Startling Surprises At Every Step (步步惊心) - Chapter 5 Part 2

Dengan tangan bertaut saling memeluk, bahu merunduk, dan punggung membungkuk, aku mengigil dan mencari tempat yang sepi. Saat berjalan, kudengar suara dari arah depan berkata, “bila kau begitu takut kedinginan, kenapa berada di luar sini, berjalan menantang angin?”

Kuangkat kepalaku. Ternyata itu Pangeran ke Tiga Belas. Dia duduk dengan kaki terlipat di atas pagar dan memandangku dengan tatapan merendahkan. Karena kaget, aku menyahut tanpa berpikir panjang. “Kenapa Anda sendiri tidak minum-minum di aula resepsi?”

Pangeran ke Tiga Belas memancing balik, “kalau begitu kenapa kamu sendiri berada di sini?”

Aku tak bisa menjawabnya. Aku terdiam saat menyadari kalau diriku belum memberikan salam hormat. Buru-buru kutekuk lutut dan berkata, “salam sejahtera, Pangeran ke Tiga Belas.”

Dia tertawa santai. “Orang yang ingin mendapatkan restu kemakmuran dan kebahagiaan berada di aula resepsi.” Karena Pangeran ke Tiga Belas belum mengatakan, “bangkitlah,” aku hanya bisa mempertahankan posisi setengah berlututku. Barulah setelah beberapa saat berlalu, kudengar dia berkata, “berdirilah.”

Pelan-pelan aku berdiri dan diam saja menunggunya pergi.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, dan Pangeran ke Tiga Belas masih belum juga beranjak. Akhirnya, tanpa sebab yang jelas, dia berkata, “hari ini, kau dan aku sama-sama mengalami patah hati. Kenapa kita tidak saling menemani saja?”

Kutatap dia dengan ekspresi bingung.

Pangeran ke Tiga Belas melompat dari atas pagar dan melangkah ke arahku. Meraih tanganku, dia mulai berjalan meninggalkan tempat ini.

Langkahnya panjang dan cepat. Tak mampu melepaskan tangan dari genggamannya, aku tak punya pilihan selain berlari-lari kecil mengiringinya sambil berujar, “lepaskan!”

Pangeran ke Tiga Belas menarikku keluar dari kediaman itu melalui pintu samping. Pelayan yang berjaga di pintu tak berani mengatakan apa-apa setelah sang pangeran melemparkan tatapan dingin padanya. Kudengar dia bersiul, dan kemudian terdengar, ‘klop klop’, suara derap langkah tapal kuda. Seekor kuda hitam mengkilat berjalan mendekat dan berhenti di depan kami.

Aku mendesah, “ah,” tapi sebelum desahan kagetku itu usai, kusadari kalau aku sudah duduk di atas punggung sang kuda. Pangeran ke Tiga Belas ikut melompat ke atasnya, merangkulkan satu tangan ke pinggangku, dan dengan tangan yang satunya meraih tali kekang. Kudengar teriakan, “jia!” dan si kuda mulai berlari.

Tak pernah sebelumnya aku mengendarai kuda secepat ini. Rasanya seperti menunggang di atas awan dan mengendarai kabut. Aku terlonjak gila-gilaan. Ketakutan, yang bisa kulakukan hanya menempelkan punggungku ke dadanya seperti kalau nyawaku ini tergantung di sana. Angin yang menderu terasa menyakitkan, wajahku seperti ditusuk-tusuk oleh ujung-ujung pisau. Kuputar leher dan menekankan wajahku ke bahunya.

Setelah beberapa saat berpacu dalam kecepatan mematikan, rasanya seluruh tubuhku mati rasa karena kedinginan. Aku penasaran, ‘apa yang dia inginkan? Apa dia ingin membuatku mati beku? Mungkinkah dia menyukai Mingyu Ge’ge? Kalau tidak, mana mungkin dia bisa menggunakan istilah “dua orang yang sama-sama patah hati”?’

Perlahan-lahan si kuda memelankan langkahnya dan, akhirnya, berhenti. Pangeran ke Tiga Belas turun kemudian berbalik untuk menurunkanku dari punggung kuda.

Berdiri di atas tanah, aku malah merasa semakin kedinginan, sepertinya hawa dingin ini sudah merasuk hingga ke tulang. Kupeluk diriku sendiri erat-erat sambil menggertakkan gigi. Seluruh tubuh gemetaran.

Pangeran ke Tiga Belas melepas sekantong arak dari pelana kuda dan mencabut sumbatnya. Dengan satu tangan menopang kepalaku, dia mendekatkan kantong kulit itu ke bibirku dan berkata, “minumlah.” Masih menggigil, kutelan seteguk arak dan merasakan hawa panas mengalir langsung ke lambungku. Kembali dia memerintahkan, “minum lagi.” Kutenggak lagi cairan dari kantong di tangannya.

Perlahan-lahan, kehangatan menyebar ke seluruh bagian tubuhku. Aku tak lagi mati rasa, meski tubuhku masih saja gemetar tak terkendali.

Sekarang mengabaikanku, Pangeran ke Tiga Belas berbalik menuju ke arah pepohonan. Ingin rasanya aku berteriak dan menyuruhnya berhenti, tapi kusadari kalau diriku begitu kedinginan hingga tak mungkin bisa bersuara.

Langit di atasku hitam pekat. Aku berdiri sendirian di sini, hanya ditemani seekor kuda. Tubuhku terus menggigil. Aku ketakutan, dan pada saat bersamaan, aku bersumpah dalam hati takkan pernah lagi mengganggu Mingyu Ge’ge. Aku bukan tandingan orang jahat ini.

Beberapa saat berlalu dan Pangeran ke Tiga Belas kembali, membawa setumpuk ranting. Setelah berkutat beberapa lama, api unggun yang cukup besar menyala.

Melihat api, segera aku duduk di dekatnya. Pangeran ke Tiga Belas mengangsurkan lagi kantong kulitnya dan aku tak menolaknya. Menggenggam benda itu, kutelan lagi seteguk arak kemudian mengembalikannya pada Pangeran ke Tiga Belas. Kami berdua duduk saja seperti ini, menghangatkan diri di dekat api sambil minum arak, saling mengoper kantong kulit, seteguk tiap kalinya.

Jie-jie pasti mengkhawatirkanku sekarang, tapi saat aku mengintip ke arah wajah si orang jahat ini, yang disinari oleh cahaya api yang menari, aku tak punya keberanian untuk bicara. Kuharap dia tetap menyadari kalau pernikahan Mingyu Ge’ge dengan Pangeran ke Sepuluh adalah ide Kangxi dan tak ada hubungannya denganku, dan semoga dia tak mengerjaiku lagi. Kalau tidak, takutnya diriku tak bisa melihat Yongzheng naik tahta sebelum mati di tangan orang jahat ini.

Kami berdua terus minum, dia seteguk, aku seteguk, bergiliran, hingga isi kantong kulitnya habis. Pangeran ke Tiga Belas berdiri, mengambil sebuah kantong kulit lagi dari punggung kuda, dan kami pun meneruskan kegiatan itu.

Aku minum dan minum. Berbagai kenangan bangkit dalam benakku. Aku ingat pergi minum dengan teman-temanku di Lan Kwai Fong di Hong Kong, mencuri minum champagne di rumah saat masih kecil dan mabuk... Dan kemudian, kadang aku akan cekikikan dan kadang hanya memandangi api, hanyut dalam pikiranku sendiri. Dan selanjutnya? Selanjutnya, aku bahkan tak tahu apa yang telah kulakukan, tapi entah bagaimana, saat langit masih gelap, guncangan Pangeran ke Tiga Belas membangunkanku. Kutatap dia dengan gugup dan menyadari kalau diriku terbaring di pangkuannya.

Pangeran ke Tiga Belas mematikan apinya dan mengangkatku ke atas punggung kuda.

Sekali lagi kami berpacu gila-gilaan. Dan lagi-lagi kutempelkan punggungku padanya sekuat tenaga. Kembali aku kedinginan hingga tak mampu lagi merasakan tubuhku sendiri. Saat kami tiba di Kediaman Bei’le ke Delapan, kilau pertama fajar mulai menampakkan diri. Pangeran ke Tiga Belas menurunkanku di depan pintu dan berkata, “peminum yang hebat! Aku akan mencarimu lagi kalau perlu teman minum.” Dengan ucapan itu, dia memacu kembali kudanya.

 

***

 

Kepalaku terasa berputar dan tubuhku gemetar. Pada saat bersamaan, kugunakan kepalaku untuk mengetuk pintu.

Kenapa aku tak memakai tangan? Karena tanganku ini membeku dan jadi tak terlalu berguna.

Pintu terayun membuka, membuatku terbawa dan tersuruk ke depan, kepala duluan. Seorang pelayan buru-buru mendekat untuk menangkap dan menopangku, dan ketika menyentuh tubuhku, dia mejerit, “astaga! Kenapa tubuh Anda seperti es?”

Aku dibawa ke tempat Jie-jie. Jie-jie, dengan wajah dibanjiri rasa khawatir, segera berlari mendekat. Seseorang membantu melepas pakaianku, seseorang membawakan air panas, dan seseorang memandikanku. Barulah saat tubuhku, akhirnya, tak sedingin es lagi mereka menarikku keluar dari dalam bak mandi dan membaringkanku di ranjang.

Jie-jie melontarkan berbagai pertanyaan, tapi saat melihat ekspresi kosong dan dunguku, dia menyerah. Aku memanfaatkan efek samping alkohol yang tadi kuminum untuk membuatku tertidur pulas.

Saat para dayang membangunkanku, saat makan malam sudah tiba. Selain kepala yang terasa agak berat, yang lainnya baik-baik saja. Diam-diam aku merasa senang dengan kemampuanku yang cukup baik untuk mentoleransi alkohol, tak pernah menangis atau berteriak saat mabuk. Paling-paling aku tertidur dengan kepala ditelengkan.

Aku berpakaian sepantasnya dan memasuki ruang makan, dimana kudapati kalau Pangeran ke Delapan juga berada di situ. Baru saja bangun dengan kepala pusing dan tidak makan apapun sejak kemarin siang, otakku masih agak lamban. Buru-buru kuberikan salam hormat tapi kemudian, tak mau repot-repot memikirkan hal lainnya, aku mulai makan.

Aku makan dan makan untuk beberapa saat sebelum akhirnya kesadaranku kembali. Harus bagaimana kujelaskan di mana aku berada kemarin malam? Aku sedang berkutat dengan pikiran ini saat kudengar Jie-jie bertanya, “kemana Pangeran ke Tiga Belas membawamu kemarin?”

Aku terperangah sejenak sebelum akhirnya berkata, “kenapa Jie-jie bisa tahu?”

Jie-jie menjawab, “ada orang yang hilang. Kenapa aku tak tahu?”

Aku membatin, ‘benar juga. Yang perlu dilakukan hanyalah bertanya pada pelayan yang menjaga pintu dan semuanya akan menjadi jelas.’ Bagaimanapun juga, pertanyaan mengenai apa yang telah kami lakukan bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Saat kuingat kembali semua yang mungkin bisa terjadi kemarin malam, aku merasa sedikit takjub. Saat aku masih seorang gadis kecil, tiap kali kubaca novel wuxia, akan kubayangkan diriku bersama seorang pendekar tampan yang memiliki keahlian silat luar biasa, sedang mengendarai seekor kuda berdua, berpacu di tengah padang rumput yang menghijau. Sang pendekar akan memandangku penuh cinta dan aku akan menatapnya balik dengan tatapan lembut. Sungguh tak kuduga kalau mimpi indah ini agaknya sedikit terwujud kemarin, meski dalam bentuk yang berbeda. Memang, ada dua orang berkendara di atas punggung seekor kuda. Tapi hal lainnya benar-benar salah. Semakin kusadari betapa konyol dan lucunya hal itu, makin tak mampu aku menahan cengiran di wajahku. Meski begitu, aku masih harus memaksakan diri untuk menahannya karena ekspresi di wajah Jie-jie sama sekali tidak bagus.

Melihat ekspresiku yang menderita, Jie-jie kehilangan kesabaran. “Jangan ditahan-tahan. Tertawalah! Setelah selesai tertawa, jawablah pertanyaannya dengan benar!”

Akhirnya kulepaskan semua tawa yang sejak tadi kutahan. Saat aku masih terbahak-bahak, tiba-tiba kurasakan dua sorotan mata ke arah wajahku yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. Dengan was-was, cepat-cepat kukendalikan tawa itu, memasang wajah serius, dan melirik ke arah Pangeran ke Delapan. Sudut bibirnya masih membentuk senyuman, tapi ada sorot dingin di matanya yang membuatku menggigil saat dia memandangku. Aku tak mampu lagi tertawa dan buru-buru menundukkan kepala untuk makan.

Sekarang setelah aku tak lagi tertawa, Jie-jie memerintahkan, “jawab sekarang! Apa yang kalian lakukan kemarin malam?”

Kujawab pendek, “kami keluar untuk minum-minum.”

Dengan bingung, Jie-jie bertanya, “kenapa Pangeran ke Tiga Belas membawamu minum-minum?”

Sejenak aku merasa ragu tapi akhirnya kuputuskan kalau tak seharusnya aku mengumumkan urusan pribadi orang lain. Karena itu kujawab, “mungkin dia melihatku bersedih dan bersimpati padaku.”

Jie-jie menggelengkan kepala. “Seorang gadis yang belum menikah tidak pulang ke rumah semalaman. Apa kau pikir gosip tentangmu masih belum cukup?”

Barulah saat itu aku mulai bereaksi. Aku berpikir, ‘oh tidak! Sekarang seluruh penghuni Kota Terlarang pasti ingin melihatku.’ Kekhawatiranku tak berlangsung lama karena kemudian benakku tiba-tiba beralih. ‘Mereka semua bisa melihat sesukanya. Siapa yang tahu hal apa yang menungguku di masa depan? Aku akan bersenang-senang dan menjalani hidup untuk saat ini. Siapa yang peduli bagaimana pendapat mereka tentang diriku?’

Aku menghela napas lega. Raut wajahku kembali normal dan aku meneruskan makan dengan kepala menunduk.

Jie-jie menunggu untuk beberapa saat, dan saat melihatku terus saja menunduk sambil menyendokkan nasi ke mulut, dia berkata, “untungnya kali ini, Bei’le mendapati hal ini lebih awal, dan juga ini terjadi di kediaman Pangeran ke Sepuluh. Tuan sudah mengurus hal ini dengan baik. Selain beberapa orang pelayan yang bisa dipercaya, tak ada orang lain yang mengetahuinya. Waktu itu kami ingin mengirim orang untuk mencarimu, tapi jika yang dikirim terlalu banyak, hal itu akan menarik perhatian. Jika mengirim sedikit, takkan ada banyak gunanya. Kami kemudian berpikir, karena Pangeran ke Tiga Belas-lah yang membawamu pergi, dia pasti akan mengantarmu kembali. Jadi kami hanya mengirim seorang pelayan yang bisa dipercaya untuk menjaga pintu.” Jie-jie berhenti sejenak kemudian melanjutkan, “tapi ingat ya, hanya untuk kali ini saja! Takkan ada lain kali!”

Aku menggerutu pelan, ‘memangnya aku mau berada di luar sana di tengah hembusan angin musim dingin? Aku kan dipaksa oleh orang jahat itu!’ Saat pikiranku mencapai titik ini, aku tak bisa menahan perasaan kalau aku memang telah sedikit melampaui batas, dan buru-buru mengaku, ‘baik. Saat itu, perasaanku tak begitu senang dan aku ingin melampiaskannya. Jadi saat dia membawaku, aku tak sungguh-sungguh menolaknya.’

Saat makan malam usai, Pangeran ke Delapan tersenyum dan ngobrol sebentar dengan Jie-jie sebelum akhirnya pergi dengan terburu-buru.

Dengan hati-hati kuamati ekspresi Jie-jie. Tak sedikitpun Jie-jie tampak tak senang, dan sebenarnya, dia terlihat lega. Aku mengesah diam-diam dan melamun, ‘seperti apa wajah orang yang disukai Jie-jie? Bahkan Pangeran ke Delapan yang begitu elegan dan tampan tak mampu membuat Jie-jie melupakannya!’

 

End of Chapter 5

Read previous post:  
Read next post:  
100

Lanjuut

Mana lanjutannnyaaaaaaaaaa.

ha3...
si emak dateng2 langsung heboh ^^
sabaaar

100

jie-jienya marah adiknya nggak pulang semalaman

100

Jadi gosip deh
padahal ruoxi dan pangeran 13 kayaknya cuma temen kan

90

Aaaaaaa pangeran 13 yah.

Aku sudah baca dan menunggu lanjutannya.

100

Poin sendiri ah