Proyek Eksperimen LCDP: Pembalasan Sang Kucing

Proyek Eksperimen LCDP: Pembalasan Sang Kucing

 

Pada jaman dahulu kala…

Aiyaaah, itu kan kalimat pembuka untuk cerita dongeng yang kemudian diakhiri dengan kata-kata ‘dan mereka hidup bahagia selamanya’. Konyol. Karena kata ‘selamanya’ seharusnya tak pernah ada. Dan soal hidup bahagia? Hmmm… menurutku itu pilihan.

Oke, jadi enaknya cerita ini dimulai dari mana? Oh, bagaimana kalau dengan ‘Dulu, saat aku masih seorang manusia…’ Hmmm… sepertinya itu lebih menarik.

Dulu, entah sudah berapa hari, bulan, dan tahun yang lalu saat aku masih jadi seorang manusia, aku adalah seorang gadis biasa dengan kehidupan dan keluarga biasa. Begitu biasanya hingga aku merasa kalau hidupku ini begitu monoton dan membosankan. Lalu suatu malam, aku melihat bintang jatuh dan membuat permohonan. ‘Aku ingin mengalami sesuatu. Terserah apapun, yang penting bisa menghilangkan kejenuhan ini’.

Dan keesokan harinya, keinginanku terkabul. Sepulang sekolah aku melihat sebuah toko aksesoris yang baru berdiri di dekat rumah. Papan bertuliskan ‘Cat’s Club’ terpampang mentereng di depan toko itu. Mungkin seharusnya aku tak masuk ke sana. Bukankah ada pepatah yang mengatakan ‘keingintahuan membunuh sang kucing?’ Tapi bukankah sudah kubilang kalau hidup itu adalah pilihan? Lagipula, kalau aku memutuskan tak jadi masuk, bukankah cerita ini takkan ada? Jadi karena penasaran, akupun masuk ke dalamnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pria yang memakai kemeja putih dan celana panjang hitam. Sebuah pin dengan logo yang sama dengan toko ini terpasang di dadanya.

“Ah, saya hanya ingin melihat-lihat,” jawabku.

Seperti bisa membaca pikiranku, pria itu tiba-tiba berkata, “Saya punya sesuatu yang mungkin membuat nona tertarik.” Kemudian dia melangkah ke salah satu sisi toko dan memperlihatkan padaku benda-benda yang dipajang di rak. Bando. Dan seperti nama tokonya, bando-bando itu semuanya tentang kucing. Ada ayng bergambar Hello Kitty dan semacamnya, ada juga yang berbentuk telinga kucing.

Kuambil sebuah bando berbentuk telinga kucing yang menurutku cukup manis. Warnanya hitam legam dan kurasa akan cocok dengan rambut hitamku. Aku mengamatinya dengan teliti. Ukurannya bisa diatur, jadi kepalaku takkan sakit meski mengenakannya dalam waktu lama. Bulu-bulu di bando itu juga sangat lembut. Sudah kuputuskan, aku akan menjadi Cat Woman saat pesta kostum Halloween nanti. Aku mencari-cari label harganya tapi tak kutemukan. Di rak juga tak tertera harganya.

“Eng… berapa harga bando ini?” tanyaku was-was pada si penjaga toko.

“Karena nona adalah salah satu dari sepuluh pengunjung pertama, nona boleh membawa pulang satu dari benda-benda yang dijual di sini secara gratis,” ujarnya sambil tersenyum.

“Yang benar?” pekikku girang. Siapa yang tak mau barang gratis? Aih, seandainya waktu itu aku tahu apa yang bakal terjadi. Sayangnya aku bukan peramal, jadi aku senang-senang saja saat si pria membungkuskan bando itu untukku.

Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke kamar dan mencobanya. Kuamati wajahku di cermin. Lumayan juga, bando hitam ini tampak melebur dengan rambutku. Aku seperti benar-benar memiliki sepasang telinga kucing.

Tunggu dulu… apa tadi aku bilang melebur? Saat kuamati lagi di cermin, aku tak melihat tonjolan bando itu di antara rambutku. Kucoba untuk merabanya, tapi yang kurasakan hanya kulit kepalaku sendiri. Lalu saat kulihat tanganku, kulihat bulu-bulu hitam mulai tumbuh di permukaan kulitku. Rasanya seperti melihat pertumbuhan rumput yang dipercepat sekian kali di acara Discovery. Aku berteriak, tapi tak ada suara yang keluar.

Sesuatu terjadi pada tubuhku. Panas! Rasanya darah yang mengalir dalam nadiku seperti mendidih. Tulangku serasa meleleh hingga aku tak sanggup lagi berdiri. Tak sempat lagi aku melihat ke dalam cermin. Persendianku rasanya lepas semua. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku sendiri. Sesak. Aku tersuruk lemas di lantai kamar dengan kesadaran semakin menjauh. Hal terakhir yang kusadari adalah kamarku membesar, Ranjang dan perabotan lainnya semakin tinggi menjulang…

 

***

 

Saat membuka mata, yang kulihat adalah tumpukan pakaianku sendiri. Tapi ukurannya salah. Dan ada yang salah dengan mataku. Semuanya berbeda, baik warna, cahaya, maupun sudut pandang... Seharusnya aku masih berada di kamar karena aku masih mengenali ranjang dan perabotan lainnya. Tapi kenapa semuanya jadi sedemikian besar? Atau…

Ketika mencoba untuk berdiri, barulah kusadari apa yang berbeda. Aku tak lagi mampu berdiri tegak dengan dua kaki. Keseimbanganku berubah dan aku terpaksa menggunakan tangan… bukan! Ini bukan tangan! Ini adalah kaki binatang berwarna hitam! Sebentuk kaki mungil dengan cakar melengkung yang bisa disimpan dalam lipatan kulit. Kaki kucing! Aku punya empat buah kaki kucing untuk menopang tubuhku!

Aku segera melihat diriku sendiri dalam cermin ukuran besar di kamar. Dan yang terpantul di dalamnya membuat napasku tercekat. Seekor kucing berbulu hitam legam dengan mata hijau menatap balik ke arahku. Coba-coba kuangkat tanganku dan kucing hitam di cermin itu juga mengangkat kaki depannya. Sesuatu yang panjang bergerak di belakang tubuhku dan barulah saat itu kusadari, aku punya ekor. Aku mencoba bersuara, tapi yang keluar dari tenggorokanku hanya suara “Nyaaaw!”

Ini pasti mimpi! Aku mencoba menggunakan salah satu cakar yang kumiliki untuk menggaruk wajahku. Sakit. Ini bukan mimpi. Apa yang terjadi?

Sesuatu… sesuatu telah membuatku berubah seperti ini, tapi apa? Aku berusaha mengingat dengan benakku yang kacau balau. Bando itu! Pasti benda itu yang telah membuatku begini. Bukankah tadi setelah memakai bando itu aku mulai merasakan perubahan? Kalau begitu, aku harus melepas benda itu dari kepalaku!

Kucoba menggunakan kaki depanku untuk menggaruk kepalaku. Percuma. Tak kurasakan batasan benda itu dengan kulit kepalaku. Yang terjadi hanyalah kepalaku terasa perih karena terus digaruk dengan kuku tajam. Dan aku menyadari satu hal lagi saat menggaruk. Telingaku, atau lebih tepatnya telinga kucing yang tadinya hanya hiasan sekarang menyatu dengan telinga manusiaku. Aku bisa menggerakkannya sesuka hati!

Ini tak boleh dibiarkan. Sebentar lagi mama dan papa pulang. Apa yang akan terjadi saat mereka tahu kalau anak gadis mereka berubah menjadi kucing? Bagaimana ini?

Toko itu! Seharusnya aku tahu kalau tak mungkin orang asing memberikan sesuatu secara cuma-cuma tanpa ada maksud lain. Semakin kupikirkan hal ini, semakin aku menyadari kalau senyuman si penjaga toko itu amat sangat mencurigakan.

Aku harus kembali ke sana, mungkin di sana ada penawarnya. Tapi bagaimana aku bisa keluar dari kamar ini? Waktu masuk tadi aku mengunci pintu dan dengan tubuh ini tak mungkin aku bisa membukanya. Kulihat jendela terbuka di depan meja belajar. Aku mengambil ancang-ancang untuk melompat dan…

HUP!

Berhasil! Kaki belakangku seperti memiliki pegas. Dengan mudah aku melompat, padahal tinggi mejanya lebih dari tiga kali lipat tinggi tubuhku. Aku teringat dengan novel berjudul Animorphs yang dulu pernah kubaca. Jadi beginilah perasaan Rachel saat berubah menjadi kucing. Tak bisa kupungkiri, rasanya menyenangkan! Seluruh tubuhku terasa begitu ringan. Aku mampu menekuk tubuhku dengan luwes, bahkan dengan mudah kaki belakangku mencapai telinga. Mana mungkin aku melakukannya dengan tubuh manusiaku yang kaku. Keseimbangan dan seluruh indranya juga luar biasa! Aku bisa melihat seekor kecoa merayap di sela-sela lantai dan bisa kucium aroma sisa makanan di tempat sampah di depan rumah. Aku bisa mendengar kalau tetangga depan rumah sedang menonton sepak bola.

Aku melongok ke bawah jendela. Tinggi sekali! Aku phobia ketinggian! Tapi tak boleh kubiarkan rasa takut ini mengalahkanku. Aku kan kucing dan kucing bisa melompat dengan mudah kalau jaraknya hanya segini. Maka akupun terjun bebas...

Dengan mudah aku mendarat dengan kaki depanku. Sama sekali tak ada rasa sakit padahal kalau aku masih manusia, kakiku pasti sudah patah atau minimal terkilir. Untung letak toko itu tak jauh dari rumah. Dan aku berlari.

Bila kau pernah menonton film silat dan merasa iri saat melihat betapa cepatnya para pendekar itu berlari, kau takkan iri lagi saat berubah menjadi kucing. Inilah sebabnya Zhan Zhao disebut Kucing Istana! Cepat, gesit, dan akurat! Semuanya tampak begitu lambat di sekelilingku dan tak sedikitpun aku merasa lelah. Dan saat aku belum puas menikmati sensasi lari yang seperti memiliki ilmu meringankan tubuh ini, aku telah tiba di tempat tujuan.

Aku segera mencari tempat persembunyian untuk mengintai ke dalam toko yang mulai sepi itu. Di samping toko ada tempat sampah besar yang terletak di dekat jendela. Aku segera memanjat ke atasnya dan melongokkan kepala ke dalam, merasa seperti seorang detektif.

Si penjaga toko menutup pintu depan dan menguncinya kemudian mematikan lampu satu persatu. Dia berjalan mendekati rak bando dan sembari meraih salah satunya, tersenyum dan bergumam sendiri, “Hari ini sukses besar! Lima orang gadis telah kuberi benda ini dan tak lama lagi mereka pasti akan datang dalam wujud kucing. Ya, mereka pasti sadar kalau perubahan mereka itu karena bando-bando ini, jadi mereka apsti akan kembali untuk minta penawarnya. Hehehe… tidak semuanya datang juga tak masalah. Sebenarnya. satu atau dua ekor saja sudah cukup untuk membuatku kenyang malam ini.”

Kemudian dia mulai bersenandung. “Kucing manis, kucing baik. Ditumis dan dibikin steik. Aaah, betapa nikmatnya, betapa bahagianya aku hari ini…”

Astaga! Batinku. Jadi si penjaga toko ini bukan sekedar penyihir atau apalah itu namanya tapi juga orang gila pemakan kucing?! Dan dia tidak menangkapi saja kucing asli yang banyak berkeliaran di jalanan tapi malah mengubah orang-orang menjadi kucing makanannya? Apa-apaan ini?!

Tak bisa kubiarkan! Dia pikir bisa memakanku, hah? Orang ini lupa kalau meski bertubuh kucing, calon korbannya masih memiliki otak manusia. Dan dia juga lupa kalau kucing itu masih satu keluarga dengan harimau. Meski tampak imut, kucing adalah predator!

Aku menunggu dan mengintainya. Tubuh kucing ini berguna juga karena aku sama sekali tak merasa lelah atau kram meski meringkuk diam dalam posisi yang sama. Warna buluku yang hitam juga membantuku bersembunyi dalam kegelapan. Aku memperhatikannya duduk sambil membaca koran, menunggu calon korban datang. Hingga akhirnya kulihat sesuatu bergerak dari sudut mataku.

Seekor kucing lain berwarna merah berlari menuju pintu depan toko dan begitu sampai mencakarinya. Pria itu berdiri dan sambil bersenandung riang membuka pintunya. Dengan cepat dia mencengkeram tengkuk kucing merah itu. “Kena satu!” desisnya girang.

Si kucing merah baru menyadari adanya bahaya setelah semuanya terlambat. Dia meronta dan mencakar, berusaha melepaskan diri. Tapi semua itu percuma. Si pria masuk ke dalam toko dan segera menyiapkan peralatan jagalnya.

Kulihat bagian depan toko. Orang gila itu lupa menutup pintu saking senangnya mendapat mangsa. Aku menyelinap masuk. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk membalasnya?

Aku melihat rak bando itu dan sebuah pikiran melintas dalam benakku. Aku melompat tanpa suara dan mengambil sebuah bando telinga kucing dengan moncongku kemudian turun kembali. Bersembunyi dalam bayang-bayang, aku mendekati si penjaga toko saat dia hendak menyayatkan pisaunya yang berkilauan ke leher si kucing merah yang terikat di atas meja. Aku mengambil ancang-ancang dan membidik.

HUP!

Aku melompat tepat ke bahunya, membuatnya terperanjat hingga menjatuhkan pisau di tangannya. Dia mengayunkan tangan untuk meraihku tapi entah bagaimana – mungkin aku memang beruntung - aku berhasil memasangkan bando itu ke kepalanya. Setelah itu aku segera melompat turun untuk mengamati hasil kerjaku.

Dia menggeliat berusaha melepaskan bando itu dari kepalanya, tapi semua sudah terlambat. Seperti yang terjadi padaku, dia juga tak bisa lagi berteriak dan hanya mampu memandangiku dengan penuh kebencian. Aku melompat ke atas meja dan dengan cakar dan geligiku memotong putus tali yang mengikat si kucing merah.

“Siapa kau?” tanyanya. Aku bisa mengerti ucapannya. Mungkin karena kami sesama kucing.

“Orang yang bernasib sama denganmu,” jawabku. Kalau bibir ini bisa tersenyum, mungkin aku sudah tersenyum. Mungkin jadi seperti Chesire Cat. “Ayo kita pergi dari sini,” sambungku sambil melompat turun. Si merah melompat mengikutiku.

Kupandangi orang yang menggeliat-geliat di lantai itu. Aku yakin dia tak memiliki penawarnya. Untuk apa coba dia susah-susah membuat penawar untuk mengembalikan wujud makanannya ke semula. Karena itu aku juga tak mau repot-repot menggeledah tokonya untuk mencari benda yang tak ada. Dengan santai aku berjalan melewati pria itu.

Di pintu depan aku menoleh untuk terakhir kalinya dan melihat tubuh pria itu menyusut dengan cepat. Pakaian yang tadi dipakainya berjatuhan dan menimbunnya. Aku mengalihkan pandangan ke depan dan berlari pulang…

Dan selanjutnya… hhh, aku tak tahu bagaimana menceritakan ini. Yang pasti, aku berhasil membuat orang tuaku percaya kalau aku, anak gadis mereka, telah berubah menjadi kucing. Jelas, pada mulanya mereka histeris, menangis, dan bahkan sempat berusaha membunuhku, si kucing hitam ini. Mereka juga sempat memuat kabar hilangnya diriku di koran. Tapi akhirnya mereka menyerah dan bersedia menerima diriku apa adanya. Hei, cara untuk berkomunikasi tak hanya lewat mulut, kan?

Begitulah, meski tak berhasil kembali jadi manusia, aku cukup menikmati kok menjadi kucing. Apalagi sekarang orangtuaku sudah tak mempermasalahkannya lagi. Mereka tetap  menyayangi dan memanjakanku. Bukankah sudah kukatakan kalau menjadi bahagia itu pilihan? Karena itu aku memutuskan untuk bahagia dengan kondisiku sekarang. Kecuali saat mandi sih, jujur saja.

Oh ya, aku tak tahu soal nasib si penjaga toko itu. Tapi kuharap dia dikeroyok dan dihajar habis-habisan oleh para korbannya. Itu pantas untuknya. Uh, semoga saja dia tak tahu alamat rumahku ini.

Nah, kurasa ceritaku sudah selesai. Dah yah, memang tak ada yang namanya ‘hidup bahagia selamanya’ karena usia kucing cukup pendek dibandingkan manusia. Tapi itu bukan masalah kok. Toh aku juga tak ingin hidup selamanya kalau orang-orang yang kusayangi menjadi tua dan mati. Oh, pesan moral dari kisah ini adalah: jangan sembarangan mengucapkan keinginan, karena kau harus mempertimbangkan dulu konsekuensinya.

 

PS: Bila kau menemukan adanya salah ketik pada cerita ini, mohon dimaklumi. Kau tahu sendiri, mengetik kata-kata sebanyak ini di keyboard komputer dengan cakar kucing itu sulit sekali, lho. NYAAAAWW!!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

nyaaaaw :3
cerpenya unyu bgt kak, sukaaa <3

thank you :3

70

Kayaknya ini jenis cerita yang paling pertama kubayangin waktu bikin kerangka alurnya deh.

100

Sy suka endingnya yang ada PS-nya... XD

90

Love it, karena kata-kata di awal dan PS yang ngeles itu, hahaha.

90

mwahahahah~ sama denganku, kucingnya sama2 gag berubah kembali jadi manusia~ (dan yg ini ending-nya lebih positif dari punya ane, heheheh,), like it! XD

90

Saya curiga kamu pernah jadi kucing beneran hehe

100

it's amaze me, cerita ringan, gk dibuat gelap, tapi ada actionnya. mungkin endingnya doang yg gak sreg yah!

ha3... thanks dah mampir ^^

90

LOL apaan tuh endingnya ngeles abis. PS-nya juga. Kalo emakku tahu aku berubah jadi kucing, dia mungkin bakal menggila. XD XD XD
Ah, gaya penceritaannya kak Kure emang unik. Love this.

thanks Ratu ><
waktu bikin ini lagi kumat isengnya, makanya bikin PS aneh2 segala wkwkwkw

100

suka bagian PS nya...nyaaww

thanks :)

90

Nyaaaw~!

Cerita yang bagus ^___^
Dari gaya penceritaan dan alurnya sudah pas, cuma di tengah2 kerasa alurnya makin cepat (hehe...karena keterbatasan kata ya?), tapi diakhiri dengan baik.

Err...tunggu dulu...yang ngetik ini kucing?! (:-p)

nyaaw! (iya)

90

Sebenarnya agak kecewa karena settingnya bukan cina kuno tapi gak papa karena ceritanya masih mengandung unsur tapak kucing meloncat liar. Keren. Pertamanya agak merasa konfliknya nggak begitu kelihatan. Tapi selanjutnya deskripsinya menarik, ada satu paragraf yang kubaca dua kali karena belum biasa deskripsi ala dunia persilatan gini. POV satunya juga sangat bagus, pembukaannya kreatif. Kucingnya keren. Aiyaa.. aku harus memberi selamat.

Ha3... kalo settingnya China kuno juga bisa kliyengan saya XD
Paragraf dunia persilatan tuh yang gimana :p
rasanya saya bikin biasa aja kok, nngak pake puisi segala
kan cuma nyebut ilmu *** tapi kan nggak terlalu penting.
thanks dah mampir

Maksudnya deskripsi fisik dan gerak. Kan banyak banget deskripsi gerak yang bagus. Misal "Aku menunggu dan mengintainya. Tubuh kucing ini berguna juga karena aku sama sekali tak merasa lelah atau kram meski meringkuk diam dalam posisi yang sama." Untuk adegan action sangat bagus.

80

Kenapa saya menginginkan adegan sadis saat si penjahat di hajar kucing2 lain.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

Soal ps typo itu sangat kreatip!!!

Aaaa... adegan sadis bukan jatah saya
saya kan cinta damai ^^
.
he3... justru PS-nya itu yang pertama kali kepikiran, bahkan sebelum ceritanya ada XD

100

Tema yang kurasakan di cerpen ini adalah, pembalasan (revenge is sweet after all), dan ironi (pemakan kucing berubah jadi kucing).
.
Ah, dan saya juga belajar cara efektif buat ngeles dari typo... XD
Cerita ini terlalu ceria buatku, tapi tetep keren... ^^

thanks dah mampir kk
yup, revenge is SWEEET!
.
ha2...
Sukses bikin pembaca yang suka nyari2 typo gondoook XDDD
.
habis baca cerita2 lain yang keluar sebelum ini kok bikin depresi semua, jadi saya bikin yang ceria deh
lagipula, insting kucing itu penuh percaya diri, optimis, puas dengan diri sendiri, cuek, dan hepi lho (berdasarkan Animorphs gitu sih). Jadi ya memang sengaja dibuat kesan begitu. I'm a cat, after all :D

100

wogh, ada kucing istana, ada kucing ngetik cerita
bagus sekali, hahahaha

thank you ^^
yellowmoon bikin juga yah

90

Ah... akhirnya ada yang happy ending juga ^^. Atau ini bukan happy ending? Jujur aja, saya lebih suka kalau endingnya si pemilik toko berhasil meminum penawarnya dan memburu si 'aku'
.
Saya suka sekali bagian yang paling akhir ^^

Nyahahahaa...
kan udah dibilang kalo kebahagiaan itu pilihan, jadi mau kamu anggap hepi boleh, enggak juga gpp ^^
'
masalahnya, si pemilik toko nggak bikin ramuan penawarnyaaaa
(Dia nggak memperhitungkan gimana kalo dia sendiri yang kena).
Pernah baca novel The Witches punya Road Dahl?
Idenya dari situ ><
.
Nah, gimana kalo Dansou aja yang bikin cerita begitu?
Ditunggu sampai tanggal 13 Agustus loh ^^

90

hehe.. Pas bc, brasa ikut jadi kucing. ''Nyaaw!''
btw, aku meliat ada bbrp bagian yang 'maksa'. Mis : adegan pasang bando ke pemilik toko sama penerimaan ortu atas perubhan wujud si gadis. Terlalu mudah aja sepertinya. Tp mgk juga ini krn -spt yg kamu bilang- buruburu. Oya, porsi perubahan wujudnya dominan banget..
Selebihnya, aku acungin empat jempol untuk cerita ini. PS-nya, aku suka! Niat awal mau ikutan nulis, stelah baca cerita ini jadi minder...

iya, habis nggak tahu mau nambahin apa lagi.
(*saya emang tipe yang suka sneak attack dan trap, jadi nggak ada adegan pertarungan berkepanjangan*)
lagula ini kan masa lalu ^^
ha2... soal perubahan wujud itu gara2 kebayang Animorphs jadi ya gitu deh. Kepanjangan ya ^^a
Ikut aja, toh ini kan bukan lomba.

Jangan remehkan kucing
wkwkwkwkwk...

100

Suka dengan pembukaan ceritanya. Unik, juga menarik. Jadi inget dulu pernah memohon hal yang sama. Haha. :P
.
Setelah baca PSnya, typonya kurang banyak. Saya aja cuma nemuin dua. Tapi kalo kebanyakan bakal mudah ngenebak endingnya sih.
.
Bagian berantemnya kurang. Hehe. :)

Thanks yah dah mampir.
sebenernya mau ditambahin lagi, tapi inget batasan katanya. Saya juga nggak jago sih bikin adegan berantem XC

100

Siyalan, baru aja mau bilang ada typo... udah ditangkis duluan. Kure ngeselin ih!
.
Di-dikau yakin bikin ini cuma dua jam? DUA JAM!?
(Sudah bolehkah saia sungkeman?)
.
Setelah pertarungan di toko, segalanya jadi terburu-buru. Padahal buildup di awal udah bagus. Oh ya, agaknya si aku labil. Padahal dia kaget dan panik saat tahu bahwa dia berubah jadi kucing, tapi langsung ilang gitu aja perasaan itu pas dia mulai merasakan kekuatan kucing.
.
Maksud saia: okedeh, itu wajar. Tapi setelah dia memutuskan untuk cari penawar, saia pikir yang ada di pikirannya harusnya tuh marah atau kesal atau dendam. Ternyata malah seneng-seneng muji catform.
.
Ah sebenernya wajar-wajar aja sih. Tapi narasimu terlalu ceria di situ. Entahlah.
.
Sekali lagi, dua jam itu HUWEBAT.

ha3...
ketahuan ya bawahnya buru2 ^^a
habis pas liat jumlah katanya... lah, kok tiba2 udah mau abis. Lagian kemaren pas ngetik ini tahu2 sudah jam 8 dan perut saya udah nagih minta diisi, jadi ya saya kelarin deh cepet2.
.
Soal terlalu ceria, kan saya udah jadi kucing, nyaaw!
Gimanapun insting kucingnya bakal masuk juga.
Gara2-nya, tiap ngeliatin kucing peliharaan di rumah, dia itu kayak nggak punya beban hidup gitu. Nyantai banget dah. Apalagi kucing kan emang suka main2.
ya udah, pokoknya mission complete deh
wkwkwkwkwkwk....