Koneksi 3 : Peta

"Huaaahhhmmmm..."

 

Menguap lebar-lebar dengan tubuh artifisial buatan gelang pengubah wujud yang dikenakan di lengan kirinya adalah hal pertama yang dilakukannya begitu kapsul yang ia tumpangi mendarat.  Tempat pendaratan bagi kapsul dan moda transportasi galaktik lainnya terletak di sebuah poin yang agak terpencil, jauh dari mata penduduk.  Yang ada, tidak lain tidak bukan adalah segelintir orang-orang terpilih yang dianggap bisa menjaga rahasia.  

 

Yah, tempat pendaratan itu sudah jauh berbeda dengan tempat pendaratan yang terakhir ia singgahi.  Sekarang yang disebut tempat pendaratan hanyalah sebuah lempengan logam besar (yang mirip sekali dengan logam Grie) yang terapung di atas permukaan air.  Dulu, tempat pendaratan adalah sebuah padang gurun raksasa, dengan debu kuning kecoklatan di mana-mana.  

 

Setidaknya kali ini tidak ada debu yang menyebalkan itu, pikirnya sambil melangkah ke arah ruang persiapan.  Nama ruang persiapan sendiri cukup menyesatkan, karena ruangan itu tidak diisi dengan apa-apa selain meja, kursi dan podium kecil.  Di sana, tamu dari Aliansi Galaktik akan mendapatkan penjelasan singkat dari pemimpin rombongan atau petinggi di bumi mengenai situasi bumi secara umum.

 

Begitu memasuki ruang persiapan, pandangan matanya bertemu dengan seorang wanita berambut hitam panjang yang digulung dengan rapi.  Dengan kacamata berbingkai persegi dan tatapan dingin, wanita ini mengingatkannya pada seseorang.  

 

"Kapten," panggilnya refleks.  Wanita itu hanya mengangguk dan memberinya isyarat untuk duduk.  Ia patuh.  

 

Jadi Kapten Mir'ha memilih tubuh wanita, entah dengan alasan apa.  Kali ini, Kapten Mir'ha menggunakan suara artifisial dari gelang pengubah wujud untuk memberikan ceramahnya pada anggota rombongan Amul dari sebuah podium kecil di ruang persiapan.  Tentu saja isinya sama dengan ceramah pada umumnya.  Tidak menyebutkan mengenai Aliansi ataupun Amul, mematuhi hukum teritori bumi, tidak menggunakan teknologi Amul....

 

"Terakhir, jauhi teritori Utara.  Teritori Utara adalah teritori di mana keselamatan para anggota rombongan ini tidak dapat dijamin oleh pemerintahan bumi."

 

Hah?  Sebelumnya tidak ada pengumuman seperti ini....

 

"Teritori Utara dikuasai oleh pemberontak dan sejauh ini sepak terjang mereka belum dapat dikuasai sepenuhnya oleh pemerintahan bumi.  Anggota rombongan ini yang bukan berasal dari militer diharapkan untuk mematuhi hal ini.  Anggota militer, kalian bisa memasuki Teritori Utara hanya setelah ada ijin langsung dari saya.  Mengerti?"

 

Anggukan dan hormat militer diberikan kepada Kapten Mir'ha sebagai jawaban.  Sementara ia merenung.  Teritori Utara.  Pemberontak.  Apa yang terjadi di sini sebenarnya? 

 

Setelah Kapten Mir'ha dan anggota rombongan lainnya keluar dari ruang persiapan, ia masih duduk di sana, merenung.  Matanya nyalang mencari sesuatu.  Sesuatu yang seharusnya ada di sana, sebuah peta.  Namun benda sesederhana itu saja tidak disediakan di ruang persiapan ini, entah mengapa.  Mau tidak mau ia harus meminta peta kepada salah satu staff di tempat pendaratan ini.

 

Beruntung, seorang manusia yang terlihat seperti prajurit melintasi ruang persiapan.  

 

"Maaf, apa di sini ada peta?"

 

Prajurit itu memandanginya, lama sekali.  Seakan pertanyaannya bukan sesuatu yang ia harapkan.  

 

"Apa di sini ada peta?" ulangnya.

 

"Ya, kami punya peta," balas prajurit itu, agak tergagap entah mengapa.  "Hanya saja peta yang kami miliki tidak bisa kami perlihatkan untuk orang awam."

 

"Begitukah?  Baiklah, kalau begitu berikan saja gambaran kasar peta bumi sekarang."

 

Prajurit itu mengangguk dan mengeluarkan sebuah notes kecil dan sebatang pulpen dari balik seragamnya.  Ia mencoret-coret sebentar notes itu, lalu merobeknya dan memberikannya.  

 

"Kami tidak tahu jelas kondisi Teritori Utara, maka saya hanya menggambarkan batas Teritori Utara saja."

 

"Tidak apa-apa, ini sudah cukup membantu.  Terima kasih."

 

Prajurit itu mengangguk singkat sebelum berlalu.  Ia merenung dan memandangi notes buatan prajurit itu.  Beberapa lingkaran dengan catatan kecil dan sebuah garis tak beraturan yang membentuk sebuah area bulat tak beraturan menjadi perhatiannya.  Area tak beraturan itu sudah pasti Teritori Utara, tetapi alasan terbentuknya teritori-teritori seperti ini adalah sesuatu yang baru baginya.  Lagipula, catatan di sekitar lingkaran-lingkaran tersebut sedikit banyak membuatnya penasaran.

 

Perlahan-lahan, informasi dari catatan-catatan kecil di sekitar lingkaran-lingkaran itu mulai diterjemahkan oleh sel pikirnya via gelang pengubah wujud.  Rupanya lingkaran-lingkaran itu adalah wilayah-wilayah di bawah jurisdiksi pemerintahan bumi.  Tidak banyak seperti dulu, tetapi juga tidak bisa dibilang sedikit.  

 

Tidak lama, pengumuman keberangkatan anggota rombongan dari Amul terdengar di lorong ruang persiapan.  Ia pun berlari secepat yang ia bisa menuju platform keberangkatan, yang letaknya entah di mana.

 

Read previous post:  
9
points
(702 words) posted by k0haku 9 years 28 weeks ago
45
Tags: Cerita | Cerita Pendek | petualangan | eksperimen | k0haku | Koneksi
Read next post:  
Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Koneksi 3 : Peta (9 years 26 weeks ago)
100

Pas awal-awal kirain fantasi biasa... eh tau-taunya jadi sci-fi gini ya. Hum hum teruskan!