[Tantangan Horor] Ponsel

 

            Betapa bodohnya aku harus mengikuti kemauan Lana membelikannya sebotol jus di supermarket. Bukankah dia bisa melakukan sendiri? Pasti ia hanya berpura-pura demam. Aku tahu itu, tentu saja. Aku tak pernah sehat kalau dia sedang sakit.

            Pasti gadis licik itu sedang menikmati tontonan drama di rumah dengan penghangat ruangan yang sangat nyaman. Oh…sekarang aku kedinginan.

            “Sial! Teriakku kesal.

            Aku berhenti sebentar untuk merapatkan mantelku. Udara semaki dingin malam ini, terutama jika berjalan sendirian di pinggir kota yang dikelilingi hutan pinus bersalju. Aku melihat sekelilingku, aku merasa ada yang aneh. Lalu sesosok gadis bermantel putih terlihat di ujung jalan, ia mentapku tajam, wajah tak terlalu jelas, tapi rambut pirang emasnya tampak mencolok, seakan-akan berpendar dalam gelap.

            Siapa dia? Aku tak pernah mengenal gadis ini. Apakah warga baru? Sepertinya tidak. Aku mendekatinya, namun tiba-tiba terdengar suara ponsel yang memainkan lagu ‘Lazy song’. Apakah ponselku? Aku segera meraihnya, namun saat menyentuhnya aku sadar, aku tak pernah menyukai lagu-lagu Bruno Mars. Apakah ponselku dan ponsel Lana tertukar? Dia sangat suka Bruno Mars.

            Aku mengeluarkan ponselku dari saku mantel, namun yang kutemukan memang ponselku, dan tak ada panggilan masuk sama sekali sementara lagu itu masih berkumandang. Jalanan sepi, aku melihat tempat gadis tadi berdiri, namun ia sudah menghilang. Lalu lagu itu menghilang meninggalkan kesunyian. Mungkin itu James yang sedang iseng, dan bisa jadi saat aku berlari karena mengira itu ponsel hantu, ia akan menertawkanku dari balik persembunyiannya.

            Heh? Mikir apa aku ini? Hantu pasti tak akan sekeren ini memasang lagu Bruno Mars di ponselnya, bahkan mungkin mereka tak punya ponsel. Jadi aku kembali berjalan, memeluk kantung belanja berisi sebotol besar jus jeruk dan snack enak.

            Namun lagu itu terdengar kembali, kali ini makin dekat. Aku menajamkan indera pendengaranku dan melacak dari mana lagu itu berasal. Aku menoleh ke kiri bawah, sebuah ponsel flip tergelatak di bawah trotoar. Warnanya biru muda, pasti ponsel gadis muda dari kota besar.

            Barangkali seorang wisatawan ‘Nathanael Fall’s’. tapi tunggu, mana ada wisatawan air terjun saat air terjun sedang beku? Aku memungutnya dan menatap nama yang ada di layar ponsel.

            “Cindy,”

            Aku menekan tombol hijau dan mendekatkannya ke telingaku.

            “Siapapun yang mengangkat telepon ini, cepat tolong kakakku,”

            Aku tertegun sebentar.

            “katakan, siapa kau dan bagaimana aku bisa menyelamatkan kakakmu?” tanyaku.

            Ada nada panic dalam suaraku, namun aku segera menekan rasa panic dalam hatiku. Ada yang harus segera ditolong sekarang, tak ada waktu untuk takut.

            “Aku Cindy, 12 tahun, dari London,” jawabnya, “ada seorang laki-laki mesum yang menculik kami, aku berhasil kabur, tapi kakakku tidak! Katakan dimana kau sekarang!” desaknya.

            “tunggu, kenapa kau tidak lapor polisi?” tanyaku lagi.

            “kau gila! Laki-laki mesum itu polisi, kau mau kakakku makin sengsara!” bentaknya marah, “baiklah, katakan dimana kau sekarang?”

            Apakah dia tahu daerah kota kecil ini? Katanya dia dari London.

            “Aku ada di Adam Street, sebelah kananku hutan Pinewood dan sebelah kiriku adalah peternakan mr. Smith tua,” jawabku.

            “Apakah ada traktor merah besar dekat situ?” tanyanya lagi

            “Ya, aku bisa melihatnya, setengah meter dari sini,” jawabku.

            “masuklah ke hutan dari titik dimana traktor itu berada,” katanya cepat, “saat aku keluar aku melihat traktor di depanku,”

            Masih memeluk kantung belanja, aku berjalan mendekat traktor merah Mr. Smith tua, setelah itu aku memasuki hutan, hawa dingin langsung menerpaku saat aku melewati pohon pinus pertama. Pohon-pohonnya renggang dan cahaya bulan menerobos menerangi jalanku.

            “baiklah, petunjuk selanjutnya?”

            “terus berjalan lurus sampai kau menemukan sebuh batu besar, batu yang saaaaaangat besar!”

            “baiklah,”

            Aku kembali berjalan, aku masih melihat dengan jelas 10 meter pertama, namun setelah itu pohon jadi semakin rapat dan cahaya bulan makin redup. Ada seseatu yang mencekam saat aku berjalan semakin dalam.

            “kau tak membohongiku, kan? Aku belum menemukan batu besar itu,” kataku lagi.

            “sebentar lagi, dan kecilkan suaramu, siapa tahu laki-laki mesum itu juga gay,”

            “apa?” aku berhenti sebentar, meresapi setiap kata gadis kecil ini. Bagaimana dia tahu istilah itu? Aku makin merinding.

            “berjalanlah terus!” bisiknya.

            Aku kembali berjalan. Dan kemudian menemukan batu besar itu.

            “nah, sekarang ke timur, kau tahu kan timur itu dimana?”

            Gadis itu seolah-olah tahu dimana aku berada, aku melihat langit, timur berarti kiriku. Aku kembali berjalan.

            “dasar bodoh! Itu barat!”

            “bagaimana kau tahu?”

            “sudahlah! Cepat balik arah,”

            Aku hanya menurut. Aku mulai mersakan bulu kudukku merinding, apakah gadis ini mengawasiku? Mungkin ponsel ini dipasangi pelacak, dan saat mencapai tempat tujuan, dia akan merampok jus jeruk Lana dan snackku.

            Heh? Mikir apa aku ini?

            Aku kembali berjalan, sekelilingku makin gelap, hanya ponsel yang kupegangi yang menerangi telingaku. Tunggu, ini bisa jadi senter kan? Aku segera mengarahkan layar ponsel ini ke depan setelah menekan tombol hands free dan kemudian aku mendapatkan pandangan yang lebih baik.

            “ngomong-ngomong, seperti apa kakakmu?” tanyaku.

            “dia sama sepertiku, berambut pirang keemasan sepunggung dengan mata hijau yang indah, tingginya kira-kira 165 cm, lalu dia sangat cantik, kau pasti menyukainya,”

            “kau sedang mengiklankan kakakmu, ya?” kataku meledek, “berapa umurnya?”

            “ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke enambelas minggu depan,”

            “lalu namanya?”

            “Cintya,”

            Aku lalu berhenti, dan kembali menempelkan ponsel itu ketelingaku,

            “aku menemukan sebuah pondok,”kataku.

            Aku segera merendahkan badanku, bersembunyi di balik semak. Pondok itu diterangi lampu neon kuning dan berdiri di atas hamparan salju yang cukup luas. Cahaya bulan juga menerangi rumah itu.

            Aku bersyukur menemukan cahaya, tapi tidak di saat seperti ini.

            “diamlah sebentar,” bisikku, “aku melihat laki-laki mesum itu,”

            Laki-laki itu memanggul kampak di bahunya dan baru saja turun dari motor salju miliknya. Tangannya berlumuran darah kering. Dipanggulnya kantong kain besar yang ada di motor saljunya. Lalu ia masuk kedalam pondok.

            “jangan kabur, atau nasibmu sama dengannya!” suara pria itu menggema.

            Siapapun dia, dia adalah psikopat.

            Aku mendekatkan ponsel tadi ke telingaku lagi.

            “mari kita ubah sebutan laki-laki mesum menjadi laki-laki psikopat, dia baru saja membunuh seseorang,” kataku.

            “Aku tahu, sebenarnya ia membunuh pagi ini,” bisik Cindy.

            “baiklah, aku akan matikan ponsel ini,” aku menelan ludah, “kakakmu akan kuselamatkan, jadi jangan khawatir,”

            “aku mengandalkanmu, Alan,” lalu ponsel itu mati. Benar-benar mati, mungkin kehabisan baterai.

            Bagaimana dia tahu namaku?

            Aku mengabaikan rasa penasaranku dan kembali mengintip. Laki-laki mesum itu, maksudku, laki-laki psiko itu baru saja keluar dari pondok, masih dengan kampak ditangan, ia kembali menaiki motor saljunya dan meninggalkan tempat itu.

            Aku tersenyum, saatnya beraksi.kuletakkan kantung belanjaku, kemudian aku keluar dari persembunyianku, lalu berlari secepat yang aku bisa menuju pondok itu. Aku mendorong pintunya, namun tak berhasil. Lalu aku mendobraknya dengan kasar.

            Dan kemudian pintu itu ambruk ke dalam. Dan aku melihatnya, di ruangan sempit itu. Aku melihat seorang gadis berambut pirang keemasan sepunggung duduk bersimpuh dengan tangan terikat kebelakang dan mulut disumpal dengan sapu tangan.           

            Aku mendekatinya, lalu melepaskan sapu tangan yang menyumpal mulutnya.

            “Dasar bodoh! Pintunya terbuka keluar, bukan kedalam! Untuk apa kau mendobraknya!” teriaknya marah.

            “heh? Benarkah!” aku memandang pintu itu lagi dan nyengir, sepertinya memang begitu, “dengarkan! Adikmu menuntunku untuk menyelamatkanmu, jadi sebaiknya kita segera pergi!”

            Aku mengambil sebuah pisau yang ada di atas meja lalu merobek talinya. Talinya sangat kuat, dibutuhkan tenaga besar untuk merobeknya, namun akhirnya berhasil juga.

            Aku mundur dan aku baru saja menyadari bahwa ia hanya memakai tanktop dan celana panjang. Tunggu bukan itu yang ingin aku katakan, maksudku, wajahnya tampak terkejut dan menatapku tajam.

            “kenapa?” tanyaku

            “kau bilang adikku yang mengirimmu kesini?”

            “iya, ia menghubungiku dari ponselmu,” aku memberikan ponsel tadi kepadanya. Ia sekarang menatap ponsel itu tak berdaya.

            “kenapa sih?” tanyaku heran.

            “Cindy sudah mati kemarin,” katanya lirih, ia lalu menunjuk kantung di pojok ruangan, kantung yang tadi dibawa laki-laki psiko tadi, “dia di kantung itu, termutilasi,” lanjutnya smbil mulai terisak.

            “jangan bercanda ya, miss,” aku melepaskan mantelku, “pasti otakmu membeku, pakai ini dan ayo kita pergi, adikmu sudah selamat!” kataku sambil memakaikan mantelku padanya.

            “tidak, aku serius!” ia menyalakan ponselnya dengan gemetar, lalu menghubungi seseorang, “dengarkan, aku menghubungi a..a..,” ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Tepat dari arah kantung itu, terdengar ringtone ponsel Nokia. Aku yakin karena ini adalah ringtone standart ponsel itu.

            Aku mendekatinya, dan mengeceknya. Bau amis darah tercium saat aku membuka kantung itu, aku meihat potongan jari dan rambut pirang keemasan. Lalu sebuah ponsel menyala diantaranya, aku tak berani melihat lebih lanjut, segera kututup kantung itu, dan gadis itu menatapku.

            “jadi siapa yang memanduku?” tanyaku shock.

            Ia menggeleng.

            “aku tahu semuanya dari dia, namamu Cintya, kan?”

            “mungkin…” ia tak berani bicara lebih lanjut, selanjutnya yang terakhir terdengar adalah tangisan Cintya.

            Aku mengikat kantong tadi, kantong yang berisi jenazah Cindy, lalu aku memanggulnya, harus ada yang menguburkan jenazahnya setelah semua ini selesai.

            “kau bisa jalan?” tanyaku pada Cyntia, “kita harus segera pergi.”

            Ia mengangguk, lalu memakai mantelku dengan benar dan merapatkannya ke tubuhnya. Kemudian ia berjalan ke arahku. Aku kini bisa melihatnya dengan jelas. Ia memang cantik, namun ada beberapa luka di wajahnya, ia pasti sempat disiksa tadi.

            Kami berdua keluar dari pondok itu dan berlari secepat mungkin keluar dari hutan. Setelah melewati batu besar, terdengar suara letusan pistol dari jauh. Pasti laki-laki psiko itu sudah menyadari kalau tawanannya kabur.

            Kami semakin panik, saat kami berhasil keluar hutan, kami bernafas lega. Kami bersyukur ia bisa selamat. Namun ternyata tak semudah itu. Saat kami sadar, sebuah motor salju dan laki-laki psiko itu sudah berdiri di hadapan kami.

            Umurnya kira-kira 45 tahun, dengan brewok menghiasi wajahnya dan seragam kepolisian yang sama sekali tak rapi. Tubuhnya gemuk dan tangannya besar. Benar-benar penampilan khas seorang penjahat. Ia tersenyum sadis dan memasang ekspresi marah.

            Cintya memeluk tanganku erat-erat. Ia jelas ketakutan, laki-laki itu menodongkan sebua Shotgun kearah kami. Senjata yang jika pelurunya meletus dikepalaku, akan membuatku terpental beberapa meter.

            “apa kau pacarnya!” hardiknya kesal, “beraninya kau mencuri gadisku!”

            Aku hanya diam, andai saja jus jeruk Lana masih digenggamanku, pasti aku bisa memukulnya dengan itu. aku meninggalkannya di tengah hutan tadi. Pasti sekarang sudah membeku. Tunggu, bukan saatnya memikirkan itu sekarang.

            “dan kau, gadis manis,” laki-laki itu ganti menatap Cyntia, “sudah kubilang aku akan memenggal kepalamu jika berani kabur, kau tak sayang nyawa, ya?”

            Cintya menangis.

            Apa yang harus kulakukan sekarang tanpa sebotol jus jeruk? Eh, Maksudku, tanpa senjata?

            Tiba-tiba sebuah botol jus jeruk beku jatuh di atas kepalanya. Kami mendongak keatas, dan melihat sesosok gadis bermbut pirang keemasan melayang dengan mantel putih. Gadis yang tadi kulihat di ujung jalan.

            “Cindy!” kata Cyntia lirih

            Aku memandangnya lebih teliti, ia tersenyum dan tubuhnya transparan, dia hantu. Sementara itu laki-laki psiko itu sangat marah, ia mengerang keras, namun erangannya terhenti saat ia menyadari apa yang dilihatnya. Sekarang wajahnya sangat ketakutan.

            bulu kudukku merinding kembali. Lalu Cindy, maksudku, hantu Cindy bergerak mendekati kami dan mendorong laki-laki psiko tadi, laki-laki psiko itu terpental seperti tertiup angin. Ia jatuh diatas motor saljunya dan ia tak bergerak lagi.

            Aku segera meraih ponselku dan menelpon Mayor Mc’connor. Dia polisi dan dia harus datang kesini secepatnya.

            “Alan, terima aksih banyak ya,” hantu Cindy menatapku dengan senyuman tipis. Aku masih merinding, lalu hantu Cindy menatap kakaknya, dan berbicara tanpa suara. Dan kemudian ia menghilang begitu saja.

            **

            Penculik anak gadis keluarga Herrington akhirnya tertangkap. anak sulungnya, Cintya Herrington selmat dalam kejadian itu. namun naas, adiknya, Cindy Herrington tewas termutilasi. Keluarga Herrington mengucapkan terima kasih pada kepolisian kota Siegeville dan seorang pemuda bernama Alan Wilbur yang menyelamatkan anak mereka.

           

            Cuplikan Daily Times, 25 agustus 2011

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 25 weeks ago)
100

Wahahahaha.....
Lucu, lucu, lucu....
*ngakak guling-guling*
Nice try, and I love it.

Writer tetinuna
tetinuna at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 42 weeks ago)
60

wah kurang dapat horornya.

Writer Erick
Erick at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)
70

*Ikutan XD

 

Di Log Message-mu tertulis :

Penulisnya aja belum gemeter, apalagi pembacanya =,=a

berarti kamu ngecap cerpenmu sendiri sebagai cerpen-gak-ada-horor2nya...!

Dan, bener, gak horor blas! Tapi aku cukup menikmatinya... XD

 

begitulah, sekian! ^^

Oya, aku belum ngasih salam perkenalan pada kk Tsuki, jadi kuucapkan :

Salam kenal! ^_^

(jangan lupa mampir ke cerpen tantangan hororku ya!)

Writer SnowDrop
SnowDrop at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)
80

Oke, pertama2 ceritanya ga serem. kedua mirip2 pelem the cellular,ato apalah itu yg nelepon sembarang nomer buat minta tolong diselametin dari penculikan, so bagi gw, idenya kurang orisinil.ketiga, saltiknya banyak, dan gw rasa udah banyak yg ngomen juga soal ini, jadi kalo dirapiin lagi kayanya bakal lebih oke.
.
TAPIIIIIIIII
.
gw acungin jempol buat narasinya, gw senyum2 sendiri bacanya, coz dialognya idup, ga kaku. gw juga suka cara cerita ini dibawain, seolah2 kita ngikutin di belakang tokoh utama, ngeliat apa yang dia liat dan denger apa yang dia denger.
.
tadinya mo ngasih 7,5. tapi karena gw juga suka sama karakter cindy XD, 8 langsung dipencet.
.
semangat nulis! \^0^/

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)
80

Kurang sereeem....
.
Oh, iya. Di persyaratan bukannya tulisannya 'gadis kecil'? Kalau baca ceritamu gitu aja, kesannya Cindy umurnya gak jauh2 amat sama Cyntia. Padahal bayangan saya, gadis kecil itu maksimal 13 tahun...
.
Oh, iya. Saya sempat liat profile-nya Tuan Arai. Harusnya saya yang manggil situ 'kak', bukan kebalik kayak komen Tuan Arai di cerita saya...
.
Parah, gaya bahasaku kayak ibu2, ya, sampe org salah kira bilang 'mbak', ato 'kak'.. T_T

Writer dansou
dansou at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)
80

Oh, oke. Ini memang belum terlalu horor, Rai. But, at least you have tried :D
.
McConnor enggak usah pake apostrof ya. Udah, langsung aja McConnor.
.
Saya serahkan soal horor begini ke kak Ivon :DDDD

Writer nagabenang
nagabenang at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)
80

haduh,,, lucunya ini cerita.... wkwkwkkwwk~ XDD
*plak*
.
wkwkwk, oke, sesuai djandji, ini komen dan saran dari ak klo mo bikin cerita zerem, wkwkwkk ^^;;
.
well, pertama2... kmu perlu tanya pada dirimu sendiri, kamu pernah merasa ketakutan enggak?
klo pernah, nah, oke, sekarang coba pikirkan tentang kejadian yang membuatmu takut itu. apakah itu tentang:
- tersesat di tempat asing?
- terjebak sendirian di tempat kosong yang angker?
- kegelapan?
- hantu?
- perampok sadis dengan pistol dan pisaunya?
- atau... melihat orang yang disayangi mengalami kejadian yang buruk? (amit2, jangan sampai)
.
well, begini, salah satu 'prinsip'ku dalam menulis cerita horror, kalau cerita yang kutulis tidak bisa membuatku ngeri, entah itu banyak atau sedikit, maka cerita yang kutulis itu kemungkinan besar tidak akan membuat para pembaca cerita itu merasakan kengerian yang, setidaknya, serupa dengan kengerianku sendiri.
.
well, jadi... usahakan cara bercerita kmu itu juga membuat kmu sendiri takut. nonton filem juga dianjurkan, asalkan kmu bisa menangkap poin2 apa saja dalam cerita itu yg bisa membuat para penonton menahan nafas, atau berteriak kaget :).
.
ahm, yah, begitulah sekilas kiat2 menulis horror, menurut ak, ahahahah, tpi jujur aja, klo soal pengalaman di dunia horror, saraf ak masih kalah kuat dari penulis cerpen Selamanya Bersamamu di Fantasy Fiesta 2011 itu, wkkwkwk XD
.
oke, ahm, yah, itu dulu deh XD, nantikan cerpen dari ane berikutnya yah :)

Writer Kurenai86
Kurenai86 at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)
70

Arai... pas mau klik tombol post dibaca lagi nggak?
kok masih kena penyakit typo? Jangan terpengaruh auto correct-nya MS Word dong ==a
terutama awal kalimat dialog, harusnya kan huruf besar ><
.
nggak terasa horornya meski kamu berniat masukin adegan gore dengan mayat hasil mutilasi... yah, saya sendiri memang nggak doyan horor, jadi kalo saya sendiri yang bikin juga nggak beda2 jauh kok. Tentang hantu yang bukannya nakut2-in tapi malah minta tolong atau bantuin tokoh utama. huehehehehe...
.
Yah, pokoke salut deh kamu bisa bikin secepat ini ^^

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)

sya baca dua kali, kak.
tapi emang dasarnya kurang teliti.

iya, saya jadi merasa ini horor daripada komedi, degan gorenya maksa kan ya? hwehehehe

Writer glentripollo
glentripollo at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)
50

Emm... tantangan horor kan? Dan saia merasa ini ngga ada horor2nya... :D

Writer glentripollo
glentripollo at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)

Ah sebagai tambahan, sepertinya kmu masih harus menambah sedikit lagi pembelajaran kmu dalam memberikan detail kata penghubung di dalam satu kalimat... jadi ada beberapa kalimat yg saia rasa harusnya dilengkapin "ke" atau "yang" atau apapun itu tapi hilang begitu dan terkesan jadi kalimat ambigu yg menggantung, yah walau dalam kasus di sini saia masih bisa ngerti apa maksudnya, tp sebaiknya dikurangin kesalahan2 semacam itu...

:)

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)

kata hubung? jelaskan pada saya :(

saya ngk ngerti lho

dan emang buat saya ini lebih komedi daripada horor. anggap saja horor sok lucu, hehe

red_rackham at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)
60

(=_____=)'a
Kalau menurut saia sih ada beberapa kelemahan dalam cerita ini....
1. Setting tempat...kalau memang mau detail menyebutkan ini di eropa, sebaiknya di awal cerita dijelaskan sedikit mengenai tempat tinggal si karakter utama.....
2. Konfliknya....menurut saia sih terlalu flat. Lalu cara si penjahat mati juga antiklimaks. Kan bisa dibuat dia dikejer2 dulu ama si hantu lalu mati dengan mengenaskan (jatuh ke jurang atau nabrak pohon pas ngebut pake motor salju misalnya)
.
Anyway....damn! Cepet banget kalian2 ini bikin cerita!!!
Saia bahkan blom kepikiran mo bikin cerita apaan (>______<)

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)

1. saya emang belum bikin detail jadi sengaja di minimalisir

2. iya, saya tahu, harusnya saya bunuh aja laki-laki psiko itu, tpi syang gada jurang di situ. dan ini POV1, ototmatis kalo di lari jauh, si 'aku' gatau gmna nasibnya

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 45 weeks ago)
80

baguuss :))
sayang hantunya baik xD

Writer serigalahitam
serigalahitam at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 45 weeks ago)
100

Emm, sekedar pendapat saja, aku sih maunya hantu cindy ngeguide alan lebih lama, misalkan beberapa hari gitu. Tapi yaa cuman pendapat tak usah didengar hahaha

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at [Tantangan Horor] Ponsel (8 years 44 weeks ago)

saya juga pengenny gitu :(