Startling Surprises At Every Step (步步惊心) - Chapter 7 Part 3

Chapter 7 Part 3

 

Pangeran ke Empat Belas jelas tak mengira kalau dua kalimatnya tadi akan membuatku meledak seperti itu. Dia masih marah, tapi karena tak tahu bagaimana harus membalas, dia hanya bisa memelototiku, menggertakkan gigi, dan mengedik ke arah Pangeran ke Delapan. “Kakak ke Delapan, kau dengar itu? Ruoxi benar-benar terpelajar, tapi buku berisi omong kosong macam apa yang dibacanya?”

Kubalas tatapannya, “Ayah dan kakak saya boleh menanyakan buku macam apa yang saya baca, tapi masalah ini jelas bukan urusan Anda!”

Melihat diriku dan Pangeran ke Empat Belas beradu pandang, Pangeran ke Delapan terkekeh dan menggelengkan kepalanya, “Sudah jangan melotot lagi, Adik ke Empat Belas, kau sekarang harus pulang. Masalah Ruoxi ini biar aku yang urus.”

Pangeran ke Empat Belas menatapku, kemudian menoleh ke arah Pangeran ke Delapan. Dia tampak hendak mengatakan sesuatu tapi segera menghentikannya. Sekali lagi dia melirikku sebelum akhirnya mengibaskan lengan bajunya dan pergi.

Menghadapi Pangeran ke Empat Belas, aku sama sekali tak merasa takut. Tapi sekarang saat dia sudah pergi dan tinggal aku berdua dengan Pangeran ke Delapan, aku mulai merasa tegang. Aku berdiri dengan kepala menunduk, memainkan pita jubahku, dan tak yakin harus berbuat apa.

Pangeran ke Delapan tersenyum ke arahku dan berkata, “Kelakar Putra Mahkota sebenarnya tepat sekali. Kurasa tak hanya semangatmu yang sama dengan Adik ke Tiga Belas, tapi juga respekmu terhadap orang-orang dari kelas bawah dan karaktermu yang bebas dan tak terkendali.“ Tersenyum, dia melanjutkan, “Jangan berdiri saja di situ.”

Hampir saja aku duduk saat Pangeran ke Delapan berujar, “Duduklah di sebelah sini. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu.” Kepanikanku bertambah, tapi karena tak bisa melawan, pelan-pelan aku mendekat dan duduk di sebelahnya.

Pangeran ke Delapan mengawasiku duduk dan mengesah kemudian menghadap ke depan lagi tanpa mengatakan apapun.

Untuk sesaat, kami berdua duduk dalam diam hingga dia tiba-tiba berkata, “Takut?”

Terpana dan tak tahu apa maksud ucapannya, aku hanya bisa menatap dirinya dengan bingung.

Pangeran ke Delapan menoleh ke arahku, “Acara Pemilihan Selir, apa kau takut?”

Begitu mendengarnya, rasa takut yang sudah memenuhi hatiku memuncak. Diam-diam aku mengangguk, kemudian menundukkan kepala dan mengerutkan dahi karena khawatir.

Beberapa saat kemudian, Pangeran ke Delapan mulai berbicara dengan suara pelan seperti mengarahkan kalimat itu pada dirinya sendiri, “Kali pertama kulihat kakakmu adalah saat dia berusia lima belas tahun.”

Buru-buru kusingkirkan semua rasa takutku dan mendengarkannya dengan perhatian penuh.

“Tahun itu, ayahmu datang ke Beijing dan kakakmu ikut bersamanya. Waktu itu musim semi dan cuacanya bagus sekali. Langit biru seperti habis dibasuh dengan air jernih dan angin berhembus membawa harum bunga, bertiup hingga ke lubuk hati. Bersama dua orang pelayan, aku berkuda di pinggir kota. Dari kejauhan, kulihat seorang gadis muda menunggang kudanya di atas bukit.” Dia berhenti dan tersenyum, “Kau pernah melihat bagaimana kemampuan Ruolan dalam berkuda; jadi kau pasti sudah tahu betapa cantik dan luar biasanya dia.”

Kuingat kembali keanggunan Jie-jie saat pertandingan dulu dan tanpa sadar mengangguk.

Pangeran ke Delapan melanjutkan, “Keahliannya berkuda saat itu bahkan lebih baik daripada waktu pertandingan. Suara tawanya terdengar bagai lonceng perak, berdenting terbawa angin. Suara itu dipenuhi kebahagiaan, membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasa bahagia, menimbulkan keinginan untuk ikut tertawa bersamanya.” Dia berhenti sejenak sebelum berkata, “Aku tak bisa mempercayai apa yang telah kulihat. Ada begitu banyak gadis cantik di Kota Terlarang, tapi Ruolan berbeda.”

Kupikir, Jie-jie waktu itu adalah seorang gadis yang sedang jatuh cinta, meyakini kalau dia dan kekasihnya akan tinggal selamanya di langit ke tujuh. Kebahagiaan memancar dari dalam lubuk hatinya. Tentu saja gadis-gadis dalam Kota Terlarang yang tak pernah merasakan cinta sejati tak bisa dibandingkan dengannya.

Pangeran ke Delapan kembali berkata, “Begitu pulang, aku buru-buru mencari tahu tentang kakakmu. Aku sedang berpikir bagaimana caranya membuat Ayahanda Kaisar menganugerahkannya padaku saat ibunda memberitahu kalau Ayahanda memutuskan akan menjadikan putri pertama keluarga Maertai sebagai Ce’Fujin-ku. Saat itu, kupikir hidupku tak pernah sebahagia ini. Tepat sehari setelah pengumuman itu, aku berkeliling ke seantero ibukota untuk mencari hadiah. Perlu waktu lebih dari enam bulan bagiku untuk menemukan sebuah Gelang Darah Phoenix. Aku bermaksud untuk memberikannya pada Ruolan saat hari pernikahan kami.

Aku menunduk, memandangi gelang yang terpasang di pergelangan tanganku dan mengangkatnya sambil bertanya, “Inikah benda yang Anda maksud itu? Gelang yang seharusnya Anda berikan pada Jie-jie?”

Melihat gelang di pergelangan tanganku, Pangeran ke Delapan mengulurkan tangannya untuk menggenggam tanganku, berkata, “Tiap hari aku menunggu dan akhirnya hari pernikahanku pun tiba. Tapi saat aku mengangkat tudung pengantin itu, semuanya tak seperti yang kubayangkan. Orang yang telah kurindukan selama dua tahun dan orang yang duduk di hadapanku benar-benar seperti dua orang yang berbeda. Dia tak pernah lagi menunggang kuda dan dia juga jarang tersenyum. Aku terus bertanya-tanya sendiri, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Mungkinkah aku telah menikahi orang yang salah? Belakangan, aku mengirim orang ke Barat Laut untuk memeriksa hal ini dan, setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya kutemukan alasannya.” Dia tersenyum pahit dan tak berkata-kata lagi.

Aku mengesah dengan hati terasa berat, ‘betapa Takdir telah mempermainkan anak manusia!’ Aku sedang terhanyut dalam benakku sendiri saat tiba-tiba jantungku berdebar kencang. Kuhembuskan napas dan dengan gugup bertanya, “Bagaimana orang itu bisa mati?”

Pangeran ke Delapan terdiam sejenak sebelum kemudian menjawab, “Orang yang kukirim untuk memeriksa tentang kakakmu membuat ayahmu waspada. Ayahmu berniat mengirim orang itu jauh-jauh dan karena itu menjadikannya prajurit di garis depan. Selanjutnya...” Dia berhenti, tak mengatakan apa-apa lagi.

Bisa kurasakan jantungku masih bergemuruh. ‘Kau tak membunuhnya, tapi dia memang mati karena dirimu.’

Kutarik tanganku, berniat melepas gelang itu dan mengembalikannya pada Pangeran ke Delapan. Tiba-tiba dia mencengkeram tanganku, “Jangan dilepas.”

Aku menunduk, menatap gelang itu. “Ini seharusnya untuk kakak saya.”

Pangeran ke Delapan mengencangkan pegangannya di tanganku dan berbisik, “Benda ini untuk wanita yang kucintai.” Dengan tangan satunya, dia mengangat daguku dan, sambil menatap mataku, berujar, “Berjanjilah, jangan pernah melepaskannya.”

Kutatap mata hitamnya yang seolah tanpa dasar. Ada kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya di sana. Pada saat bersamaan, sepasang mata itu juga dipenuhi kesedihan yang seperti hendak meluap keluar. Aku tak mampu menahan kebingungan yang timbul dalam hatiku, bercampur dengan rasa pahit yang aneh, dan karenanya aku pelan-pelan mengangguk. Melihatku telah menyetujuinya, Pangeran ke Delapan menatapku dalam-dalam.

Tersenyum, dia berkata, “Jangan takut. Aku akan memikirkan cara agar Ayahanda Kaisar bersedia menganugerahkanmu padaku.”

Aku memandangnya, terpana. Dia tersenyum padaku. Buru-buru aku menggeleng, berteriak, “Jangan!”

Pangeran ke Delapan menatapku, senyumnya memudar, wajahnya memucat, dan tiba-tiba bertanya, “Jadi kau mau menjadi selir Ayahanda Kaisar?”

Rasa panik melandaku dan segera aku menggeleng. Aku tak mau, aku tak mau melakukan apapun. Aku hanya ingin hidup tenang, menemukan seseorang yang benar-benar mencintaiku, yang akan menjagaku, dan tidak memandangku hanya sebagai alat permainan. Aku tak mau dianugerahkan. Aku adalah manusia, bukan benda!

Pangeran ke Delapan memandangku sejenak, kemudian tiba-tiba menutup matanya, menarik napas panjang, membuka kedua matanya kembali, dan mengesah, “Aku takkan memaksamu. Sesuai keinginanmu!” sambil mengucapkan perkataan itu, dia melepasku, memanggil Li Fu masuk dan menyuruhnya mengantarku kembali ke tempat Jie-jie.

Saat aku mencapai pintu, tiba-tiba Pangeran ke Delapan berkata dari arah belakang, “Saat masuk istana, jangan berdandan seperti saat kau menghadiri pesta ulang tahun Adik ke Sepuluh.”

Aku tak mengerti maksud ucapan itu dan berbalik untuk melihat ke arahnya. Dia menunduk dan berkata pelan, “Kalau kau tak ingin Ayahanda Kaisar memperhatikanmu, maka akan lebih baik jika kau tampak biasa.” Akhirnya aku mengerti. Entah harus senang atau sedih, aku berbalik untuk mengikuti Li Fu.

Sekembalinya di kamar, Jie-jie melihat wajahku yang pucat dan mengira kalau Pangeran ke Delapan pasti telah menguliahiku. Jie-jie mendekat untuk mengelus wajahku, kemudian mengesah, dan menyuruh Dongyun untuk membantuku menata tempat tidur.

Aku berbaring di ranjang tapi tak bisa tidur. Aku memikirkan tentang Jie-jie dan diriku sendiri. Aku terus mengira-ngira apakah Jie-jie tahu tentang perasaan Pangeran ke Delapan padanya. Tiba-tiba aku merasa diriku ini bodoh sekali. Sebenarnya tak sulit untuk menyadari perasaan Pangeran ke Delapan pada Jie-jie.

Contohnya, Pangeran ke Delapan tampak kaget saat pertama kali melihatku, tapi berubah kecewa ketika mendapati kalau diriku tak bisa menunggang kuda. Jie-jie jarang mengunjungi Di’Fujin untuk memberi salam tapi Di’Fujin tidak secara langsung mempersulitnya. Contoh lainnya, di permukaan Jie-jie seperti tak begitu disukai; para pelayan bahkan diam-diam membicarakan hal ini. Meski begitu, dari makanan, pakaian, hingga kebutuhan sehari-hari, bahkan kasim yang paling cerobohpun tak berani membuat kesalahan atau memperlakukan Jie-jie dengan buruk. Makin kupikirkan hal itu, makin kusadari betapa jelasnya semua itu terpampang di hadapanku. Aku hanya tak pernah mempertimbangkannya.

Lalu bagaimana denganku? Siapa diriku ini? Pengganti Jie-jie? Kenapa aku menyimpan gelangnya? Kenapa tak kukembalikan saja pada Pangeran ke Delapan? Apa karena saat itu hatiku melunak?

Aku tak bisa tidur!

 

End of Chapter 7

 

Read previous post:  
Read next post:  
90

jadi makin penasaran akhirna sama siapa

100

nggak mau kalo sama pangeran ke 8

80

Oooo gituu toh perasaan pangeran ke delapan.

Tidak rela kalo ruoxi ma pangeran ke delapan.

Wuaaaa wuaaaa.

100

Aaaa....
ternyata pangeran ke 8 deketin Ruoxi cuma buat pengganti kakaknya gitu

gitu deh kayaknya ==a