Proyek Eksperimen LCDP : Penjahat Bodoh.

Penjahat bodoh.

 

Ada pasar malam di dekat kampungku. Sudah tentu aku tidak akan melewatkannya. Berbekal uang dua puluh ribu hasil membongkar celengan babi yang baru terisi setengahnya itu, aku melangkah pasti ke pasar malam. Celana jeans panjang  dan kaos oblong berwarna putih menjadi pakaian terbaikku.

 

Ajib bener itu pasar malam. Ada komedi putar, ada rumah hantu, ada pertunjukkan sulap, dan tentu saja ada beberapa stand lempar gelang serta menangkap ikan mas. Aku yang sangat ahli lempar gelang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ada tiga buah hadiah yang menjadi incaranku. Salah satunya adalah MP3 player yang keren itu.

 

“Sekali main berapa duit, Bang?” tanyaku pada abang bermuka ganteng dan tersenyum ramah.

“Lima ribu, Dek,” jawabnya sambil menyodorkan lima buah gelang berwarna warni kepadaku.

“Ini,” setelah menyodorkan uang lima ribu aku mulai memasang ancang-ancang yang pas. Gelang pertama berakhir di lantai. Aku sudah mulai kesal, kemana kemampuan lempar gelang yang selalu kubanggakan itu.

“Ah!” aku berteriak kesal. Gelang berwarna hijau itu menyangkut di botol bertuliskan angka lima.

“Selamat, kamu dapat …” Abang ganteng itu melihat deretan hadiahnya.

“Ini dia, sebuah bando telinga kucing yang sedang ngetren di kota,” ucapnya sambil memberikan bando menjijikan itu kepadaku.

 

Aku berbalik gontai saat menerima bando berbentuk kucing dengan warna putih. Belum sempat aku melangkah sepasang tangan memegang pundakku. “Tidak dicoba dulu?” pertanyaan aneh. Untuk apa aku mencoba bando putih itu. Aku mengeleng. Tapi Abang itu tampaknya sedikit memaksa.

“Coba saja dulu, kalau kekecilan bisa ditukar dengan warna yang lain.” Dia menunjukkan berbagai bando telinga kucing dengan aneka warna lain. Akhirnya aku kalah oleh senyumnya yang keren. Aku memasang bando telinga kucing itu dna tersenyum padanya. “Pas,”

“Manis, sudah kuduga kamu sangat cocok dengan bando berwarna putih itu. wajah oriental dan rambut bob itu sangat sempurna.” Kau tahu, perkataannya membuatku tersipu malu. Belum pernah ada yang memuji penampilanku. Aku berlari pulang dengan tersipu malu, lupa dengan bando yang masih bertahta di kepalaku.

==

Malam ini bulan sabit bersinar indah. Aku duduk di dahan pohon menatap bulan sabit tersebut. Sudah jadi kebiasaanku duduk di dahan pohon di tengah malam begini. Menikmati aroma pasir pantai dan hamparan ikan yang sedang dijemur. Oh, sepertinya aku lupa mengabarkan kalau kampungku ini penghasil ikan asin terbesar di dunia.

 

“Ke mana kucing kecil itu?” aku mendengar suara dari balik dinding rumahku. Sesosok pria sedang mengintip dari jendela kamarku.

Aku melompat turun dengan gesit. Tidak salah lagi, pria itu adalah abang di pasar malam. Mengapa dia datang ke rumahku? Ke kamarku lagi.

 

Apakah dia adalah pria penculik gadis muda untuk diperjual belikan di kota? Aku mengikuti langkahnya secara perlahan. Dia terlihat kecewa karena tidak menemukan aku di dalam kamar. Dia terlihat berjalan menuju lapangan besar tempat pasar malam yang telah tutup malam itu.

 

Abang lempar gelang menuju tendanya. Dia membuka pintu tenda dan aku dengan gesit menyelinap tanpa sepengetahuannya. Kulihat dia menghempaskan badan pada sebuah sofa yang berfungsi sebagai tempat tidurnya juga. “Batal aku menikmati tubuh dan makan malam yang lezat.” Mendengar perkataannya aku tercekat. Ternyata benar, dia adalah penculik wanita muda yang cantik belia seperti diriku ini untuk dinikmati dan dijual. Ah, diriku mulai narsis.

 

Abang itu berdiri mengambil sebuah benda yang akhirnya kukenali sebagai toples berisi kepala kucing. Apa? Kepala kucing!

 

“Gadis manis itu pasti akan sangat indah saat berubah menjadi kucing putih yang mulus dan lembut. Dagingnya lezat dan segar. Aku telah merasakan kenikmatannya diujung lidah ini sejak tadi. Brengsek! Kemana hilangnya dia bersembunyi. Dia pasti ketakutan dan bersembunyi dari orang tuanya. Seharusnya bando kucing itu dengan sekejap sudah bisa terlihat.” Aku hanya bisa melonggo mendengar ucapan penuh amarah Abang itu.

 

“Tidak pernah lebih dari satu menit. Setiap gadis kucingku selalu berubah menjadi kucing di depan mataku, kenapa yang ini tidak terasa reaksinya tadi?”

 

Aku menjilati tanganku yang berbulu putih sambil terus memasang telinga. Ternyata Abang ini lebih menyeramkan daripada penculik yang sering diberitakan di koran dan televisi.

 

==

 

Kukumpulkan keberanian dan segera melompat ke arahnya. “Nyaw!” teriakku kesal.

“Ah, ini dia kucing manisku,” Abang itu tersenyum cerah seakan dia baru memenangkan lotre.

Dengan cakarku aku menyerang bagian matanya. “Tidak semudah itu kucing manis,” ucapnya.

 

Ternyata kekuatannya cukup kuat. Aku yang lincah saja kewalahan menghadapinya. Tubuhku terhempas oleh hantaman botol kaca. Aku berteriak lirih, “Nyaw, Miaw, miaw.” Apa perlu kuterjemahkan? Ah, sebenarnya aku tidak perlu mengunakan bahasa kucing, bahasa indonesiaku masih cukup lancar kok. “Emak! Bapak! Tolong!” teriakku sekuat tenaga.

 

Abang itu terkejut dengan suara yang keluar dari mulut mungil nan imutku ini. “Kau! Kau berbahasa manusia?” tanya sambil mengelap darah yang keluar di pipinya akibat cakaran-cakaranku.

“Tentu saja!” teriakku kesal.

“Emak! Bapak! Kalian di mana sih? Bantuin Min Min dong!” aku hampir menangis saat tiba-tiba saja tenda berwarna kuning lusuh itu tercabik-cabik oleh cakaran puluhan ekor kucing.

 

“Anak bodoh! Kamu mencari masalah lagi kah?” teriak kucing putih yang berjalan paling depan.

“Astaga! Kenapa begitu banyak kucing di sini?” teriak Abang itu histeris dengan gaya lebay.

“Dasar penjahat bodoh!” aku mendekati seekor kucing putih dengan tampang galak, perkenalkan dia Emakku. Dan Kucing belang tiga yang sedikit botak itu adalah Bapakku.

 

“Tidakkah kau baca di depan gerbang kampung?” tanyaku penuh kepercayaan diri setelah semua warga kampung telah berkumpul di dalam tenda.

 

“Ini adalah kampung tiga kucing. Jadi bando kucing bodohmu itu tidak akan berpengaruh pada kami,” ucapku sambil tertawa.

Seekor kucing bertubuh besar yang akan kuperkenalkan sebagai bagian keamanan kampung mendekati Abang lempar gelang dan dengan mudah merobohkannya dalam satu kali pukul. “Kita apakah pria bodoh ini?” tanyanya pada kepala kampung yang mengenakan kacamata tebal.

 

“Kita tidak bisa membiarkan dia keluar dengan selamat setelah mengetahui rahasia kampung ini. apalagi dia adalah pria jahat yang mengubah gadis-gadis menjadi kucing lalu memakannya,” ucapku.

“Beri dia ramuan monyet. Setelah itu jual dia kepada kepala pasar malam,” Kepala kampung memerintahkan kepada dukun hitam yang memiliki tanda bintang di dahinya untuk mengurus penjahat bodoh itu.

Dalam sekejap aku melihat penjahat bodoh itu berubah menjadi monyet yang jelek. Dia dirantai dan di tempatkan di dalam kerangkeng besi yang sering digunakannya untuk menyekap kucing-kucing imut tak berdosa.

 

“Astaga, fajar segera tiba!” teriak Emak.

“Secepatnya kembali ke rumah! Kita tentu tidak mau terlihat manusia saat berubah wujud lagi,” ucap Bapak.

“Dan tanpa pakaian tentunya,” ucapku sambil menyengir lebar.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
20

Maaf cuma bisa ngasih segitu... Saia sepanjang membaca (yg ternyata mesti berulang kali biar bisa lebih paham apa maksudnya) tetep aja ngga bisa ngerti alurnya...

Penggambaran kejadiannya kurang merasuk di pikiran saia.. semua terasa tiba-tiba... terasa aneh, loh kok mendadak begini.. loh kok tiba-tiba begitu? ini sebenernya lagi di mana sih? Terus bapak dan ibu itu terasa bener2 garing... Cukup membuat saia mengernyit dan mengucapkan "Cerita apaan sih ini?"

Ah yah ada beberapa catatan :

1) "Pas," --> "Pas!"

2) Kau tahu, perkataannya membuatku tersipu malu. Belum pernah ada yang memuji penampilanku. Aku berlari pulang dengan tersipu malu, lupa dengan bando yang masih bertahta di kepalaku.
(pengulangan kata yg sama dgn jarak yg terlalu dekat)

3) Aku duduk di dahan pohon menatap bulan sabit tersebut. Sudah jadi kebiasaanku duduk di dahan pohon di tengah malam begini. (boros kata)

4) diperjual belikan --> diperjualbelikan

5) Abang lempar gelang --> Abang-Lempar-Gelang

6) Dengan cakarku aku menyerang bagian matanya. --> Dengan cakarku, aku menyerang bagian matanya. Atau --> Aku menyerang bagian matanya dengan cakarku.

7) Ternyata kekuatannya cukup kuat. --> ini aneh... bisa diganti kata2 lain... misal : dia cukup kuat, atau kalimat lainnya...

Kalo bikinnya ngga terburu2 saia yakin bisa lebih bagus, berhubung sebenernya saia suka konsep awalnya...

100

Tante emang hebat! Kucingnya berasa banget, dan yang pasti aku suka twistnya. Hehehe XD XD

Writer Gem
Gem at Proyek Eksperimen LCDP : Penjahat Bodoh. (10 years 4 weeks ago)
100

Nyahahahhahaaa.... XDDD
Mba Cat Narsiiiisss XDDD

100

teringat sama cerita maling yang mencoba maling di rumah maling =w=
Kucingkucingkucingkucing
*apaansih*
kak cat kak cat, mampir ke cerpen kucingku dong.

100

seru ^__^

Writer cat
cat at Proyek Eksperimen LCDP : Penjahat Bodoh. (10 years 5 weeks ago)

Ini akibatnya kalo ngepost n bikin cerita terburu2.

Banyak typo.

Maafkan saya. Malam ini akan saya edit lagi.

Btw ujug ujug tuh apaan yak??

ujug ujug means tiba-tiba mbak.. xexexee

90

good, seru, menarik

90

awwww mbak catz bikin fantasyyy... hibaaattt.. ^__^

90

ha3...
pantes kok ujug2 gitu.... ditambah lagi nggak ada adegan berubah jadi kucing dan si 'aku' fine2 aja jadi meong
eh lha ternyata memang werecat ya :D
hidup mak cat!

30

O____O

Okeeh....konsepnya memang menarik...tapi menurut saia masih belum tersampaikan dengan baik. Twist-nya bagus, tapi kurang gereget ~___~

First part oke2 saja, saia menikmatinya. Tapi pas second part saia mulai bingung....pas third part...masih bingung >__<

Saia bingung dengan kucing2nya waktu adegan battle dgn si abang tukang lempar gelang. Err....maksudnya dgn ukuran kucing2nya...apa kucingnya humanoid? (furry gitu :-p) atau cuma ukurannya yg jauh lebih gede dari kucing normal?

Anyway...nice concept, i love it (^___^) b

70

Idenya menarik sebenarnya. sayang adegannya terasa melompat dan pas tukang lempar gelang ngomong sendiri mengakui kesalahannya, rasanya aneh. Dan satu lagi endingnya terasa ujug-ujug.

100

WOW
.
Plot twist-nya seru. Oke, saia gak akan mempermasalahkan keujug-ujugan twist ini. Tapi tetep aja seru!
.
Favorite quote:
Ah, diriku mulai narsis.
.
Sekali lagi, selamat! Emak sudah berusaha untuk keluar dari WB. Sa-saia aja masih webe sampe sekarang... ihiks.