Excessive Smart Adolescent (3. Bukan Permainan)

3. Bukan Permainan...

 

            Pagi yang segar di Sampit. Tapi pagi ini cukup dingin sehingga kecoa pun masih nyenyak tidur dan bermimpi. Kabut cukup pekat juga, akibatnya kendaraan roda dua pun masih jarang berkeliaran. Dan dari antara anak rajin se-Indonesia, Revan adalah salah satu anak yang berangkat ke sekolah paling pagi saat ini. Dia memakai jaket coklat tebal kesayangannya itu dan tak lupa topi hijau yang baru dia beli kemarin.

            Sambil mengangkut beberapa tumpuk kardus Revan berjalan melewati gerbang dan berhenti di taman kecil belakang LAB kimia, tempat mangkal biasanya. Langsung saja kardus itu dia jatuhkan di taman itu dan langsung duduk di pinggiran taman. Revan mengingat kejadian kemarin, saat ia dan Hendra mengalami kejadian lunar binasa.

            “Si sialan itu! Masa rem sampai gak diperbaiki..” gumamnya dengan wajah sadis dan dengan hawa membunuh.

            Revan mengambil HP dan headsetnya. Saat sedang sendiri enaknya memang kalau lagi dengar lagu irama beat santai. Dan kebetulan selera lagu Revan sama dengan penulis. Lagu Joe Inoue ~ Hitomi (He Told Me) menjadi pilihan Revan.

            Cukup lama Revan mendengar lagu. Tanpa sadar kalau sekarang sudah banyak siswa berdatangan di parkiran dan di halaman.

            Seseorang menepuk pundak Revan. Revan berpaling, tampak wajah konyol Septian sedang nyengir.

            “Kenapa, Ko?” tanya Revan sambil melepas headset. Septian memang lebih sering di panggil Koko oleh yang lainnya. Selain itu dia juga ketua kelas XI IPA 4. Orangnya lumayan keren, tapi gokilnya minta ampun.

            “Hendra nunggu di LAB Biologi tuh. Tadi dia lewat samping sana..” ucap Koko sambil berlalu dan memberi kode arah dengan jempolnya.

            Revan memasukkan headset ke dalam saku lalu mengangkut kardus itu dan membawanya.

            “Apa lagi ini?” pikir Revan bingung memikirkan tingkah Hendra. Dia berjalan menuju LAB Biologi. Tapi,tiba-tiba Revan kaget sendiri.

            “Déjà vu..” gumamnya sambil memegangi kepalanya. “Kenapa lebih sering lagi terasa?”

            Jakarta, sebuah ruangan besar yang sekarang hanya ada dua orang yang sedang berbicara.

            Pria besar itu membaca sebuah berkas sambil duduk di kursi empuk. Di mejanya banyak sekali dokumen yang sepertinya cukup penting loh! Di hadapannya ada seorang pria sedang memperhatikan orang yang disebutnya sebagai BOS itu membaca berkas.

            Pria besar itu menaruh berkas itu ke meja.

            “Berdasarkan data ini, saya bisa mengandalkan kamu. Kemampuan kamu sudah sudah lebih tinggi di atas yang lainnya. Jangan membuat kecewa, kamu terpilih sendiri dari sepuluh orang grup 3, kamu pasti bisa dalam hal ini..” ucap pria besar sambil menatap seorang pemuda di hadapannya. Pemuda di hadapannya itu mengangguk tegas. Beberapa saat kemudian ada seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan itu.

            “Maaf, pak. Wakil grup 1 sudah bersiap..” ucap wanita itu pada pria besar. Pria besar itu mengangguk mengerti.

            “Dengar, kamu sudah tidak ada. Dan tidak ada siapa-siapa selain kamu..” pria besar itu berbicara serius pada orang di hadapannya. “Ini adalah kamu untuk seterusnya..” lanjutnya seraya memberi sebuah amplop.

            Pemuda itu mengambil amplop itu dan pergi keluar dari ruangan besar itu bersama wanita tadi.

            Setelah mereka berdua keluar, pria besar itu melihat-lihat sebuah dokumen. Ada foto dua orang pria masing-masing sedang menggendong bayi di situ. Dia seperti mengingat-ingat sesuatu.

            Revan menghampiri Hendra yang sedang berdiskusi dengan Erly.

            “Woi! Dra! Nih, kardus kamu..” Revan langsung memberi kardus pada Hendra. Hendra agak kaget karena Revan datang tiba-tiba.

            “Eh? Ah! Aku benar, kan, Ly! Anak ini memang panjang umur! Baru dibahas udah langsung muncul!” ucap Hendra pada Erly. Erly angguk-angguk setuju, sementara Revan hanya diam tak mengerti.

            “Oke lha, sini biar aku bawa kardusnya..” jawab Erly langsung mengambil tumpukan kardus dari tangan Hendra. Saat hendak masuk LAB, Erly berbalik.

            “Trims, ya, Van..” ucap Erly seraya tersenyum pada Revan lalu berjalan masukke LAB. Revan kemudian menoleh kepada Hendra.

            “Aku pergi dulu, Dra..” Revan pergi menuju LAB Kimia yang tepat di ujung selasar yang menyatu dengan selasar LAB Biologi. Dia berjalan sambil bersiul-siul.

            Di parkiran. Tampak Marc, teman sekelas Revan yang tubuhnya tegap tinggi dan cukup sangar tengah berbincang dengan Riska, ketua OSIS sekolah mereka. Mereka memperbincangkan masalah acara sehabis masa MOS ini.

            “Ya ya, itu bisa diatur..” jawab Riska seraya tersenyum.

            “YESS!!!” teriak Marc sambil loncat-loncat gembira. Marc mendatangi Sandi yang sedang nangkring di taman kecil belakang LAB Kimia. Sandi yang melihat Marc mendatanginya langsung punya firasat.

            “Ini petaka! Orang ini pasti ada maunya..” gumam Sandi sambil menyiapkan adrenalinnya.

            Benar saja, Marc memukul pundak Sandi, bercanda seperti biasa. Sandi langsung ngamuk.

            Beberapa saat kemudian saat Marc hendak memulai pembicaraan, muncul para penghuni gokil kelas XI IPA 4 yang lain ke situ seperti Koko, Sepri, dan ada juga duo mawut Roni dan Wawan. Pembicaraan yang harapannya akan lurus ini akhirnya menjadi agak berbelok-belok. Maka lengkaplah sudah para penduduk utama taman kecil itu yang merupakan tempat strategis untuk berbincang-bincang mulai dari hal penting sampai yang konyol, dari politik sampai swasta. Dari presiden, menteri, sampai pemulung pun ikut terbahas juga kalau sudah nangkring di taman kecil ini. Makanya Revan segera kabur kalau sudah muncul salah satu spesies makhluk yang disebut di atas.

            “Pasti gak nyambung lha..” komentar Revan saat ditanyai perihal masalah di atas.

            Revan melihat para anggota gugus yang sudah banyak hadir di kelas. Mereka melanjutkan membuat pra karya. Tampak Andy, ketua gugus 4, sedang memimpin pembuatan prakarya itu. Revan menaruh tasnya di meja guru lalu berjalan keluar. Dia duduk di kursi panjang dekat pintu. Revan agak geli melihat murid-murid baru yang dikerjai Kakak kelasnya. Kini Revan mulai termenung.

            Ia melihat suatu bayangan. Meskipun samar-samar, ia tau itu adalah anggota gugus 4 yang sedang membuat prakarya. Ia bisa melihat wajah masing-masing anggota meskipun agak samar-samar.

            “Pagi, kak..” tiba-tiba suara Novia membuyarkan penglihatan Revan.

            “Eh? Iya. Pagi..” balas Revan dia menggeser kepalanya untuk melihat orang di sebelah Novia.

            “Hhh, Eva..” pikir Revan

            Eva diam termangu tak memperhatikan keadaan sekelilingnya. Novia pun masuk ke kelas di iringi Eva.

            Revan melihat ke arah ruang guru. Ada Pak Surya sedang bersiap-siap membunyikan bel disitu. Revan lalu melirik jam tangannya.

            “Riana kok belum datang.?” pikir Revan sambil celingak-celinguk siapa tau saja makhluk itu sedang ada di halaman utama. Dan... Save! Riana suduh muncul dari samping selasar kiri LAB itu.

            Riana dengan santai berjalan dan tersenyum saat melihat Revan lagi duduk sedang melihatnya.

            “Hoho, tumben agak lambat gini?” ucap Revan sambil memainkan alis dan bibirnya.

            “Iseng aja..” balas Riana sambil sok cuek dan berjalan masuk ke LAB. Di saat yang bersaman, bel pun berbunyi.

            Para peserta MOS bergegas masuk ke ruangan masing-masing. Ada juga beberapa kordinator dan inti MOS masih saja asyik ngoceh di selasar dan di halaman depan. LAB Kimia, ruangan gugus 4 itu sepertinya sudah penuh dan Revan akan masuk. Tapi dari arah selasar depan kantor datanglah Marc dan Sandi.

            “Woi! Revan!” teriak Marc memanggil saat melihat Revan hendak masuk LAB. Revan menoleh ke belakang lalu celingak-celinguk mencari asal suara makhluk langka itu. Dan pandangannya tertuju pada Marc dan Sandi yang sudah bergegas mendatanginya.

            “Kenapa, Marc?” tanya Revan.

            “Anu, itu, kamu ingat event minggu depan, kan?” Marc antusias bertanya.

            “Ohh, kompetensi band itu, ya?” jawab Revan ragu-ragu sambil mengingat brosur yang dibacanya minggu lalu.

            “Yapp!” teriak Marc senang. Revan melihat pandangan Marc yang pasti ada maunya itu.

            “Terus... apa hubungannya dengan aku?” tanya Revan pura-pura polos.

            “Jangan pura-pura bodoh, Van..” ucap Marc dengan tatapan tajam. “Semua juga tau kalau kamu itu ahli dalam gitar akustik!” lanjutnya sambil memegangi pundak Revan dengan penuh harap.

            “Kamu mau aku jadi gitarisnya, gitu?” tanya Revan. Marc mengangguk mantap. “Eh? Kita lihat aja nanti..” ucap Revan sambil melepaskan genggaman tangan Marc dari pundaknya. “Kalau aku ikut, nanti kukabari..”

            Riana pun keluar. Dia melihat Revan tengah berbincang.

            “Van! Cepat masuk. Bantu anak-anak nih..” panggil Riana.

            “Iya..” Revan lalu berbisik dengan Marc. “Tapi aku gak janji, loh..” Revan langsung bergegas masuk. Marc dan Sandi bertatapan mendengar ucapan Revan.

            “Tenang aja, Revan pasti ikut..” ucap Sandi sambil berlalu. Marc mengikuti dari belakang.

            “Tau darimana??”

□□□

            Revan masih mengawasi pembuatan prakarya anggota gugusnya sementara Riana sedang tekun mengamati jadwal kegiatan MOS untuk hari ini.

            Tampak Eva tetap tak melakukan apa-apa dalam pembuatan prakarya. Ia hanya terpaku membaca buku yang sama seperti kemarin. Bukunya cukup tebal, bersampul warna hijau muda. Judulnya AAA: All About Art... ada sedikit tulisan buram di bawah judul buku itu. Yang pasti huruf yang kelihatan hanya D...

            Bandung, di sebuah rumah mewah yang kini ada beberapa orang yang tengah berbincang serius...

            Mereka seperti sedang rapat di sebuah meja bundar. Tapi ini bukan konferensi meja bundar! Ada dua orang yang sedang mengetik komputer yang tampak canggih dengan motherboard yang sudah dioverlocking habis-habisan lengkap dengan modemnya. Yang lain sedang memperhatikan kegiatan mereka.

            “Bagaimana? Sudah bisa masuk?” orang yang duduk paling ujung meja mulai berbicara. Dia melipat telapak tangannya.  Tampaknya dia adalah orang penting atau pemimpin dalam rapat ini. Bisa dilihat dari jas dan kemeja mahalnya itu.

            “Belum, pak..” jawab salah seorang yang sedang mengetik itu. “Program ini sepertinya hanya bisa compatible dengan Comfrax..” lanjutnya sambil geleng-geleng membaca tulisan error di monitornya. Yang satunya menimpali seraya tetap mengetik,

            “Meskipun ada, ‘kunci’ itu tetap diperlukan..”

            Orang berkacamata yang duduk di samping meja pun bersandar di kursinya lalu menatap dua orang yang mengetik itu.

            “Tidak bisa dihack?” ucap orang yang berkacamata itu.

            “Tidak bisa. Softwarenya langsung menjalankan perintah disintegrate all!” jawab orang yang mengetik.

            “Maksudnya?” pemimpin rapat itu bertanya.

            “Jika program ini diexecute selain di Comfrax, maka ia langsung melakukan proses deleting seluruh data yang ada di dalam komputer..”

            “Bukan main-main. Dua orang itu sudah memperhitungkan semuanya sampai sini rupanya..” imbuh orang berkacamata.

            Pemimpin itu mendengarkan. Dia lalu berpikir sesaat. Setelah tiba-tiba mendapatkan ilham, dia mulai berbicara pada orang yang berkacamata.

            “Cari hardware itu! Mulai pengawasan dan pengumpulan data!” perintahnya.

            Orang berkacamata hitam pekat itu tersenyum lalu berdiri.

            “Baik, pak..” ucapnya sambil berlalu ingin keluar dari ruangan itu.

            “Dan satu lagi, hati-hati pada salah satunya! ‘Kunci’ itu tersimpan pada orang yang tepat!” teriak pemimpin itu.

            Semua yang ada di ruangan itu melihat orang yang berkacamata itu keluar.

□□□

            Tak lama kemudian, di atap sebuah gedung dimana kini angin berhembus santai dengan sejuk yang mencirikan standar kota Bandung.

            Orang berkacamata itu mencari sebuah nomor di phonebook HPnya sambil tetap memakai kacamata hitam pekat miliknya itu dan menggendong sebuah ransel besar. Dia lalu menghubungi nomor yang dicarinya. Beberapa saat kemudian ada yang menjawab...

            “Laksanakan tugas!”

            “..........”

            “Ya, tetap dalam strategi stealth kalau belum pasti..”

            “.....”

            “Bisa, kerahkan berapa orang pun bisa tapi tetap harus dengan strategi tadi..”

            “.....”

            “Oke, saya tunggu kabar baiknya..”

            Setelah menutup teleponnya, orang itu mengambil teropong dari dalam ranselnya lalu menggunakannya untuk melihat-lihat pemandangan dari atas gedung itu sambil tersenyum misterius.

            “Selesai!!!” teriak Andy, ketua gugus 4. Murid yang lain pun juga puas melihat prakarya mereka selesai.

            “Ng, kok sepertinya agak kebesaran, ya?” ucap Riana memperhatikan tumpukan kardus itu yang kini sudah berubah menjadi sejenis baju baja atau entah apa sebutannya.

            Revan penasaran. Dia lalu melihat hasilnya dan agak sedikit heran.

            “Heh? Bentuk apaan ini?” tanyanya bingung sambil memegangi salah satu bagian yang sepertinya adalah kepala.

            “GUNDAM Seed! Strike Freedom!” jawab Andy mantap sambil meniru gaya Kira Yamato saat meluncurkan Mobile Suitnya.

            “Desain darimana?” tanya Revan lagi.

            “Kak Riana..” jawab Andy.

            “Emang kamu ngerti cerita GUNDAM?” tanya Revan sambil mengangkat sebelah alisnya.

            “Gak juga. Cuma senang ngelihat pertempurannya aja..” jawab Andy sok kalem.

            Revan angguk-angguk sambil melihat ada kesalahan pada prakarya itu tapi Revan tetap diam sambil tersenyum geli sendiri.

□□□

            Dan kini adalah saatnya penilaian hasil prakarya setiap gugus yang langsung dipimpin oleh ketua OSIS dan ketua panitia MOS. Sementara itu di gugus 4 tampak sedang sibuk dengan karya mereka.

            “Waa! Memang agak kebesaran!” keluh Kiki sambil mengamati rompi GUNDAM itu saat dipakai oleh Andy.

            Lucu sekali bentuk mobile suit yang mereka buat itu. Bentuk tubuh yang ramping dan elegan, terdapat sayap standar yang bisa menjadi senjata laser jarak jauh, sebuah senjata laser standar jarak dekat yang langsung menyatu dengan tamengnya, dan senjata laser utama jarak menengah di tangan kanan.

            “Kalau  gini apa boleh buat, ya..” ucap Riana sambil melihat Revan yang sedang termenung di kursi guru.

□□□

            Semua prakarya sudah terkumpul di halaman. Hanya yang dari gugus 4 saja yang terpakai. Ya! Terpakai, dipakai oleh Revan. Saat ini Revan merasa dirinya adalah orang bodoh yang mau saja disuruh oleh Riana untuk memakai kostum itu. Karena memang cocok dengan postur Revan. Kelompok 1 yang dipimpin Hendra membuat prakarya miniatur sekolah mereka lengkap dengan pohon dan rerumputannya. Kelompok 2 membuat sebuah mobil Formula 1 yang berukuran 1 : 2 dengan yang aslinya lengkap dengan kemudi, tempat duduk, dan kacanya yang terbuat dari plastik bening.

            Hendra kemudian menghampiri Riana.

            “Revan mana?” tanyanya sambil mencari-cari di antara anggota gugus 4. Siapa tau spesies langka itu ada di antara kerumunan tersebut.

            “Gak lihat? Yang jadi robot itu, loh..” jawab Riana seraya menunjuk robot GUNDAM yang sedang berdiri di tengah halaman. Hendra geli sendiri melihatnya kemudian ia datang menghampiri Revan.

            Revan melihat Hendra mendekat.

            “Uhh, petaka telah datang..” gumam Revan.

            “Hoi, kostumnya keren, Van..” ucap Hendra sambil mengamati bentuk kostum itu.

            “Haha..” Revan tertawa tanpa ekspresi. Hendra pun memberi kode pada Revan untuk melihat ke belakang, tamPak Marc cs sedang menertawakan Revan.

            “Sialan..” ucap Revan saat memperhatikan tingkah teman-temannya yang sedang menertawakannya.

            Sementara itu, di ruang guru.

            “Ng, udah jam 10 lewat..” ucap Riska. “Penilaiannya kita lakukan sekarang aja..” tambahnya kepada panitia yang lain.

            Penilaian pun dilakukan. Dan hasilnya pun cukup mengejutkan. Hasil karya paling menarik menurut OSIS dan panitia MOS adalah yang berasal dari gugus 1! Tentu saja Hendra jadi besar kepala. Tapi jangan bersedih dulu, gugus 4 mendapatkan predikat parakarya terfavorit dari seluruh murid baru. Ya iyalah, GUNDAM.

□□□

            Tak terasa kegiatan MOS telah usai. Para siswa pun berhamburan keluar pagar sekolah.  Tentu saja, banyak juga yang masih antri menunggu motornya di parkiran yang penuh sesak.

            “Hehe, Terima kasih karena sudah memakai kostum tadi, Van..” ucap Riana saat Revan hendak keluar gerbang. Revan mengangguk lalu memberi komentar,

            “Lain kali kalau nonton GUNDAM perhatikan desain dan namanya dong. Strike Freedom kan senjatanya pedang dan bersayap mirip capung. Yang tadi itu Justice Freedom! Tapi, ya gak apa-apa. Lagian semua yang melihat gak bakalan memperhatikan..” Revan menjelaskan panjang lebar. Saat ini otak maniak animenya sedang kumat.

            Riana bengong melihat Revan yang berlalu sambil besiul-siul.

            Saat Revan tengah melewati depan SMAN 3, dia mengalihkan pandangannya untuk melihat-lihat SMAN 3. Tiba-tiba Revan mengalami suatu sensasi déjà vu. Sensasi dimana dia bisa melihat jelas apa yang dilihatnya sebelumnya walau apa yang dilihatnya sebelumnya itu hanya sekilas saja.

            “Eh?? Déjà vu? Yang ini lebih jelas lagi..” ucap Revan seraya memegang kepalanya. Tapi agaknya kini matanya jadi agak aneh rasanya.

            Pinggiran kota Sampit, Bandara H. Hasan, pintu keluar.

            Tampak pemuda yang mengenakan jaket putih tipis itu mengamati berkasnya lalu memasukkannya ke dalam ranselnya dan mengambil sebuah kertas. Dia membaca kertas itu sedang tangan kirinya tetap memegang sebuah koper hitam besar.

            “Hotel Mahkota..” gumamnya sambil mengingat-ingat hotel tempatnya menginap itu. Kemudian dia keluar dan mulai berjalan mencari taksi kota.

            Dia menaiki sebuah mobil sedan biru yang sedang terpakir di depannya, seakan-akan menunggunya untuk masuk ke dalam.

            “Antar ke hotel Mahkota, pak..” ucapnya pada supir saat sudah masuk ke dalam mobil. Tapi supir itu hanya diam. Dan saat supir itu berbalik menunjukkan wajahnya,

            “...!??” pemuda itu terkejut melihat wajah yang ada di depannya. “Kamu...??”

            Supir itu tersenyum kemudian mulai berbicara,

            “Bodoh. Ini Sampit! Bukan Jakarta! Mana ada taksi kota!” bentaknya. “Tapi kebetulan sekali kita ketemu. Biar aku yang antar kamu ke hotel..” ucap supir itu yang ternyata juga seorang pemuda yang seumuran dengan pemuda berjaket putih tipis itu.

            Pemuda berjaket itu cuma diam dan terkejut saja saat mobil itu sudah melaju dan masuk ke dalam keramaian kota.

            “Kamu... jadi wakil dari grup 1 itu kamu?” tanya pemuda berjaket sambil memperhatikan keluar jendela mobil. Tampak pertokoan berjejer rapi di sepanjang jalan yang mereka lewati.

            “Yah, begitulah..” jawab pemuda supir itu kalem.

            “Kamu yang jadi back up aku?” tanya pemuda berjaket itu. Pemuda supir itu mengangguk.

            “Stealth, kita lakukan seperti itu. Organisasi itu pasti melakukan hal yang sama juga, kan?” ucapnya. Pemuda berjaket itu diam mendengar ucapan pemuda supir itu.

□□□

            Mobil itu melaju di jalan utama antar kota, Cilik Riwut, dengan kecepatan cukup tinggi. Jalan itu merupakan jalan satu arah, juga lintasan lurus. Saking cepatnya, mobil itu jadi terbanting agak ke kiri saat ban kanan depannya menabrak jalan berlubang. Mobil itu hampir masuk ke tikungan jalan Jaya Wijaya dan juga hampir menabrak Revan yang saat itu sedang lewat dengan santainya!

            “...!!!?????????” Revan, pemuda supir, dan pemuda berjaket putih itu sama-sama terkejut!

            “Sial!” umpat pemuda supir itu. Dengan sigap pemuda supir itu menginjak rem dan terdengar suara ban yang sedang bertarung dengan aspal.

            Hampir, hampir saja! Hanya berjarak satu meter lagi maka mobil itu pasti menabrak Revan jika tidak segera direm. Adrenalin mereka bertiga jadi tak terkendali.

            Revan yang masih tercengang mulai sadar.

            “WOI! KALAU BAWA MOBIL KEREN HATI-HATI DONG! KALAU MOBILNYA RUSAK, BIAYA SERVICENYA KAN MAHAL!” omel Revan. Kedua pemuda di mobil itu bengong.

            Pemuda supir itu keluar. Tampaknya dia juga seumuran dengan Revan.

            Saat itu mobil sedan Eva lewat dan sepertinya menuju pusat kota. Revan tak menyadarinya.

            “..... kenapa dia?” gumam Eva saat melihat Revan yang sedang diamati oleh orang banyak.

            “Anu, maaf, tadi jalannya agak rusak..” ucap pemuda supir itu dengan ekspresi wajah yang menyesal. Revan mengamati pemuda itu sekilas.

            “Ya, jalan di kota ini memang seperti itu..” ucap Revan sambil tersenyum tanpa ekspresi  lalu beranjak pergi dan tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya yang melihat kejadian itu.

            Pemuda berjaket itu kemudian membuka kaca jendela mobil.

            “Woi, dia sepertinya nggak apa-apa, kok. Cepat antar aku ke hotel..” ucapnya tanpa memperhatikan Revan yang sudah masuk ke jalan Tidar yang ada di seberang jalan Jaya Wijaya itu.

            Mobil itu kembali melaju ke pusat kota dan masuk jalan A. Yani yang memang sudah seperti urat nadi kota Sampit. Urat nadi, artinya itu adalah jalan utama yang menghubungkan setiap jalan yang ada di pusat kota.

            Sementara itu Revan masih bergumam sambil mengangkat alisnya sebelah,

            “Seumuran aku kok sudah pakai mobil? Emang umur 16 sudah dapat SIM B, ya?”

            “Nona, jadi mau ke mana? Kusuka atau Bintang?” tanya supir sedan hitam itu pada Eva. Dia menanyakan arah tujuan mereka karena Eva belum juga memutuskan tujuan swalayan yang akan dikunjunginya. Kusuka dan Bintang adalah nama swalayan yang sama-sama besar dan lumayan lengkap.

            Eva diam beberapa saat. Dia merasakan sesuatu yang membuatnya ingin melihat ke belakang. Dan saat ia melakukannya, benar saja. Mobil sedan biru itu melaju cepat di belakang mereka. Eva masih ingat itu mobil yang tadi dlihatnya di persimpangan Jaya Wijaya.

            “SY..” gumamnya saat membaca tulisan di pojok kanan atas jendela depan mobil sedan biru itu. Tapi wajah pengemudinya tak terlihat karena terhalang lapisan khusus jendelanya. Mobil itu rupanya berbelok ke kanan memasuki daerah pertokoan kawasan Ketapang.

            “Nona?” supir Eva memanggil lagi. Eva berpaling.

            “Saya masih baru di kota ini. Dan belum terlalu mengenal area dan tenpat-tempat penting. Terserah yang mana saja..” ucap Eva sambil memandang handband hijaunya yang selalu terpasang di pergelangan tangan kirinya itu.

            “..... apa dia masih amnesia, nona?” tanya supirnya sambil melihat Eva melalui kaca dashboard.

            “Saya masih belum yakin. Tapi itu bukan masalah. Semakin dia tidak tau terlalu banyak, semakin baik..” jawab Eva.

            “Sepertinya bukan main-main, ya, nona..” komentar supir Eva itu.

            “.....” Eva hanya diam tak menanggapi.

□□□

            Jam 2 siang lewat agak sedikit. Di dalam sebuah rental band. Tampak Marc, Sandi, dan Artona sedang berlatih ngeband. Marc pada drum, Sandi pada bass, dan Artona pada gitar melodi plus vokalis.

            “Hehe, dengan ini festival minggu depan kita bisa ikut! Cuma tinggal nunggu Revan aja lagi!” ucap Marc seraya menabuh drumnya tak beraturan. Sandi dan Artona hanya geleng-geleng melihat tingkahnya...

□□□

Terima Kasih Sudah Membaca Chapter Ketiga Novel Ini... Untuk Yang Selanjutnya, Aq Akan Berusaha Membuat Cerita Yang Lebih Menarik Lagi...     d(^_^)a

 

©2011 by Hikaru Xifos, Excessive Smart Adolescent

Read previous post:  
25
points
(4705 words) posted by Hikaru Xifos 8 years 42 weeks ago
83.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | drama | comedy | drama | teenlit
Read next post:  
80

tek dung des!

petaka datang!
tapi cukup lambat untuk ukuran novel, masalah yg baru muncul di bab tiga itu cukup lambat

Pembaca diajak enjoy dulu. Kalau ngasih mistery duluan, agak gimana gitu.. Ya, seperti reply aq sebelumx, awalx cerita ini comedy, tapi lama2 jd serius.. Hehe. Trims commentx.. XD

100

Maaf kalo saia baru ngomen di episode ini.
.
Saia gak mau mempermasalahkan ejaan atau penulisan atau apa. Saia cuma mau bilang bahwa saia suka cerita ini. Hum. Apalagi yang episode ini, ada banyak adegan-adegan misterius yang bikin pesanaran.
.
Teruskan!

Terima kasih... X) Maaf untuk huruf "P" yang tiba2 jadi kapital gitu... Kesalahan pada pengetikan replace di Microsoft Word sepertinya... XD Dan untuk cerita yg berikutnya penulisan akan dirombak, dan penjelasan akan ditambah. Tapi untuk gaya bahasa akan tetap mempergunakan logat Banjar dan Jakarta (Jepang dan Dayak ada juga sih...). Aneh banget kalau di Sampit ada bahasa baku loh... XDDD

70

itu yang di dalam kurung maksudnya pa ya? bagian dari cerita atau curhatan km?

Tergantung aja... X) Ada yang berisi penjelasan, ada juga yang curhatan hati kecilku... XDDD

80

Enjoy... XD