Nandya-Kathia

Dia hidup di dalam cermin, di dalam relung-relung mimpi bergalur warna-warni hedonisme dan konsumerisme.  Itu fakta.  Aku hidup di dunia nyata, berangkat kuliah, beradu argumen, dan memendekkan nafas dengan macam-macam substansi yang tak usah aku sebut.  Itu juga fakta.  Aku, Nandya, mahasiswi universitas swasta di Jakarta.  Dia Kathia, juga mahasiswi universitas swasta yang sama di Jakarta.  Kami sahabat terbaik sekaligus musuh terbaik.  

Seperti hari ini.

"Kat, gue udah bilang kalau gue nggak suka sama sepatu-sepatu modis gini!  Nggak enak dipake jalan!  Sakit!"

"Aduh, Nandya sayang, sekali-sekali feminin sedikit 'kan nggak bikin elu kena demam berdarah...."

"Ogah," potongku dingin sambil bersedekap.  Bisa kulihat ekspresi lembut Kathia berubah.  Sebelah alis hitamnya terangkat, sementara kedua bola matanya menatapku dengan tatapan 'oh-jadi-situ-udah-bisa-ngelawan?'

"Kat," panggilku kesal, "sepatu terkutuk ini bukan selera gue, dan nggak akan pernah jadi selera gue.  Jangan paksa gue untuk pake barang kayak gini ke kampus.  Gue ke kampus tuh bukan mau mejeng!  Lu kira enak naik tangga pake beginian?!"

"Oke," Kathia menghela nafas panjang, tanda ia menyerah.  Aku hanya mendengus, puas sekaligus juga menghabiskan sisa kekesalan yang ada di dalam dada.  Ini baru soal pakaian, belum soal lainnya.

Kalian memang tidak tahu, tetapi aku dan Kathia sering sekali bertengkar untuk hampir semua hal.  Dari selera cowok, aktor, aktris, lukisan, musik, buku, novel, puisi, bahkan untuk tugas kuliah pun kami bertengkar.  Pendekatanku selalu tak sesuai dengan pendekatan Kathia.  Kathia lebih suka kami membahas masalah dari segi perkembangan sosial dan psikologi si pelaku  masalah, sementara aku lebih memilih pendekatan yang lebih pragmatis dan sebisa mungkin menganalisa semua kemungkinan yang membentuk pola perilaku si pelaku kecuali si pelaku sendiri.  Kalau Kathia memilih untuk membuat presentasi kami berwarna-warni dan cerah ceria, aku lebih memilih presentasiku sesederhana mungkin dan seinformatif mungkin.  

Seperti hari-hari lainnya, kami berangkat ke kampus berdua.  Tidak lupa, Kathia memasukkan sebuah cermin persegi dengan bingkai dan tutup coklat yang terlihat agak antik ke dalam tas jinjing persegi besar berwarna hitam miliknya.  Aku hanya menghela nafas.  Kutatap isi tas ranselku.  Semuanya benda yang kubawa karena ada kemungkinan bisa berguna.  USB.  Netbook.  Charger netbook dan ponsel.  Payung.  Botol minum.  Kotak pensil.  File catatan kuliah.  Berbeda 180 derajat dengan isi tas Kathia yang cantik sekaligus fungsional tersebut.  Selain benda-benda fungsional, aku tahu Kathia minimal membawa beberapa perangkat make-up yang disebutnya sebagai 'keperluan esensial perempuan'.

"Kat."

"Apa?" tanya Kathia yang berdiri di ambang pintu, jari-jarinya terkembang tanda ia sedang mengingat-ingat barang-barang bawaannya dan memastikan tidak ada yang tertinggal. 

"Sehari nggak pake make-up bisa ngebunuh elu, ya?" pertanyaan khas dan basi dariku.  Tanpa basa-basi, tanpa tedeng aling-aling.  Selalu langsung ke intinya.

Kathia menatapku dengan tatapan aneh, seakan mendapatkan sebuah pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab atau pertanyaan yang sudah terlalu sering diulang.  Jawabannya pun aku sudah hafal di luar kepala.

"Nggak sih...."

"Tapi rasanya kalau nggak pake make-up itu ada yang kurang," sambungku dengan nada ogah-ogahan sebelum Kathia menyelesaikan jawabannya.

"Itu tahu, ngapain nanya," balas Kathia datar, kekesalannya terpancar jelas dari suaranya akibat ucapannya terpotong dan juga karena aku meremehkan jawaban standarnya itu.  "Lagian make-up itu kan perlengkapan perang perempuan," tambahnya, sepercik bara tergambar jelas di matanya.

"Dari mana tuh pernyataan kayak gitu?  Perempuan kalau mau disamakan dengan laki-laki, nggak perlu pake make-up juga nggak apa-apa.  Yang penting otak dan kemampuan," balasku tajam, sambil berharap semoga perdebatan pagi ini tidak berakhir dengan kami berdua terlambat kuliah.  

"Otak dan kemampuan juga penting, tetapi jaman sekarang, kalau kemampuan tidak didukung dengan penampilan juga hasilnya nol."

"Kalau gitu kenapa pepatah 'Don't judge a book by it's cover' masih berlaku seandainya penampilan bisa menunjukkan kualitas?"

"Karena itu yang namanya strategi marketing, dodol!" suara Kathia mulai meninggi.

"Tapi sekarang coba lu liat baik-baik, orang yang bajunya rapi kayak orang kantoran ternyata copet, sementara orang yang bajunya beda tipis sama anak kuliahan ternyata malah pemilik perusahaan.  Berarti penampilan nggak bisa menjamin isi, dong!"

"Contoh yang elu kasih nggak relevan!  Sekarang coba elu pergi interview kerja pake kaos oblong, jeans belel plus sneakers buluk kesayangan elu.  Gue berani jamin bagian HRD bakal bilang kalau lowongan udah ditutup meskipun dia belom dapet pelamar satu pun!"

 Wajahku memerah karena panas api emosi.  Bisa kulihat rona merah yang sama juga merambat di pipi Kathia.  Pelototan dibalas pelototan.  Argumen dibalas argumen.  Egois dibalas egois.  Jarang ada kata kompromi di antara kami berdua.  Tepatnya, aku yang jarang berkompromi, Kathia lebih sering menuruti keegoisanku.  Namun sepertinya pagi ini batas kompromi Kathia sudah habis.  

"Gue nggak merasa kalau pergi ngampus dengan sepatu yang bisa dipake nyambit anjing sampe pingsan relevan dengan interview kerja," aku membuka argumentasi kami lagi, tentunya dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya.

"Hmph," dengus Kathia sambil merapikan rambut hitam panjang ikalnya yang tergerai sampai ke dada, "tentu saja ada relevansinya.  Masa Nandya yang pintar dan bisa dibilang mahasiswa terancam empat gini nggak bisa membentuk korelasi sesederhana itu?"

"Kat, not the passive-agressive, okay?

Kathia hanya mengangkat bahunya.  Aku tidak pernah menyukai pendekatan passive-agressive dari Kathia.  Pendekatan semacam itu tidak pernah menyelesaikan masalah, yang ada malah memancing emosi untuk berdebat lebih lanjut.

"Oke, salah gue.  Maksud gue gini, dunia kuliah itu bisa dibilang adalah sedikit gambaran tentang bagaimana masyarakat bekerja.  Memang nggak ada aturan yang bilang kalau ke kampus dengan kaus oblong, jeans belel dan sneakers buluk itu bisa bikin elu ditendang keluar kampus dan disuruh ganti baju, tapi dandanan elu selama ngampus selama dua tahun belakangan ini selalu begitu.  Lagi presentasi di kelas, lagi ujian, lagi kelas, lagi ikut rapat HiMa, selalu sama.  Gue cuma mau bikin elu terlihat lebih berkelas dan sesuai dengan kemampuan elu," tutur Kathia panjang lebar. 

"Gue menghargai niat elu, tapi sejauh ini nggak pernah ada masalah besar 'kan gara-gara penampilan gue?"

"Apanya?" gerutu Kathia.  "Lu nggak pernah sadar kalau selama rapat HiMa, nggak sedikit mahasiswi yang ngomongin elu?  Nggak pernah sadar kalau temen-temen sekelompok presentasi elu nggak pernah ngajakin elu ngomong hal lain selain tugas?  Nggak pernah sadar kalau cowok yang elu taksir itu--"

"Stop sampe di situ!" tukasku galak.  "Elu tahu dari mana soal cowok itu?!"

"Puh-leeaaseee," balas Kathia sambil memutar kedua bola matanya.  "Sahabat macem apa yang nggak tahu kalau sahabatnya lagi jatuh cinta?"

"Kat, bilang sejujurnya.  Gue bahkan belom cerita sama siapa-siapa soal cowok itu," ancamku sambil mendekati sosoknya yang sedang asyik memutar kedua bola matanya sambil bersandar di ambang pintu.  

Kathia baru saja mau membuka mulutnya untuk berbicara ketika sebuah suara lain tertangkap oleh telinga kami berdua.

"Nandya!  Mau sampai kapan kamu di kamar terus?!  Udah jam berapa ini?!"

"Ya, Ma!  Sebentar lagi Nandya turun!" teriakku dari dalam kamar, sementara Kathia tersenyum-senyum saja.

"Memang udah waktunya kuliah, sih," ujar Kathia santai sambil melirik jam tangan dengan rantai stainless steel yang terpasang rapi di lengan kanannya.  Aku melirik jam yang sama di lengan kiriku.  Astaga!  Sudah jam segini!  Aku memelototi Kathia yang masih senyum-senyum. 

"Pokoknya nanti pulang elu harus cerita kenapa elu bisa tahu,"  aku menatap mata hitam Kathia dalam-dalam.  Kathia memiringkan kepalanya dan mengangkat bahunya, lalu menjawabku dengan nada suaranya yang seolah-olah tidak ingin melanjutkan diskusi.

"Aduh, rasanya soal itu nggak perlu ditanya lagi, deh.  Gue kan selalu sama-sama elu."

"Tapi bukan berarti elu boleh suka sama cowok yang sama dengan gue!"

"Ya, ya, ya.  Udah sana, berangkat.  Nanti kita berdua telat.  Dosen hari ini Pak Kumis, kan?  Kalo telat gue nggak mau harus jalan jongkok di depan kelas sama elu."

Aku hanya bisa melemparkan satu tatapan galak ke arah Kathia sebelum kemudian membuka pintu dan berlari menghampiri Mama yang sudah menunggu di dasar tangga sambil berkacak pinggang.  Tentu saja ransel dan tas jinjing hitam cantik milik Kathia juga kubawa.  Sesuai arahan Kathia, hari ini aku mencoba tampilan yang berbeda dari tampilanku yang biasa.  Kemeja hijau terang dan celana jeans ketat membalut tubuhku dengan sempurna, tetapi aku memilih sepasang sandal jepit modis tapi tidak mencolok sebagai penutup penampilanku.

Mama menatapku dengan pandangan 'sudah-siap-?' miliknya yang terlalu sering kulihat semasa hidupku.  Aku hanya bisa nyengir kuda.  Kami berdua melangkah menuju ruang makan, dan sebelum sampai di sana, aku menatap bayanganku di dalam sebuah cermin besar yang tergantung di dinding.

Kathia membalas tatapanku dengan sebuah kedipan dari dalam cermin.  Aku mengulum sebuah senyum dan bergegas menghampiri meja makan untuk sarapan.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Chie_chan
Chie_chan at Nandya-Kathia (10 years 5 weeks ago)
80

Wah ini bagus, cc. Aku ga bisa bikin teenlit gahul. T_T
Mereka satu tapi kepribadiannya bisa beda banget gitu ya? Apa jangan-jangan multiple personality disorder? Kan keren kalo mereka bisa switching personality di saat-saat tertentu. XD
.
.
Eh tapi bener kan fantasinya itu? <-- *takut salah nangkep*

Writer RisKart
RisKart at Nandya-Kathia (10 years 6 weeks ago)
80

bagusnya di lanjutin nih kak... soalnya tuh cowok kan blum ketahuan... hihiii
tapi bagus kok :)
keep writing!

Writer k0haku
k0haku at Nandya-Kathia (10 years 6 weeks ago)

Gak ada idenya nih buat ngelanjutin, hehehe. Kamu mau lanjutin? :D

Writer dansou
dansou at Nandya-Kathia (10 years 6 weeks ago)
80

Eh, beneran om Juno dapat karakterisasinya? Saya malah bingung, tuh. Atau ini gara-gara keterbatasan otak saya?
.
Oke, gini deh. Saya sudah nebak dari pertengahan kalau endingnya gini. Tapi kenapa bisa gitu kalau keduanya memiliki kepribadian yang berbeda? Jadi Nandya ini bajunya amburadul? Tapi kenapa Kathia jadi modis? Jadi yang dipakai baju Nandya saat itu yang mana?
.
HEm, saya juga menemukan beberapa typo, tapi okelah ^^
.
Salam kenal ^^

Writer k0haku
k0haku at Nandya-Kathia (10 years 6 weeks ago)

Untuk di ending, Nandya pake baju ala Kathia. :)
Engg, maksudnya kenapa bisa gitu? ^^; Saya yang nggak nangkep pertanyaannya...

Salam kenal juga. ^^

Writer herjuno
herjuno at Nandya-Kathia (10 years 6 weeks ago)
80

Nice, karakterisasinya dapet. Btw, saya suka line ini: "Kat, not the passive-agressive, okay?"

Writer k0haku
k0haku at Nandya-Kathia (10 years 6 weeks ago)

Thank u :)
Ada alasan tertentu kenapa suka dengan line itu? ^^

Writer H.Lind
H.Lind at Nandya-Kathia (10 years 6 weeks ago)
80

Blom dapet fantasinya. Tapi kayaknya bakal jadi cerita seru. :D

Writer k0haku
k0haku at Nandya-Kathia (10 years 6 weeks ago)

Loh, udah habis ini, hehehe. Nggak ada lanjutannya, segini aja.
Hum, rada nggak dapet ya fantasinya?

Writer januari
januari at Nandya-Kathia (10 years 6 weeks ago)
90

salam kenaaaal...
kept writing and nice to see you
pertamaaaax, yups.