BLC - Maafin Sholeh ya, Bu!

Beberapa bocah sedang berkumpul membicarakan puasa pertama mereka, esok hari di pelataran Mesjid. Ada Rahmat, Abdul, Udin, Hidayat, Saleh.

“Mat, kali ini rencananya puasamu bakal bolong tidak?”

Rahmat yang ditanya cuma nyengir. “Rencananya tidak, ibuku bilang kali ini tidak boleh bolong lagi. Mesti ditahan sampai magrib.” Rahmat terlihat sungguh-sungguh.

“Mamaku juga bilang begitu!”, Abdul tak mau kalah.

“Ibuku juga!”, “Buk-e ku juga!”, “Aku juga!” yang lain mulai sahut-sahutan tak mau kalah. Sahut-sahutan itu secara tidak langsung sebagai sebuah janji bahwa mereka semua akan berpuasa penuh kali ini. Tidak boleh bolong. Yang puasanya bolong maka akan diejek, diolok-olok.

“Aku suka bulan Puasa, banyak makanan. Banyak kue-kue, ibu juga sering bikin kolak lupis. Emmm.. Enaknya. Aku jadi tak sabar ingin cepat-cepat puasa, deh!” kata Rahmat dengan gembira. Rahmat suka bulan Puasa karena banyak makanan yang melimpah. Semuanya lezat. Minuman berbuka puasanya bermacam-macam, ada teh manis hangat, lalu es sirup rasa jeruk atau strawberi, kadang-kadang ibunya juga sering membelikan dia es tebu atau es cendol di pasar. Ibu Rahmat memang selalu memanjakan Rahmat dengan makanan yang banyak dan lezat setiap hari. Apalagi ketika bulan Puasa, makanan berbuka puasa Rahmat tentu semakin istimewa.

“Aku juga” kata Udin tak mau kalah. “Aku juga”, kata Abdul. “Aku juga”, “Aku juga”

Semuanya memang mendapat makanan yang istimewa untuk buka puasa. Hanya Saleh yang tertunduk lesu. Saleh hanya diam saja, tak memberi ucapan sepatah katapun.

“Kalau kau bagaimana, Shaleh? Ibumu juga menyediakan makanan yang lezat-lezat juga kan?” tanya Udin kepada Shaleh. Shaleh semakin menunduk, dia tidak berani memandang wajah-wajah temannya. “Mengapa kau diam aja, Shaleh?” tanya Udin heran.

“Ayo jawab dong, Shaleh!” teman-teman yang lain pun memaksa Shaleh menjawab pertanyaan Udin.

“I-i-iya” Shaleh menjawab dengan terbata-bata. Teman-temannya tersenyum senang. lalu mereka pun bersama-sama masuk ke dalam mesjid untuk sholat Isya berjama’ah karena iqomah sedang dikumandangkan.

****

Hari ini sahur pertama. Ibu membangunkan Shaleh. Ayah terlihat sudah duduk bersila di tikar, begitu pula dengan adiknya, Ani. Sudah duduk manis di depan hidangan sahur. Shaleh terlihat lesu dan kurang bergairah, padahal biasanya dia selalu bersemangat kalau bulan Puasa tiba. Bahkan biasanya dia yang selalu membangunkan Ibu, Ayah, dan adiknya Ani.

“Mengapa wajahmu lesu, Nak?” Ibu memperhatikan mata Shaleh yang terlihat bengkak dan sayu. Shaleh cuma diam saja dan buru-buru ke kamar mandi mencuci mukanya. Lalu dia bergabung dengan keluarganya di ruang tengah. Hidangan sahur disusun rapi oleh ibu di atas tikar. Mereka tidak punya meja makan. Keluarga Shaleh memang hidup serba pas-pasan. Ayahnya cuma bekerja sebagai tukang sayur di Pasar yang berada di dekat rel kereta api.

Ayah memandangi wajah Shaleh yang tidak bersemangat. Ayah tau pasti ada sesuatu yang disembunyikan Shaleh sebab tidak biasanya Shaleh seperti ini. Shaleh hanya memandangi piringnya, padahal biasanya Shaleh akan berlomba dengan Ani untuk mengambil nasi yang pertama. Siapa yang duluan mengambil centong nasi, dia yang paling sehat dan gesit.

“Ani yang duluan! Kak Shaleh lamban!” ujar Ani sambil merebut centong nasi dengan gesit. Ani terlihat senang sebab kali ini dia bisa mengalahkan kakaknya. Shaleh hanya diam seribu bahasa.

“Ada apa, Shaleh? Mengapa dari tadi kamu diam saja? Kamu sakit?” tanya Ayah.

Ibu lalu meraba kening Shaleh. Tidak panas. Ani juga ikut-ikutan meraba kening Bang Shaleh.

“Gak panas kok, Yah! Bang Shaleh sehat kok!” ujar Ani kepada ayah.

Ibu lalu mengambil piring Shaleh dan meletakkan nasi di atas piringnya. Kemudian ibu mengambil sepotong ikan sambal dan beberapa sendok sayur asam ke piring Shaleh.

“Jangan diam saja kalau ditanya orang tua. Itu tidak sopan!” ujar Ibu dengan suara yang agak marah. Ibu paling tidak suka dengan anak yang mengacuhkan perkataan atau pertanyaan orang tuanya. Itu bukan akhlak yang baik.

Lalu tiba-tiba Shaleh menangis sambil memeluk ibu. Ibu menjadi heran. Lalu perlahan-lahan Shaleh menceritakan tentang kejadian di Mesjid tadi.

“Shaleh iri dengan teman-temannya yang makanan berbuka puasanya enak-enak. Semua makanan istimewa, ada kolak, ada buah-buahan, ada kue, minumannya bermacam-macam. Shaleh ingin makanan begitu, Bu..” ujar Shaleh sambil terisak-isak. Ibu menarik napas. Ibu paham, anak-anak memang selalu mempunyai rasa iri dengan teman-temannya yang mempunyai nasib lebih baik daripadanya. Ibu bisa mengerti sikap Shaleh apalagi bagi anak seusia mereka, ibadah puasa masih terasa berat dan wajar jika mereka minta makanan istimewa. Tapi sayangnya, ibu tidak punya cukup uang untuk memenuhi permintaan Shaleh apalagi sekarang Ani sudah mulai masuk sekolah. Ibu harus berhemat dan pandai-pandai mempergunakan uang.

“Ya sudah, jangan menangis lagi. Sekarang makan, sebentar lagi imsak.” Ujar Ayah kepada Shaleh.

****

Magrib akan segera tiba, saatnya menghidangkan lauk untuk berbuka puasa.

Ibu menyusun hidangan berbuka puasa di atas tikar seperti biasanya. Namun ada yang tidak biasa. Kini ada es cendol dan teh manis hangat di samping kiri piring Shaleh dan Ani. Kemudian ada juga buah semangka yang menggoda selera. Ada ayam semur kesukaan Shaleh. Ada sop sayur. Ada juga bermacam-macam kue di atas piring. Ada kue lapis, kue pastel, risol, lemper. Shaleh yang baru pulang dari bermain sungguh senang melihat itu semua. Wajahnya berseri-seri. Dia senang ibu dan ayah mau memberikan makanan istimewa untuknya selama bulan Puasa. Saat azan terdengar, Shaleh dan Ani memimpin doa berbuka puasa dengan suara nyaring dan riang. Lalu Shaleh dan keluarga makan dengan lahap. Tak lupa Shaleh mengucapkan terima kasih kepada Ayah dan Ibu atas hidangan istimewa hari ini.

Hari ini puasa kelima. Shaleh sangat senang karena ia terus mendapatkan makanan istimewa untuk berbuka puasa. Shaleh akan menceritakannya kepada teman-teman. Sebelum itu, Shaleh singgah terlebih dahulu ke kedai Bu Rini untuk membeli kelereng sebab hari ini mereka akan bermain kelereng di rumah Rahmat. Tiba-tiba Bu Rini memanggil Rahmat dan memberikan secarik kertas berisi catatan kepadanya.

“Tolong sampaikan catatan ini kepada Ibumu ya, Leh” ujar Bu Rini.

“Iya Bu!” ujar Sholeh.

Kemudian Sholeh membuka catatan itu dan membacanya. Betapa kagetnya dia, itu adalah catatan hutang ibu di kedai Bu Rini. Jadi selama ini Ibu dan Ayah berhutang demi untuk memenuhi keinginannya. Sholeh langsung berlari menuju rumah.

“Ibuuuuuuuu....” teriak Sholeh sambil menghampiri Ibu. Ibu yang sedang membersihkan kompor kaget mendengar panggilan Sholeh.

“Maafin Sholeh ya Bu. Gara-gara Sholeh ibu harus berhutang di Kedai Bu Rini.” Sholeh terisak-isak, dia menyesal telah memaksa ibunya untuk memenuhi keinginannya.

Ibu membelai kepala Sholeh. “Sekarang kamu tau kan, kalau kemampuan Ibu dan Ayah hanya sebatas hidangan yang sederhana? Hanya ikan dan sayur. Ibu sebenarnya ingin memarahimu waktu itu, tapi Ayah melarangnya. Ayah tau kamu anak yang baik, dan pasti suatu saat kamu akan mengerti. Ternyata Ayah benar, kamu anak yang baik”, ujar ibu sambil membelai pipi Rahmat.

“Iya Bu..” ujar Sholeh.

“Makna puasa itu, bukan dari makanan yang lezat waktu berbuka. Tapi bagaimana caranya Sholeh meningkatkan ibadah-ibadah Sholeh, misalnya sholatnya tidak boleh bolong-bolong lagi, membaca Al-quran harus rutin tiap selesai sholat subuh, lalu sholat tarawih, bersedekah. Semua pahala ibadah kita di bulan puasa ini dilipatgandakan oleh Allah. Kalau Sholeh bisa melaksanakan semua itu, baru bisa dikatakan kalau Sholeh berhasil melewati bulan Puasa dengan sempurna. Dan Sholeh baru bisa dikatakan anak jempolan.” Ibu menjelaskan makna puasa sesungguhnya kepada Sholeh. Sholeh mendengar nasehat Ibu dengan sungguh-sungguh.

“Sholeh tau, dulu, Rasulullah berbuka puasa kadang hanya dengan air putih dan kurma. Tapi coba lihat iman Rasulullah, tidak ada yang bisa menandinginya.” Sholeh berbinar-binar matanya. Dalam hatinya, dia berjanji tidak akan bertingkah seperti itu lagi dan akan selalu mensyukuri setiap makanan yang ada untuk berbuka puasa meskipun itu cuma segelas teh manis.

Sholeh benar-benar menyesal. Ketika Ayah pulang, Sholeh pun meminta maaf kepada Ayah mengenai sikapnya selama ini.

*****

Saat taraweh tiba, Sholeh dan teman-temannya berkumpul di masjid untuk melaksanakan tarawih berjamaah. Namun Rahmat tidak kelihatan.

“Rahmat kemana ya? Kok sudah beberapa hari tidak kelihatan?” tanya Sholeh kepada teman-temannya.

“Aku dengar Rahmat sakit perut karena kekenyangan waktu berbuka puasa.” jawab Udin.

Sholeh pun semakin yakin akan kebenaran perkataan ibunya, bahwa makan berlebih-lebihan ketika buka puasa itu tidak baik. Sholeh merasa beruntung karena Allah segera memberitahunya kalau perbuatannya itu salah.

“Terima kasih, Allah, karena telah menegur kesalahan Sholeh!” ujar Sholeh dalam hati.

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at BLC - Maafin Sholeh ya, Bu! (10 years 48 weeks ago)
90

Cerita yang sangat bagus.

Writer musthaf9
musthaf9 at BLC - Maafin Sholeh ya, Bu! (11 years 3 weeks ago)
90

whoa, ada tambahan dua karakter ya? Rahmat, Abdul, Udin, Hidayat, Saleh, Shaleh, dan Sholeh.
okelah, mbacanya mirip, tapi dalam hal nama, consistency is a must.
.
the story itself's nice. membahas masalah klasik (tapi serius) anak-anak. semoga cerita ini bisa membantu penghematan dan menurunkan harga XD
.
ada beberapa minor flaw, tapi kuyakin kau bisa mengatasinya sendiri.
.
and goodluck, smoga bang rivai uda ngecek lagi emailnya! ^^

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at BLC - Maafin Sholeh ya, Bu! (11 years 3 weeks ago)
100

Semoga saja cerita ini bisa masuk walau kelebihan kata... Ini cerita yang bagus... ^^

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at BLC - Maafin Sholeh ya, Bu! (11 years 3 weeks ago)
80

Bagus.
Cerita macem ini emang keahlian Ka Shafira sih ya... :)

Writer ewakartins
ewakartins at BLC - Maafin Sholeh ya, Bu! (11 years 3 weeks ago)
100

Bagus. hiks *iri
Ngena banget pesannya. kerasa banget suasananya. Rapi lagi tulisannya.