Eksperimen - Sebab Aku Jatuh Cinta

“Tolong aku.”

Begitulah kamu selalu datang kepadaku. Selalu dengan ucapan yang sama. Seperti patung bidadara yang menengadahkan tangan di sebuah mall yang kutemui dari bilik maya di kamarku. Oh, jangan salah paham. Bukan pengemis, tentunya. Apakah kamu tidak dengar kalau aku menyebutmu “bidadara”?

Seperti juga kali ini, kamu datang kepadaku beriringan sepasang permata hitam penuh permohonan. Coba bilang, bagaimana aku bisa menolaknya? Kamu membuat dirimu sendiri terjepit di antara koridor sempit menuju ruang terdalamku. Saat kukeluarkan kamu dari sana, lengan itu seketika menjangkau sudut ibaku. Mengapa kamu begitu mudahnya membuatku jatuh?

Sorot mata hitam itu seolah memintaku tak menyalahkanmu. Tapi, tentu itu hanya di pikiranku. Khayalku yang memaksa gumpalan merah muda di kepalaku membersitkan harap itu. Agar kamu menjelma Superman, yang bisa menembus isi gumpalan itu. Agar tak perlu kukeluarkan tanya itu.

Coba bilang, bagaimana aku bisa tidak menyalahkanmu? Seperti gerimis hangat di malam-malam dingin menjelang Tahun Baru tahun lalu, mengawaniku sampai datang pagi. Di sisi lain, sebuah gedoran beriring di perutku. Tak nyaman. Kamu tahu betul aku membenci hari-hari di mana aku tidak tahu apa yang terjadi. Dan malam itu, aku benci sekali saat tidak tahu penyebab rasa aneh di perutku. Itu gara-gara kamu, kalau kamu mau tahu.

Angin gemerisik meniupkan serpihan-serpihan mungil dandelion di ujung sana. Pelan-pelan hilang dari perspektif semuku. Mungkin itulah yang terjadi dengan “sesuatu” di dalam diriku. Ada yang hilang, mungkin tercuri. Aku masih tidak tahu apa. Kamu malah tidak mau tahu. Kalau begini, lama-lama aku bisa membencimu. Tapi tak kulakukan. Bukan tak ingin, melainkan tak bisa. Tahukah betapa menyebalkannya dirimu di saat-saat seperti itu?

Kamu hanya melompat-lompat saja, oleh sebab tangga tinggi itu. Sekalinya berhenti, kamu berbalik dengan kedua sudut bibirmu terangkat naik. Uluran tanganmu tak pernah kusambut. Dengan kaki kecilku ini, apakah kamu berpikir aku tak sanggup mendaki? Pandangan kosong saat aku melewatimu hanya membuatku semakin tenggelam. Gedoran di perutku makin menjadi. Jangan beri aku tatapan itu.

Angin gemerisik sekali lagi. Membawa pintaku entah ke mana, tak sampai padamu. Mungkin angin mulai bosan dengan racauanku kepadamu dalam diam. Mungkin angin merindukan hembusan udara bersama suara dari mulutku. Ah, bagaimana aku bisa menyampaikannya?

Segores, dua gores, hingga penuh selembar dengan operasi-operasi aritmatik di dalamnya. Kuulurkan tanpa suara. Kamu terima pula tanpa suara. Tak peduli seberisik apa manusia-manusia berjas putih laboratorium itu, bagiku—mungkin juga bagimu—hanya senyap yang ada. Canggung itu pecah, setelah sekian lama. Ucapanmu menembusku, membuatku kelu.

“Aku akan berhenti minta tolong, kalau itu mengganggumu.”

Apakah kamu tidak mengerti? Aku memang terganggu. Sangat terganggu. Sejak kemarin dulu, kemarin dulunya lagi, lalu kemarin dulunya lagi. Tapi, bukan oleh pintamu. Apakah kamu tak lihat senyum yang mengawani uluran tanganku kepadamu? Bukan karena itu aku diam, atau menghindar. Sekali lagi, kuharap kamu Superman. Lihatlah jauh ke dalam benakku, agar tak perlu aku angkat bicara. Aku tahu kamu tahu kesulitan komunikasiku.

Apa guna matahari ada? Apa guna bulan bintang melentera kelam malam? Semuanya toh lenyap oleh lubang hitam karenamu. Hanya sisa kegelapan itu sendiri. Juga sunyi.

Kamu sibak surai pekat di kepalaku, menepuknya pelan. Tahukah selebar apa kelopakku membelalak? Ah, tentu kamu tahu. Bukankah sepasang permata hitammu menembusku langsung?

“Aku takkan minta tolong lagi. Ini yang terakhir. Kamu mau dengar?”

Terakhir? Sebersit jenak yang menjelma teror buatku, bahkan angin tak berani berhembus. Aku diam. Kamu diam. Tak bisakah kamu usir senyap ini? Jangan buat atmosfer tegang ini bertahan.

“Jangan berhenti membantuku. Jangan berhenti peduli padaku. Bahkan, jangan berhenti untuk tetap di sampingku. Meski saling diam, tidak apa-apa. Jangan melihat orang lain. Jangan pergi, dan jangan biarkan aku pergi.”

Bukankah semua itu terlalu banyak untuk kamu sebut “terakhir”? Apa yang ingin coba kamu sampaikan? Semua itu bukanlah kata-kata yang sewajarnya terucap di antara sahabat. Aku tahu kamu tahu.

Gedoran di perutku tak hanya makin menjadi. Ia sudah menggila sekarang. Bahkan mulai merambah ke segumpal daging tak jauh di atasnya. Cepat, menghentak, tapi berirama. Irama yang menempatkanku antara nyaman dan tidak, senang dan tidak, gelisah dan tidak. Serba dilema. Mengapa kamu setega ini kepadaku?

Ah, lubang hitam itu sirna. Entah bagaimana, bukankah secara ilmiah itu sulit terjadi? Bahkan mungkin mustahil. Sekarang aku justru terjebak dalam inti matahari, lebur di dalamnya. Entah bagaimana bisa melewati tenggat titik didihku. Sudahlah, angin telah berbaik hati kepadaku. Ia tak lagi dingin dan tak berperasaan. Sebab ia mengabarkan pada langit agar memendam beban kepada awan. Tak ayal, titik-titik air langit itu jatuh.

Kamu tak coba menarikku meneduh. Kamu tahu aku suka gerimis, dan justru ikut menikmatinya bersamaku. Terima kasih.

Kamu memang tak bilang. Kamu memang masih tetap bisu soal makna permintaan terakhirmu itu. Tapi tak apa. Sebab rasaku cukup. Mungkin.

Sekali lagi, terima kasih.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Yafeth
Yafeth at Eksperimen - Sebab Aku Jatuh Cinta (9 years 30 weeks ago)
100

Wow! Saya terbiasa membaca cerpen yang ada di Ch*c. Dan bisa saya katakan cerita ini JAUH DI ATAS rata-rata cerita di majalah tersebut, yang saya jadikan acuan bagaimana bentuk bertutur wanita dalam cerita. Saya suka cerita ini karena lebih fokus pada isi kepalanya karakter. Bagus!

Writer januari
januari at Eksperimen - Sebab Aku Jatuh Cinta (9 years 30 weeks ago)
90

baguuus.... lumayan keren karyanya.
mudah-mudahan dilain waktu dapat menyambangi karya-karyamu lainnya dech.
singgahlah, jika ada waktu ke page aku...
http://www.kemudian.com/node/258539
see you.... yach.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Eksperimen - Sebab Aku Jatuh Cinta (9 years 30 weeks ago)
80

Saia... malah... terpikir satu judul game: Saya no Uta.
.
Entahlah. Mungkin karena si protagonis ini cewek yang memiliki gumpalan merah di kepala.
.
Ah tapi saia binun :3 mungkin dikau sengaja karena si protagonis juga lagi bingung (baca: narasinya muter-muter). Saia sampe baca ulang beberapa kali karena saia agaknya ketuker antara kiasan dengan kenyataan (baca: narasinya lebai).
.
Satu lagi: ini bukan murni POV 2.
*kabur*

Writer aocchi
aocchi at Eksperimen - Sebab Aku Jatuh Cinta (9 years 30 weeks ago)

yup, TUL sekali! narasinya lebai, namanya juga eksperimen ... ternyata susah sekali bikin narasi lebai yang gak berasa lebai -_-a
.
Eniwei, penyebutan PoV 2 nya saya ilangin *plak plak*

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Eksperimen - Sebab Aku Jatuh Cinta (9 years 30 weeks ago)

Sa-saia bilangnya tuh "ini bukan murni POV 2".
.
Ini bisa dibilang POV 2 karena merujuk ke pembaca, tapi ini bukan POV 2 yang bener-bener POV 2. Gimana ya jelasinnya? Hum... waktu itu soalnya saia pernah nemu skripsi orang sastra yang ngebahas jarak antara narasi, POV, pembaca, dan pengarang. Entahlah itu pdf udah ke mana, soalnya saia dapet dari ngegugel sih. Hehe.

Writer aocchi
aocchi at Eksperimen - Sebab Aku Jatuh Cinta (9 years 30 weeks ago)

Oke, saya gak gitu ngerti, tapi jadi pengen gali lebih banyak lagi soal PoV 2 ... dikau berhasil bikin saya terkontaminasi, Rea -_-a

80

POV 2 ya =) Coba hilangkan unsur ke-aku-an di sini, kak. Biar lebih bebas. Heheh.

Writer aocchi
aocchi at Eksperimen - Sebab Aku Jatuh Cinta (9 years 30 weeks ago)

saya hilangkan tulisan PoV 2 nya saja *uhukkeselekmonitoruhuk*
.
Lain kali mau nyoba lagi yang bener2 PoV 2 XD