Flash Fiction : Aku dan Dia, sang Utusan

"Haruskah kita bebaskan Sang Dewi?"

 

Terdiam, aku memandangi dirinya yang berdiri di bawah langit malam bertabur bintang.  Tiada bulan, malam itu bulan bersembunyi di balik tirai beledu biru gelap.  Siluet tubuh rampingnya samar di bawah cahaya suram api unggun separuh hidup.

 

"Aku tak tahu," jawabku singkat.

 

"Begitu."

 

Lalu diam.  Hening.  Aku dan dia terdiam, aku memandangi api, dia memandangi langit.

 

"Aku mempercayai penilaianmu," ujarku pelan.  "Setidaknya selama ini penilaianmu tidak pernah salah."

 

"... Begitukah pendapatmu?"

 

"Dari semua pengalaman kita selama ini, ya."

 

Hening lagi.  

 

"Masih sempatkah, bila kita berbalik?" tanyanya.  Entah ragu, entah tak ingin, aku tak tahu.

 

"Berbalik?  Sang Dewi jauhnya tinggal setengah hari perjalanan," aku menjawab ogah-ogahan.  "Namun semua terserah kau saja."

 

Tidak ada jawaban.  Ia masih saja berdiri di sana, memunggungi api dan menatap langit.  Entah apa yang ia cari.  Bayang api terpantul di rambut merahnya yang tergerai menutupi punggungnya.  Aku terusik juga dengan tingkahnya.  Tingkahnya tidak sesuai dengan dirinya yang biasa.  Ia tidak suka berlama-lama tenggelam dalam rasa gundah gelisah begini.

 

"Ada apa?"

 

"... Tidak, tidak ada apa-apa."

 

"Jangan bohong, tidak biasanya kau gelisah begini."

 

"..."

 

Aku menghela nafas berat.  Tidak ada gunanya berdebat dengannya ketika ia sedang menutup dirinya begini.  "Terserah kau saja."

 

Tidak ada jawaban.  Aku membalikkan tubuhku, memunggungi api dan memejamkan mataku, bersiap untuk istirahat yang memang kubutuhkan malam ini.

 

"Percakapan ini tidak pernah ada.  Kita akan membebaskan Sang Dewi, besok."

 

Bisa kudengar langkah kakinya menjauh dari tempatnya berdiri tadi.  Lalu bunyi kerisik ranting dan daun kering.  Sepertinya ia sudah membaringkan dirinya untuk beristirahat.  Aku merenungkan kata-katanya.

 

Jadi ia sudah memutuskan takdirnya.  Utusan Sang Dewi, gelar itu akan benar-benar jadi miliknya ketika ia membebaskan Sang Dewi.  Ingatan akan api, asap dan jeritan ketakutan memasuki inderaku.  

 

Tidak.  Tidak.  Ia berbeda.  Ia akan jadi Utusan yang paling baik, yang paling lembut, yang paling penyayang.  Ia tidak akan menimbulkan kesakitan, perang dan penderitaan seperti Utusan terdahulu.  Kupejamkan mataku dan memerintahkan ingatan menyakitkan itu untuk menghilang ke dalam kegelapan pikiranku.

 

Esok.  Sampai tugasnya selesai, aku akan di sisinya. 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
80

pasti yang ngomong ini orang tua yang tahu tentang seluk beluk sang utusan

80

Gaya penulisannya enak dibaca. Karakter yang berbicara ini terasa seperti pria. Benar?

70

Kurang paham dengan alurnya. Tapi sepertinya ini tentang pengikut dan jagoannya atau jagoan dan temannya? o__o

50

sang utusan ? aku atau dia ?
Bukannya akan jadi utusan kalau sudah membebaskan ?