Startling Surprises At Every Step (步步惊心) - Chapter 6 Part 1

Chapter 6 Part 1

 

Saat ini musim dingin, namun angin enggan berhembus dan matahari bersinar terang, membawa perasaan berbunga-bunga, rasanya seperti kalau seluruh tulang di tubuh ini meleleh di bawah terik matahari! Apalagi dengan akan diadakannya pertandingan kuda, hidup ini benar-benar menarik.

Beberapa hari yang lalu, Putra Mahkota sudah menyebarkan undangan untuk semua pangeran, istri-istri mereka, para putri, dan bangsawan dari berbagai tingkatan. Undangan itu berisi tulisan-tulisan seperti ‘turnamen’, ‘berbagi saat-saat menyenangkan’, dan sebagainya, yang sebenarnya bisa kusederhanakan dengan kata-kata, ‘aku bosan, maka datang dan bermainlah denganku!’

Undangan itu menyebutkan kalau para pengendara yang hebat, tak peduli pria atau wanita, akan diberi hadiah besar. Aku curiga kalau tak seorangpun dari kaum bangsawan itu yang benar-benar peduli dengan hadiah, yang mereka inginkan adalah kesenangannya. Tentu saja, banyak dari orang-orang terhormat itu akan menganggap serius acara ini, bukan karena hadiahnya, tapi demi kesempatan untuk membuat Putra Mahkota dan para Pangeran terkesan. Jika sejak awal kau bisa membuat para calon pemimpin negara terkesan, tentulah mereka akan memikirkanmu saat mereka mendapat kekuasaan.

Sebenarnya Jie-jie tak mau datang, tapi aku terus memohon dan merajuk untuk waktu lama hingga akhirnya dia setuju.

Meski aku sendiri tak bisa berkuda, aku memperhatikan pakaian yang dikenakan orang-orang lainnya dan memakai kostum berkuda, yang kupikir – sambil memandang puas di depan cermin – menambah kesan keren pada penampilanku. Bahkan Jie-jie memuji penampilanku!

Kupandangi Jie-jie dan Ruoxi yang terpantul di cermin dan diam-diam mengesah. Ibu mereka berdua pastilah wanita yang sangat cantik. Sayang sekali dia hidup dalam takdir yang menyedihkan!

Anak-anak bangsawan Manchuria, pria dan wanita, hampir semuanya adalah penunggang. Hal ini sangat ditekankan untuk para keturunan keluarga istana, yang sudah dilatih sejak kecil. Karena itu dalam turnamen, semua orang secara praktis, berdua dan bertiga, memacu, menuntun, dan membuat kuda mereka melompat. Kursi-kursi penonton di tempat itu, tiga sisinya tertutup oleh bahan serupa kain tenda, sebagian besarnya kosong.

Ketika aku dan Jie-jie tiba, Pangeran ke Tiga Belas dan ke Empat Belas,yang sebelumnya sedang ngobrol, buru-buru mendekat untuk memberi salam pada Jie-jie. Kupikir Pangeran ke Tiga Belas tampak sangat bersemangat dan akupun mencuri-curi pandang ke arahnya.

Perbuatanku itu segera ketahuan dan Pangeran ke Tiga Belas menelengkan kepalanya lalu, dengan seulas senyum yang-sebenarnya-bukan-senyuman, mengangkat sebelah alisnya ke arahku. Buru-buru aku memalingkan wajah, tapi melihat Pangeran ke Empat Belas memandangi kami dan, meski itu bukan apa-apa, aku merasa wajahku merona.

Terdengar sorakan dari luar area tenda, diiringi oleh tepukan tangan meriah. Kami semua melongok dengan napas tertahan dan kulihat seekor kuda putih bersih yang tampak seperti melayang, mengambang di antara langit dan bumi.

Seorang wanita berpakaian merah duduk di atas punggung kuda itu dengan postur sempurna, jubah merah menyala berkibar tertiup angin di belakangnya. Secara acak, dia menggunakan cambuk kudanya untuk menyambar bendera-bendera kecil yang bertebaran di tanah. Saat wanita itu terus saja menyabet bendera setiap kali dia mengayunkan cambuknya, tepukan meriah untuk penampilannya membahana! Seumur hidup, tak pernah kulihat pertunjukan di atas punggung kuda yang sehebat itu. aku begitu terpana, ikut bertepuk tangan dan bersorak bersama yang lainnya.

Wanita itu menyelesaikan gilirannya kemudian memacu kudanya keluar dari arena dengan langkah pelan. Meskipun begitu, tepukan dan sorakan untuknya masih belum mereda. Aku begitu bersemangat dan menarik-narik lengan baju Jie-jie, mengatakan padanya, “Sekarang aku tahu arti kata ‘menakjubkan’ dan ‘mempesona’ yang sebenarnya! Syukurlah kita datang hari ini hingga mataku bisa menyaksikan keahlian sehebat itu!”

Jie-jie tersenyum dan dengan lembut menarik tangannya. “Kalau kau begitu terkesan, bagaimana kalau besok kita juga mulai melatihmu berkuda.”

Aku membayangkan pertunjukan tadi dengan kekaguman luar biasa dan mengesah. “Semua orang punya kelebihan mereka masing-masing, tak ada gunanya memaksakan hal itu.”

Pangeran ke Tiga Belas dan ke Empat Belas yang berdiri di dekat kami mendengar ucapanku tadi dan terbahak-bahak.

Aku masih terpaku pada kenangan akan pemandangan tadi saat seorang wanita berkostum penunggang berwarna merah dan membawa cambuk kuda berjalan ke arah kami. Saat itu juga aku harus mengendalikan rasa panik, kaget dan malu yang menyergapku.

Dia!

Pahlawan wanita yang ada dalam impianku tadi ternyata adalah Mingyu Ge-ge yang sudah menjadi ‘Fujin’ Pangeran ke Sepuluh! Aku mengesah diam-diam, Pangeran ke Tiga Belas punya alasan untuk mencintainya. ‘Pahlawan mana yang takkan takluk pada keanggunan yang sedemikian menakjubkan?’

Mingyu melintas dan dengan tenang memandang ke arah kami. Pangeran ke Tiga Belas dan ke Empat Belas menunduk dan memberi hormat padanya. Aku merasa bersimpati pada Pangeran ke Tiga Belas. Betapa kata-kata ‘Kakak Ipar ke Sepuluh’ pasti telah mencekik lehernya!

Mingyu mengangkat dagunya dan melihat ke arahku, berujar, “Masih saja tak tahu sopan santun.”

Barulah aku menyadari bahwa dengan status barunya, diriku juga harus memberinya hormat. Tapi melihat kalau Mingyu sendiri tidak memberi hormat pada Jie-jie, untuk apa aku memberi hormat padanya?

Baru saja aku membuat ketetapan untuk mengabaikan Mingyu, aku teringat, dengan jantung mencelos, kalau Pangeran ke Tiga Belas juga ada di sini dan menyaksikan semuanya. Benakku berperang sendiri untuk beberapa saat dan akhirnya aku memutuskan untuk lebih baik tak lagi membuat lebih banyak masalah. Dengan enggan aku menunduk sesuai aturan dan berkata, “Salam sejahtera untuk Fujin.” Mingyu mendengus tapi tak memperhatikan diriku dan terus saja berjalan untuk mengambil tempat duduk. Kutunggu dia untuk duduk dan barulah aku duduk.

Selanjutnya yang terjadi adalah kebisuan yang tak mengenakkan.

Tepat pada saat itulah Sang Putra Mahkota masuk, diikuti oleh Pangeran ke Empat, ke Delapan, ke Sembilan, dan ke Sepuluh. Kami semua buru-buru berdiri untuk memberi hormat. Sambil tertawa-tawa Putra Mahkota menyuruh kami berdiri, dan saat duduk dia berkata pada Fujin ke Sepuluh, “Ayahanda Kaisar sudah sering memuji para putri dari Keluarga Guoluoluo memiliki semangat kaum Mongolia yang terbesar di antara kita semua. Hari ini aku telah membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri!”

Fujin ke Sepuluh tersenyum. “Putra Mahkota terlalu memuji. Itu adalah pujian Ayahanda untuk jie-jie saya, saya tak berani merebut pencapaiannya!”

Ini adalah kali pertama aku bertemu dengan Pangeran ke Sepuluh sejak dia menikah dan aku merasa gelisah. Sejak memasuki tempat ini, Pangeran ke Sepuluh terus memandangiku, dan aku, dengan jantung bertalu-talu, bahkan tak berani meliriknya sedikitpun.

Di arena, seorang pemuda sedang mempertunjukkan kebolehannya, tapi bahkan diriku, yang tak menyukai Mingyu, tak bisa mengingkari kalau si pemuda bahkan tak memiliki separuh dari kemampuan Fujin ke Sepuluh. Aku tak benar-benar memperhatikannya. Aku sedang menonton sambil lalu saat kudengar Fujin ke Sepuluh bicara.

“Maertai Ruoxi, karena kau sudah mengenakan kostum berkuda, kenapa kau tak bangun dan mempertunjukkan kebolehanmu sendiri?”

Aku mengesah. Ini dia!

Dengan mempertimbangkan keberadaan Pangeran ke Tiga Belas, aku tak ingin membuat semuanya menjadi lebih parah. Maka kutelan semua harga diriku dan tak mengatakan apapun. Jie-jie melirikku dengan pandangan setuju.

Tapi beberapa saat kemudian, Fujin ke Sepuluh mulai memancing lagi. “Kudengar putri-putri Jendral Maertai tumbuh dalam perkemahan, jadi keahlian berkuda mereka pastilah luar biasa. Kenapa tak membiarkan kami melihatnya hari ini?”

Dan aku, meski mulutku terkunci benakku berteriak, ‘Diamlah! Dengan kemampuanmu itu, bahkan rata-rata bangsawan pria di sini bukanlah tandinganmu. Kau jelas-jelas sengaja ingin mempermalukanku di depan semua orang!’

Saat benakku meneriakkan ini, aku melirik ke arah Mingyu kemudian pada Pangeran ke Tiga Belas. Akhirnya kupilih untuk tetap diam.

Jie-jie melontarkan tatapan setujunya atas sikap mengalahku yang mendadak.

Sayangnya sang Putra Mahkota tertawa dan menyela, “Maertai Ruoxi, kenapa kau tidak berdiri dan mempertunjukkan sedikit kebolehanmu untuk kami?”

Buru-buru aku berdiri tapi sebelum aku sempat membuka mulut, kudengar Pangeran ke Sepuluh berkata, “Dia tak bisa berkuda. Kali terakhir dia berkuda dengan kami, kami harus menyuruh seorang pelayan menuntun kuda yang ditungganginya.”

Aku membatin, ‘Pangeran ke Sepuluh! Apa kau pikir dengan begini kau bisa menyelamatkanku? Lebih baik kau membunuhku saja!’

Seperti yang sudah kuduga, Fujin ke Sepuluh tertawa dingin dan berkata, “Sudah kudengar rumor kalau kehebatan keluargamu itu tanpa tanding. Kudengar, semua orang dalam kemah Maertai tidak hanya mampu berkuda dan memanah, tapi sebagian besar juga adalah pejuang hebat! Sayang sekali, semua ini hanya omong kosong dan tampaknya, meski memang tak banyak pahlawan, bisa jadi di sana juga ada satu atau dua orang pecundang.”

Baru saja Mingyu menyelesaikan kalimatnya, Jie-jie berdiri dan sambil tersenyum lembut berbicara pada Putra Mahkota.

“Hamba bersedia maju dan mengambil giliran di arena. Hanya saja, karena hari ini hamba tak membawa seekorpun kuda pacuan, hamba ingin meminjam kuda milik Fujin ke Sepuluh.”

Aku mengernyit, dari semua hal yang bisa dihinanya dari diriku, Fujin ke Sepuluh jelas telah mengambil yang terburuk. Hal yang menjadi titik lemah Jie-jie! Aku agak khawatir karena aku tak tahu bagaimana kemampuan berkuda Jie-jie, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain tetap diam dan melihat.

Sang Putra Mahkota mengangguk, dan Jie-jie pergi ke arena. Dengan was-was aku berjalan ke samping arena agar bisa melihat dengan lebih jelas.

Beberapa saat kemudian, kuda putih yang sama dengan sebelumnya berlari kembali ke dalam arena, membawa Jie-jie di punggungnya. Kecepatan berkendaranya hampir sama dengan Fujin ke Sepuluh di ronde terakhir, tapi Jie-jie memindah posisinya di atas pelana, bergerak dari posisi biasa menjadi posisi menyamping, terkadang merunduk dan bahkan mengangkat tubuhnya hanya dengan tangan berpegangan di sadel.  Kadang memutar tubuh, kadang berdiri... Jie-jie sama sekali tak tampak seperti orang yang sedang mengendarai kuda. Dia bagai peri yang menari bebas di atas punggung kuda!

Gelombang demi gelombang sorakan, makin lama makin riuh terdengar dari kerumunan orang di luar arena. Di dalam arena sendiri, teriakan serentak seperti “Bravo!” bisa terdengar! Beberapa penunggang hebat di antara para pangeran, seperti Pangeran ke Sepuluh, ke Tiga Belas, dan ke Empat Belas, menyerukan pujiannya. Tak perlu diucapkan lagi, aku bertepuk tangan gila-gilaan dan tak terkendali lagi!

Sebagai pertunjukan akhir, Jie-jie berdiri di atas punggung kuda dan, dari jarak yang cukup jauh, mulai melaju ke arah panggung raksasa di tengah arena.

Jie-jie mengenakan pakaian berlengan sempit dengan rok satin. Di pinggangnya terikat sabuk kepangan. Rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan dua belas tusuk konde mutiara berwarna pucat. Saat Jie-jie berdiri di atas punggung kuda yang berpacu kencang, rok dan pitanya menari tertiup angin di belakang tubuhnya. Jie-jie, yang sejak awal memang anggun dan cantik, tepat pada saat itu menjelma menjadi pewujudan Bidadari ke Sembilan.

Jie-jie semakin mendekati panggung raksasa dan belum juga menurunkan kecepatannya. Aku mulai merasa khawatir dan bahkan para pengawal mulai gelisah dan bergerak mendekati panggung.

Semakin dekat. Dan semakin dekat. Suasana di sekeliling menjadi tegang dan perlahan-lahan seluruh arena menjadi sunyi karena semua orang menahan napas mereka.

Dan tiba-tiba, dengan ringkikan keras, sang kuda berdiri, diam sempurna, tak lebih dari sepuluh langkah jauhnya dari panggung itu, dengan Jie-jie berdiri tenang di atasnya.

Kami semua kembali terdiam untuk beberapa saat, dan kemudian, dari dalam dan luar arena, gelombang tepuk tangan yang membahana memenuhi angkasa!

Jie-jie melompat turun dari atas punggung kuda, memberikan tali kekang pada seorang pengawal yang berdiri di dekatnya dan melangkah ke atas panggung.

Di atas panggung, Jie-jie membungkuk ke arah Putra Mahkota. “Hamba terlalu lancang, mohon berikan hukuman pada diri hamba.”

Putra Mahkota tertawa. “Kemampuan menunggang yang luar biasa semacam itu patut diberi penghargaan, bagaimana bisa aku menghukummu?”

Diam-diam aku melirik ke arah Fujin ke Sepuluh, dan meski kulihat ekspresi kesal di wajahnya, matanya memancarkan kekaguman.

Sang Putra Mahkota mempersilakan Jie-jie berdiri dan pada saat bersamaan berkata pada Pangeran ke Delapan, “Adik ke Delapan, kemampuan berkuda Fujin-mu ini bahkan melampaui kemampuanmu sendiri!”

Dengan kalem Pangeran ke Delapan tersenyum. “Begitulah.”

Kurasakan jantungku mencelos, apakah Pangeran ke Delapan tahu cerita di balik kemampuan Jie-jie?

Setelah menyaksikan dua buah pertunjukan menakjubkan semacam itu, para penonton sudah kehilangan minat dengan pertunjukan lainnya. Sejak kembali ke tempatnya duduk, Jie-jie tampak hanyut dalam dunianya sendiri, menunjukkan perasaannya yang tertekan. Pangeran ke Delapan menundukkan kepalanya sambil tersenyum, dan dimataku, senyuman itu juga tampak pahit. Suasana saat itu terasa begitu menekan dan diam-diam aku menyingkir.

Aku berjalan tak tentu arah sembari berpikir, hanya dari kemampuan Jie-jie saja sudah bisa dilihat kalau gurunya pastilah lebih hebat. Orang yang dicintainya pastilah seorang pria yang heroik dan mempesona. Seharusnya mereka bisa menjadi sepasang rajawali, terbang jauh melintasi padang pasir di Barat Laut. Namun sekarang, yang satu tertidur selamanya di dalam tanah dan yang satunya lagi terkurung di balik pintu bernama status dan kebangsawanan. Saat kurasakan kepedihan ini, kudengar suara bernada setengah mengejek di belakangku. “Dia sudah menjadi milik orang lain, bersedih takkan mengubah apapun.”

Aku berbalik dan melihat Pangeran ke Tiga Belas sedang memandangku dengan senyum-yang-sebenarnya-bukan-senyum, sembari menuntun seekor kuda besar berwarna hitam. Aku dibuat jengkel dengan ekspresinya itu, dan meskipun aku tahu kalau dia telah salah menafsirkan ekspresiku, aku sama sekali tak berminat mengoreksinya. Alih-alih, aku berkata, “Pakai saja ucapan itu untuk dirimu sendiri!” kemudian berbalik dan melangkah pergi.

Pangeran ke Tiga Belas tampak terpana, memikirkan kata-kataku untuk sejenak dan tiba-tiba mengikutiku sambil tertawa keras.

Tawanya itu membuatku berhenti. Pangeran ke Tiga Belas, masih tertawa, berhenti di sebelahku dan menudingku. “Ahhh... pantas saja! Aku baru saja berpikir kenapa kau tiba-tiba bersikap begitu manis tadi! Jadi itu karena... karena kau pikir aku jatuh cinta pada Mingyu!” Dan begitu menyelesaikan kalimat tersebut, tawanya kembali meledak.

Mulanya aku merasa kesal dengan tawa aneh itu, dan kata-katanya membuatku agak bingung. Lalu kemudian, setelah memikirkannya baik-baik, ternyata situasi itu cukup konyol. Aku salah sangka terhadapnya dan dia juga salah sangka terhadapku? Betapa konyolnya ini! Akupun ikut cekikikan bersamanya.

Kami berdiri di sana seperti sepasang orang tolol, tertawa lama sekali. Saat akhirnya tawa itu berhenti, kami berdiri saja, saling melempar senyum. Dan dalam senyuman itu, sedikit kecanggungan di antara kami runtuh. Aku mulai berjalan dan Pangeran ke Tiga Belas juga, masih menuntun kudanya, berjalan menyamai langkahku.

Saat berjalan aku berpikir, ‘kenapa semuanya jadi begitu jungkir balik?’ Aku tersenyum dan tanpa bisa ditahan lagi berkata, “Saya juga tak mencintai Pangeran ke Sepuluh.”

Pangeran ke Tiga Belas berhenti melangkah. Melihat ekspresi seriusku, tawanya kembali pecah dan aku hanya tersenyum ke arahnya. Setelah berhasil mengendalikan diri, Pangeran ke Tiga Belas mengesah. “Sekarang kita seri!”

Kami berjalan menyusuri sisi bukit yang melandai. Aku memilih sepetak tanah datar untuk kududuki dan, sambil memeluk lutut, memandang ke arah arena yang kini tampak jauh di bawahku. Pangeran ke Tiga Belas duduk di sebelahku dan ikut memandang ke arah yang sama denganku, pada berbagai bentuk samar manusia dan kuda di sana. Si kuda hitam berhenti di dekat kami dan mulai mengais-ngais tanah.

Untuk beberapa saat tak ada yang bicara hingga akhirnya aku tak tahan untuk bertanya, “Jadi, kenapa waktu itu Anda merasa tak senang?”

Tatapan Pangeran ke Tiga Belas menerawang jauh dan tak menjawabku. Kutunggu beberapa saat lagi dan kemudian dengan pelan kukatakan, “Kalau pertanyaan ini terlalu sulit untuk dibicarakan, lebih baik abaikan saja.”

Pangeran ke Tiga Belas menimbang-nimbang sejenak kemudian berkata, “Bukan apa-apa sih. Hari itu adalah hari peringatan kematian ibuku.”

Napasku tertahan, kupandangi dia dari samping. Aku tak mampu berkata-kata, dan tak bisa melakukan apapun selain berbalik dan memandang kejauhan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Lagi-lagi kami terdiam untuk waktu yang lama sebelum kemudian Pangeran ke Tiga Belas tertawa dengan nada dipaksakan. “Dan bertahun-tahun sebelumnya, pada tanggal yang sama, Ibunda menikah dengan Ayahanda Kaisar.”

Jantungku berdegup menyakitkan saat mendengar hal ini. Memikirkan kalau hidup seorang wanita hampir terlupakan begitu saja. Mungkin saat ini, selain putra kandungnya, tak ada yang mengingat kecantikan ataupun wajah bahagianya saat menikah, tidak pula kenyataan bahwa dia meninggal pada tanggal yang sama dengan hari pernikahannya. Dan orang yang seharusnya mengingat semua ini, karena dia memiliki kemakmuran dari empat samudra*, tak bisa mengingat hari kala dia mengangkat cadar pengantin berwarna merah itu.

 

Bersambung

Footnotes:

* menggambarkan seluruh dunia

Read previous post:  
Read next post:  
90

Aaaa aku tetep mo teriak2.
Aku membayangkan jie jie.

Wuih keren pastinaaaaaa.

Ah kenapaaaa kenapa belum ada lanjutannya.
Kenapaaaa.

Aku jadi suka ma pangeran ke 13.

Pangeran ke delapan biarkan saja.

100

Ruolan ternyata keren!
sayang nasibnya...
eh, si pangeran ke8 sebenernya suka sama ruolan y
sayang ruolannya sudah menutup hati rapat2

100

Tuh, mak
udah ada sambungannya
jangan heboh lagi ya ^^