Lupa Pikir

 

Jangan lupa!
Jangan lupakan sejarah.
Sejarah lahir dari buku, sejarah lahir dari pena.
Dari buku dan pena, lahir juga negara.
 
Jangan kira!
Orang lahir tahu semua.
Orang lahir tanpa semua.
Hanya banyak baca.
 
Jangan tertawa!
Baca itu ilmu, baca itu senjata.
Negara lahir bukan karena tivi.
Negara lahir bukan karena wi-fi.
Negara lahir karena baca.
Baca, baca, baca.
Baca dan belajar.
Belajar, belajar, belajar.
Belajar lalu paham.
Paham lalu terapkan.
Jadi agen perubahan.
 
Jangan ingkar!
Memang kini segala gampang.
Tapi negara kini gamang, bimbang bergoyang.
Tunggu waktu hingga buyar.
Malu hilang, adil pudar.
Tangis kering, tawa sumbang.
Yang penting kini bukan Tuhan, tapi uang.
Ada uang, yang lain biar.
 
Jangan tunjuk!
Semua bisa menunjuk.
Tapi lari kala gelap memeluk.
Kata orang kita dulu jaya.
Tapi kini lesu tak berdaya.
Di mana jaya, di mana daya?
Yang tersisa hanya gaya.
 
Jangan tidur!
Pelan-pelan semua bergerak mundur.
Kembali ke masa undur-undur.
Pemuda maju dipasung.
Raja tua rakus diusung.
Harta di antara busung.
Busung-busung mati terpancung.
 
Jangan menangis!
Hanya akibat sekodi bengis.
Puan terdiam melukis.
Gambar sadis dan najis.
Katanya, "Nyata yang kulukis!
Busung berebut pukis,
karena yang lain habis."
 
Jangan diam!
Bicara, berontak, lawan!
Terlalu lama kita diam.
Terlalu lama kita terlena.
Tidur dalam kemudahan.
Lari dari kenyataan.
Ingkar dari masa dan sejarah.
Kita tak pernah jaya.
Yang ada hanya suksesi berdarah.
Raja serakah jatuh satu.
Muncul lagi yang baru.
Kemasan baru, lagu lama.
Tapi kita lupa, kita lupa!
Lupa akan busung.
Lupa akan serakah.
Lupa, kalau daya tak ada.
Lupa, kalau semua masih serakah.
 
Harus berhenti!
Berhenti menoleh ke langit.
Di langit cuma angkara.
Pertumpahan darah tanpa makna.
Busung protes, dijawab langit :
"Urusi sendiri!
Kami di langit sibuk sekali!
Rapat ini, rapat anu, rapat itu.
Busung tak paham, busung tak mengerti!
Kami sendiri tak mengerti!"
 
Harus pikir, harus bicara, harus gerak!
Harus!
Harus!
Pikir dari pena, dari cerita, dari buku.
Bicara dalam puisi, sajak, dan monolog.
Gerak jadi cerita, warta, dan berita.
Sudah lama kita tak berpikir.
Cuma ingat mengurus busung.
Pikir! 
Sebentar lagi kita hancur.
Sekarang kita sudah diinjak.
Sampai kapan mau ikut arus?
Pikir!
Pikir!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Chie_chan
Chie_chan at Lupa Pikir (10 years 1 week ago)
80

Aku suka bagian ini:

Quote:
Negara lahir bukan karena tivi.
Negara lahir bukan karena wi-fi.

^Entah kenapa bacanya pengen nyembur ketawa.
Um, kayaknya ada lumayan banyak hal yg mau kausampaikan di sini. Untuk ukuran puisi, menurutku masih bisa diringkas lagi supaya pembacanya bisa lebih merenung, cc. Biasanya sih, kalo orang baca puisi kepanjangan, pesannya bisa keburu nguap. Soalnya daku juga ngerasa gitu di bagian2 lewat pertengahan. XD (kyaaa peaceeee) Beberapa kata yg direpetisi itu mungkin bakalan kena kalo dibacakan secara oral, tapi kalo melalui tulisan gini entah kenapa menurutku agak irelevan.
.
Tapi ah, aku salut banget sama deretan rima di sini. Aku selalu kesusahan mikirin kata2 yg bunyi ujungnya sama. XD XD

Writer gadek_mpl@yahoo.com
gadek_mpl@yahoo.com at Lupa Pikir (10 years 2 weeks ago)
80

lagi-lagi melihat tulisan yang penuh keberanian seperti ini mengingatkan saya pada buku Soe Hok Gie.

Writer Riesling
Riesling at Lupa Pikir (10 years 2 weeks ago)
100

paling suka bait 'jangan tidur'

Writer k0haku
k0haku at Lupa Pikir (10 years 2 weeks ago)

Thank you ^^

Writer Kaze seimaru
Kaze seimaru at Lupa Pikir (10 years 2 weeks ago)
80

Ayo semangat menumpas virus di negeri ini.

Writer yayagyp
yayagyp at Lupa Pikir (10 years 2 weeks ago)
70

Emosinya dari awal kata sampe' penutup konstan kencengnya, semangat sekali.
Salam kenalku.

Writer k0haku
k0haku at Lupa Pikir (10 years 2 weeks ago)

Wew, terlalu kencang kah? ^^;
Salam kenal juga :)