Koneksi 1 : Menanti Fajar

Khata putih yang terikat di lehernya berkibar di antara hijaunya rerumputan, coklatnya tanah dan birunya langit.  Ia tahu, paham dan mengerti dengan sepenuh tubuh, hati dan jiwanya, bahwa inilah takdirnya.  Rambut pendek hitamnya berkeriapan dihembus angin, tapi ia tak peduli.  Bokongnya sakit akibat tak terbiasa, tetapi ia tak peduli.  Ini takdirnya, ini dirinya.

 

Seorang ksatria, petarung, penunggang kuda.  Hidupnya bergantung di padang rumput, di hutan, di sungai, di bawah langit nan biru dan arakan awan putih.  Nafasnya seirama angin, langkahnya sepacu kuda jantan hitam tunggangannya.  Ia tahu, ia telah kembali.  Momen satu setengah jam itu meyakinkan dirinya, bahwa hidupnya tergaris di punggung kuda.  Ia bukan pangeran, bukan tuan putri, bukan bangsawan.  Ia adalah ksatria, yang berperang di atas punggung kuda-kuda dan memegang panji-panji.  Ia adalah pejuang, mereka yang berteriak paling lantang di medan peperangan.

 

Namun semua itu tak mungkin bisa jadi miliknya.  Meski jiwanya haus akan teriakan perang, nyanyian kemenangan dan ritme memabukkan dari perjalanan panjang menunggang kuda.  Modernisasi dan kemajuan iptek memusnahkan panggilan jiwanya pada punggung kuda-kuda.  Jantan hitam yang jadi tunggangannya selama satu setengah jam itu pun kembali ke pemiliknya, sementara ia hanya bisa menatap penuh harap.  Satu setengah jam di mana ia benar-benar merasa 'hidup'.  Bukan hanya selongsong kosong yang terombang-ambing dihempas arus waktu.  Langit, bumi, selama satu setengah jam itu ia ingat akarnya.

 

Panas matahari.  Kemilaunya di atas rumput, di atas air, di atas tanah.  Wangi rumput, tanah dan air yang terbawa angin.  Birunya langit dan hijaunya rumput, seakan horizon tanpa batas.  Arus waktu seakan terhenti, atau melambat.  Kemerisik khata yang tertiup angin sewaktu kudanya berlari....

 

Semua kini hanya memori.  Memori yang menemani di kala malam-malam panjang penuh kesunyian ketika ia sendirian menatap monitor putih tanpa tujuan.  Pikiran dan perasaan berkecamuk tiap kali ia mengingat momen-momen satu setengah jam di atas punggung kuda.  Mungkin karena sedikit banyak ia mewarisi sifat-sifat dari seekor kuda.  Ia mencintai kebebasan, padang rumput luas dan langit biru yang terbentang tanpa batas.  Tanpa batasan.  Tanpa aturan.  Tanpa moral yang mengekang setiap langkah, pikiran, perkataan dan tingkahnya.  

 

Koneksi yang dirasakannya dengan bumi, dengan langit pada punggung kuda.  Koneksi tanpa kata, tanpa wujud, hanya rasa.  Terhubung.  Kembali.  Rasa nostalgia akan sebuah kenangan lama.  Terlalu lama, hingga untuk wujud dan rupa, aroma, warna dan detil semua sudah terlupakan.  Hanya rasa tersisa.  Rasa yang tak terkatakan, terwujud dalam emosi dan tawa, teriakan dan tindakan.  Bahagia.  Hidup.

 

Rasa yang tak didapatkannya dari hubungan antar manusia.  Baginya, semua itu hambar.  Hanya mimpi dan angan sekejap mata, meski dibubuhi 'selamanya' di sana-sini.  Baginya itu semua tanpa arti, tanpa makna, tanpa rasa.  Tiada rasa bahagia, tiada rasa hidup.  Hubungan hanya hubungan dalam nama.  Tiada koneksi, tiada rasa nostalgia.  Hanya selongsong kosong yang dibuai arus waktu.

 

Kini ia kembali ke kehidupan tanpa perasaan.  Tanpa hidup, tanpa bahagia, tanpa sedih, tanpa koneksi.  Hidup dibuai arus, dihembus angin, tanpa akar, tanpa rumah.  Hanya dirinya, yang tidak terasa seperti dirinya, mengembara ke sana ke mari.  

 

Mencari apa, ia tak tahu.  Pikirannya penuh, sesak.  Harus dituangkan, tetapi ia tak mampu.  Belenggu demi belenggu mengikatnya erat hingga ia sesak.  Moral, aturan, hukum, norma.  Semua jadi belenggunya.  Pikirannya tak boleh melenceng, harus lurus.  Hidupnya bukanlah miliknya, tapi milik orang lain, orang-orang yang berpikir kalau hidupnya seharusnya menjadi milik mereka.  Para Pengawas.  Pekerjaan mereka, tidak lain tidak bukan mengawasi setiap individu.  Apabila ada bibit yang berbeda atau abnormal, harus dipisahkan agar tidak mencemari yang lain.  Dipisahkan dan dilabeli, masing-masing menurut jenisnya. 

 

Ia sering berpikir dan merenung, bertanya label apa yang akan diberikan pada dirinya?  Ia tak peduli, tentu saja.  Hanya saja pikiran akan pengasingan membuatnya waspada, ia harus tenang, harus pasif dan membungkus dirinya sebaik mungkin.  Dalam malam-malam panjang di balik bilik-bilik tembok mungil ia bersiap dan menunggu.  Menunggu datangnya secercah fajar kesempatan. 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Penulis Sang Terpilih
Sang Terpilih at Koneksi 1 : Menanti Fajar (9 years 26 weeks ago)
70

Sedikit masukan, kata 'iptek' yg bener 'IPTEK' krn itu kan singkatan.
ceritanya bertele-tele. Tapi bagus kok, tetep dpt menarik pembaca. Pengetahuan kosakatamu juga bagus. Aku yakin dikau mempunyai peluang besar kepenulisan.
Salam kenal, jangan sungkan-sungkan mampir ke postinganku.

Penulis dansou
dansou at Koneksi 1 : Menanti Fajar (9 years 30 weeks ago)
80

Uoooohhh... *bingung mau komen apa*

Penulis petung
petung at Koneksi 1 : Menanti Fajar (9 years 30 weeks ago)
60

terlalu bertele-tele..tp aku terus baca sampe habis karena penasaran ini masalahnya apa...
ternyata masih juga belum selesei kebimbangan si choosen one ini. the choosen one yang lagi stress? action dong, jangan lama - lama... gw nunggu nih

Penulis Yafeth
Yafeth at Koneksi 1 : Menanti Fajar (9 years 30 weeks ago)
80

PertamaaX! (?) Mengalur, mengalun, mengalir!
Satu alir dari hilir ke hulu
Balik putar namun terasa segar *halah! GAJE!*
.
Ceritanya bergerak di Tibet,ya? Tadi sempat cari tentang khata. Dapatnya dari wiki, itu sejenis scarf. Mungkin baiknya dalam narasi digambarkan khata itu benda apa.
.
Dan, maafkan pertanyaan bodoh ini, yang bagian low fantasinya di mana, ya? Bacanya saya masih terikat di Bumi sepenuhnya. Ugh, pasti karena standar low fantasyku cerita Sang Perantara.
.
Secara keseluruhan saya suka narasinya.
Permisiiiii~~~!