Tantangan Lagu: Museum Patah Hati

Hai, Carter. Apa kabarmu sekarang? Tak terasa hampir sepuluh tahun kita tak bertemu. Uhm, kurasa aku sedikit merindukanmu. Tapi tak perlu khawatir, aku takkan menghubungimu dan mengganggu kehidupanmu sekarang. Aku tahu kini kau sangat sibuk mencalonkan diri menjadi walikota Zagreb, padahal kau berdarah campuran Asia-Eropa. Haha, sejak dulu kau memang pemberani. Jadi aku datang untuk mendukungmu. Sekali lagi kutegaskan, aku takkan mengganggumu.

 

Oh ya, kemarin aku baru saja mengunjungi salah satu tempat wisata yang paling terkenal di kota ini: Museum Patah Hati. Museum itu benar-benar keren! Lucu juga melihat orang-orang memamerkan barang-barang pribadi mereka sambil menceritakan aib dan perasaan sentimentil mereka. Kebanyakan dari mereka bercerai, ada cerita kematian, ada juga yang hanya menjadi cinta tak terbalas. Mulai dari benda-benda umum, lucu, unik, sampai alat aneh dan berbahaya ada di sana. Sangat menarik. Aku juga ikut menyumbangkan satu benda kenangan kita pada museum itu, sebuah benda yang pernah menyatukan sekaligus memisahkan kita berdua.

 

Sejak pertama kali bertemu kau seharusnya tahu aku bukanlah gadis baik-baik. Malam itu kau menemukanku di sudut tempat parkir diskotik, sedang menangis dan sakaw, memohon padamu untuk memberiku sedikit obat terlarang dengan imbalan keperawananku. Kau terlalu baik, Carter. Kau mau mengantar gadis yang tak kau kenal ini pulang, dan kau tak melakukan apapun padaku. Maksudku, kau sangat berbeda dari pria brengsek yang menjerumuskanku ke dalam kehidupan busuk itu.

 

Seminggu kemudian kita bertemu lagi di restoran cepat saji tempatku bekerja. Aku memberimu tambahan burger dan kentang goreng gratis sebagai tanda terima kasih atas kebaikanmu waktu itu. Namun kau tetap membayar, dan malah memberikan hadiahku itu pada gelandangan di seberang jalan. Kau tersenyum dan minta maaf, mengatakan bukannya kau tak menghargai pemberianku, kau hanya senang berbagi. Menurutku kau sangat aneh, Carter. Seumur hidupku aku belum pernah bertemu pemuda sebaik kau. Waktu itu kupikir kau hanya pria munafik yang sengaja pamer kebaikan di hadapanku.

 

Setelah itu kau makin sering datang ke restoran, entah sendiri atau bersama-sama temanmu. Sepertinya kau sengaja datang saat giliranku bekerja, membuatku yakin kau sedang berusaha mendekatiku. Karena makanan di restoran ini tak seenak yang kau katakan pada teman-temanmu. Aku tak mengerti apa yang kau suka dariku. Aku sering mendapatimu sedang memperhatikanku ketika membersihkan meja. Kau melihat wajahku, menatap mataku, bukan dada atau bokongku. Tingkahmu sungguh tak wajar. Sampai akhirnya setelah mendapat dukungan dari teman-temanmu, kau meminta nomor teleponku.

 

Kisah kita berlanjut dari teman menjadi pacar. Lalu kau mulai mengenal kehidupanku yang sangat berbeda jauh dari kehidupanmu yang sempurna. Kau membenci ayahku yang suka minum dan menelantarkanku. Kau tak suka pada teman-temanku di diskotik dan klab malam. Dan kau pun mulai kehilangan minat padaku yang bekerja seharian hanya untuk teler di malam harinya. Waktu itu aku yakin kau akan segera meninggalkanku seperti pria lainnya. Tapi kau malah menyeretku ke dalam duniamu.

 

"Jadi kau yang bernama Eva, Carter sering bercerita tentangmu. Aku Reina, sepupu Carter." Gadis berwajah oriental itu menyapa dan menjabat tanganku. "Aku tak menyangka kau orang Ne--maksudku warna kulitmu bagus, mungkin itu yang membuat Carter tertarik padamu. Yaah, sepupuku itu memang suka segala hal yang unik," lanjutnya entah memuji atau mengejekku.

 

"Reina, jangan ngobrol saja. Bantu aku bawa barang-barang ini," seru seorang pemuda pada gadis itu. Reina pun bergabung bersama teman-temannya membawa barang ke dalam pondok sederhana yang kita sewa untuk menginap selama liburan musim dingin. Aku pun ingin membantu, tapi kudengar sepupumu itu berbisik membicarakan penampilan dan pakaianku.

 

"Ada apa?" Kau memeluk pinggangku dari belakang sedangkan tangan kananmu memanggul peralatan ski. Aku hanya menggeleng. "Tenang saja. Lupakan ayahmu, lupakan pekerjaanmu, lupakan semua masalahmu. Tempat ini akan membersihkan jiwamu. Akan kutunjukkan padamu keindahan dunia yang sesungguhnya," kata-katamu itu membuatku tersenyum.

 

Kurasa saat-saat itu menjadi kenangan kita yang paling membahagiakan, terutama bagiku. Kita meluncur dan bermain ski sepanjang hari, terjatuh dan tertawa bersama, saling melempar salju dan membuat boneka salju. Duniaku pun jadi lebih cerah karena terpengaruh oleh keceriaanmu. Selain Reina, teman-temanmu yang lain bisa menerimaku dengan baik. Mereka tak segan bercanda denganku, kita saling bercerita lalu minum anggur sampai mabuk, bersenang-senang tiap malam dan siang. Perlahan kau pun berhasil menjauhkanku dari pengaruh narkoba, karena bercinta denganmu lebih nikmat daripada ilusi obat terlarang itu. Lalu, semuanya berubah, saat siklus bulananku berhenti...

 

"Eve, kau hamil?" tanyamu menyuarakan ketakutanku, ketika kau menemukanku sedang mengeluarkan isi perutku di wastafel.

 

"Mungkin aku hanya kebanyakan makan..." Tanpa mendengarkan pembelaanku, kau langsung memelukku erat lalu berlari keluar.

 

"Semuanya, aku akan jadi ayah! Aku akan jadi ayah!" Reaksimu sungguh di luar dugaanku. Reina dan teman-temanmu juga terkejut dan kebingungan melihat kegembiraanmu.

 

"Tapi... belum pasti aku hamil," sahutku menyela.

 

"Kita periksa ke dokter!" jawabmu tanpa berpikir. "Terima kasih, Eve. Aku sangat senang. Aku akan menikahimu, kita akan membesarkan anak ini bersama-sama," lanjutmu disambut sorakan, tepuk tangan, dan ucapan selamat dari teman-temanmu. Aku tak melihat Reina, dia pasti sedang menangis di suatu tempat.

 

Ternyata dugaanmu benar, aku hamil. Aku tak mengerti mengapa ini tak jadi masalah untukmu. Lalu kau menceritakan mimpimu padaku, tentang menjadi pengusaha yang sukses, menikah dengan gadis baik, punya banyak anak, dan membangun keluarga yang bahagia. Urutannya memang berbeda, tapi kau tetap senang dua impianmu akan terwujud. Kau salah, Carter. Kau salah memilihku karena aku bukanlah gadis baik dalam impianmu. Aku tak meragukan kemampuanmu mengubahku menjadi wanita baik di masa yang akan datang. Tapi masa laluku, dan keadaan ini, orangtuamu takkan pernah menerimaku.

 

Tak ada senyum atau keramahan yang kuterima saat kita berkunjung ke rumahmu di Maribor. Ayahmu adalah pria Jepang yang keras, jelas sangat menentang rencana pernikahan kita. Ibumu wanita Slovenia yang anggun, tak mengatakan apapun untuk membelamu, dan memandang rendah diriku karena warna kulitku yang gelap. Mungkin Reina telah menceritakan semua keburukanku pada mereka, membuat mereka semakin membenciku. Setelah pertengkaran panjang dan saling berteriak dengan ayahmu, kau membawaku keluar dari rumah itu. Kau bersumpah takkan pernah kembali sampai mereka merestui hubungan kita. Mengapa, Carter? Mengapa kau menghancurkan hidupmu sendiri demi aku?

 

Akhirnya kita tetap menikah di catatan sipil. Tanpa restu dari orangtuamu kita tak mungkin menikah di gereja. Jadi tak ada pesta, gaun indah, cincin berlian, kue bertingkat, atau bulan madu di luar negeri. Hanya perayaan kecil bersama teman-teman dan kesibukan membangun keluarga baru. Untuk sementara kita menyewa apartemen sempit sampai buah hati kita lahir. Kau pun mulai bekerja sambilan di beberapa tempat sambil tetap kuliah, melarangku ikut membantumu demi kesehatan kandunganku. Setiap hari kulalui dalam perasaan bersalah. Tapi kau selalu meyakinkanku bahwa kau bahagia, aku bukanlah bebanmu, dan kau tak pernah menyesal menikah denganku.

 

"Reina?"

 

"Hai, Eva. Aku berkunjung." Gadis itu menyapaku dengan senyuman ramah sambil menunjukkan bingkisan yang tampaknya berisi jajanan dari Jepang. Tanpa curiga aku mempersilahkannya masuk.

 

"Carter masih bekerja, mungkin setengah jam lagi dia pulang."

 

"Tidak, aku ingin bertemu denganmu," sahutnya berjengit sebentar sebelum duduk di sofa.

 

"Kumohon Eva, lepaskan Carter." Aku hanya diam menunggunya melanjutkan kalimatnya. "Apa kau tak sadar kalau kau sudah membuat Carter menderita? Dia diusir dari rumahnya, dia harus susah payah bekerja untukmu, dia hampir melepaskan impiannya karenamu! Kalau kau mencintainya seharusnya kau menghilang dari kehidupannya!" serunya terengah dipenuhi amarah.

 

"Sudah? Hanya itu yang ingin kau sampaikan? Baiklah, aku mengerti. Sekarang bisakah kau pergi? Aku harus menyiapkan makan siang untuk suamiku."

 

Aku segera membukakan pintu untuknya. Gadis itu menatapku tajam penuh kebencian lalu pergi. Bingkisannya tertinggal. Biarlah, kupikir kau akan merindukan makanan dari tempat asal ayahmu. Tak pernah kusangka makanan itu akan jadi penyebab...

 

Dua hari kemudian aku mengalami pendarahan, aku keguguran. Dokter mengatakan aku terlalu banyak minum obat yang berbahaya bagi janinku. Aku sangat terpukul. Kau sangat marah dan kecewa. Kau pikir aku sengaja menggugurkan anak kita. Kau pikir aku masih sering merokok dan memakai narkoba di luar pengawasanmu. Tidak, seharusnya kau tahu aku tak mungkin tega membunuh bayiku sendiri. Kau tak percaya padaku. Kita bertengkar setiap hari. Hingga akhirnya kau meninggalkanku, membiarkanku terpuruk dalam kesedihan.

 

Seminggu kau pergi tanpa kabar. Kupikir hubungan kita telah berakhir. Namun suatu hari kau kembali lagi, menyapaku, memelukku, menciumku seperti biasa, seolah tak ada yang terjadi. Kau mengatakan tak bisa jauh dariku, kau minta maaf karena tak percaya padaku. Kau sungguh bodoh, Carter. Mengapa kau terlalu baik padaku? Tentu saja aku memaafkanmu, aku pun minta maaf karena tak bisa menjaga anak kita. Malam itu kita menangis bersama, saling memaafkan, dan membersihkan hati kita. Maka kita bisa menghadapi hari esok dengan ceria sebagai pasangan yang tak terpisahkan.

 

Tak perlu waktu lama sampai kusadari aku telah mengandung lagi. Anak kita yang kedua. Dengan sangat hati-hati kita menjaganya, memeliharanya, sangat tak sabar menanti kelahirannya. Delapan bulan berlalu, perutku semakin besar, sebesar harapan kita padanya. Hampir setiap hari aku memeriksakan diriku ke dokter kandungan, memastikan semuanya baik-baik saja. Kau pun makin giat bekerja dan menyelesaikan pendidikanmu. Kehadiran anak ini akan jadi hadiah kelulusanmu. Puncak kebahagiaan kita telah terlihat.

 

"Di sini kau rupanya!"

 

"Ayah!? Bagaimana... bagaimana bisa kau tahu tempat tinggalku?" Tak terkira betapa paniknya aku melihat pria tua gendut itu berdiri di depan pintu.

 

"Gadis Asia yang cantik memberitahuku. Dia bilang kau sudah menikah dengan orang kaya, ternyata dia bohong." Ayahku memaksa masuk dan memperhatikan seisi apartemen kita. "Bagus juga. Di mana suamimu? Apa dia meninggalkanmu?" Tanpa permisi ayah masuk ke kamar kita.

 

"Ayah, apa yang kau lakukan!?"

 

"Aku butuh uang. Di mana kau menyimpan uangmu?" Ayahku membuka semua laci, membongkar lemari kita, mencari di bawah tempat tidur. "Aku tahu! Kau biasa menyembunyikan uang di dapur." Aku harus menghentikannya!

 

"Tidak! Jangan, Ayah! Uang itu untuk anak kami, untuk cucu Ayah! Kumohon jangan ambil uang itu!" Aku berusaha menahannya, tapi dia merampas kotak berisi buku tabungan dan semua uang kita!

 

"Berisik! Dasar anak durhaka! Padahal aku sudah membesarkanmu, tapi lihat dirimu. Kau sama seperti ibumu, kalian meninggalkanku untuk tinggal bersama pria yang lebih kaya! Hanya karena aku miskin! Dasar anak tak berguna!" Ayah menjambak rambutku, memukulku, menendang perutku! Ayah tak berhenti sampai aku pingsan. Lalu dia pergi setelah merebut harta kita yang paling berharga.

 

Tidak! Tidak! Tidaaakk! Aku... aku keguguran lagi... Aku kehilangan bayi kita lagi! Bagaimana ini? Apa... apa yang harus kulakukan? Aku tak bisa membiarkanmu melihatku seperti ini. Aku tak mungkin memberitahumu apa yang terjadi! Aku tak bisa menghancurkan harapanmu lagi! Kau akan membenciku lagi. Kau akan meninggalkanku lagi. Aku... Aku...

 

"Tinggalkan Carter." Gadis itu berdiri di hadapanku, tersenyum penuh kemenangan melihatku merangkak bersimbah darah.

 

"Reina... tolong aku..."

 

"Berjanjilah padaku kau akan meninggalkan Carter. Berapa kalipun kau hamil, aku akan membunuh anakmu. Atau kalau itu masih belum cukup, entah apalagi yang akan kulakukan pada kalian. Jadi sebaiknya kau berjanji takan pernah mengganggu Carter lagi!"

 

Aku tak bisa berpikir, rahimku nyeri karena terus mengeluarkan darah, pandanganku kabur oleh air mata. Maka aku terpaksa menerima kesepakatan itu. Aku terpaksa meninggalkanmu, Carter.

 

Hai, Carter. Hari ini aku kembali ke Museum Patah Hati. Bukan apa-apa, aku hanya ingin melihat kembali benda yang kutinggalkan di sini. Mereka memajangnya tak jauh dari boneka-boneka. Sebuah kotak putih kecil, dengan tanda silang merah di tengahnya. Alat tes kehamilan yang kupakai untuk memastikan kehamilan keduaku. Kuharap benda ini luput dari perhatianmu saat kau berkunjung ke sini. Karena mereka menyertakan tahun dan cerita tentang kegagalanku mempertahankan anak yang jadi pengikat hubungan kita.

 

Tidak, aku tak boleh menangis lagi. Dengan meninggalkan alat ini di sini, aku akan melepaskan semua kesedihan masa lalu kita. Meskipun begitu aku tetap menyimpan cintamu dalam hatiku, Carter. Aku cuma perlu melangkah maju, karena sekarang aku bertanggung jawab atas kebahagiaan anak-anak malang yang tak pernah mengenal orangtua mereka. Mereka anak-anak yang lahir karena cintamu, meskipun bukan dari rahimku. Selamanya aku akan mencintai mereka seperti cintaku padamu dan pada anak kita yang telah tiada.

 

Perhatianku teralih oleh kerumunan di sampingku. Beberapa wanita tampak terharu mengelilingi sepasang pakaian bayi kembar berwarna biru dan merah muda. Aku yang penasaran juga mendekat untuk membaca ceritanya. Nama kota dan tahunnya sangat kukenal. Cerita itu... Ternyata cerita itu adalah...

 

Sepasang Pakaian Bayi

 

1997-2000

Ljubljana, Slovenia.

 

Aku membeli kedua pakaian ini di tahun yang berbeda untuk kedua anakku. Mereka tak pernah lahir karena istriku keguguran dua kali. Cliff dan Ellie, itulah nama yang ingin kuberikan pada mereka, atau pada anakku selanjutnya. Istriku telah pergi, mungkin dia kecewa karena dua kali gagal mempertahankan anak kami. Tapi aku ingin dia tahu, sampai kapanpun aku akan selalu mencintainya. Selalu dan selamanya. Cliff dan Ellie pasti takkan memaafkanku kalau aku terus menyalahkan ibu mereka. Kuharap aku bisa bertemu lagi dengannya, minta maaf dan menukar semua penderitaannya saat bersamaku. Atau kalau kami memang tak bisa bertemu lagi, kuharap dia bisa menemukan kebahagiaannya.

 

 

Read previous post:  
50
points
(3263 words) posted by yellowmoon 10 years 17 weeks ago
71.4286
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | just be friends-megurine luka | songfic | teman
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 42 weeks ago)
100

keren.. T_T sedih juga...

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 39 weeks ago)

begitulah ^__^a
terima kasih

Writer dede
dede at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 43 weeks ago)
100

woowwwww....
daebakk
kereeennnn bangettt!!!!
seandainya mereka bisa bersatu lg....
closingnya nendang banget
seandainya saja diriku disana, reina pasti kubunuh, kucincang2 tiada ampun *sadis mode on* :p

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 39 weeks ago)

wogh o__o
terima kasih sudah membaca ^__^a

70

Nice plot :D
judulnya menarik =)

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 44 weeks ago)

terima kasih ^__^

Writer KD
KD at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 47 weeks ago)
100

Zagreb itu kan Kroasia?

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 47 weeks ago)

benar ^__^

Writer SnowDrop
SnowDrop at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 47 weeks ago)
80

Pertama, makasih banyak, karena berkat dirimu, gw jadi tau ada yang namanya museum patah hat di dunia ini. gw sampe search webnya lho. haha
.
kedua, gw pribadi cukup suka sama ceritanya. kurangnya cuma satu, agak sinetroniyah. jadi bikin agak2 meringis waktu bacanya. :D
.
tapi enihaw, selamat, udah berhasil nyelesein tantangan yg ga bisa gw selesein OTL. >.<
.
ah, dan btw, gw baca udah dari pertama cerita ini diposting sih, tapi lupa mo ngomen XD

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 47 weeks ago)

wahaha, saya juga bingung bagaimana memperbaiki adegan sinetron itu, ada saran? ^__^a

100

ceritanya manis banget.. >.<
ngga cengeng tapi bikin terharu.. :')

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 47 weeks ago)

terima kasih sudah membaca

Writer Erick
Erick at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 50 weeks ago)
100

Ini seperti kisah pemikat hati, kumpulan cerita Chicken Soup For The Soul...

dan harus kutegaskan bahwa cerita ini :

sangat menyentuh hatiku! :'-(

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 47 weeks ago)

terima kasih ^__^a

Writer Hompimpa
Hompimpa at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 50 weeks ago)
90

Wuih keren ceritanya ,,

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 50 weeks ago)

terima kasih ^__^

Writer Lentog
Lentog at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)
80

wah !! benar2 sedih ceritanya ... T__T

endingnya ak suka :)

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)

terima kasih ^__^

Writer lavender
lavender at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)
100

astagaaaa..... aku pengen nangiiiiiiiiisssss..
astagaaaa..... ini cerita paling sedih dan paling romantis yang pernah kubaca!!!
astagaaaa..... bener2 pengen nangiiisss... atau karena ini pengaruh hormon diriku yang seorang ibu? uhuhuhuhuhuhuhuhu...

T_T

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)

wogh, maaf sudah membuat anda menangis
saya cukup kesulitan menulis emosi tokoh utama krn saya tak tahu bagaimana rasanya jadi ibu, syukurlah anda bisa memahaminya ^__^a
terima kasih sudah membaca

Writer ayanapunya
ayanapunya at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)
70

kereenn..tantangan lagu maksudnya apa ya? maklum saya newbie di sini

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)

tantangan di forum, menulis cerita berdasarkan sebuah lagu ^__^a
selamat bergabung

100

ahhhh.. keren,,, ak sukaaaa....
ada beberapa typo sih, salah satunya sperti yg diberitahu kure.. tp selebihnya, i luv this storie :)

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)

terima kasih banyak
sudah saya perbaiki ^__^

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)
90

Aaah,,, suka endingnya ><
Agak kurang puas sama bagian tengahnya, habis sinetron banget ^^a.
ada typo. takan harusnya takkan

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)

haha, memang terlalu dramatis ^__^a
terima kasih

Writer H.Lind
H.Lind at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 52 weeks ago)
80

Damn endingnya keren, ga nyangka sama sekali. Saya suka gambarnya dan isi tulisan terakhirnya. :)
.
Mungkin yang kurang adalah deskripsi tempatnya. Saya juga ga ngebayang sih slovenia kayak gimana. Dan kenapa di paragraf pertama dikesankah bahwa Carternya mau jadi walikota? Saya jadi kebawa kesan ada hubungannya walikota/ideologi politik dengan cerita ini. Btw Zagreb dmn?
.
Museum patah hati beneran adakah? Kalau ada saya mesti buat impian buat berkunjung ke sana tuh. :P
.
Selebihnya, saya menikmati cerita ini. :D

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)

haha, saya juga tak tahu slovenia seperti apa ^__^a
zagreb adl kota di Croatia, sepertinya dekat pegunungan alps
ttg walikota itu hanya basa-basi saja, sbg alasan Eve datang ke Zagreb dan penanda Carter sudah jd pengusaha sukses spt impiannya
.
museum sebenarnya adl Museum of Broken Relationships, saya tak tahu apakah pakaian bayi dan alat tes kehamilan dalam cerita ini benar2 ada di sana ^__^a
.
terima kasih

Writer januari
januari at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (10 years 6 hours ago)
90

lumayan baguuus, dan cukup inspiratif.
see you, yach. prosa dan prosa.

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (9 years 51 weeks ago)

prosa ^__^a
terima kasih sudah membaca

Writer dansou
dansou at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (10 years 8 hours ago)
100

Uooooh... kereeen... Saya pikir entar ada yang mati, sih, soalnya lagunya cerita gitu. Tapi enggak masalah deh *plak*
.
Deskripsinya oke, narasinya juga oke. Mantaap sekali, kak Greg ^^
.
Makasih udah berpartisipasi :D

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Lagu: Museum Patah Hati (10 years 6 hours ago)

memang ada yg mati, anak mereka ^__^a
wogh, terima kasih