Ksatria Pelangi #1: Menuju Negeri Pelangi

Deru Bus Langit di ujung jalan sana.

Lajukan perlahan hingga pemberhentian akhir: Halte Pelangi.

Mengajak 'tuk lintasi hujan gerimis yang terpecah-pecah kecil.

TIK TIK TIK.

Arungi hujan lebat bagai tumpah dari awan.

 BYUR BYUR BYUR.

Terdengar alunan musik para katak.

KROK KROK KROK.

Sedang cacing tanah menggeliat malas.

SYU SYU SYU.

Dan aspal jalan yang tergilas roda-roda.

RUU RUU RUU.

 

Hingga Bus Langit lembut terangkat dari jejakan.

Sinar mentari silaukan mata.

Halangi dengan jemarimu.

Mengintip dari sela-selanya: Jembatan fatamorgana tujuh warna....

Seberangi ujung Bumi, ujung Langit, ujung Angkasa.

 

Bus Langit pun melambat.

CIT CIT CIT.

Dan berhenti

Saatnya kita turun!

***

Bisikan-bisikan disertai gurat-gurat kegelisahan penuh rasa ingin tahu melingkupi kedua bersaudara keluarga Skye, Hal dan Gizele.

Karena mereka telah melakukan ‘kebaikan’ dan menabungnya selama berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun―mereka sendiri tak tahu pastinya. Dan tabungan ‘kebaikan’ mereka nampaknya telah cukup untuk ditukarkan dengan sebuah tiket perjalanan Bus Langit, masing-masing satu untuk mereka.

Orangtua? Tidak ada seorang orangtua pun yang memiliki secuil pengetahuan mengenai Bus Langit maupun Negeri Pelangi. Hanya anak-anak.

Rahasia anak-anak.

Maka di tangan Skye bersaudara kini telah tergenggam tiket warna-warni. Tujuh warna tepatnya, melengkung membentuk jembatan cantik: Pelangi. Berhiaskan bintang-bintang emas dan bulan perak serta mentari kuning-jingga.

Pada malam sejuk berangin itu, dengung klakson terdengar dari luar jendela kamar Hal dan Gizele yang dibiarkan terbuka. Bunyinya rendah, seperti lenguhan sapi di peternakan.

Hal-lah yang pertama kali terbangun. Perlahan ia menyibak tirai dan mengintip melalui celahnya.

Ekspresi senang bercampur tak percaya mewarnai wajah tirusnya seketika. Ia mengguncang-guncang cepat tubuh mungil adiknya, membangunkannya.

“Gizzy, bangun! Bus Langit menjemput kita!” bisiknya penuh semangat.

Sejenak Gizele hanya bergumam kecil lalu berguling kembali tertidur.

Hal tampak kesal, mengguncang-guncang adiknya lebih kuat. Sementara di luar, Bus Langit sekali lagi membunyikan klaksonnya, sepertinya tak sabar menanti. 

“Sebentar lagi, Hal...” keluh Gizele ketika akhirnya berhasil membuka matanya.

Namun anak laki-laki berusia duabelas itu tidak menggubrisnya. Ia melemparkan sweter merah muda favorit sang adik, menyuruhnya memakainya segera sementara ia sendiri tengah mengancingkan jaket abu-abunya dengan tergesa. Tak lupa, topi merah sedikit usang dan kotor yang selalu menemaninya jika keluar rumah.

“Kalau kau tidak cepat, bakal kutinggal!” ancam Hal seraya melangkahkan kakinya di ujung jendela kamar. Angin sejuk musim semi menerpa rambut cokelatnya yang lurus beserta tirai di balik punggungnya. Ekspresi wajahnya dipenuhi semangat, tidak ada keraguan sedikit pun di matanya saat ia melompat jauh dari jendela menuju udara malam.

Mendengar ancaman tersebut serta melihat sang kakak telah keluar, Gizele pun panik. “Ikut, Hal!” dan dengan sweter baru menyelubungi sebelah tangannya, anak perempuan berusia delapan tahun itu pun melangkah keluar dengan takut-takut.

“Cepatlah!” ajak Hal lagi seraya membantu adik perempuannya turun dari jendela.

Mendadak, seolah teringat sesuatu, Gizele kembali ke dalam kamar.

“Apa lagi, sih?” kesal Hal.

Gizele mengacungkan sebuah buku catatan kecil. “Aku perlu ini, Hal! Aku akan mencatat perjalanan ini dan menulis buku tentang Bus Langit!” ujarnya penuh semangat dengan mata berbinar-binar.

Kedua bersaudara Skye teramat berbeda. Hal, sang kakak laki-laki berambut cokelat gelap dengan bola mata biru kelam menaungi wajah tirusnya. Sedangkan Gizele, sang adik perempuan, berambut pirang berkilau dengan bola mata biru cerah menaungi wajah bulatnya. Terkadang ada orang tidak percaya bahwa mereka berdua adalah kakak-adik jika melihat penampilan luar keduanya yang amat berbeda.

Tidak hanya penampilan luar, karakter mereka pun amatlah berbeda. Hal begitu pemberani bagai ksatria. Sedangkan Gizele begitu penuh rasa ingin tahu bagai peneliti. Keduanya saling melengkapi karakter saudaranya.

Dan di sana, di hadapan mereka, mengeluarkan suara mesin menderu pelan: Bus Langit.

Bus itu tampak selaiknya bus biasa. Hanya saja bagian luarnya berhiaskan sebuah lukisan langit yang selalu berubah sesuai dengan keadaan langit. Jadi, di saat pagi hari badan bus itu akan berlukis langit biru cerah; di saat senja akan berwarna jingga-kemerahan yang amat cantik; di kala malam akan penuh dengan bintang ditemani sebentuk bulan.

Di tiap ujung bus itu terdapat pintu, satu di bagian depan untuk masuk dan yang lainnya untuk keluar. Di bagian pintu masuk, sebuah bintang seukuran tubuh orang dewasa melambai-lambai ke arah Skye bersaudara. Anak-anak sudah mengenal sang bintang dengan baik: Paman Orion, kondektur Bus Langit.

“Ayo anak-anak, b’gegaslah! Tidak ingin ‘ku dilihat orangtua k’lian! ‘Ku tak ingin dianggap p’nculik!” panik Paman Orion. Yang menarik dari penampilan Paman Orion tentu kumisnya yang membentuk gelombang. Tak pernah ada anak yang tidak tertawa ketika pertama kali melihatnya.

Tak terkecuali Skye bersaudara yang langsung terbahak melihat kumis unik Paman Orion walau sambil terengah kehabisan napas.  

“B’rangkat, Kawan!” ujar Paman Orion kemudian kepada sang supir, Bibi Spica, ketika Hal dan Gizele telah melompat ke dalam bus.

Sama seperti Paman Orion, Bibi Spica berwujud bintang. Sudah seperti pengetahuan umum di antara anak-anak penumpang Bus Langit bahwa Paman Orion dan Bibi Spica adalah bersaudara―walau tidak ada yang tahu pasti siapa kakak dan siapa adik.

“Janganlah lupa ‘tuk masukkan tiket k’lian ke mesin itu,” ingat Bibi Spica sambil menunjuk kotak di samping pintu masuk.

“Iya!” girang Hal. Baru kali ini dia menaiki Bus Langit! Betapa bersemangatnya ia ingin bermain di Negeri Pelangi! Kantuk pun lenyap seketika dari kedua anak itu. Tidak mungkin ada anak yang tertidur selama perjalanan Bus Langit!

Hal merogoh saku jaketnya lantas mengeluarkan dua lembar tiket bertuliskan “BUS LANGIT: Jendela Kamar Skye – Halte Pelangi”.

“Punyaku dan punya Gizzy,” ujarnya pada Paman Orion. Anak laki-laki itu memasukkan kedua tiket ke lubang kecil di bagian atas kotak tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika muncul gigi-gigi tajam yang langsung menghancurkan kedua lembar tiket Bus Langit. “Wuah! Padahal susah payah kudapatkan dua tiket itu...” keluh Hal, tampak menyesal telah membiarkan tiket-tiketnya hancur.

Setelah membantu Gizele memakai sweternya, Hal menggandeng sang adik dan memilih tempat duduk di bagian depan bus. Malam itu Bus Langit cukup penuh hingga tak banyak kursi tersisa. Dan karena Hal dan Gizele adalah rumah terakhir yang dijemput malam itu, maka Bus Langit langsung melaju ke Negeri Pelangi.

“Woooaaah!!!” kagum Hal begitu melihat atap-atap rumah yang mengecil dan lampu-lampu kota tampak bagai kunang-kunang.

Ketika di hadapan Bus Langit muncul awan besar, Paman Orion mendadak berseru, “Buka jend’la k’lian amat lebar, Anak-anak! Dan pasang s’dotan di mulut k’lian―yah... tidak lakuk’n pun tak akan apa-apa...”

Hal dan Gizele saling memandang dengan bingung. Mereka tidak paham mengapa harus membuka jendela, namun karena penasaran akhirnya mereka mengikuti komando tersebut. Keduanya lantas menggenggam sedotan besar berwarna-warni yang dibagikan Paman Orion. Beberapa anak lain juga menunjukkan ekspresi bingung seperti mereka, namun sebagian lainnya malah bersemangat― tampak menanti apa yang akan terjadi.

Byuuuuur!

Bus Langit pun meluncur membelah awan, segera cairan berwarna-warni menerjang masuk melalui jendela-jendela yang terbuka. Anak-anak dalam bus menjerit kesenangan, begitu pula Hal dan Gizele. Mereka berdua berenang-renang di tengah cairan warna-warni itu. Anehnya, mereka tetap bisa bernapas di dalam air, bahkan berteriak-teriak dan berbicara seperti biasa.

Lalu sedotan digunakan untuk apa?

Gizele melihat anak-anak lain meneguk cairan yang kini memenuhi bus itu dengan sedotan masing-masing. Tersenyum girang, anak perempuan itu pun menggigit sedotan merahnya dan mengisapnya keras-keras.

Begitu sedap! Ia meminum cairan yang berwarna kuning, slurp... terasa seperti perasan jeruk manis! Anak itu langsung mengacungkan ibu jarinya pada sang kakak, tanda agar sang kakak mengikuti caranya.

“JERUK!” pekiknya riang.

Hal mengangguk penuh semangat sebagai jawabannya. Dan mulai menyedot cairan berwarna hijau terang dimana dirinya kini melayang-layang di tengahnya. Rasa melon? Rasa anggur? Rasa apa? Tak diduganya ternyata rasa yang sedikit masam.

“MANGGA!” balasnya kemudian, “mungkin...” sedikit ragu dengan tebakannya.

Belum sempat mencoba semua rasa Jus Awan (ya, anak-anak menamainya Jus Awan), Bus Langit telah melaju keluar dari awan tersebut. Paman Orion segera berseru agar jendela kembali ditutup, “Tak ingin k’lian masuk angin!” dalihnya.

Ajaibnya, jus awan tujuh warna itu pun, seperti tersedot, memancar keluar dari Bus Langit hingga bagian dalamnya kembali kering. Begitu pula anak-anak yang menumpang Bus Langit, tubuh dan pakaian mereka kering seketika.

Kericuhan jus awan membawa dengung antusias anak-anak yang saling bercerita soal rasa jus yang sempat mereka kecap barusan.

Akan ada keajaiban apalagi yang menanti mereka selama perjalanan?

Celoteh riang terus mewarnai Bus Pelangi, begitu cerianya bahkan bagian muka bus menampakkan wajah tersenyum lebar, mirip Chesire di dongeng Alice di Negeri Ajaib. Bibi Spica pun memain-mainkan klakson hingga terdengar seperti iring-iringan musik.

Anak-anak mulai bernyanyi, juga Paman Orion. Entah lagu apa, mereka sendiri tidak tahu. Tidak ada kata-kata yang berarti dalam nyanyian itu, hanya sekadar gumaman “hm hm hmmm” dengan tempo dan nada yang berbeda-beda. Juga terdengar “nanana”, “lalala”, “dudidudi”.

Riuh sekali.

Mereka juga menari, berkejar-kejaran, bermain bola (bagian dalam Bus Langit amat luas), berteriak dan menjerit kesenangan. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang memarahi. Mereka bebas melakukan apapun.

Begitu menyenangkan hingga rasanya seperti perjalanan tidak akan berakhir sampai kapanpun.

“K’ncangkan sabuk pengaman, Anak-anak!” komando Paman Orion lagi.

Segera Hal dan Gizele serta anak-anak lainnya kembali ke tempat duduk masing-masing. Penasaran, tidak sabar untuk tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Apakah air lagi seperti Jus Awan tadi? Ataukah gelembung? Ataukah mereka akan terbang bersama angin? Ataukah akan bertemu hewan langit?

Apa? Apa? Apalagi yang akan mereka alami?

Namun anak-anak itu, termasuk Hal dan Gizele, belum menyadari bahwa komando Paman Orion tadi diucapkan dengan tergesa―bahkan mungkin panik―tanpa disertai kelakarnya yang biasa.

Karena yang menunggu Bus Langit di depan bukanlah keceriaan. Maupun kejutan yang menyenangkan.

Karena yang dilihat Bibi Spica, yang menghadang di depan bus, adalah bencana:

Segerombolan Lubang Hitam yang mendesis-desis mengancam.

“Jangan biark’n anak-anak tahu, Orion!” bisik Bibi Spica dari balik kemudi. Yang dibalas anggukan penuh pengertian dari Paman Orion.

Tak ada anak lain yang tahu. Hanya Hal dan Gizele yang kebetulan duduk di bagian depan Bus Langitlah yang melihat segalanya. Wajah Skye bersaudara diliputi kengerian. Apa yang terjadi? mereka bertanya-tanya, namun tidak berani berucap sepatah kata pun.

“’Ku akan berusaha t’robos mereka,” terdengar Bibi Spica gugup.

“Apa kau yakin?” bisik Paman Orion lagi. Kumisnya yang biasa bergelombang bergerak-gerak gelisah hingga hampir membentuk garis lurus.

“Tiada jalan lain, bukan!” sergah Bibi Spica yang langsung menancap gas sekuat-kuatnya.

Anak-anak berteriak kegirangan, merasa sedang menaiki jet coaster. Sementara Hal dan Gizele tampak semakin pucat. Keduanya menggenggam erat sabuk pengaman, takut seandainya Bibi Spica tidak berhasil menerobos sepasukan Lubang Hitam itu.

“Hal, apa yang akan terjadi kalau Bibi Spica gagal menerobos mereka?” tanya Gizele. Anak perempuan itu berusaha berbicara amat pelan agar tidak terdengar Paman Orion dan Bibi Spica.

Sang kakak hanya menggeleng. “Kau tahu kan kalau aku sama sekali belum pernah ke Negeri Pelangi? Aku nggak tahu apa-apa, Gizzy,” sesalnya. Matanya tidak lepas dari gambaran-gambaran buram para Lubang Hitam di depan.

Walau tersamarkan oleh teriakan dan jerit senang anak-anak lain, Hal yakin ia mendengar pasukan Lubang Hitam itu bersuara. Mengerikan, berderik-derik dan mendesis-desis seakan siap untuk menelan benda sebesar apapun. Ia menahan napas takut.

Melihat pemandangan yang sama dengan kakaknya, kontan Gizele tidak mampu menahan ketakutannya. “Hal!” ngeri Gizele sambil perlahan melepas sebelah tangannya dari sabuk pengaman dan berpindah ke tangan kakaknya di samping.

“Tidak apa-apa, Gizzy! Ada aku, tenanglah!” balasnya, berusaha penuh keyakinan walau tak dipungkiri wajahnya berkeringat dingin.

Sesaat, Bus Langit yang dikemudikan Bibi Spica tampak akan berhasil keluar dari kepungan.

Sebelum salah satu Lubang Hitam tersebut mendadak meloncat ke depan hingga Bus Langit tak mampu lagi menghindar.

“Segera k’luarkan anak-anak!” Paman Orion memekik. Anak-anak barulah menyadari adanya ketidakberesan. Belum sempat mereka bertanya apapun, terdengar bunyi krak dan wuuush berkali-kali: setiap kursi penumpang terlontar.

Menyusul suara Bibi Spica, mendesak, “Cari para Ksatria Pelangi, b’ritahu t’ntang kejadian ini dan s’gera s’lamatkan kami b’dua!”

Jerit kegembiraan anak-anak, keceriaan mereka, dalam sekejap lenyap. Berganti teriakan ngeri yang membahana. Setiap kursi penumpang di Bus Pelangi terlempar jauh. Meninggalkan Paman Orion dan Bibi Spica ditelan Lubang Hitam.

***

Para penumpang Bus Langit tampak tidak terluka sama sekali. Masing-masing kursi mendarat dengan mulus, mereka melindungi tiap anak dari benturan maupun gesekan.

Hal bangkit. “Gizzy??!” paniknya karena menyadari Gizele tidak di sampingnya. Namun napasnya kembali lega ketika menemukan saudara perempuannya terduduk beberapa meter darinya.

Ia segera hampiri Gizele, “Kau tak apa-apa?” ujarnya sambil mengulurkan tangan, membantu sang adik untuk bangkit.

Gizele mengangguk. Seluruh tubuhnya gemetar. “Hal, kita dimana?” adalah hal pertama yang diucapkannya.

Hal hanya menggeleng sebagai jawaban. Lantas ia menunjuk ke arah sebuah gerbang warna-warni  yang bentuknya seperti dua permen lolipop yang saling menempel. “Yang lain berjalan masuk ke sana. Kupikir sebaiknya kita ikuti.”

Bintang-bintang dan rembulan tampak teramat besar dan dekat. Rasanya jika mengulurkan tangan, maka ujung jari mereka akan menyentuh salah satunya. Tepat setelah melewati gerbang itu, menjulang sebuah kastil dengan menara-menara kerucut persis seperti yang sering muncul di buku dongeng―dan lagi-lagi berwarna-warni seperti pelangi. Sementara jauh di belakang lagi, tampak beberapa garis berbeda warna, berturut-turut: merah-jingga-kuning-hijau-biru-kelabu-ungu. Hal hanya bisa menerka-nerka apa maksud warna-warna itu.

“Aku ingin mencatat semuanya, Hal. Tunggu sebentar ya,” balas Gizele, dengan tergesa menggoreskan kata-kata di bukunya. Sesekali ia mengecek jam tangannya lalu kembali menulis. Sementara Hal beranjak dari sisinya untuk bercakap-cakap dengan anak lain.

Tidak sampai lima menit Gizele telah memasukkan kembali buku kecilnya ke dalam saku sweter dan Hal telah kembali padanya.

“Berangkat?” tanya Hal lagi. Tatapannya serius, menandakan bahwa keputusan yang akan diambil adalah penentu segalanya.

Gizele menjawabnya dengan anggukan. Meskipun demikian, tampak jelas di wajah anak perempuan itu bahwa ia tidak yakin dengan pilihannya sendiri. Entah apa yang akan menanti mereka jika mereka berjalan masuk melalui gerbang itu.

“Tidak apa, Giz! Kata mereka, itu gerbang masuk Negeri Pelangi. Namanya Gerbang Permen,” tambah Hal disertai cengiran. “Ingat apa kata Paman Orion dan Bibi Spica? Kita harus mencari para Ksatria Pelangi―walau aku sendiri tidak tahu mereka siapa, sih.”

Gizele meraih sebelah tangan Hal, menggenggamnya erat dan mulai berjalan berdampingan sang kakak. Mereka mengekor anak-anak lain―yang tampaknya sudah pernah ke Negeri Pelangi―melalui Gerbang Permen.

Ternyata yang mereka semua tuju adalah kastil berwarna pelangi yang dilihat Hal sebelumnya. “Itu Kastil Pelangi,” bisik Hal pada Gizele yang segera mencatatnya di buku. “Kita akan menemui Raja dan Ratu Pelangi di sana dan menceritakan apa yang terjadi dengan Bus Langit.”

“Aku penasaran seperti apa Raja dan Ratu Pelangi, Hal,” kini suara Gizele terdengar lebih ceria. Mungkin ketakutannya sudah berkurang, berganti dengan rasa ingin tahunya yang besar.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke kastil itu. Anak-anak penumpang Bus Langit segera diizinkan masuk.

Sesosok dewasa dengan wajah berbentuk bulan sabit muncul dalam balutan jubah kebesaran bermotif pelangi dan mahkota zamrud: Raja Pelangi. Ia didampingi Ratu Pelangi bergaun lebar bermotif pelangi dan wajahnya tampak berbentuk matahari, mahkota berliannya menggantung di kepala.

“Ehem!” sang Raja berdeham, “ternyata ada kejadian seperti itu. Tanpa adanya Bus Langit, kalian tidak akan bisa kembali ke rumah masing-masing.”

“Maaalang sekali nasib kaliiiiaaan~!” iba sang Ratu dengan suara tinggi mendayu, seolah sedang bernyanyi opera. “Tapiiii~ tenanglah, di istaaaana ini kaaaalian biiiisaaaa bersenaaaang-senang dan tertawaaaa selaluuuu bersaaaama kaaamiiii~”

“Yang biasanya mengurus kekacauan semacam ini adalah para Ksatria Pelangi,” sahut sang Raja.

Seorang anak laki-laki berambut ikal bertanya sopan, “Bagaimana jika Anda segera mengirim mereka untuk menyelamatkan Bibi Spica dan Paman Orion?”

Entah apa yang lucu, namun Raja hanya terbahak sementara Ratu hanya cekikikan bernada tinggi.

“Bukaaaaaan urusan kamiiii memanggil para Ksaaaatria~” jelas Ratu.

“Bahkan kami tidak tahu siapa saja Ksatria Pelangi itu!” tambah Raja, masih terbahak.

Mendengar penjelasan tak bertanggung jawab itu, seisi aula bising: cemas, jengkel, tak percaya, takut, marah.

Hal pun naik pitam. “Apa maksud Raja dan Ratu? Berarti kami dibiarkan begini saja, tidak bisa pulang? Paman Orion dan Bibi Spica dibiarkan tetap di dalam Lubang Hitam?”

Gizele segera menarik ujung jaket kakaknya, menandakan sebaiknya tidak bertindak sembarangan.

Sementara Raja dan Ratu―yang masih tertawa tak peduli―berujar, “Bocah Bertopi Merah, tugas kami hanyalah tetap tersenyum dan tertawa agar anak-anak yang datang turut berbahagia di Negeri Pelangi~”

Hal mengepalkan jemarinya, menahan emosi yang meluap. “Aku pergi dari sini! Aku akan mencari para Ksatria Pelangi!” sergahnya seraya bangkit, berdiri tegap di tengah gerombolan anak lainnya.

“Silakan!” Raja memberi izin seraya melambaikan tangan dengan tersenyum. Sang Ratu mengikuti suaminya, “Sampaaaai~ jumpaaaaa~”

“Ada yang ingin ikut denganku?” tanya Hal, dirinya menghadap ke kerumunan anak-anak penumpang Bus Langit yang masih sibuk berbisik-bisik. Anak laki-laki itu menunggu beberapa saat, namun hanya keheningan yang didapatnya. “Baiklah, aku pergi sendiri!” putusnya dengan nada tinggi.

“Sampaikan salam kami pada para Ksatria ya!!!” seru Raja lagi.

Tanpa pikir panjang, Hal segera keluar dari Istana Pelangi dengan langkah-langkah kasar yang mencerminkan kekesalannya. Gizele membuntutinya dari belakang.

“Apa-apaan Raja dan Ratu itu! Apa-apaan anak-anak yang lain!” cerca Hal. “Mereka benar-benar seenaknya, padahal Paman Orion dan Bibi Spica tengah menunggu pertolongan!” semakin lama langkahnya semakin lebar dan cepat, meninggalkan Gizele jauh di belakang.

“Hal, tunggu! Haaaal!!!” panggil Gizele. Gadis kecil itu berlari-lari kecil bersaha mengejar kakaknya. Oleh karena terlalu fokus mengejar Hal, ia tidak memerhatikan langkah. Naas, ia terantuk dan jatuh ke sebuah lubang. Hanya jerit keras―nama sang kakak―yang semakin lama semakin terdengar jauh.

Mendengar jeritan samar Gizele, Hal seolah tersadar dari amarah. Ia terkejut mendapati Gizele tidak di sampingnya. Tidak dimanapun dalam jarak pandangnya.

Dan ia baru menyadari bahwa suasana tempatnya kini berada amatlah berbeda dengan Istana Pelangi. Tiada aneka warna, permen, awan-awan ceria serta bulan dan bintang. Hanya dominasi warna merah, penuh bebatuan hitam-kelabu, dan yang pasti: udara panas.

“Giz!! Giz!!! GIZZY!!!” anak laki-laki itu berputar, memanggil-manggil sekuat tenaga. “GIZZY!!! GIZELE!!!” kepanikan menyelimutinya.

Gizele lenyap.

“... Giz, dimana kau?” kini ia mulai berlari, udara yang amat panas memaksanya melepas jaket.

Tak jauh darinya, tampak sebuah papan besi kelabu, kusam. Walau terbata-bata, Hal berhasil membacanya:

HATI-HATI! UAP PANAS MEMANCAR SETIAP WAKTU!

HATI-HATI! BEBATUAN KERAS DAN JALAN TERJAL!

HATI-HATI! BADAI ANGIN PANAS BEREMBUS!

HATI-HATI! LUBANG MENUJU WILAYAH “MAGMA” DIMANA-MANA!

Sambil menyipitkan mata, Hal melihat buku catatan adiknya tergeletak di antara tumpukan kerikil. Tanpa pikir panjang, ia segera mendekati tumpukan kerikil yang ternyata di tengahnya terdapat sebuah lubang. Menuju bawah tanah.

Di sampingnya terdapat tanda panah yang mengarah ke lubang dan bertuliskan: “MAGMA”.

Terasa udara panas menyengat dari bawah sana. Kepulan uap terus menguar darinya. Namun Hal yakin adiknya ada di bawah sana.

Maka sambil menutupi wajahnya dengan jaket demi menahan panas, Hal pun meluncur. Terjun ke lubang yang mengarah entah kemana.

****

Read previous post:  
Read next post:  

dongeng yg kerennnn

100

Ceritax bagus...! X)

Makasi, Hikaru...
Nanti saya bakal mampir di karya-karyamu :)

100

Ini cerbung yang membuat saya kembali semangat menulis! Saya HARUS memberi nilai penuh untuk diri saya sendiri!!!

good......bagooooooooos

Makasi~ :)

70

akhirnya bisa baca juga..^^
keren, saya berasa nonton video klipnya katy perry yang califonia girl,^^

100

asiik...
akhirnya bunda nulis cerita anak juga, fantasi lagi :D
kika ga punya cabe >.<
penasaran sama lanjutannya.. ayo bunda,, kika tunggu lanjutannya!! :D

Saya nulis ini demi Kika Sayang~~ :3
Makasi ya! Semoga kelanjutanna bisa segera ditulis!

haduw,page bikin gak nafsu...
padahal ingin baca,saya tunggu postingan ulang tanpa page ya

100

<3

<3<3<3
Makasi Nona~ *A*

100

Keren....

Makasi, Mira~ :D

90

LANJUT!!! Saya enggak tahu mesti komentar apa, meski saya jujur saja sedikit terganggu dengan said-bookism yang ada, tapi enggak masalah kok Kak Gie ^^

Ah iya juga.
Tanpa sadar jadi ber-said bookism. Tapi kyna menuju ahir dah lumayan berkurang.
.
Makasi, Dan~

90

Khas Gie banget :3
keren ^^
*di belakang nggerundel: mana ending Wonderlandnyaaaaaaa*

Wonderland?
Mungkin maksud Kaka Neverland?
Ugh, masi belum da ide bwt itu.
.
Makasi dah baca, Kak Kure~ *w*

aaa... iya itu
(jadi malu)
gara2 disebutin chesire cat :P
eh, gimana kalo di-mix, mereka ketemu ama Peter n Cheryl
wkwkwkw

Boleh tuh idena. Dunia kisah Ksatria Pelangi & Neverland sama" fleksibel, abstrak, imajinatif. Jadi sepertina bisa digabung dan jadi fanfic.
Tapi untuk sementara saya biarin mereka jalan sendiri" dulu~

80

argh, kenapa pakek dibagi beberapa page sih!?! saya gak suka feature itu.

Saya baru nyoba feature ni, Mith. Ternyata mang ga enak :(
Tar deh saya ubah klo OL di lepi.
.
Oya, makasi dah ngomen soal page~ ;D

90

om rea aja sepechless, apalagi saya!
kata2nya manis banget, aku suka!

Dan saya telah berhasil bikin cerita yang manis~!
Makasi Om Alcyon!

100

Wow... Dongeng anak, tapi entah mengapa saya merasa sikap raja dan ratu pelangi sangat menakutkan...
*merinding*

Ah iya, Raja dan Ratu itu mang nyeremin. Di balik sikap ceria(?)na, mereka menyembunyikan entah apa.
Seandaina ini bukan cerita anak, k2 tokoh itu bisa dieksplor lebi jauh~ (dibikin sadis, misalna xP)
.
Makasi Kak Zoel~ :3

100

Speechless.
.
Ini memberi saia perasaan Studio Ghibli. Hehe... itu busnya mirip catbus di Totoro. Ceritanya bagus. Sederhana. Awal-awalnya saia pikir bakal seperti Polar Express... tapi sekejap langsung jadi kisah original. Keren deh.
.
Penulisannya juga bagus. Gie gitu loh. Udah ah gak usah banyak-banyak ngomen, kan saia lagi speechless.
:D

Yeyeiiih~ \u/
makasi Om Rea! *bahagia*