Proyek eksperimen LCDP: Dan Dia Menungguku

Proyek eksperimen LCDP: Dan Dia Menungguku

Ini minggu keempatku kerja sosial, empat dari dua puluh minggu kerja sosial, sebagai hukuman mengemudi di bawah umur. Itu dan juga pengrusakan properti, sebenarnya aku menabrak kurcaci taman seseorang. Orang picik yang tidak bisa diajak damai.

Setidaknya, pengacara yang bagus menjauhkanku dari penjara anak-anak, namun tawaran terbaiknya adalah duapuluh minggu kerja sebagai tukang sampah, penghibur senior, atau kerja kasar untuk sarana publik. Penghibur senior adalah yang kupilih.

Kini aku dan grupku menuju ke rumah senior ke empat, para penghuni lansia yang memiliki cukup uang untuk membayar semua tagihan mereka untuk tinggal di rumah atau apartemen mereka sendiri.

“Rumah siapa yang kita kunjungi sekarang?” tanyaku pada Heather, ketua grup penghiburku.

Kurasa dia satu-satunya alasanku bertahan di kerja sosial ini, siapa yang bilang sukarelawan kerja sosial adalah kutu buku berjerawat dan berkacamata. Heather Mungkin adalah satu-satunya anomali alam.

Brunette, semampai, muka yang halus tanpa jerawat, mata coklatnya dan segalanya tentang dia membuatku bisa melewati akhir minggu di neraka seperti ini.

Larrson rekan kutubuku yang lain sedang melihat daftar bel di papan nama penghuni apartment. Sedangkan Jill, rekan yang lainnya menyiapkan catatan tentang keadaan senior-senior sebelumnya.

“Nyonya Lockhart, dan dia tipikal janda pemelihara kucing, bedanya satu…” mereka bertiga melihat ke arahku.

“Dia tidak akan berbicara kepada kita jika kita tidak memakai ini!” cerita Jill. Lalu entah dari kantung, tas gantung atau dibalik celana mereka bertiga mengeluarkan bando dengan ornamen kuping kucing.

“Ooh bagus jadi sebaiknya aku menunggu diluar sementara kalian bertiga main peran kostum di dalam!”

“Nuh uh, aku tahu kau akan bilang begitu, jadi ini buatmu!” Heather merogoh lagi kedalam  tas gantungnya, memberikanku sebuah bando baru masih dengan kawat label harganya. Dia memutuskan label harganya sebelum memberikannya kepadaku.

Larrson dan Jill sudah berlari masuk menuju ke Apartment, aku masih berdiri dengan bodohnya memegang bando itu dengan dua tangan dan menggeleng-geleng tanpa henti.

“Ayolah, ini pasti akan menyenangkan!” Heather menggenggam tanganku dan menyeretku untuk masuk ke dalam apartement.

Definisi menyenangkan selama ini adalah saat aku bertemu seorang kakek yang masih menyukai gaya John Travolta dengan rambut berminyak. Tidak dengan tipikal janda tua pemelihara kucing.

Aku tidak memberikan perlawanan kuat saat Heather menarik  diriku menaiki tiga lantai. Banyak faktor yang berpengaruh dalam hal ini. Aku tidak akan menggunakan kekuatan apapun terhadap cewek, masih tersentak dengan kenyataan aku harus memakai bando untuk anak-anak, dan juga keinginanku sendiri melemah saat Heather menggenggam tanganku.

Rupanya Larrson dan Jill sudah bercengkrama dengan Nyonya Lockhart didalam.

“Ayolah Freid, jangan demi aku, lakukanlah untuk Nyonya lockhart!” mungkin kalau susunan kalimat itu dibalik aku bisa dapat kekuatan untuk merendahkan diriku.

Aku kembali menggeleng keras, “Tidak, ini sudah jauh dibawah kemampuanku merendahkan diri!”

Heather melepaskan tanganku, dan mengambil bando itu, “Bagaimana jika, kalau kau memakai bando ini kutraktir kau makan malam hari ini berdua saja!”

Aku kembali terbengong di tempat, dia mengajakku kencan hanya demi seorang lansia, salahku adalah aku terpukau dengan ajakannya.

“it’s a Date!” dengan sigap dia memakaikan bando itu ke kepalaku dan berkata, “Jam enam kutunggu di pusat komunitas.”

Di dalam apartment Nyonya lockhart, kami semua melakukan tugas kami masing-masing. Jill memeriksa kesehatan Nyonya lockhart, Larrson dan Heather menghiburnya dan mengajaknya ngobrol.

Tugasku memeriksa keadaan sekitar, entah pisau yang ditaruh sembarangan, entah ada kabel listrik yang terekspos, atau beresiko korslet, kebersihan dapur, kamar tidur, dan juga kamar mandi.

Di saat sedang bekerja aku merasa begitu lelah, dan kepalaku sakit seperti mengecil.

“Jill, kau bawa botol Aspirin?” tanyaku kepada Jil dengan langkah terhuyung, hampir menginjak seekor kucing Nyonya Lockhart.

“Tidak, persedianku sudah diminta oleh Tuan Smith tadi!” jawab Jill.

“Aku masih punya kok, Ada di dalam kabinet kamar mandiku” Nyonya Lockhart memegang titian bangkunya berniat berdiri untuk mengambilnya”

“Tidak perlu nek, Aku bisa mengantar diriku sendiri kesana.” Aku membalas kebaikannya dengan senyuman, Larsson sudah menahan pundaknya, mencegahnya merepotkan diri sendiri.

Selangkah demi selangkah kubawa diriku menuju ke kamar mandi. Setiap langkah membuat kepalaku makin sakit.

Kututup pintu kamar mandi, kulihat diriku sendiri di cermin kabinet obat, selain dari bando yang katanya lucu, tidak ada yang aneh pada diriku.

Kubuka pintu cermin itu dan mengambil botol plastik bertuliskan aspirin. Dengan sakit kepala seperti ini butuh dosis ganda untuk menghilangkannya. Setelah kutenggak kedua tablet itu, sakit kepalaku mereda. Memang obat yang ampuh untuk menghilangkan segala nyeri.

Kukembalikan botol itu ketempatnya, dan menutup pintu cermin kabinet

“Nyaw” teriakku, seluruh wajahku ditumbuhi bulu, kupingku sudah menghilang, namun kuping yang di bando malah bergerak. Aku harus memberitahu teman-temanku. Aku berputar dan mencoba membuka pintu.

Sayangnya kini aku tidak memiliki jempol, kenop bulat itu membuat telapak tanganku yang kini berbentuk lima gumpalan bulat terpeleset diatasnya.

Tolong, tolong aku, teriakku namun yang keluar adalah suara “nyaw” yang nyaring. Tubuhku makin mengecil pandanganku makin menvertikal, pandangan horisontal terlihat lebih sempit.

“Freid, Kau tak apa-apa?” tanya Larrson dari balik Pintu.

“Nyaw” hanya begitu yang bisa kubalas. Larrson membuka pintu kamar mandi melihat kedalam. Aku berharap dia menyaksikan perubahanku, namun yang dia dapati adalah aku yang sudah berubah sepenuhnya menjadi kucing.

“Bagus Freid, telah kabur lewat kamar mandi!” teriak Larrson kepada Heather.

Aku mengikuti Larrson ke ruang tengah, membiarkan diriku melewati lusinan kucing yang berada di seluruh rumah. Bisikan-bisikan kencang seperti ‘Siapa dia?’ ‘bagaimana dia bisa di sini?’ dan lainnya terdengar di seluruh ruangan.

Aku mendekat kepada Heather, meneriakkan panggilan kucing kepadanya.

“Dia tidak sebodoh kau Larrson, ini lantai tiga. Apakah tadi jendelanya terbuka?”

“Sepertinya tidak.”

“Apapun yang ingin dilakukan oleh cowok itu, kabur adalah pilihan terakhirnya. dia sangat takut untuk masuk penjara!” Heather mengenalku. Ucapannya persis dengan kalimat yang kugunakan menahan diriku untuk tidak kabur dari  kerja sosial.

Selama perbincangan mereka yang kulakukan adalah meneriakkan “nyaw” terus menerus, sayangnya yang memperhatikanku malahan Nyonya Lockhart.

“Siapa dia?”

“Eh?”Semua orang di grup bingung dengan yang dimaksud oleh Nyonya Lockhart.

“Kucing itu, Kucing itu. Aku tidak punya kucing jantan yang berwarna kuning seperti itu!”

Bagus penyamaran terbongkar, para kucing penghuni rumah yang asli mulai melihatku, beberapa malahan sudah melengkungkan tubuhnya dan mengembangkan bulunya.

“OK, aku  pergi!” kataku kepada kucing lainnya, namun yang keluar adalah suara “Hisss”

Dengan cepat aku berlari menuju pintu keluar, yang tidak kuperhatikan adalah tinggi kenop pintu yang sekarang setengah meter di atas kepalaku.

Sebelum aku menjadi bahan cakaran kucing lain yang bisa kulakukan adalah mencakar pintu dan meloncat-loncat ke kenop.

Kami juga tidak ingin kau di sini bodoh,” kucing lain mendesis kepadaku, “itu ada lubang kucing di pintu tinggal loncat saja!”

Baru kuperhatikan ada sebuah lubang persegi di pintu yang biasa digunakan untuk keluar masuk kucing.

Tanpa pamit lagi kuloncati lubang pintu itu dan keluar dari apartemen Nyonya Lockhart. Aku hanya duduk di lorong memikirkan apa yang harus kulakukan.

Yang kuperlukan hanyalah petunjuk…, Label harga, yah label harga yang dicabut Heather, seharusnya disana tertera nama toko yang menjual bando ini.

Aku menuruni tangga dengan pasti. Aku menyadari bahwa aku tidak canggung dengan jalan empat kaki seperti ini.

Ternyata banyak hal yang kuperhatikan diambil alih oleh insting kucing. Caraku berjalan, caraku mengenal udara dan suhu sekitar dengan kumisku, caraku mengarahkan pendengaran dengan menggerakan kuping, caraku menghindari liur berlebih dengan menarik lidahku empat kali sedetik.

Aku menunggu di depan pintu, menunggu ada penghuni yang keluar masuk. Aku memikirkan langkah selanjutnya apa yang harus kulakukan jika tahu dimana alamat tokonya, kurasa aku akan melihat-lihat keadaan di sana.

Seorang Ibu masuk kedalam gedung memeluk kantong besar belanjaan, aku menyelip diantara kakinya dan keluar menuju undakan. Aku menyisir sekitar dengan pandangan kucing, jarak pandangku lebih jauh, tapi tidak bisa fokus jika terlalu dekat, seperti rabun dekat.

Yap, potongan label harga itu masih ada, aku menerkam label itu berharap semoga tidak ditiup angin. ‘Emporium Of Cat’ dibawah nama toko terdapat alamat gedungnya, lumayan dekat dua blok dari sini.

Aku berjalan perlahan-lahan di trotoar, memberikan kesan natural agar tidak ada orang yang curiga dan menelepon pengontrol satwa. Aku mencoba menghindari penjara manusia, maka akan kuberikan tenaga ekstra untuk menghindari penjara kucing.

Walaupun tidak kusangkal beberapa orang heran saat melihat seekor kucing menunggu lampu hijau untuk menyeberang. Namun mereka tidak ada yang panik dan mencoba langsung menelepon, mereka mungkin menganggapku kucing terlatih, atau memang tidak perduli.

Disinalah aku berada, di depan toko perlengkapan kucing, bahkan di samping pintu gesernya, terdapat lubang kucing yang persegi. Aku mendekat dan mencoba untuk meloncati lubang kucing itu.

“Aku tidak akan melakukannya jika menjadi kau, bu~ung” seekor kucing tua mengeong mencegahku.

“Kau tidak apa-apa kan Tuan?” tanyaku kepada kucing itu dari gaya omongannya terlihat ia sedang dalam pengaruh alkohol.

“Ini gara-gara catnip, dari putri tetangga, dia gak tahu betapa hihihi… menyenangkannya itu barang!” jawabnya sembari kembali berguling-guling. Menggesekkan punggungnya ke trotoar.

“Tuan, kau tadi melarangku untuk masuk kedalam, kenapa?” tanyaku mendekat padanya, dari tubuh kucing jantan itu tercium aroma yang sangat manis, sangat manis dan nikmat.

“Aku tidak melarangmu, tapi jika kau loncat melewati lubang kucing itu, kau tidak akan keluar dengan selamat. Coba kau cungkil keluar pelat karetnya dan kau dapat melihat apa yang kumaksud!”

Aku mendekati lubang kucing itu dan menggunakan kuku untuk mencungkil dan menarik pelat karet, dibalik pelat karet itu terdapat jeruji besi, tepatnya kandang besi dengan mekanisme masuk dan tidak bisa keluar.

“Untuk apa dia melakukan itu?” ngeongku.

“Menjebak kucing yang awalnya manusia sepertimu, untuk dimakan!” jawab kucing tua tadi. Kini ia sudah berdiri tegak telernya ilang, walaupun kadang dia terlihat ada keinginan untuk tertawa sendiri lagi.

“Tuan tahu siapa aku?”

“hihi…, panggil aku Jonah, dan berjalan bersamaku kebelakang bangunan bu~ung!” dia sadar, dia ingin sadar tepatnya, tapi efek katnip itu membuat ia bertingkah serba salah.

Aku berjalan bersamanya memutari gedung ini, menuju ke gang kecil disampingnya.

“Kau bukan yang pertama nak…,”

“Freid” aku mengenalkan diriku.

“Dia sudah melakukan hal ini tiga tahun, dua bulan delapan minggu dan dua jam!” kata jonah sembari berjalan bersamaku.

“Segitu tepatnya?”

“Ini tokoku, dia mengubahku menjadi kucing dan melakukan pencurian identitas terhadapku. Kini semua barangku menjadi miliknya.” Katanya saat berhenti, “Dan stop menjilati moncongku!”

Kalimatnya membuatku sadar apa yang tengah kulakukan, anehnya kulakukan itu dengan tidak sadar.

“Maaf, Jonah, aku gak tahu…” aku mengambil beberapa langkah mundur.

“Bukan salahmu, tapi salah katnip terkutuk ini! He he…” dia tertawa sendiri lagi.

Dia membawaku menuju ke salah satu jendela yang berbentuk kotak kecil, jendela yang memperlihatkan keberadaan ruang bawah tanah toko itu.

Lebih seperti dapur raksasa di satu bagian, ruang mencuci di bagian yang lain dan ruangan santai.

“kau lihat buku itu!”  Jonah menunjukkan letak bukunya dengan moncongnya.

Buku itu terletak di sebuah meja baca di samping sofa yang menghadap televisi. Tergeletak terbuka.

“Sewaktu penjaga toko membuat bando itu dari kepala kucing asli, dia selalu melihat ke arah buku itu, ada kemungkinan cara pembalikan kutukan pun tertulis di sana” jelasnya kembali.

“Kau tahu tentang itu buku itu dan tidak pernah masuk dan mencoba membacanya?”

“Tidak sepadan dengan resiko dimakan oleh maniak, menjadi kucing mungkin lebih enak, kita tinggal mengeong di depan rumah orang baik dan dapat makan gratis!”

“Well Jonah, tidak sepertimu aku punya keluarga yang menantiku, aku punya janji kencan, dan aku punya hutang  16  minggu kerja sosial!” kalimat terakhir menyadarkanku bahwa terkadang memang lebih enak menjadi kucing.

Aku menggeleng menghilangkan pikiran labil barusan.

“Dengan atau tanpa bantuanmu aku akan membaca buku itu!” aku mendorong jendela kecil itu dan membiarkannya tergantung terbuka.

“justru itu bodoh, aku ingin membantumu, tapi tidak dengan masuk kesana, aku akan mengajarkanmu untuk mengendap cara kucing!”

Beberapa menit kedepan ia mengajarkan segala sesuatu tentang menjadi kucing mata-mata. Bagaimana menggemukkan bantalan telapak sehingga mendarat dari ketinggian tertentu tidak menimbulkan suara, bagaimana langkah demi langkah kita mendarat sehingga tidak ada efek dentuman yang terjadi pada tubuh, dan cara memanjat tembok sekilas dengan menguruskan bantalan telapak sekurus-kurusnya sehingga kuku yang keluar akan sangat melengkung. Cukup untuk memberikan kesempatan meloncat dua kali di permukaan kasar.

“Kau siap, aku akan disini mencoba mendengarkan bila Ia mau turun ke ruang bawah tanah!” selama pelajaran, efek telernya berangsur-angsur pulih kini ia lebih terlihat seperti veteran kucing daripada kucing tua teler.

Aku melangkah ke tepian jendela, memajukan kaki belakang, membengkokkan punggungku, mempersiapkan loncatanku. Setelah melenting, kupadatkan bantalan telapak, dan kulemaskan dua buah sendi di tiap pergelangan kaki. Aku mendarat tanpa suara di lantai kayu.

Aku melangkah perlahan, menuju ke ruang santainya, menaiki sofanya kemudian melihat bukunya. Bagus komandan Jonah tidak memberitahukan kepadaku bagaimana membalik halaman. Aku coba menggunakan telapak tanganku, namun jika harus membaliknya tanpa menggunakan kuku. akan mustahil.

Aku ingat, lidahku memiliki pengungkit-pengungkit mikro. Aku menjilat kertas itu satu arah membuat lembaran terbalik dan membuka halaman lain.

Aku membaca setiap kalimat tentang kontra-kutukan.

“nyaw” “Sang pemilik toko turun” teriak Jonah, aku mempercepat laju bacaku. Setelah menemukan yang kucari aku segera berlari menuju tembok dengan jendela terbuka.

Satu loncatan penuh tenaga, kukempiskan bantalan telapak, kucakar selokan antar bata dan kulentingkan tubuhku sekali lagi. Aku mendarat tepat di pinggir jendela dan menaikkan diriku dengan mengayuh cakar kaki belakangku.

Pemilik toko mendengarku, ia segera berbalik ke atas dan lari ke luar pintu.

“Ayo, Jonah dia sedang naik!”

Aku mengajak Jonah lari. Pintu belakang terbuka pemilik toko mengacungkan senapan berburu kepada kami. Satu tembakan… meleset!

Jonah sudah berbelok ke bangunan lain begitu pun diriku. Dan juga pemilik toko di belakang, sekali lagi ia menembak… Meleset, namun satu dari pecahan, pelor mengenai kuping kananku. Kami berdua masih terus berlari menghindari Pemilik toko gila itu. Kejarannya berakhir saat sirene polisi terdengar lebih nyaring daripada senapannya.

Kami menepi, di esbuah gang gelap beberapa blok dari pengejaran.

“Apa yang kau temukan?” Tanya Jonah.

Aku tidak tega menyatakan penawarnya kepada dia, karena untuk kasusnya kurasa tidak mungkin bisa terjadi.

“Ayolah Freid, setidaknya biar aku tahu ada harapan!” dia memelas dengan suara mendengkurnya.

“Yang memasangkan bando itu harus mencubit, atau menarik kuping aslimu itu!” aku berkata dengan suara pelan, tidak ada harapan buat Jonah, yang memasangkan bandonya ke dia adalah si pemakan kucing.

“he he he” bukan ketawa teler yang terdengar, Tapi tertawa yang menertawakan nasib.

“Aku turut, berduka cita” meongku panjang.

“Tidak apa-apa, sekarang aku bisa menyerahkan diriku diadopsi oleh putri tetangga, kurasa ia bisa membuatku teler tiap hari!” jawabnya.

Aku tidak tahu kalau aku bisa tersenyum waktu jadi kucing. Tapi pasti hatiku tersenyum melihat ada orang yang setegar Jonah. Aku berencana mengantar Jonah ke tempat orang yang sering mempermainkan dia dengan katnip

“Apakah kau tahu sekarang Jam berapa?” tanyaku pada Jonah.

“Kau seekor kucing, lihatlah ke langit dan kau bisa memperkirakan jam!”

“Aku ini kucing hari pertama!”

Lalu Jonah melihat kosong ke seberang, ia bengong sebentar lalu, “jam setengah tujuh”

“wow, kau tahu itu hanya dengan melihat langit?”

“Bukan, lihatlah rumah di seberang yang jendelanya terbuka jam disitu menunjukkan setengah tujuh!”

“Aku harus pergi Jonah, Penyelamatku seharusnya menungguku di pusat komunitas, atau aku bisa menunggu dia sampai minggu depan.”

“Sampai jumpa” salam dia saat aku mulai menjauh dan berlari sekuat tenagaku menuju ke pusat komunitas.

Aku ada janji kencan.

Di ruangan sayap timur keempat, E4 ruang para pekerja sosial. Heather duduk sendiri di satu bangku panjang menungguku. Dia menungguku dengan sabar bahkan setelah telat selama satu jam.

Aku melompat naik ke sampingnya, dia menyadariku dan mulai membelai kepalaku, “Hi kitty, kau menunggu seseorang jugakah. Kurasa hanya aku yang menunggu yah.” Matanya berkaca-kaca

Aku menekankan telapakku ke pahanya, “Jangan sedih, Heather” Suara mengeongku kembali keluar. Aku menggelengkan kepalaku kembali menunjukkan kepadanya agar dia jangan sedih.

Dia malah menerkamku dan mengangkatku ke udara.

“kyaaa, gayamu menggelengkan kepala mengingatkanku kepada cowok itu, itu satu-satunya hal yang ia kerjakan setiap saat waktu minggu pertama. Sekeras apapun ia menolak, ia tetap melakukannya demi Grup, atau kurasa demi aku.”

Sebuah tetesan darah dari kupingku jatuh di pipinya.

“Kau terluka, kitty? Bentar yah…” Heather menaruh diriku di pangkuannya dan ia merogoh tas gantungnya, mengeluarkan selembar tissue.

Ia menjilat tissu itu dulu agar sedikit basah lalu membubuhkannya ke telingaku. Mengangkat beberapa darah yang sudah mengering.

“Kupingmu aneh deh, jika kutekan yang sebelah kanan yang kiri juga bergeser!” lalu dia juga memainkan kupingku tanpa menyadari kupingku yang masih luka di bagian kanan.

Lalu kembali secara spontan ia coba menangkap kuping kiriku. Yang terjadi selanjutnya adalah ia mencabut kuping kiriku yang segera berubah menjadi bentuk bando setelah terlepas olehnya.

Kepalaku kembali sakit, kini tanpa bantuan aspirin, perubahanku disertai nyeri yang amat sangat. Sampai akhir perubahan aku masih tetap di pangkuan Heather. Hingga yang menjadi korban adalah bangku panjang di tempat kami berada. Bangku itu patah dan membuat aku dan Heather terjatuh

Wajahku berada tepat di depan wajah Heather, yang terlentang di tanah.

“enggg, jadi kucing tadi itu kamu yah?” tanya Heather.

“Yap” jawabku sambil masih tetap di posisi kami.

“jadi kau mendengarkan semua ten..”

“Yap!”

“dan bisakah kau bangun dan membantuku bangun juga?”

“Yap… Oh, iya iya!” aku bangun dan mengulurkan tanganku untuk membantunya bangun.

Terjadi momen keheningan, dan canggung yang dahsyat.

“Heather,” aku memanggilnya, “Terima kasih, terima kasih telah menungguku, terima kasih telah memberiku kepercayaan waktu di apartement, terima kasih telah menyelam…”

Omonganku terputus karena bibirku sudah dikecup lama olehnya. Saat ia mulai memasukkan lidahnya gerakannya terhenti. Ia mengeluarkan bola bulu dari mulutnya, kurasa itu dari mulutku.

“Kau, apakah kau menjilati dirimu atau kucing betina lain?”

“Tidak, sumpah!”

Dia tersenyum dan kembali mengulum bibirku. Bagaimana bisa kukatakan kepadanya kalau bola bulu itu berasal dari jilatanku ke Jonah, Kucing jantan lain.

 

PS: Di amrik, ada lampu yg hijau merahnya memang untuk penyeberang

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis cat
cat at Proyek eksperimen LCDP: Dan Dia Menungguku (10 years 10 weeks ago)
80

Baru nyadar kalo ada kuota toh.

#parah diriku.

Kenapa aku merasa perubahan dari kucing ke manusia sangat tidak pas.

Endingnya kurang kurasa.

70

Hmmm. Adegan terakhirnya bener-bener kerasa ga pas. Atau mungkin karena dari awal aku lebih dapet feel kucing-kucingannya daripada romancenya ya? Yg pasti, menurutku build up suasananya terlalu pas-pasan buat adegan sekaliber itu.
Buat masalah teknis, masih ada typos bertaburan. Beberapa kalimat masih nampak kebalik-balik strukturnya, ada pula misfungsi tanda baca, miss di penggalan, dan seterusnya. Kurasa ada paragraf-paragraf yang masih bisa disambung lagi supaya penceritaannya ga ngadat-ngadat. Tapi well, mungkin itu masalah style. Dan masalah nama. Nama 'Freid' itu menurutku lebih baik dijadiin 'Fred' aja sekalian, soalnya kerasa ganjil. Cuma pendapat sih.
.
Well, semangat. :)

Yg datang bangsawan...

Hidanngannnya Bebep peking dan anggur merah deh

Gk ada yang bisa saya sangkal My liege.

semuanya kena tepat.

tapi masih ngebela diri soal "Freid"

itu satu-satunya yang gk akan kuubah, karena itu satunya nama yang selalu kupakai untuk cerita asing...

90

(^_________^)b

Good job! Walau saia lebih pilih cerpen bad-ending, tapi saia suka yang ini. Ceritanya lembut (menurut saia), adegan aksinya pas, dan endingnya heartwarming sekali.

Cuma memang pas ending agak kurang sreg waktu baca si Heather datar aja pas liat si Freid (si aku) tiba2 brubah jd manusia lagi. Paling ga dia histeris gimana gitu :-3

Tambahan, saia suka karakter Jonah si kucing ^____^

90

Wow, saya suka ini.^^ Sayang bagian terakhirnya kagetnya kurang terasa.

menu pengunjung hari ini

Spaghetti Carbonara & grape Milkshake

makasih telah mampir. dan memang saya sendiri kurang puas, tpi mo dikata apa udah almos excedeed quota

90

kekny ini cerpen yang paling 'kucing' di antara cerpen2 lainnya, wkwkwk, detil kemampuan kucingnya bener-bener top XD

karakter fave: si kucing veteran, yg benar-benar bikin segar suasana ceritanya, heheheh~ XD

Menu bagi pengunjung hari ini.

bakmie ayam dan es campur

terimakasih, wong saya cuman menghayati menjadi kucing "nyaw"

Soal Jonah, saya sendiri setuju dia adalah karakter terbaik dari semua karakter yang saya buat

90

menarik ^__^

Nyedian kue kering dan Soft drink khayal
(mumpung puasa)

"makassih telah berkunjung"

70

cerpen kitty perdana yang kubaca! XD
overall, bagus, cute, lucu, love the ending ^^
Tapi aku nemu beberapa masalah EYD. Seperti tanda baca, kapitalisasi dan pemilihan kata, seperti...
.
pelor --> peluru.
.
Btw si Heather itu cewek pede banget ya? Menawarkan diri supaya Freid mau pakai bando kucing. I chuckled at this part XD
.
lalu...
“Dan stop menjilati moncongku!”
ngakak di bagian sini. =))

Nyedian kue kering dan Soft drink khayal
(mumpung puasa)

"makassih telah berkunjung"

Heather jelas harus PD, wong dia Sukarelawan paling seksi, kan dia anomali alam

...dan bertambahlah alasan mengapa cewek brunette selalu irresistible, setidaknya bagi saia. :D

100

Ha3...keren XD
sayang bagian Heather liat si aku balik ke manusia kok kurang kaget ya

Nyedian kue kering dan Soft drink khayal
(mumpung puasa)

seperti yang kubilang maaf klo ending gk sreg soalnya hampir nembus quota

100

“Nuh uh, aku tahu kau akan bilang begitu, jadi ini buatmu!”
...langsung kerasa settingnya di mana. Hebat.
.
Tapi lalu ada "kyaa" dan settingnya pun goyah. Ah sudahlah, cuma satu doang kok. Sisanya kerasa Amrik banget. Ceritanya sendiri bagus. Endingnya lumayan cute. Meski ada beberapa typo dan (menurut saia) beberapa dialog butuh tanda koma tambahan... ta-tapi... brunette...
.
Sa-saia suka cewek brunette. XD

Soalnya gk tahu cewe amerika teriaknya gimana!

waw

100

Gaya penceritaannya seperti gaya terjemahan, I like it.
.
Tapi terkesan aneh, kalau Heather ga ada kagetnya liat kucing berubah jadi orang. Yah, kecuali kalau ini terjadi di dimensi Hogwarts... dan apakah Freid berubah dengan pakaiannya juga?
.
Anyway, ini cerita yang bagus... ^^

iya yah, mungkin gara" pas nulis E4 itu word udah 2700, langsung kebawa perasaan ngebut deh!

Terima kasih, saya juga gak nyangka bisa bikin karakter seperti jonah,

Bijaksana, Veteran, Tapi slengean