Untitled

Terik matahari tak menyurutkan semangat sekelompok remaja yang bermain sepak bola di lapangan gersang sore itu. Apalagi Arto, pemuda 15 tahun itu tetap gesit menggiring bola melewati lawannya. Ketika merasa cukup dekat dengan gawang yang terbuat dari dua pancang tiang bambu, dia menendang sekuat tenaga. Meleset, bola itu melambung tinggi karena tak ada jaring gawang yang menahannya, terus melambung lalu menghilang di balik perumahan.

 

"Bah!" umpat Arto. Adzan berkumandang tanda akhir pertandingan, tim Arto kalah dengan skor 3-5.

 

Berlari meninggalkan tim lawan yang bersorak dan kekecewaannya, pemuda kurus itu bergegas mencari bolanya. Menurut perkiraannya bola itu pasti jatuh di sudut jalan dekat tempat penampungan sampah. Tidak ada. Arto menghela napas kesal kemudian mendekati rumah tua di samping gundukan sampah. Teman-temannya memberitahu bahwa rumah itu berhantu, karena itulah tak ada yang berani tinggal di sana. Saat akan memanjat masuk jendela, mata Arto menangkap segilima hitam putih bolanya dekat tumpukan gelas plastik.

 

Tersenyum, Arto memungut bolanya yang sedikit kotor lalu melangkah pulang. Dia tak menyadari ada bayangan samar berjalan mengikutinya.

 

---

 

Malam itu entah mengapa Arto merasa sangat lelah. Dia meninggalkan PR matematikanya lalu beranjak tidur. Matanya berat memandang bola di atas lemari. Seolah bola itu berputar menayangkan segala impiannya. Dia membayangkan jadi pemain sepak bola profesional, memenangkan berbagai pertandingan di dalam dan luar negeri, bertanding bersama pemain terkenal idolanya, sampai meraih piala dunia. Bola itu berputar terlalu cepat sehingga terlihat seperti telur kelabu.

 

Kraak krrrk prrrtk...

 

Bola itu retak! Satu, dua, tiga, empat retakan bergerigi seolah membentuk wajah pahatan labu halloween. Retakan di bagian mulutnya semakin panjang, semakin lebar. Gumpalan seperti lidah mencoba merangkak keluar. Dari dalam mulut itu melimpah darah kental hitam, melompat-lompat serupa lintah menuju tempat tidur Arto!

 

...ma...ma...

 

"Ar! Arto!!" seru seorang wanita memanggilnya.

 

"Hah? Apa? Apa, Bu? Ada apa?" Arto melonjak bangun menanggapi panggilan ibunya. Dia kebingungan melihat bola di atas lemari yang tak bergerak ataupun berubah menjadi monster. Sepertinya dia baru saja bermimpi.

 

"Makan dulu, baru tidur!" sahut ibunya dari ruang makan. Mengusap keringat dingin di dahinya, Arto segera keluar kamar berusaha melupakan mimpi buruknya tadi.

 

---

 

Plung plung...

 

Dua kali batu pipih yang dilemparkan Arto terpantul di permukaan sungai. Dia mencari batu pipih lainnya ingin mencoba tiga pantulan. Namun serpihan kaca melukai jarinya. Pemuda itu mengumpat lalu mencuci jarinya di air. Darahnya melebur bersama warna jingga senja yang tercermin dari langit.

 

Tiba-tiba jari Arto juga ikut mencair seperti lilin, terus melebur sampai pergelangan tangannya. Arto menjerit saat sebuah tangan merah menarik lengannya, merayap menggeliat ke arah bahunya. Dengan panik Arto menghempaskan makhluk itu ke tepi sungai. Dia tercengang melihat onggokan daging itu menjelma menjadi sosok balita perempuan. Masih merayap mendekatinya, memanggilnya...

 

...ma...mama...

 

"Arto! Di situ kau rupanya!"

 

Pemuda itu terengah menatap sosok monster lain di atas jembatan. Bukan, ternyata sosok itu manusia. Dia Fara, tetangga sekaligus teman sekelas Arto.

 

"Beraninya kau bolos sekolah! Ibumu mencarimu. Kukira kau ada di warnet!" seru gadis itu melotot padanya.

 

"Oh, hai Fara. Aku... tak bisa ke warnet... ada razia..." jawab Arto tergagap, membuat temannya heran. "Kau lihat tadi? Tadi ada monster! Di sungai!"

 

"Jangan meledekku. Mungkin yang kau lihat tadi bayanganku," kata Fara agak tersinggung. Separuh tubuh dan wajah gadis itu memang dipenuhi bercak putih tak wajar. Bukan panu, itu bekas luka bakar yang dideritanya waktu kecil karena tak sengaja tercebur dalam wajan berisi air mendidih.

 

"Bukan kau! Tadi beneran ada monster, di sana! Tanganku... tanganku putus!" teriak Arto sambil menunjukkan tangan kanannya yang kelihatan baik-baik saja bagi Fara.

 

"Sudah, jangan bicara sembarangan. Ayo pulang!" Gadis mungil itu menyeret temannya menjauhi sungai yang semakin gelap ditelan malam.

 

---

 

Sejak kejadian di sungai itu, Arto semakin sering melihat penampakan hantu gadis kecil. Hantu balita itu menangis tiap malam di kamarnya, menjerit tiap siang, dan selalu memanggilnya mama. Entah sudah berapa kali Arto berusaha mengusirnya, namun monster penuh darah itu tetap datang berusaha meraihnya. Orangtua Arto jadi cemas, mereka minta bantuan dokter sampai dukun karena berpikir anak mereka sedang sakit.

 

"Hai Fara." Gadis itu terkejut melihat Arto memanjat masuk lewat jendela kamarnya.

 

"Ar! Apa yang kau lakukan di sini!?" seru Fara agak berbisik agar tak membangunkan orangtuanya.

 

Tanpa ragu pemuda itu duduk di kaki ranjang Fara. "Gadis itu ada di kamarku, anak berdarah itu! Aku sudah tak tahan lagi. Kalau begini terus mereka akan membawaku ke rumah sakit jiwa. Aku tidak gila! Hantu itu memang ada di sana!"

 

"Sssstt... Ar, jangan berisik! Tenang dulu," bisik Fara berusaha menenangkan temannya.

 

"Mengapa bisa jadi begini? Apa salahku? Mengapa gadis kecil itu terus menggangguku?"

 

"Hey, Ar. Jangan-jangan kau masuk ke rumah hantu dekat pembuangan sampah itu, ya?" tebak Fara.

 

"Itu dia! Aku memang pernah sekali ke sana. Tapi aku tak masuk ke dalam." Pemuda itu berpikir keras. "Apa ada gadis kecil yang meninggal di rumah itu?"

 

Fara mengangkat bahunya sedetik. "Entahlah, kudengar dulu penghuni rumah itu juga sering lihat penampakan dan mendengar suara aneh. Tunggu sebentar!" Tanpa menjelaskan apapun gadis itu keluar dari kamar, meninggalkan Arto sendirian.

 

Arto resah, sesekali dia menyibak tirai jendela untuk mengintip rumahnya. Terlihat lampu kamarnya berpendar kuning temaram. Mendadak muncul siluet hitam di depan jendel kamar itu! Arto gemetar, hantu itu ada di sana, sedang menatapnya. Dia bisa mendengar kaca jendelanya retak, retakannya terus merambat seperti cabang pohon, satu persatu pecahannya berjatuhan. Wajah lebam penuh darah gadis itu mulai terlihat...

 

Tepukan di bahu Arto mengejutkannya. Rupanya Fara sudah kembali, dia membawa kotak pipih persegi hitam, mungkin laptop ayahnya.

 

"Mungkin kita bisa mendapat sesuatu dari sini," gumam Fara sambil membuka laptopnya dan mengetikan alamat rumah berhantu itu pada situs pencarian. Arto mendekat ikut penasaran dengan hasilnya. "Tidak ada. Coba..." lanjut gadis itu mengetikan kata kunci baru berupa nama kota dan kasus kematian. Ternyata ada beberapa situs yang cocok, Fara membuka salah satunya.

 

Ada. Sebuah artikel tentang wanita gila yang membunuh putrinya sendiri. Lokasi kejadiannya bukanlah di rumah berhantu itu, tapi di gubuk kecil di sudut tempat penampungan sampah. Wanita itu dikenal sebagai pemulung sampah, dia mulai kehilangan kewarasannya setelah ditinggal suaminya. Tak ada yang tahu dia punya anak sampai kejadian itu. Dari hasil otopsi diketahui balita malang itu buta sejak lahir, dia juga sering disiksa karena ada banyak luka lebam sayatan dan luka bakar. Warga yang pertama kali menemukan mayatnya mengatakan mencium bau busuk dalam gubuk itu, jasadnya yang hancur membusuk ditaruh begitu saja dalam ember. Sekarang ibunya dimasukan dalam penjara khusus penderita sakit jiwa.

 

"Begitu rupanya. Baiklah, besok aku akan kembali ke tempat penampungan sampah itu lagi," kata Arto disambut anggukan temannya. Pemuda itu mengintip jendela kamarnya sekali lagi, sepertinya tak ada apa-apa. Dia berharap bisa segera menyelesaikan masalah ini agar tak diganggu monster gadis kecil itu lagi.

 

---

 

Angin yang bertiup sejuk terasa menyeramkan bagi dua remaja di tengah tempat penampungan sampah itu. Sore itu Arto ditemani Fara kembali ke bekas gubuk tempat gadis kecil itu meninggal. Atap gubuk itu hampir tak terlihat lagi karena tertutup timbunan sampah basah, membuat mereka berdua ragu untuk mendekat.

 

"Ar, apa yang kau lakukan?" tanya Fara sambil menutup hidungnya.

 

"Menggali sampah. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu... Mengapa kau mau ikut kalau tak membantuku?" seru Arto dari balik maskernya. Arto meminjam pakaian petugas kebersihan dan sekop milik ayahnya untuk menggali benda apapun yang bisa menjauhkan hantu itu darinya.

 

Fara menjulurkan lidah. "Aku hanya penasaran saja."

 

Hampir setengah jam pemuda itu mengais sampah sendirian namun tak ada yang ditemukannya. Arto sudah mulai kelelahan saat darah dan potongan daging menyembur di hadapannya. Spontan Arto menjerit ketakutan ketika serpihan tulang dan sampah menyatu jadi monster raksasa yang ingin menimbunnya.

 

"Ar! Arto! Hentikan!" Fara panik karena tak bisa mendekati Arto yang melayangkan sekopnya ke segala arah.

 

Sedangkan dalam pandangan Arto monster sampah itu telah mencapai langit, membuka mulutnya yang memancarkan hawa panas busuk, lalu menelannya...

 

...mmmmmaaaaa....

 

---

 

Keadaan di sekeliling Arto gelap. Hanya ada satu cahaya di ujung lorong panjang. Cahaya putih terang itu hangat dan membuat Arto bahagia. Perlahan dia menapak mendekati sinar itu saat...

 

Tik... tikk... tikk...

 

Gumpalan lengket kental seperti lumpur mengikuti Arto merayap menuju cahaya. Makhluk itu meleleh dalam setiap geraknya, tetesan darahnya lenyap, sampai akhirnya dia menguap sebelum mencapai ujung lorong.

 

Arto yang tercengang melihat pemandangan itu jadi ragu, dia takut ikut mencair kalau mendekati cahaya. Kemudian dia menyadari ada suara tangisan dalam kegelapan di belakangnya. Kini dia lebih tertarik pada suara itu, dia terus meraba dalam kegelapan sampai menemukan sumbernya adalah gadis kecil pucat bergaun merah.

 

"Mengapa kau menangis?" tanya Arto.

 

Gadis kecil itu mengangkat wajahnya. Sebenarnya dia sangat manis, tapi seluruh matanya berwarna putih. Bibir mungilnya serupa garis tipis bersuara...

 

...mama...

 

"Mama? Ibu? Di mana ibumu?" tanya Arto lagi. Gadis kecil buta itu menunjuk tempat makhluk berlendir tadi lenyap. "Kau merindukan ibumu?"

 

Genangan air kembali mengisi mata bulat gadis kecil itu.

 

...mama...mama...mama...

 

Seiring dengan tangisannya, gadis kecil itu berubah jadi onggokan daging penuh darah yang selama ini menghantui Arto. Meskipun begitu Arto malah merasa kasihan padanya. Tanpa menghiraukan wujud dan aromanya, pemuda itu memeluk hantu kecil.

 

"Jangan menangis. Jangan menangis lagi. Aku tahu kau sangat mencintai ibumu. Ibumu juga pasti sangat menyayangimu. Sekarang dia sudah beristirahat dengan tenang, dia sudah bahagia. Karena itu berhentilah menangis. Pergilah, ibumu pasti telah menunggumu di sana," hibur Arto sambil menghapus air mata gadis kecil itu.

 

...bisa...bertemu...mama?

 

Arto mengangguk. Hantu kecil itu tersenyum. Wujudnya kembali jadi gadis kecil berumur 3 tahun yang cantik.

 

...terima...kasih...

 

Arto terus melihat gadis itu berlari ke ujung lorong sampai cahaya menyilaukan menutup pandangannya.

 

---

 

"Fara..."

 

"Arto! Kau sudah bangun. Kemarin kau jatuh dan kepalamu terbentur. Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?" Fara langsung menyerbu temannya yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai pertanyaan.

 

"Aku... tak apa-apa... Kurasa. Tentang hantu itu..."

 

"Oh ya, bagaimana dengan hantu itu? Semalam aku mimpi aneh tentangnya. Anak itu terus menangis memanggil mamanya. Aku sedih sekali. Gadis kecil itu mirip denganku, kami sama-sama mengalami kejadian mengerikan waktu kecil. Tapi yang kualami hanya kecelakaan, aku masih punya keluarga yang menyayangiku. Tapi dia... kasihan sekali..." Air mata melimpah membasahi pipi belang Fara.

 

Arto mengusap kepala sahabatnya. "Tenang saja. Semuanya telah berakhir. Dia sudah pergi bersama ibunya. Dia sudah bahagia..."

Read previous post:  
96
points
(2636 words) posted by yellowmoon 10 years 3 weeks ago
80
Tags: Cerita | Cerita Pendek | horor | gadis kecil | persembunyian | tantangan | yellowmoon
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer m.rifqi
m.rifqi at Untitled (9 years 43 weeks ago)
90

Kereen...
Seru banget bacanya... ^_^

(saya kakaknya)

Writer yellowmoon
yellowmoon at Untitled (9 years 39 weeks ago)

terima kasih ^__^a

Writer m.rifqi
m.rifqi at Untitled (9 years 43 weeks ago)
100

ceritanya bagusd banget! Aku juga pingin bisa bikin ceruta seru begini.
Happy ending di terakhir kalinya itu bagus banget!

Keep Writing!

Writer yellowmoon
yellowmoon at Untitled (9 years 39 weeks ago)

terima kasih ^__^

Writer Adelia13
Adelia13 at Untitled (9 years 50 weeks ago)
80

ngeri banget, saya ga kebayang kalo mimpi buruk dan dikejar hantu terus seperti Arto. Alhamdulillah ya, sesuatu banget *dibantai*

Kok judulnya untitled? o.O

Writer yellowmoon
yellowmoon at Untitled (9 years 47 weeks ago)

belum ada judul ^__^a
terima kasih sudah membaca

haris at Untitled (9 years 50 weeks ago)
80

Saya suka si Fara. Walaupun dia bukan karakter utama tapi entah mengapa karakternya paling menonjol. Apa mungkin seperti kata @lind yah? Enggak kebayang kecemplung air mendidih itu gimana..
Tapi saya ngerasa ceritanya kurang twist, jadi rada datar sampai akhir.

Writer yellowmoon
yellowmoon at Untitled (9 years 47 weeks ago)

ya, cerita ini memang happy ending, begitulah ^__^a

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Untitled (9 years 50 weeks ago)
80

Serem....

Writer yellowmoon
yellowmoon at Untitled (9 years 47 weeks ago)

terima kasih, haha

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Untitled (9 years 50 weeks ago)
90

komennya sama kayak h. lind, kenapa judulnya untitled?
disengaja?

Writer yellowmoon
yellowmoon at Untitled (9 years 47 weeks ago)

saya belum menemukan judul yg tepat ^__^a

Writer H.Lind
H.Lind at Untitled (9 years 50 weeks ago)
80

Awalnya bener2 ngira si Anto salah ngambil bola dengan telur. Habis selalu ada bunyi 'kreak-kreak'. :p
.
Suka dengan bagian yang dibold-bold itu. Menjiwai. Saya juga suka dengan hubungan si setan dengan Fara. Tapi ga ngebayang bagaimana kecemplung ke air mendidih *mendelikngeri*
.
Kenapa judulnya untitled? Hum...hum :3

Writer yellowmoon
yellowmoon at Untitled (9 years 47 weeks ago)

saya juga berencana seperti itu tapi tak jadi ^__^a
memang belum ada judulnya, haha