisang lagi, ya?” pintanya.

Bunda tersenyum lembut, “Tentu, Sayang. Kali ini Bunda masak yang banyak buat kalian berdua.”

“Asiiiiiik!!!” Ihsan bersorak riang sesaat yang segera berhenti ketika kakak perempuannya angkat bicara.

“Buat yang banyak, Bunda, untuk dimakan bareng Siti.”

Ucapan Hanifa mengundang senyum dari Ayah dan Bunda.

“Ini baru anak Bunda dan Ayah!” puji mereka sambil memeluk Hanifa dan Ihsan. Beberapa saat kemudian azan maghrib pun berkumandang.

Saatnya berbuka puasa!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yellowmoon
yellowmoon at BLC - Kolak Pisang Hanifa (10 years 49 weeks ago)
100

bagus sekali ^__^

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at BLC - Kolak Pisang Hanifa (10 years 49 weeks ago)

Makasi, yellowmoon :)

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)
100

Ini cerita yang manis dan... err... yah, pokoknya manis deh...
*komengamutu*

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)

Eeeerr.. makasi Ka Zoel... *balasangamutu XP

Writer shafira
shafira at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)
70

kamu disini gie, kelihatan sekali menekan cerita supaya kelihatan sangat sederhana, padahal mungkin di dalam kepalamu yang suka berfantasi itu banyak sekali ide yang kemugnkinan tak bisa kamu keluarkan akibat mungkin salah satunya, batasan kata yang hanya 1000 atau juga karena cerita ini ditekankan untuk anak-anak. Aku suka kesederhanaan cerita ini gie, cocok untuk anak-anak, tapi menurutku setuju dengan Kurenai, kau masih terlalu sederhana dalam memilih cara untuk mengakhiri cerita ini gie..
aku protes kepada someonefromthesky yang membuat syarat cerita ini harus 1000 kata. terus terang bagiku itu sulit, dan perlu menaklukkan tantangan pengkarakteran dalam 1000 kata, cerita yang langsung memikat dalam 1000 kata, ending yang harus 'mencubit' dalam 1000 kata. (karena cerpenku biasanya diatas 3000 kata, hahaha)
tapi cerita ini manis gie.. ^_^

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)

Iya, Ka Shafira bener. Seperti yang saya tulis di balasan komen Kak Kure, jumlah kata dan kereligian jadi hambatan besar bagi saya di sini.
Ternyata mang masi kurang ya... Hmmm...
.
Oke, makasi Ka Shafira~~

Writer Kurenai86
Kurenai86 at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)
90

Gie... akhirnya balik lagi
Karena cerita anak, jadi sederhana ya
cuma saya agak kurang sreg di bagian si Bunda nasehatin anak2-nya. Cepet amat mereka insafnya --a
kalo cuma dibilangin gitu sudah sadar (meski nyebut nama Allah segala... maaf jangan marah y, soalnya saya bukan muslim. Kalo nggak suka hapus aja komen ini), kenapa nggak dari dulu2?
Menurut saya sih kalo anaknya sebandel itu (sampai rebutan dan iri-irian antara saudara) nggak bakal semudah itu mereka sadar. Kan masih kecil.
Saya rasa mereka butuh sesuatu yang lebih menusuk biar sadar sendiri. Misal:
tiba2 mereka liat di luar ada anak2 gelandangan ngais2 sisa makanan di tempat sampah terus makan dengan lahap.
Si Hani komen: "Lho? Mereka kok nggak puasa? Kan belum buka?"
Bunda: "Bisa jadi, mereka itu puasanya jauh lebih lama dari kamu. Tanpa sahur dan berbuka..."
.
He3... ngelantur ah

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)

Iya, apa yang Kak Kure dan Kak Shafira sampaikan mang bener kelemahan besar di cerpen ini. Saya juga dah menyadarina sejak awal, banyak kondisi yang membuat sulit saya. Beberapa di antarana jumlah kata yang hanya 1000 dan kereligianna. Itu karena saya baru sekali ini bikin cerpen yang genre-na religi, jadi masi eerrr... meraba(?) cerpen religi itu yang ky gimana >___<
Tadina memang ingin melibatkan anak lain untuk memancing Hani dan Ihsan supaya menyadari kesalahanna, tapi dipikir-pikir nanti jadi melebar dan melewati batas kata =_=
.
Tapi, di lain pihak, saya pikir konflik dengan penyelesaian seperti ini dah cukup cocok untuk cerpen anak. Yah, itu subyektifitas saya sendiri sih xD
.
Makasi Kak Kure

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)
100

Waaaaah, manis :). Simpel banget, oke deh :D
Oh paling dialog yang ini agak formal mengingat bawah2nya nggak seformal yg ini-->

Quote:
“Kau sudah makan jatah Hani waktu sahur tadi!”

Hehe.. sippp, Gieeee :3

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)

Makasi Dev <3
Maap udah gangguin Devi dengan segala ke-stres-an saya di saat dedlen >____<

Writer smith61
smith61 at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)
100

THIS IS CLASSIC <3

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)

dopost xDD

Writer smith61
smith61 at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)
100

THIS IS CLASSIC <3

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)

Hm, makasi Mith :D

Writer musthaf9
musthaf9 at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)
100

oh, so sweet!!!
alurnya lambat, adegannya pun cuma dua. but that's not a problem.
simpelnya sih, ini uda perfect menurutku. d^^

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at BLC - Kolak Pisang Hanifa (11 years 3 weeks ago)

Makasi Mus~~~ :)