Bodoh nan Baik

Walter terkenal di seluruh penjuru kota tempat tinggalnya karena kebodohannya. Setiap orang yang berpapasan dengannya, pasti akan mengatakan, "Hei lihat, si bodoh lewat!", atau, "Sepertinya kau butuh buku hari ini.", atau, "Dasar pecundang!", dan masih banyak lagi kata-kata kasar yang keluar dari mulut penduduk.

 

Tapi Walter tidak menghiraukannya, bukan mengacuhkannya tapi karena ia tidak paham bahwa kata-kata itu terasa menyakitkan. jadi hari ini, ia melangkah mantap sambil tersenyum.

 

 Ia juga dikenal karena keramahtamahannya di hadapan orang lain. Ia lebih suka mendengarkan daripada didengarkan, oleh sebab itu sebagian dari tetangganya menyukainya. Namun begitu, ia gampang sekali ditipu atau diperdaya hanya dengan rayuan-rayuan sederhana sehingga penggambaran dirinya yang 'bodoh' lebih menonjol dibanding sopan santunnya.

 

Hal itu membuat tetangga-tetangga yang sebelumnya bersimpati merasa malu bila menawarkan kebaikan kepadanya, hanya karena takut dicap 'orang bodoh' oleh penduduk lainnya.

 

Sejak kecil, orang tuanya mengajarkan hal-hal baik kepadanya. 'Menolong orang adalah suatu perbuatan yang mulia, jadi janganlah takut berbuat baik, sebab kebaikan merupakan sumber cinta yang akan terpancar.', begitulah kata ayahnya kepadanya.

 

Jadi, ia mencoba berbuat segala kebaikan kepada setiap orang yang ia temui. Namun ia tidak mendapat pujian, senyuman ataupun ucapan terima kasih, sebab bantuannya justru membuat orang lain semakin menderita. "Betapa bodohnya kau ini! Aku menyuruhmu melakukan ini, tapi kau malah melakukan itu!", ungkapan itu yang terlontar dari hasil kebaikannya.

 

Tidak satupun yang merasa senang atas bantuannya. Ia menjadi seorang 'bodoh' akibat perbuatannya. Tapi ia tetap berkeras hati bahwa suatu saat nanti orang-orang di kotanya akan mengakuinya sebagai pribadi berguna serta pembawa kebaikan bagi semua orang. Ia tidak akan menyerah begitu saja.

 

Suatu hari, Gerombolan perampok kota mendatangi Goldshrine, nama kota tempat Walter tinggal. Mereka berjumlah kira-kira 50 orang bersenjatakan pedang, bom mesiu, pistol, kapak, serta senapan api. Saat itu penyerangan dilakukan pada sore hari ketika kegiatan kota tidak seramai di siang hari. Segera ke-50 perampok itu mengobrak-abrik seluruh tempat, menjarah persediaan makanan di pasar, membakar rumah-rumah, menghancurkan tatanan taman kota, meledakkan beberapa ruas jalan, serta menangkap beberapa sandera, kebanyakan anak-anak dan wanita.

 

Penduduk Goldshrine menjadi sangat panik. Petugas keamanan kota datang 15 menit setelah insiden itu, namun dapat diatasi dengan cepat oleh geng perampok. Hal ini membuat sebagian warga memilih menyelamatkan diri dengan berlari menjauhi kota. Tapi belum sampai 50 meter, mereka ditembak satu per satu tanpa ampun. "Jika kalian melangkahkan kaki satu inci saja dari sini, peluru ini tak segan-segan menembus tubuh kalian!" teriak sang pemimpin geng. Para sandera menjadi semakin takut, tak ada harapan lagi untuk selamat.

 

Di saat genting seperti itu, Walter melompat dari gedung dan turun tepat mengenai sang pemimpin. Dengan pakaian yang dikenakannya, ia mencoba mencekik leher si pemimpin sekuat tenaga hingga kepala si pemimpin mejadi biru. Rasa sesak memenuhi paru-paru sang pemimpin, meskipun bersusah payah melepaskan diri dari cekikan lawannya, tapi Walter entah mengapa menjadi sangat kuat sehingga usaha apapun hanya sia-sia. Beberapa menit kemudian, sang pemimpin jatuh pingsan.

 

Para sandera yang melihat aksinya, terkagum akan keberaniannya. Salah seorang dari sandera itu berkata, "Apa yang kau lakukan di sini? Ini berbahaya! Sebaiknya kau pergi dari sini dan selamatkan nyawamu sendiri!"

 

Walter berbalik menghadap si lawan bicara dan berkata, "Aku tak peduli akan nasibku, aku hanya ingin menyelamatkan kalian!"

 

"Bodoh! Kau hanya mengantarkan nyawa bila terus-terusan di sini! Sebaiknya kau pergi, selamatkan dirimu! " kata seorang lain yang juga adalah sandera.

 

Kata 'bodoh' yang diucapkan oleh kedua orang itu menggema di telinga Walter. Ia pun tersenyum, senyuman yang menghangatkan hati. Tiba-tiba dari wajah Walter terpancar suatu cahaya ketulusan yang membuat semua sandera takjub melihatnya. Inilah Walter yang 'asli', Walter yang 'bodoh', Walter yang 'tulus menolong orang lain', Walter yang 'baik'.

 

Belum sempat ia membalikkan badan, lima buah peluru menembus punggungnya. kulitnya terkoyak, dan segera darah mengalir dari lubang peluru-peluru itu. seketika tubuh Walter terbanting ke tanah, Ia sudah tak bernyawa lagi.

 

Beberapa saat setelahnya, rombongan pasukan dari luar kota datang menyelamatkan para sandera. para perampok dibekuk kemudian dibawa keluar kota.

 

Para sandera semuanya selamat, kecuali Walter yang bersimbah darah di hadapan mereka. Perlahan para sandera itu mengerumuni jasad Walter, lalu menangis sejadinya. Mereka menyesal karena telah merendahkan Walter dengan ungkapan' bodoh' setiap kali bertemu dengannya. Sang walikota, salah satu dari sandera itu, mendekati tubuh Walter yang dingin dan berkata, "Anak ini memang bodoh, tapi ia sungguh baik. Aku, sebagai walikota Goldshrine ini, minta maaf atas segala perbuatanku dan para warga kepadamu, karena 'kebodohan' kami yang tak bisa melihat kebaikanmu. Kuharap kau mau memaafkan kami."

 

Setelah berkata demikian, sang walikota berdiri kembali lalu berkata, "Wahai saudaraku, ayo kita baya jasad anak ini dan kita kuburkan sebagaimana mestinya! Dan berikanlah penghormatan terakhir untuk semua budi baiknya!"

 

Para warga berbondong-bondong mengantar jezanah Walter pada peristirahatan terakhir, kemudian memberi hormat kepadanya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Bodoh nan Baik (7 years 37 weeks ago)
70

ini... kayak cerita rakyat, entah rakyat mana hehe. pesannya jelas. tos dulu ah, saya juga sering kok ngerasa serba salah.

Writer Erick
Erick at Bodoh nan Baik (7 years 37 weeks ago)

Haha terima kasih...

tosss balik :D

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Bodoh nan Baik (9 years 6 weeks ago)
80

bagian awalnya kurang greget.
usul aja,
mungkin bisa ditambahin contoh gimana si Walter ini berusaha melakukan kebaikan tapi selalu jadi kacau?

Writer Erick
Erick at Bodoh nan Baik (9 years 6 weeks ago)

usul yang bagus,

cerita ini diadaptasi oleh pengalaman pribadi yang, kata tmn2 kuliahku, aku ini mesti ga bener kalo ngerjain sesuatu. Tapi aku ga tau jeleknya tu kayak gimana, jadi dalam cerita ini ga aku tambahin hal itu...

*ngeles mode ON! XD

 

makasih komennya cc!

Writer alisze
alisze at Bodoh nan Baik (9 years 6 weeks ago)
80

bodoh apa polos ea?! good story

Writer Erick
Erick at Bodoh nan Baik (9 years 6 weeks ago)

makasih cc! ^_^

bodoh dan polos itu, menurutku sama...!

Writer yellowmoon
yellowmoon at Bodoh nan Baik (9 years 6 weeks ago)
90

hanya saat seseorang mati barulah diingat kebaikannya
si 'baik' ini ternyata sadis juga ^__^a

Writer Erick
Erick at Bodoh nan Baik (9 years 6 weeks ago)

hehe, makasih komennya! ^_^

 

sebenernya ga gitu juga sih. dia tu rela mati agar kebaikannya itu diakui semua orang. yaa, begitulah kira2!