For the Nightingale I

Anak raja itu, pangeran kecil dengan rambut berwarna pirang-salju, senang sekali
membangkang. Ia akan mengendap keluar dari bokong dapur dengan tas rajut berisi
roti, mengepit harmonika di saku celana, seperti anak petani. Mengendap, tap,
tap, menyiulkan lagu kesukaannya. Ia melewati hutan jinak yang muara sungainya
jernih dan dibingkai perdu-perdu rosemary. Lalu duduk di bawah sebuah pohon.

Ia bisa berlatih di aula istana, dengan selusin penonton yang hanya akan
mengangguk kalau ia bermain. Padahal dia tahu sendirinya jelek. Alam, lebih
jujur. Belakangan dia menemukan koneksi aneh dengan sarang burung di atas pohon.
Manakala dia meniup dan kedengarannya enak, yang di atas sana akan bercericip
menanggapi. “Bagus.” kata mereka. Kalau dia jelek, mereka akan terdiam dan
mencibir. “Parau.” komentar mereka. Pada hari kesembilanpuluh si pangeran
menyelinap, dia telah sanggup memainkan senarai nada yang bagus kedengarannya.
Sebuah lagu kebangsaan mereka.

Tapi justru karena dia bermain bagus lah, dia diketemukan.

Ibu dayang dan ratu menghampirinya seolah dia baru diculik hantu. Memaksanya
pulang. Menarik tangannya. Si pangeran berkeras, membantah, namun jelas dia
kalah. Dan karena dia meronta, harmonikanya jatuh di semak-semak. Dan dia tak
pernah kembali, karena orang istana menjaga ketat pintu dapur setelah itu. Ayah
pangeran sendiri, sang raja, menghukumnya dengan sepuluh cambukan.

Seekor burung kecil yang baru menetas bertanya pada ibunya kenapa belakangan tak
pernah terdengar lagi suara harmonika dari bawah. Ibunya menjawab pilu, kalau
itu hanya ilusi musim panas. Si burung kecil mengangguk mafhum, sedih, matanya.

Tapi melodi itu sudah masuk ke kepalanya, merasuk ke darahnya, menjadikan
bagaimana ia nantinya.


***

“Urusanku kah, soal bagaimana istri dan sembilan anakmu akan makan? Siapa suruh
kau beranak tiap sempat, ha? Itu tanahku dan kau gagal membayar. Cabut.”

Bicara pada hulubalang yang segera mencatat nama si petani. Pangeran itu kini
sudah besar. Ia, megah dengan mahkota dari emas berat dan jubah kebesarannya
merah. Ia raja. Yang lama, tukang cambuk itu, sudah lama mangkat. Ibunya mati
karena adat negeri ini bila si raja mati ratunya ikut bunuh diri. Telah lama dia
lupakan cara bermusik, cara menikmati keindahan, apalagi mengenai warna bulu-bulu
burung di atas pohon balsa. Yang ia tahu sekarang adalah bagaimana cara membuat
kerajaannya lebih dan lebih besar lagi. Persaingan! Perang!

Merasa diri berkorban paling besar karena harmonikanya hilang. Raja. Kekanakan.

Selepas petani yang memohonkan perpanjangan itu diusir keluar oleh dua pengawal
yang mengokang tombak, muncul tamu dengan pakaian yang lebih bagus. Ia mengaku
berasal dari negeri yang bernama Turki. Perihal kedatangannya kemari, jauh dari
perkiraan si raja, samasekali bukan karena piutang atau pajak laut. Semata
karena…

“Izinkan hamba masuk ke hutan Yang Mulia.”

Raja, yang otaknya taktis itu, mengendus sebuah tendensi. “Alasan?”

“Suara.” mulai si Turki. “Mulai dari pesisir barat hingga kaum pemetik plum di
ufuk selatan, semuanya memuji keindahan suara nyanyian burung di hutan Yang
mulia. Begitu menyentuh dan menghanyutkan…”

“Dan kau, bermaksud menangkapnya?”

“Hanya bila Yang mulia memberikan izin—”

“Tidak.”

Sejujurnya, Raja tidak tahu apa-apa mengenai burung ini. Semata karena
keserakahannya belaka lah dia tak rela hal bagus yang berada di teritorinya
harus diambil oleh orang lain. Ia berbalik pada si hulubalang, bertanya mengenai
si burung. Keberadaannya ternyata telah santer kemana-mana. Ia pun segera
menghela kuda—kuda perawan yang paling lincah dan tajam matanya—, memakai
pakaian berburu. Dan bertolak menuju ke hutan, berusaha menemukan si burung.

Muara air yang jernih, suara cericip burung, kepak cangkang teritip, rumput yang
berbau wangi… si raja telah melupakan semua itu. Ia berkuda, dengan panduan
seorang gadis yang mengaku tahu wujud si burung, bertemankan dua belas pengawal
di belakangnya. Dari sebuah pohon yang paling besar di hutan, dia menemukan
puluhan sarang. Kesemuanya bisa bernyanyi, kesemuanya berbulu cantik—biru, merah,
hijau, dan ungu pastel…

“—yang mana?”

Puluhan burung bernyanyi. Seolah minta diketemukan. ‘Aku, aku, aku.’ kata mereka.
Tapi nyanyian burung itu kesemuanya terasa sama bagi sang raja. Dan si gadis
pemandu pun menggeleng arif, tak seorang pun dari mereka adalah si burung
legenda. Dibiarkannya gadis itu memanjat pohon, menyeka di antara dedaunan itu
sarang yang paling berada di ujung. Seekor burung berbulu cokelat keabuan,
membosankan, mengintip dari balik daun dan bunga persimmon.

Sang raja menaikkan alisnya, skeptikal. Pemilik suara legendaris adalah makhluk
membosankan. “Kau kah?”

Di masa sebelum Solomon, dan semua binatang bisa bicara. Arif, burung coklat itu
membungkuk. Kakinya bertumpu ligat di dahan lentur pohon. Matanya berwarna legam
dan berkilat.

“Bernyanyilah.”

Ragu, mulanya. Tapi burung itu tahu adalah bodoh membantah titah rajamu. Burung
ini adalah si kecil yang menetas dan menunggu harmonika si pangeran bertahun
lampau. Ia membuka paruhnya, temboloknya mengembang. Mengalun, nyanyiannya.
Nyanyian yang bersinergi dengan angin itu entah bagaimana seolah memutar sekrup
ingatan di kepala sang raja namun ia tak tahu apa tepatnya. Dan tak hanya dia
yang merasakan demikian. Ketika si burung coklat bernyanyi, seolah perdu-perdu
pohon merunduk memberi solilokui, para tupai menjatuhkan kacangnya, syahdu.

Kedua belas pengawal menangis meski mereka lelaki. Si raja sendiri sudah lama
tak bisa membendung air matanya. Bercucuran. Gadis pemandu menyodorkan sarung
tangan padanya. Raja itu menatap si burung kecil. Tangannya terulur.

“Mendekatlah.” katanya. Burung itu turut, hinggap di antara jemarinya yang kurus-meramping.
Meski sang raja tak ingat, namun burung itu mengenali bekas luka di ujung
telunjuknya. Tangan si pemain harmonika.

“Kau telah menyajikan suatu nyanyian yang membuatku merasa begini. Katakan, apa
yang harus kubayar untukmu?”

“Yang Mulia.” burung itu menyahut sopan. “Saya telah mendapat lebih dari
kehormatan, untuk bernyanyi bagi Yang Mulia. Dan saya telah melihat air mata
agung Yang Mulia—”

“Betapa rendah hati.” si raja memotong. “Maukah kau ikut bersamaku ke istana,
dan menyanyi untukku, tiap hari?”

Si burung berkata, “Ya.”

Si burung berharap masih melihat jiwa di pangeran kecil dalam diri si raja. Si
raja yang mencintai si burung, berbaur dengan kearoganannya, berniat menyiarkan
kehebatan burung itu kepada seisi negeri. Maka dengan pretensi, rombongan itu
pulang. Tidak akan ada kata ‘bahagia selamanya’, karena ini bukanlah akhir. Ini,
hanya sebuah permulaan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Chlochette
Chlochette at For the Nightingale I (10 years 3 weeks ago)
80

Kapan nih lanjutannya?
(n_n)

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at For the Nightingale I (10 years 9 weeks ago)
90

Cerita yg gaya bahasanya keren. Bagus..
.
Seperti yg disebutkan komentator sblm2nya, masalah ringan sastra-sama cuma tanda baca, yg entah kenapa terlihat kurang rapi di mata saya. .
Saya ini masih amatir, jd gak bisa sok-sok banyak omong nyela ini itu.. Bagi saya cerita ini udah bagus sekali, terutama di gaya bahasa. ^_^

Writer sabbath
sabbath at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)
90

Saia pernah nonton wayang tentang nightingale (yeah, wayang).
cerpen ini memberi sentuhan yang berbeda. saia tunggu lanjutannya.. hehe...
.
*ngeliat komen2 di bawah*
wuih, rea uda mampir ternyata...
oke deh, aku cuma mau koreksi untuk penulisan kalimat langsung. aku yakin ini bukan typo karena semuanya salah.
.
“Bagus.” kata mereka.
seharusnya
“Bagus,” kata mereka.
.
“Mendekatlah.” katanya.
seharusnya
"Mendekatlah," katanya.
.
Bisa dilihat di mana letak kesalahannya? Pada penggunaan tanda titik (.) yang seharusnya adalah tanda koma (,) yang menyatakan bahwa kalimat itu belum selesai karena masih ada keterangan setelah tanda kutip (").
.
semoga bermanfaat ^^

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

Hoo gitu ya. Ilmu baru banget ' ' *catet* Makasih! x3 Iya, saya emang lemah di punktuasi lols =)) Btw... wayang? Sounds very nice =|

Writer kemalbarca
kemalbarca at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)
80

aku sempat kaget baca ungkapan kayak bokong dapur, dan kuda perawan
wow
maaf jika saya mengomentari hal tak penting, hehe

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

...=")) diksi saya emang spontaaan maaf ya kalau enggak nyaman. tapi yang kuda perawan itu normal. Di legenda Zulkarnaen, disebutin kuda betina yang belum menikah matanya lebih tajam dan laju larinya lebih cepat, oh well. Thanks for reading, anyway! x3

Writer SnowDrop
SnowDrop at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)
90

nightingale memang punya suara yang bisa bikin merinding, ato bahkan nangis =__=, dulu gw juga pernah nulis cerita tentang nightingale karena keinspirasi lagunya Yanni.
.
gw mo nunggu lanjutannya aja :D

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

I know right? Jadi pengen denger benerannya... tapi sekarang kutilang aja jarang *yakali* anyway, thanks for reading :"]

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at For the Nightingale I (10 years 13 weeks ago)
80

Ini bagus! Meski saia gak tau apa yang diberikan si pangeran for the nightingale. Saia malah dapetnya si nightingale yang memberikan sesuatu for the prince. Kecuali jika si pangeran ini emang masa kecilnya bener-bener "anak jalanan" (a.k.a. nightingale, dastan, etc pokoknya begitulah). Ah tapi yang penting gaya narasi dikau emang indah!
.
Hum~
.
.
.
Alam, lebih jujur.
Gak perlu pake koma, menurut saia.
.
Bicara pada hulubalang yang segera mencatat nama si petani.
He? He? He? Bukankah si pangeran bicara kepada petani? Kok jadi bicara ke hulubalang? Okelah, "cabut" itu emang ditujukan kepada hulubalang... tapi kan kalimat-kalimat sebelumnya buat si petani kan?
.
Oh btw, ini di Eropa Medieval ya? Entah mengapa saia kok pikirnya tuh yang berurusan sama petani ya vassal, bukan pangeran. Pangeran cuma memiliki tanah, sementara vassal-lah yang bertanggung-jawab mengurus tanah itu (secara langsung maupun tidak langsung). Ah tapi mungkin dongeng yang dikau baca emang bilangnya begini, ya. Hum.
.
Merasa diri berkorban paling besar karena harmonikanya hilang. Raja. Kekanakan.
Menurut saia ini gak nyambung sama yang mana-mana. Berdiri sendiri seolah-olah dikau udah nulis ini duluan sebelum nyempurnain paragraf lainnya dan dikau gak tega mangkas paragraf ini.
.
skeptikal
Skeptis. Akhiran -ical itu berubah jadi -is jika ditransliterasi.
.
Di masa sebelum Solomon, dan semua binatang bisa bicara.
Kalimat yang aneh. Out of nowhere. Kalo mau ngejelasin kenapa hewan bisa bicara, saia kira udah telat. Di awal cerita kan udah ada burung yang bicara. Lagipula, kalimat ini aneh karena... um... coba saia benerin dulu ya:
Ini adalah masa sebelum Solomon, dan semua binatang bisa bicara.
Kaekna begitu lebih pas deh. Tapi, sekali lagi, kalimat ini gak perlu ditulis karena serasa mubazir. Telat. Udah ditunjukkan di awal cerita.
.
seolah perdu-perdu pohon merunduk memberi solilokui
DMIIW, solilokui itu monolog kan? Nyanyi sendiri di suatu opera, kan? Mana mungkin perdu-perdu memberi solilokui? Itu mah namanya nyanyi barengan dong... orkes. Dan lagi, kosakata "intelek" macem ini seolah-olah merusak suasana yang dibangun di atas-atas; suasana dongeng yang ringan.
.
dengan pretensi
Lagi-lagi kosakata intelek. Hehe. Maksud frase ini apa ya? Pretensi itu mengada-ada, kan? Jadi rombongan itu pulang secara mengada-ada (i.e. rombongan itu keliatannya pulang padahal enggak pulang)? Hum...

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at For the Nightingale I (10 years 13 weeks ago)

Ups. Maaf. Ternyata ini baru episode 1 ya? Hehe... abaikan aja paragraf pertama dari komen saia yang ini ya.

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

.... *nganga* ...astaga, anda jeli banget. Dan ya, itu semua bener banget. My bad, really, saya nggak terbiasa nulis secara runtut, yang saya tahu cuma memuntahkan apa yang ada di kepala via ketikan. Makanya saya masuk kemudian.com, buat belajar. Kudos, mastah!

I really, really appreciate your comment. Makasih beraaat. Dan, salam kenal :"]

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

(Tunggu... apakah nada komentar saia yang panjang itu terasa menggurui? Terasa memarahikah? Terasa sok jagokah?)
.
m(_ _)m
*kesan pertama yang buruk*

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

NGGAK =)) Saya yang tersanjung aja dikomen panjang-lugas-membangun gitu sama senior yang bagus kayak anda ="| Seratus makasih pun nggak akan cukup *ALAHKEJU* dan btw...

...kok kenal Kinghatter atau nama saya di lapak lain? Kita pernah ketemu?

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

Wuhu~ bener kan ternyata dikau ini Kinghatter!
XD

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

... ;A; Kamu siapaaa tahu darimanaaaa ='))

Writer SnowDrop
SnowDrop at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

ah, kinghatter ya? haha. pantesan laya p-ernah baca gaya ceritanya >w<

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

...seriously, who are you guys (bah)

Writer hijau
hijau at For the Nightingale I (10 years 13 weeks ago)
80

nice :)

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

Thank you! x3

Writer Kurenai86
Kurenai86 at For the Nightingale I (10 years 13 weeks ago)
90

Tapi burung dalam sangkar, tak bisa bernyanyi lagi...
he3... ditunggu lanjutannya ^^

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at For the Nightingale I (10 years 12 weeks ago)

Haha yea, thanks berat. Dan hmm, ya emang, we never know why the caged bird sings... #galaw