Humanless (Scene 03)

 

Aku terus berlari tunggang langgang tanpa sudi melihat ke belakang. Walau diriku telah meninggalkan mini market, aku tak ingin berhenti mengayunkan langkah seribu hingga suaranya tak terdengar lagi. Aku takut, benar-benar ketakutan. Wajah dan suara pegawai mini market itu masih terngiang-ngiang dalam kepalaku. Setiap kali aku mengingatnya, aku ingin menangis, menjerit sekerasnya. Ia seperti manusia dari kematian, monster yang ingin memakanku dan aku harus berlari darinya.

Aku tak bisa terus berlari. Pada akhirnya staminaku yang lemah menghentikan langkah cepatku. Suara raungan pegawai itu tak terdengar lagi dan tak terlihat tanda-tanda ia mengejarku. Aku membungkuk mengatur irama napasku dan menenangkan jantungku. Aku tak habis pikir, apa yang terjadi pada wanita itu? Apa dia nyata ? Mengapa ia menyerangku? Dugaanku, pasti bukan hanya disebabkan karena aku mengutil tokonya.

***

Sejak pertemuanku dengan wanita itu, persepsi tentang kondisi sekelilingku mulai berubah. Aku merasa gelisah dan cemas. Sepertinya ada orang-orang gila serupa yang bersembunyi di balik bangunan-bangunan dan kendaraan terlantar ini. Mereka mengintaiku, mengamatiku, dan akan menyerangku di saat yang tak terduga. Aku bahkan mendengar sayup-sayup suara mereka dan melihat-melihat kelebat bayangan mereka dari dalam ruang kosong. Aku tak tahu apakah itu hanya perasaanku saja tetapi yang pasti keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Seluruh tempat ini tidak aman bagiku.

Atmosfir udara terasa semakin berat saat aku berjalan tanpa tujuan yang jelas menyusuri jalanan penuh rongsok. Banyak sekali serpihan puing berserakan di jalan. Aku mengambil sepotong besi yang terlihat cukup kokoh dan kuat yang tergeletak. Sepertinya besi ini adalah stang sepeda motor. Aku membawanya untuk kujadikan senjata. Setidaknya aku tidak tanpa perlawanan jika bertemu dengan yang tidak kuinginkan dan aku tidak menyesali keputusanku.

Baru beberapa langkah berjalan, aku mendengar kembali suara yang kini tak asing lagi. Erangan dan rintihan terdengar bersahut-sahutan dari arah depan. Adrenalinku kembali mengalir deras. Jantungku berdebar kencang saat melihat tiga orang berjalan terseok-seok. Masing-masing dari mereka dalam kondisi yang berbeda-beda namun tetap mengingatkanku akan pegawai mini market sebelumnya. Banyak luka di tubuh mereka, salah satunya bahkan kehilangan lengan sedangkan yang lain hanya tinggal serabut-serabut daging otot yang menempel pada tulang. Mereka terlihat seperti korban perang atau mungkin serangan binatang buas jika memperhatikan luka cabikkan yang menganga di bahunya.

Mereka berjalan sempoyongan tak terarah. Sepertinya belum mengetahui keberadaanku. Aku tak ingin bertemu dengan mereka. Dengan hati-hati, aku mundur perlahan untuk tidak menarik perhatian orang-orang itu dan berbalik kembali ke arahku berasal namun langkahku terhenti. Di depan kedua bola mataku, mayat-mayat yang sebelumnya bergelimpangan bergerak. Dengan kondisi tubuh yang rusak, mereka bangkit tertatih-tatih untuk berdiri sambil mengerang dan mendesah. Aku tak bisa mempercayai apa yang kulihat. Orang-orang mati hidup kembali! Mereka mayat hidup!

Dalam waktu singkat, bahaya yang mengancamku meningkat drastis. Mayat-mayat yang baru bangkit ini segera mengetahui keberadaanku dan mulai berjalan ke arahku dengan tangan borok yang menjulur. Ditambah mayat-mayat sebelumnya yang kini juga menemukan mangsa segarnya, aku kini terkepung. Aku benar-benar ketakutan. Napasku tersengal, jantungku berdebar kencang, air mataku tak dapat kubendung.

“...jangan mendekat..tolong...”

Aku ingin menjerit tetapi tenggorokanku tercekat. Aku menggenggam batang besi erat-erat tetapi lupa untuk apa aku mengambilnya. Selagi para mayat hidup terus mendekat, aku hanya mondar-mandir di tempat. Membolak-balikkan tubuh melihat mereka datang berbondong-bondong dari dua arah. Hanya tinggal menunggu waktu sampai aku berada dalam jangkauan mereka. Sial, tak adakah jalan keluar bagiku? Atau inikah saat kematianku?

Tidak, aku menolak untuk mati sekarang. Tidak dalam keadaan seperti ini dan tidak di tangan makhluk-makhluk jelek itu. Aku berusaha melawan ketakutanku dan mengendalikan diri. Mayat-mayat hidup itu berjalan lambat. Masih ada waktu untukku menyelamatkan diri. Aku kembali ingat tujuanku mengambil besi ini. Dengan demikian terlintas dua cara yang dapat kutempuh. Pertama, lawan mereka dengan senjata yang kugenggam. Kedua, kabur ke tempat yang lebih aman. Namun sejak aku dikepung seperti ini, aku tak bisa melakukan opsi kedua tanpa melakukan opsi pertama. Aku harus melawan mereka.

***

Aku tak punya cukup keberanian untuk melawan mereka. Aku bahkan sulit untuk menggerakkan kakiku yang gemetar hebat ini. Namun dengan hidupku yang tanpa makna, aku tak ingin berakhir seperti ini. Mati tak berarti. Aku tak tahu bagaimana sebuah motivasi ini berasal. Ia datang begitu saja saat aku menyadari mayat-mayat hidup ini berjalan lambat dan sempoyongan seperti orang mabuk. Mereka tampak bodoh, tak berotak, tak berakal dan aku masih manusia yang memiliki semuanya. Seberapapun tak bergunanya diriku, Aku tak ingin kalah dari mereka.

Melawan sekelompok mayat-mayat yang baru bangkit di hadapanku sepertinya tak memberiku peluang banyak untuk menang dibandingkan mereka yang ada di belakangku. Mereka hanya bertiga, dan jarak mereka denganku masih lebar. Aku memilih mereka sebagai targetku.

Aku menarik napas panjang. Tak ada waktu untuk takut dan tak ada kesempatan untuk mundur. Aku membalikkan keadaan. Ketika rasa takut itu datang lagi, aku berlari sekuat tenaga sebelum tubuhku dikuasainya.

Aku berusaha mengedalikan lariku. Aku menjerit keras ketika rasa takut dan adrenalinku bertabrakan. Targetku adalah seorang anak jalanan dengan usus terburai yang berada paling kiri. Kuangkat stang motor besi yang kugenggam erat di atas pundak kananku. Ketika kami berdua berada dalam jangkauan masing-masing kuayunkan besi itu menghujam kepalanya sekuat tenaga.

“Akh!?”

Luput! Seranganku gagal mengenai sasaran sasaran. Aku hanya membelah udara dan kehilangan keseimbangan. Di saat yang sama, sang anak jalanan pun tak berhasil menangkapku kecuali tersenggol tubuhku. Kami berdua jatuh berguling-guling menghantam aspal. Besi itu lepas dari genggaman.

Ini kacau. Aku membuat kesalahan bodoh. Sia-sia sudah keberanian yang susah payah kukumpulkan hanya untuk membuat diriku celaka. Sekujur tubuhku terasa sakit akibat tergores aspal dan serpihan-serpihan batu kerikil hingga terluka dan berdarah. Saat aku meronta untuk berdiri, kulihat bocah yang jatuh bersamaku bangun lebih cepat. Bagaimana bisa seorang anak yang jauh lebih muda dari adikku, dengan kondisi tubuh demikian bisa bangkit berdiri seperti tak terjadi apa-apa padanya?

Stang motor itu tergeletak masih berada dalam jangkauanku. Sungguhpun aku bisa menggenggamnya kembali, aku tak bisa melakukan apapun. Dibayangi beberapa dewasa, bocah itu berjalan pincang menuju ke arahku. Saat bayangan gelapnya menutupi badanku, aku melihatnya seperti monster besar yang akan memangsaku dan itulah yang akan ia lakukan. Sekarang rasa takut kembali menguasai diriku. Tubuhku gemetar, mataku berkaca-kaca, mulutku bergumam memanggil ayah dan ibuku. Ia semakin dekat dan erangan bernada tinggi jelas terdengar. Sialnya, aku bahkan tak bisa memejamkan mataku untuk berpaling dari akhir hidupku yang menyedihkan ini.

Dalam perjalanan menuju kematianku, aku mendengar suara letupan-letupan dan sesuatu mendesing melesat melewati telinga kananku. Dalan pandanganku yang kabur, kulihat kepala anak itu tersentak ke belakang, bagian belakang kepalanya pecah memuncratkan kabut gelap kemerah-merahan sebelum terjerembab ke tanah tanpa bisa bangkit kembali. Sebelum sempat mengenyam apa yang terjadi, bayangan seseorang berkelebat dari arah belakang dan berhenti di hadapanku. Letupan-letupan kini terdengar seperti tembakan senjata api dan mayat-mayat dewasa yang menyusul si anak pun berjatuhan dengan cara yang serupa. Pikiranku yang kalut sempat mengira dia adalah malaikat maut yang akan menjemputku namun berubah setelah ia membalikan tubuh ke arahku dan berseru.

“Hey, kamu nggak apa-apa!?”

Suara yang sangat kurindukan dari seorang manusia normal. Aku menggosok mata mengenyahkan air mata yang memburamkan pandanganku. Dia adalah seorang tentara berseragam biru gelap lengkap dengan baju pelindung dan helm yang terbuat dari kevlar. Dalam genggamannya adalah sebuah senapan serbu terkenal yang bahkan seorang gamer amatir bisa menyebutkan bahwa itu adalah M4 Karbin. Meski tak jelas apakah asli buatan Amerika atau imitasi dari Cina yang pasti itu adalah senjata serbu terbaik dan berada di tangan yang benar. Seseorang yang sangat kuharapkan kedatangannya.

“Hey!!”

Melihatku tercengang, tentara itu kembali meneriakiku hingga aku kembali pada situasi nyata. Ia kemudian berjalan menghampiri dan berjongkok di hadapanku.

“Nggak apa-apa! Saya baik-baik saja, pak!”

Aku tak mengira ia akan mendekatiku seperti ini. Mengamati leher, pundak serta beberapa bagian tubuhku untuk memastikan kondisiku. Aku tak bisa menghindari perasaan risih dan malu karena terlihat seperti anak perempuan cengeng dengan mata sembab,wajah pucat dan isak tangis yang kuperlihatkan padanya namun ia tampaknya tak peduli.

“Kamu belum kena gigit kan?” tanyanya padaku hanya untuk kujawab dengan gelengan kepala. Saat itulah aku melihat simbol elang menukik pada badge di lengannya yang bertuliskan GEGANA. Ia ternyata polisi, bukan tentara.

Yakin tidak ada yang salah dengan tubuhku, polisi itu mencoba melapor pada rekannya yang lain lewat radio lapangan di saku dadanya. Suara statis terdengar saat ia menyalakannya.

“Elang Tiga memanggil Induk Elang, ganti”

Tidak ada balasan, hanya suara distorsi.

“Induk Elang, di sini Elang Tiga bersama seorang warga sipil hidup, mohon penjeputan.”

Ada jeda selama beberapa saat hingga akhirnya terdengar seseorang merespon panggilan diselingi riuh suara distorsi dan tembakan.

“...negat..f...kami...la..m...situas...g..wa.t...t..k....pen...putan..tak...b-sa...lak..an....se..ra...vakuas..”

Terlalu banyak intervensi, suara desingan peluru, teriakan bahkan raungan yang terdengar membuat pesan tak begitu jelas terdengar. Sepertinya rekan-rekan tim gegana yang lain dalam situasi darurat.

“Diterima...” balas sang polisi menutup saluran radionya. Sepertinya tak ada jalan lain kecuali menjalankan perintahnya.

“Kamu bisa bergerak?” ia bertanya dengan pandangan serius.

“Sepertinya begitu pak.” Aku menjawabnya sedikit ragu.

Sang polisi bangkit berdiri seraya menarik tanganku untuk melakukan hal yang sama. Walau perih terasa dari luka-luka goresan di sekujur tubuh, tak ada masalah dengan otot dan sendi. Aku bisa bergerak leluasa. Kuberi isyarat jempol pada polisi itu untuk meyakinkan kondisiku dan ia pun bersiap kembali menggenggam senjatanya.

“Tetaplah di belakangku dan jangan sampai terpisah! Kita akan bergerak ke tempat yang lebih aman”

Demikian pesannya sebelum kami mulai melangkah dan aku pun tak lupa untuk mengambil kembali besi stang motor, satu-satunya senjata yang dapat kupakai untuk mempertahankan diriku dari orang-orang mati.

>>Bersambung

Read previous post:  
81
points
(1804 words) posted by hikikomori-vq 11 years 40 weeks ago
81
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | Humanless | zombie apocalypse
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Humanless (Scene 03) (10 years 34 weeks ago)
80

Kak VQ, saya udah lama nggak mampir, hehe. Jadi kelewatan deh.
Waaah, udah lama banget nggak baca humanless. Kayaknya terakhir kapan ya ... hampir setahun yang lalu ya? Hehe. Deskripsinya masih baik. Tapi, entah karena jeda waktu yang kelewat besar dari saya terakhir baca, jadi ketegangan saya berkurang saat baca ini. Hmmm, kalau boleh kasih saran, mungkin di bagian awal setelah "Aku" lari dari minimarket, dari suasana sunyi yang digambarkan bisa dipecah pake SFX sepeti misalnya suara langkah terseret-seret. Kayak.

Sret ... sret.

Atau semacamnya. Debaran jantung juga bisa mungkin.
Tapi endingnya bikin penasaran. Saya pengen liat gimana keadaan orang-orang yang lainnya. Ayo kak, lanjutkan!

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Humanless (Scene 03) (11 years 3 weeks ago)
70

Hmmm... Yang ini kurang manteb, Kak. Entah napa kesan dikejar-kejarna kurang berasa klo dibanding sama chapter yang sebelum-sebelumna :(
.
Tetep saya tunggu kelanjutanna, Kak!

Writer musthaf9
musthaf9 at Humanless (Scene 03) (11 years 4 weeks ago)
90

Quote:
Bagaimana bisa seorang anak yang jauh lebih muda dari adikku, dengan kondisi tubuh demikian bisa bangkit berdiri seperti tak terjadi apa-apa padanya?

wahahaha, padahal saya juga penasaran...
.
ah, saya suka paragraf ketiga :D

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Humanless (Scene 03) (11 years 4 weeks ago)
70

Hmm, kayaknya kamu harus merevisi ulang dialogmu. Misal, kata 'Pak' itu (dalam dialog) jika orang yg dimaksud ada di hadapannya, maka harus memakai kapital. Itu seingatku sih. Dan lagi, ada dialogmu yg lupa tidak diakhiri tanda baca.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Humanless (Scene 03) (11 years 4 weeks ago)
80

Oke. Ceritanya asik, meski saia belum baca dari scene 1. Tegangnya dapet, tapi survivalnya belom. Ya gapapa lah... lagipula ini cuma satu scene.
.
Narasi dikau udah bagus. Bagus doang deh, bukan udah-bagus. Hehe. Soalnya kalo udah-bagus berarti dulu-dulu enggak dong? Haha. Pokoknya narasi dikau gak overdescriptive dan bisa memberi perasaan tegang pada pembaca, setidaknya bisa ikutan tegang seperti si protagonis.
.
Tapiiiiiii
Cuma tegang. Tok. Gak sangat-tegang atau ikut kaget atau takut. Tegang yang seperti nonton horor B-movie. Seperti film Planet Terror (ahahahaha tapi itu termasuk Grindhouse, berarti cult loh!). Hum. Kenapa ya saia gak bisa ikutan merasa kaget atau takut dengan si protagonis?
.
Mungkiiiin

Quote:
Aku tak bisa mempercayai apa yang kulihat. Orang-orang mati hidup kembali! Mereka mayat hidup!
Itu itu kalimat tanda-seru entah gimana gak bikin saia kaget. Kaekna karena spasi deh. Maksud saia, itu bakal lebih ngagetin kalo ditaro di paragraf baru (paragraf satu-kalimat gitu). Lalu gak perlu sesumbar tanda-seru kalo kalimat tersebut udah dijadiin paragraf baru. Itu menurut saia sih.
Quote:
Napasku tersengal, jantungku berdebar kencang, air mataku tak dapat kubendung.
Ini juga saia gak terlalu ikut tegang. Mungkin karena perasaan tersebut cuma si protagonis yang ngerti, makanya saia gak gitu ngerti. Jadinya saia cuma take-them-for-granted deh, ikutan tegang tapi cuma tegang, enggak tegang-baget.
.
Sialnya, aku bahkan tak bisa memejamkan mataku untuk berpaling dari akhir hidupku yang menyedihkan ini.
Nah yang ini manteb nih. Saia gak tau gimana jelasinnya, tapi pokoknya gaya seperti ini manteb.
.
Gitu aja deh :D pastinya saia akan baca dari scene 1!