Lux Aeterna -The Eternal Light- (04)

Act. 04

Keringat dingin mengalir menuruni wajah Jal yang pucat. Sebuah besi hitam tajam berujung lancip tepat berada di depan tenggorokannya dan membuat pemuda itu gemetar ketakutan. Di hadapannya, Jasper bergeming dengan ekspresi dingin. Mata pendekar wanita itu menatap jauh di belakangnya, menyisir setiap sudut-sudut dalam jangkauan pandang. Sang pendekar seperti mencari sesuatu dalam kegelapan hutan dan di saat yang sama, mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi dalam beberapa saat ke depan.

Ini adalah situasi yang sangat tidak menyenangkan bagi Jal. Ia tidak bisa masuk kembali ke perapian karena pedang hitam yang akan memenggal leher dalam satu gerakan saja. Di sisi lain melarikan diri ke dalam kegelapan hutan juga akan telah dinanti oleh makhluk misterius yang Jasper katakan sebelumnya. Pada kesimpulannya, ke manapun ia melangkah, tak ada pilihan selamat yang dapat pemuda itu ambil.

***

Beberapa saat telah berlalu sejak Jasper mengacungkan pedangnya pada tenggorokan Jal namun situasi tetap sama. Sekeliling mereka tetaplah kegelapan dengan desir hujan yang mengiringinya. Pendekar itu masih belum menurunkan tensinya. Wanita berambut merah merasakan kehadiran sesuatu di sekitar mereka namun tak bisa menentukan lokasinya. Apakah ia membaca pertanda palsu? Atau mungkin ia hanya bereaksi berlebihan?

“Kak Jasper...kenapa kau melakukan ini padaku?” suara gemetar Jal menarik kembali pandangan Jasper padanya. “Bukankah aku tak ada dalam daftar buruanmu? Bukankah kau tak akan membunuhku?”

Sorotan mata biru itu seperti mengatakan pada Jal untuk tutup mulut namun impresi tak selalu menunjukkan kenyataan. Tanpa merubah ekspresi, Jasper menurunkan pedangnya dan menjawab pertanyaan sang pemuda.

“Kau benar. Kamu tidak ada dalam daftar buruan. Kenapa aku harus mengotori pedangku dengan darah yang tak berdosa?” Jasper tiba-tiba tertawa sendiri. “Betapa serampangannya diriku.”

Jal tidak tertawa. Tak ada hal lucu baginya mengingat betapa ketakutan dirinya saat diancam oleh Jasper tanpa alasan yang jelas.

“Lalu kenapa kamu melakukan hal itu? Kenapa kamu berpura-pura ingin membunuhku? Itu tidak lucu sama sekali, kau tahu itu!”

Gelak tawa Jasper berhenti seketika.

“Berpura-pura katamu?”, Ia mengangkat wajahnya pada Jal dan memperlihatkan ekspresi yang sangat sinis, membuat Jal merasa menyesal telah mengucapkan kalimat sebelumnya. “Jika kau mengira aku berpura-pura, kau salah besar nak. Aku benar-benar ingin membunuhmu saat itu. Bahkan lebih buruk lagi, tanganku bisa saja langsung menebas tenggorokanmu sebelum sempat terpikir. Ini refleks alamiku. Aku terlahir untuk membunuh. Aku adalah monster yang tak berhenti mencabut nyawa orang jika saja ingatan Putri Sephia tidak menahanku. Berkat dirinya, aku masih merasa seperti manusia.”

Jal tidak bisa berkata apa-apa mendengar cerita singkat Jasper. Tidak juga ia mengerti apa yang dikatakannya. Banyak pertanyaan mengenai dirinya namun demikian, ia tidak berani memaksa mulutnya untuk bertanya langsung untuk saat ini. Pendekar itu melanjutkan pembicaraannya ke topik yang lain.

“...ini karena dirimu, ketakutanmu. Sejak awal kamu ketakutan dan gelisah ‘kan? Kau takut berada di hutan ini, kau takut tersesat,kau takut akan sesuatu hal di kampung halamanmu, dan yang paling buruk dari semuanya, kau takut denganku. Aku bisa merasakannya dan Kothoga juga merasakannya.”

“Kothoga?”

“Dia adalah monster yang menyukai ketakutan manusia. Ia mencari dan melahap ketakutan itu. Bahkan sedikit kegelisahan saja bisa memancing kedatangannya dan seperti rasa takut itu sendiri, ia tidak terlihat, tidak teraba, tapi bisa kau rasakan. Ketika rasa takutmu mencapai puncaknya, dia akan melompat menerkam dirimu. Mencabik dirimu hidup-hidup, mengoyak lehermu dan melahap otakmu.”

 

Pemuda itu terdiam untuk beberapa saat mencerna penjelasan sang pendekar sampai akhir hingga terciptalah sebuah hipotesis.

“Jadi itulah sebabnya kau melakukan hal itu. Kau mengancam nyawaku untuk mengeluarkan ketakutan untuk memancing monster itu keluar?”

Jasper menghela napas panjang.

“Begitulah rencanaku. Kau terlalu bodoh dan pengecut sehingga mudah kukerjai seperti ini. Tapi alas, makhluk itu tidak datang malam ini. Jadi mungkin tangan kosong lagi.”

Jal melihat pendekar wanita itu berjalan kembali ke perapian, duduk dengan serampangan sambil mengambil tusuk daging yang tersisa seperti semua berjalan baik-baik saja. Pemuda itu hampir tak percaya apa yang dilakukan oleh Jasper. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu dengan mudahnya? Betapa teganya ia mempermainkan nyawa seseorang tanpa memikirkan sedikitpun perasaan orang lain? Semua ini membuat Jal berdiri terpaku di tempat yang sama, tak bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan. Kembali ke perapian bersama pendekar sembrono ini dan menjadi mainan baginya atau pergi meninggalkannya di sini hanya untuk ditelan dalam kegelapan hutan?

“Sampai kapan kamu mau berdiri di sana? Kalau kau mau pergi, maka pergi saja. Kalau mau di sini dulu, duduk saja di sini. Asal tahu saja, berdiri di sana sangat menggangguku. Membuatku tampak seperti orang jahat.”

Jal gemas. Dengan entengnya Jasper menyebut dirinya sendiri tampak seperti orang jahat sedangkan dia sendiri sudah menjadi jahat. Wanita ini tidak masuk akal. Namun demikian, pemuda itu tidak memiliki pilihan yang lebih baik selain bertahan bersamanya. Meski begitu, ia akan menjaga jarak dengannya. Penuh keraguan, Jal berjalan kembali menuju perapian namun baru mengambil dua langkah, ia berhenti. Pemuda itu mematung dengan ekpresi campuran antara takjub dan horor. Sesuatu yang masuk matanya membuat ia tak percaya apa yang dipandangnya.

“Apa itu?”

Melihat Jal dalam posisi seperti itu membuat Jasper heran. Ia bahkan sempat menanyakan apa yang sedang ia lakukan di sana. Namun beberapa saat kemudian ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres melihat pandangan mata pemuda itu yang memandang horor ke arah pohon di belakang sang pendekar. Saat itulah sebuah kelebat mengayun dengan cepat ke arahnya. Sesuatu yang besar melesat dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat oleh mata normal, langsung menyasar pada kepala Jasper yang menatapnya heran.

“Kak Jaspeeer!!”

Jeritan Jal tak berhasil mencapai Jasper pada waktunya. Di hadapan matanya, wanita yang membuatnya ketakutan sekaligus terpesona terpental menyusul suara benturan yang amat keras. Cipratan darah dari kepalanya menjejak di udara saat ia melayang untuk jatuh ke semak-semak beberapa meter jauhnya. Sang pendekar menghilang dalam sekejap dari pandangannya digantikan oleh sesosok makhluk misterius yang muncul dari atas pohon.

Sebuah monster yang selama ini menyamarkan tubuhnya dengan pohon kini menampakkan diri sebagai wujud yang mengerikan. Kedua matanya yang keji mengunci pada sang pemuda yang jatuh terduduk saat ia menyadari lengan besar yang membunuh Jasper dalam sekali pukul.

>End of Act 04

Read previous post:  
134
points
(2152 words) posted by hikikomori-vq 12 years 12 weeks ago
83.75
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | dark fantasy
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Seru banget nih kaka, si Jasper pake mati segala... Apa dia punya 9 nyawa?
.
Aaaaah lanjutannya mana?????

dilakukan pembaharuan setting dari chapter sebelumnya

80

Wah, ini agak bikin pusing. Tokoh utamanya siapa,sih? Jasper, Jal, atau Lenka? Terus anak kecil yang di prologue itu Jasper, bukan? Hmh, hmh, hmh... Penasaran dgn chap selanjutnya.

Ayo, update....

100

*Edited*
Aiyeeeee si Jasper mati?! Kirain tokoh utama.
:O
(apa aku salah mudeng?)
Um.. aku agak ga nyaman sama beberapa istilah inggris+serapan yg kaupakai di sini kak. Misalnya "alas" dan "impresi." Kesannya... ganjil. :D
.
Ah, tapi seperti biasa bikinanmu selalu keren.

100

Wah, udah Act 4 aja. Saia perlu baca dari awal!
.
Penulisan rapi. Narasinya menghanyutkan sekaligus sinematik. Penokohan udah kerasa meski saia baru baca dari sini. Arusnya pas. Bagus deh, saia iri! Bang Topik gitu loh. Ahah.
.
Tapi alas, makhluk itu tidak datang malam ini.
Sindrom novel terjemahan! Bahkan, gak diterjemahin. Ahahaha. Setau saia, "alas" artinya "arkian" dalam bahasa Indonesia. Jujur, saia gak suka pemakaian bahasa yang cecelupan begini. Tangan saia gatel pengen nyunting. Hehe.
.
Oh ya, Jasper kok pake bengong dulu ke Jal, sih? Padahal kan orang yang punya insting membunuh, menurut saia, seharusnya lebih peka terhadap bahaya. Bahkan, meski dia gak peka, harusnya bisa langsung ngerespon ketakutan Jal. Agak aneh, IMO.
.
Bukan hal penting sih, tapi... Jasper itu iya saia tau itu nama batu. Okelah. Tapi kan di sini orangnya cewek. Sejauh yang saia tau, jasper itu maskulin. Bentuk feminin-nya tuh Jaspis/Iaspis. Hum. Apalagi itu batu Maret. (Maret itu kan Mars, dewa perang. Dewa.)
.
Oke. Saia akan baca dari Act 1.