Akasa Rekta : Api Berkobar di Bumi Arum Kenongo - Babak 2

Hadyan Kusuma berdiri di atas anjungan, tepat menghadap senjakala. Akan tetapi bukan bulatan kuning terang yang merayap turun dari langit yang ia perhatikan, karena ia tahu menatapnya hanya akan menyakiti matanya, namun yang ia pandang adalah pagelaran kehidupan rakyat yang akan segera berakhir.

 

Hadyan Kusuma memerhatikan sejumlah anak kecil yang sedang bermain paton di alun-alun luas di depan benteng istana. Ia tersenyum. Teringat akan masa kecilnya sendiri. Ketika diarahkannya pandangan ke tempat lain, ia dapat menyaksikan seorang lelaki bercaping menggembalakan empat ekor kambingnya ke rumah. Kadangkala yang ia lihat adalah penggembala bebek. Tidak jarang juga ia melihat petani yang baru pulang dari sawah, ada yang kakinya masih berbalut lumpur, ada yang menenteng sabit dan pacul dengan santainya, ada pula memikul rumput untuk makanan ternaknya di rumah. Sementara itu, ibu-ibu sibuk dengan urusan rumah mereka. Entah itu menyapu halaman, memasak untuk nanti malam, atau berteriak-teriak memanggil anak mereka agar cepat mandi.

 

Lagi-lagi, Hadyan tersenyum.                                       

 

Ia selalu senang memerhatikan kehidupan rakyat Anila. Memang, sepenuhnya ia sadar bahwa takdir kerajaan yang sebenarnya berada di tangan rakyat. Karena konsep pikir inilah Hadyan tidak jarang bersedia menanggalkan pakaian kebesarannya, lalu membaur di pasar, alun-alun, persawahan, dengan tujuan supaya dapat mengenal rakyatnya lebih dekat. Sebagai pangeran yang tidak berada di jalur takhta, dapat membahagiakan rakyat sudah lebih dari cukup untuk membahagiakan hatinya. Seandainya saja Hadyan tahu bahwa ia lebih dicintai rakyatnya daripada keluarga kerajaan yang lain.

 

Ketika sang surya tinggal separuh, pemuda berusia dua puluh tahunan itu turun dari atas anjungan. Ia membalas sapaan prajurit, lalu berjalan ke kediamannya. Dibelahnya halaman berumput luas, menaiki undakan yang tidak terlalu tinggi, dan Hadyan pun melewati lorong yang merupakan jalan terdekat menuju kedaton. Di balik lorong itu terbangun pendapa yang jika berjalan lurus membelahnya akan bertemu dengan balai besar tempat rakyat menghadap raja, yang biasa disebut Prasadapriharsa.

 

Akan tetapi Hadyan tidak hendak menuju Prasadapriharsa, ia pun yakin ayahnya sedang tidak berada di sana. Hadyan berjalan tenang melewati deretan bangunan istana. Semula ia tidak tahu akan berhenti.

 

Hadyan merapat ke dinding ketika mendengar suara yang amat dikenalnya dari dalam pendapa.

 

“Klarap benar-benar dalam masa gemilang, Ayahanda,” ujar Yuda Handaka, kakak kandung Hadyan yang hari ini kebetulan berada di kotaraja Anila.

 

“Ayahanda bangga padamu, Yuda. Sebentar lagi kuserahkan takhta padamu, Arum Kenongo akan menjadi negara yang lebih hebat dari ini,” balas ayah Hadyan, sang raja Kurantanegara. “Ayahanda sudah memastikan dukungan rakyat untukmu.”

 

“Tapi, Ayahanda, bagaimana dengan pemberontakan Adipate Lemet yang masih segar dalam ingatan kita? Telik sandi melaporkan kalau gerakan itu dipicu oleh penyerahan takhta yang sebentar lagi dilakukan?”

 

Suara Kurantanegara terdengar sangat yakin. “Jangan khawatir, semua itu hanya debu.”

 

Sampai di situ, Hadyan melanjutkan langkah kakinya. Akan tetapi isi hati dan pikirannya masih saja tertuju pada ayah dan kakaknya. Kakaknya yang sebentar lagi akan menjadi orang nomor satu di Arum Kenongo. Hadyan tahu sendiri bahwa ayahnya yang mengatur semua ini. Ayahnya yang menggembleng Yuda keras-keras, mengajarinya seluk-beluk pemerintahan yang diwujudkan langsung dengan memerintah kadipaten Klarap untuk sementara waktu. Orang awam pun pasti tahu bahwa putra tertua raja itu sedang dipersiapkan menjadi raja. Sementara itu, bagaimana dengan Hadyan?

 

Hadyan akan menjadi raden biasa, paling banter ia menjadi adipati. Akan tetapi kemungkinan itu hampir tidak mungkin terjadi bila kakaknya dapat berpikir cerdas ; memberi kekuasaan pada orang yang memiliki pengaruh kuat hanya akan menimbulkan pemberontakan. Lagipula Hadyan memang tidak menginginkan kekuasaan. Ia sudah cukup senang bila diberi sebidang tanah. Dari tanah itu mungkin ia akan bertani untuk menghabiskan sisa hidupnya, ia akan membaur dengan rakyat.

 

Sudah lama Hadyan berjanji pada dirinya sendiri akan selalu melindungi rakyat. Sampai saat ini, ia belum memikirkan bagaimana bila ia dapat melindungi rakyatnya bila ia tidak mempunyai kekuasaan. Hadyan tidak tahu bahwa pikiran ini tak lama lagi akan mengendap dalam kepalanya.

 

Malam itu, ketika Hadyan terbangun dari tidurnya karena suara gemeresak yang tidak biasa, ia merasakan pancaran aura yang tidak biasa pula. Hadyan bergegas menjatuhkan tubuhnya dari ranjang, tepat sedetik kemudian ia mendengar derit pintu yang terbuka sedikit.

 

Kaki telanjang seseorang yang terlebih dahulu memasuki bilik Hadyan. Terdengar desingan pedang yang dicabut dari sarungnya. Sejenak kemudian, hening menyelimuti ruangan, meski isi dada Hadyan justru ramai karena degup jantung yang berantakan. Setelah meraba-raba sekujur tubuhnya yang tanpa senjata, ia hanya berharap bersembunyi di bawah kolong ranjang akan menyelamatkannya dari siapapun itu sedikit lebih lama lagi.

 

Akan tetapi Hadyan bersembunyi bukan karena takut. Ia bersembunyi karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk melawan, dan ia tengah mencari kesempatan untuk melawan. Pintu bilik terbuka semakin lebar ; dari celah pintu itu Hadyan melihat tubuh seorang prajurit yang tergeletak di luar bilik. Hadyan kini sadar sepenuhnya bahwa suara gemeresak yang membangunkannya tadi adalah suara penjaga biliknya yang dibunuh oleh seseorang yang sekarang sedang memasuki biliknya, mencarinya.

 

Dari kolong ranjang Hadyan dapat melihat sepasang kaki terdiam di depan pintu, dan ujung bilah pedang yang mencari sasaran. Barangkali orang yang memasuki bilik Hadyan itu sedang memandangi seluruh ruangan, dan barangkali hanya soal waktu sampai ia mencurigai kolong ranjang.

 

Hadyan menahan nafas sebisa mungkin—seolah hembusan nafasnya dapat dengan mudah didengar si penyusup. Orang asing itu melangkahkan kaki, semakin mendekati ranjang. Bukan hal yang mudah bagi Hadyan untuk menjaga pikirannya tetap jernih. Diperhitungkannya jarak dan bobot ranjang serta kekuatannya sendiri bila duel harus terjadi. Dan ketika kesempatan yang dinanti-nantikan dengan degup jantung tak beraturan itu tiba, Hadyan mendorong ranjang ke atas, mengayunkan ke arah si penyusup.

 

Sontak si penyusup melompat ke belakang agar tidak tertimpa ranjang, bersamaan dengan itu Hadyan melompat. Tendangannya bersarang di dada si penyusup, yang ternyata adalah lelaki dengan seragam prajurit. Tidak ada waktu untuk memikirkan kenapa prajurit Arum Kenongo menyusup ke biliknya, Hadyan langsung menjatuhkan diri menjegal kaki sang penyusup. Jegalan itu meleset, dan malah dibalas sabetan pedang. Mau tak mau Hadyan harus melompat mundur, itu pun hanya menyisakan jarak sejengkal dari lintasan pedang.

 

“Siapa kau!?” Hadyan melangkah mundur ke belakang. Ditatapnya lekat-lekat mata buas prajurit di depannya.

 

“Siapa aku itu tidak penting,” jawab si prajurit penyusup, pedangnya berayun ke samping menebas cublik di atas meja. “yang jelas akulah orang yang akan mengantarmu ke gerbang kematian!”

 

Api dari cublik yang terbelah dan terjatuh  menyebar membakar bilik itu.

 

Si penyusup menerjang maju ; Hadyan hanya mampu melompat ke samping. Namun kemudian posisinya menjadi tidak menguntungkan karena ia terjebak antara api dan si penyusup yang ingin membunuhnya.

 

“Sudahlah, lebih baik kau serahkan nyawamu, dan semua rakyat Arum Kenongo akan hidup makmur.” Si penyusup mengacungkan pedangnya ke arah Hadyan.

 

Mendengar sesuatu tentang rakyat membuat jantung pangeran Arum Kenongo itu bergetar. Baru kali ini ia diharuskan mengorbankan nyawanya untuk rakyat. Pilihan yang sungguh sulit. Apabila ia mati, apakah benar rakyat akan makmur? Ataukah ini hanya tipu daya belaka?

 

“Tidak!” Hadyan nekat menerobos kobaran api.

 

Bilah pedang berkilau melintang di antara panasnya api ; tangan kiri Hadyan nyaris terpotong jika ia tidak sigap menghindar, alhasil, pakaiannya robek. Secepat kilat Hadyan menyambar pedang pendek di sudut ruangan, lalu berbalik seraya menarik pedang dari sarungnya. Dua bilah besi beradu, berdenting keras di antara gemeretak kayu yang terbakar.

 

“Menyerahlah dan mati!”

 

Tapi Hadyan tidak mau menyerah. Diangkatnya kaki dalam gerakan menendang, kemudian melompat mundur setelah tendangannya meleset. Penyusup yang terpaut enam langkah darinya mengacungkan-acungkan pedang. Hadyan hanya membalas dengan melintangkan pedang di depan dada, sambil berjalan miring mengitari si penyusup.

 

Ketika angin terasa menyentuh punggungnya, Hadyan melompat ke belakang sejauh mungkin. Sebelum kakinya menyentuh tanah, diputarnya arah tubuh. Dugaannya tepat ; ia lekas berlari secepatnya melewati pintu yang terbuka. Dari belakang, terdengar derap kaki mengikuti disertai kata-kata umpatan kasar. Tanpa mempedulikan belakang, Hadyan terus berlari menjauh sampai kegelapan menguasainya.

 

“Berhenti!” seorang pria berteriak.

 

Hadyan merasa aneh karena arah teriakan itu tidak berasal dari belakangnya, di mana penyusup tadi mengejar. Namun berasal dari depannya. Hadyan pun berhenti, ia tidak mendengar suara apapun kecuali lengkingan gagak di langit jauh. Selebihnya, senyap. Semua terasa semakin aneh, dan lebih aneh lagi karena ia baru sadar bahwa tidak satupun obor yang menyala di sekitarnya. Kegelapan menguasai keadaan, Hadyan tidak tahu lagi di bagian istana yang mana ia berada.

 

Tiba-tiba, entah darimana, terdengar suara orang tertawa. Disusul oleh langkah kaki yang tak dapat dihitung jumlahnya. Dengan kalut dan bingung Hadyan mengamati sekelilingnya yang gelap. Ia baru bisa melihat setelah dari belakagnya muncul titik cahaya dari biliknya di kejauhan yang terbakar. Enam atau tujuh orang kini telah mengelilingi Hadyan dengan pedang terhunus ; semuanya mengenakan seragam layaknya seorang prajurit.

 

“Apa maksud kalian?” teriak Hadyan, parau. Ia tidak ingat pernah melakukan kesalahan sehingga pantas untuk dibunuh. Apalagi yang membunuhnya adalah prajuritnya sendiri, entah mereka orang luar yang menyusup atau orang dalam yang berkhianat. Yang Hadyan tahu ialah bahwa ia tidak melakukan apapun yang telah merugikan orang lain.

 

Tidak ada jawaban selain pedang yang diacungkan. Situasi yang serba terjepit ini memaksa Hadyan berpikir cepat. Hanya soal waktu sampai semua pembunuh itu menghabisinya. Dan waktu berjalan dalam hitungan detik. Jika mereka menyerang bersamaan, tamatlah ia. Menjelang detik-detik terakhir Hadyan tiba pada suatu kesimpulan.

 

Raden kerajaan Arum Kenongo itu melirik ke berbagai arah, ditajamkannya pengihatan sekaligus pendengaran. Secepat mungkin Hadyan menerjang ke arah salah satu prajurit yang membelakangi gerbang keluar kedaton. Bagaikan harimau yang mengamuk ia menyabetkan pedangnya. Ketika sambaran pedang terhalang pedang musuh Hadyan menggunakan kakinya ataupun tangan kirinya yang bebas. Pukulan dan tendangannya datang bertubi-tubi hanya dalam kedipan mata. Enam orang musuh yang tersisa belum sempat bereaksi ketika Hadyan berhasil menjatuhkan lawannya lalu berlari sekencang-kencangnya keluar istana.

 

Pada saat ini ia memikirkan apa gerangan yang sedang terjadi, di mana prajurit yang selalu berjaga setiap saat di sekitar istana, siapa orang yang menyerangnya dan apa tujuan mereka. Tak lama kemudian Hadyan masuk dalam lingkup cahaya obor ; ia tengah berada di halaman samping. Dilihatnya dua orang prajurit sedang duduk-duduk di atas lincak di bawah pohon belimbing. Hadyan hendak memanggil mereka, tapi diurungkannya niat karena ia tak yakin apakah mereka juga ingin membunuhnya atau tidak. Pemuda itu tak tahu lagi akan menuju kemana. Di belakangnya jalan menuju kedaton terasa tidak aman dengan adanya pembunuh berkeliaran, ia tak dapat menemui ayahnya atau kakaknya. Di luar itu, ia tak bisa dengan mudah mempercayai semua orang. Hadyan merasa istana dalam kondisi tidak aman.

 

Prasangka Hadyan semakin kuat ketika ia mendengar keributan dari timur. Ada suara orang berteriak, ada juga dentingan seperti besi yang diadu. Kentongan dipukul bertalu-talu ; dua orang prajurit yang duduk di lincak yang tadi dilihat Hadyan bergegas berlarian sambil menyandang senjata mereka. Menyikapi hal ini, Hadyan sampai pada satu kesimpulan : ia harus segera keluar dari istana Maheswara.

 

Keluar melewati gerbang terlalu beresiko dalam keadaan sekarang. Hadyan bergegas menaiki tangga dan sejurus kemudian ia telah berada di atas dinding yang melingkari istana. Istana Maheswara tampak indah, besar dan tengah lelap bersama malamnya. Secepat mungkin Hadyan memalingkan muka sembari menyimpan kenangan masa kecilnya. Ia meraih tali dan sudah bergelayutan turun ketika sebatang panah melesat cepat ke arahnya. Hanya karena keberuntungan kecil Hadyan berhasil menyelamatkan kepalanya, membuat panah itu menyambar talinya sampai nyaris putus. Lalu putus.

 

Hadyan lurus menghujam parit sampai dasarnya. Tubuhnya terombang-ambing, telinganya berdengung dan selama beberapa saat hanya deburan air yang di dengarnya. Yang ia pandang hanyalah buram karena hijaunya air, apalagi baunya membuat Hadyan ingin sekali melepas hidungnya jika bisa. Butuh waktu yang tak sedikit sampai ia bisa menguasai tubuhya sendiri ; Hadyan berenang seperti katak, tanpa bisa melihat jelas apa yang ada di depannya. Ketika kepalanya muncul ke permukaan di tempat yang berbeda dari ia jatuh, ia melihat api. Dan prajurit-prajurit yang saling membabat.

 

Perang sudah terjadi. Parahnya, antara dua pasukan yang sama-sama bagian dari pasukan Arum Kenongo. Regol timur sepenuhnya tertutup pasukan ; ada yang berdiri dengan pedang, tombak, maupun kapak berlumuran darah, tapi banyak yang sudah menimbun menjadi mayat. Darah menggenang seperti banjir. Malam telah robek.

 

Hadyan ingin sekali menghentikan perang di hadapan matanya, namun ia hanya raden yang lemah pengaruhnya di kalangan prajurit istana. Hanya mampu menatap nanar, ia menahan gejolak hebat di dadanya.

 

Menarik diri dari parit, Hadyan berbaring sejenak. Dengan tubuh berbasah-basah ia menatap langit yang mendung, pertanda kemarau akan segera berakhir. Dentingan pedang masih terdengar tak jauh darinya. Hadyan lalu berusaha berdiri, berantakan, tanpa senjata apapun. Ia berjalan terus meninggalkan pertempuran di belakangnya. Semua menjadi sayup-sayup. Hadyan memilih jalan setapak yang sepi. Lambaian daun pisang yang tertiup angin tampak seperti tangan-tangan yang ingin menariknya dalam kegelapan yang pekat.

 

Dibuangnya pakaian kebesarannya yang robek ke sungai, lalu dipotongnya beberapa daun pisang untuk berbaring. Hadyan sudah tak dapat menahan pusing di kepalanya ;  pusing karena percobaan pembunuhan terhadapnya, pusing karena tercebur parit, dan pusing karena tak menemukan jawaban atas semua itu. Kepalanya berdenyut hebat ketika ia memikirkan nasib ayah dan kakaknya. Hadyan berharap semua akan kembali normal besok pagi, lalu ia memejamkan matanya, lelap dalam tidur tak bermimpi.

 

Saat Hadyan membuka mata di pagi buta, acungan tombak dan pedang telah menantinya.

 

*****

 

Barisan penunggang kuda paling depan segera berhenti ketika dari balik gapura muncul sejumlah prajurit kecil menghadang dengan tombak maupun pedang terhunus. Sontak pasukan yang baru datang tersebut ikut-ikutan menarik senjatanya. Mereka berhenti, berhadap-hadapan, kecuali satu penunggang kuda yang tadinya berada di tengah segera menghambur ke depan.

 

“Apa ini!?” hardiknya. Raden Yuda menarik pedang, diacungkannya ke muka prajurit di depannya.

 

Mengenali suara dan postur tubuh adipatinya, mental semua prajurit penghadang surut seperti air yang dibuang ke pasir. Mereka dengan kacau membuka jalan. Tapi Raden Yuda tidak mau lewat begitu saja.

 

“Heh!? Apa maksud kalian semua!?”

 

Seseorang di antara prajurit Klarap bergegas maju, langsung ia berlutut menyembah. “Ampun, Tuanku! Hamba dan teman-teman hamba tidak ada maksud menghadang Tuanku!”

 

Tanpa mengeluarkan suara, dari atas kuda, Yuda menatap tajam Lurah Karso di depannya.

 

Yang ditatap bergidik. Karso menyembah lagi dengan bergetar, tak ubahnya ia sedang berhadapan dengan hantu. “Ampun, Tuanku! Kiranya sudilah Tuanku memaafkan kami semua.”

 

Yuda menyarungkan kembali pedangnya. “Baiklah! Jelaskan padaku apa yang sedang terjadi di sini. Cepat!”

 

“Ampun, Tuanku! Beberapa pengacau membakar istana dan kabur. Tuan senopati saat ini sedang menyisir kadipaten untuk menemukan mereka!”

 

“Senopati Arga?” tanya Yuda. “Apa ia baik-baik saja?”

 

“Benar, Tuanku! Senopati Arga tidak apa-apa, tapi banyak prajuritnya luka-luka karena jebakan yang ditaruh seseorang di sekitar kadipaten. Saat ini mereka sedang ditampung di rumah-rumah penduduk untuk dirawat.”

 

“Kenapa di rumah penduduk? Apa istana sedemikian parah rusaknya?” Yuda menerawang jauh ; ia tidak melihat titik api sedikitpun.

 

Karso bingung harus menjawab apa. “Hamba tidak tahu, Tuanku! Sejak sebelum tuan senopati pergi sampai tuan senopati kembali, hamba dan kawan-kawan hamba berjaga di sini.”

 

Yuda tidak menyukai jawaban Karso. Sejenak, ia menatap lurah prajurit yang masih menyembah di hadapannya, kemudian dipalingkannya muka ke belakang seraya berkata, “Ayo jalan!”

 

Baris demi baris prajurit membedal kuda menuju istana Wursita.

 

“Inikah yang terjadi?” gumam Yuda, pada dirinya sendiri ketika ia melihat sejumlah orang bahu membahu keluar masuk istana, menyiramkan air ke dalam sisa-sisa api.

 

Dua orang prajurit berloncatan ; mereka segera menyarungkan kembali pedangnya setelah tahu siapa pemuda sangar yang berkuda di depan. “Raden Yuda! Raden Yuda kembali!”

 

Yuda dan belasan pengiringnya terus berkuda melewati regol sementara pasukan Sapu Bayu yang dibawanya sudah menyebar di belakang. Bola mata kecoklatan dari sang raden bergulir ke kiri dan ke kanan ; kudanya meringkik mencium bau hangus. Yuda tak menggubris mereka yang menyerukan kedatangannya, atau mereka yang membungkuk hormat ketika melewatinya. Di halaman depan, Yuda berhenti. Masih duduk di atas kudanya, ia mengamati bangunan istana dari yang melekat di tanah sampai yang paling pucuk ; tak sedikit pun tanda terbakar. Tapi ia jelas-jelas mencium bau hangus, dan ia melihat asap membubung ke arah langit.

 

Diikutinya arah orang-orang yang hilir mudik hingga ia sampai di bagian kiri istana ; barulah ia tahu apa yang terbakar.

 

“Hanya inikah yang terbakar?” Yuda bertanya pada prajurit yang berdiri tak jauh dari iring-iringannya.

 

Prajurit berambut kriwul yang ditanyai tidak segera menjawab, ia mendahulukan celingukan. Ketika ia hendak menjawab, Yuda sudah mengalihkan tatapan ke arah sosok lelaki jangkung yang berlari-lari kecil menuju ke arahnya.

 

“Raden! Raden Yuda!” letup sosok jangkung itu. Ia dikuti oleh dua orang prajurit yang salah satunya membawa obor.

 

Bergantian Yuda mengamati antara sisa kebakaran di depannya dan Patih Sudirman di kanannya. Asap masih membubung meskipun api sudah padam, membuat Yuda perlu memilah udara yang masuk ke hidungnya. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

 

Patih Sudirman berlutut di tanah berumput yang hangus. “Ampun, Raden! Ampuni hamba yang hina ini! Semua yang terjadi tidak hamba duga sedikitpun! Ampuni hamba, Raden!”

 

Semua yang tersisa hanya abu dan arang.

 

“Kenapa hanya ruang penyimpanan rontal yang dibakar?”

 

Patih Sudirman sendiri tidak tahu kenapa. “Sedikitpun hamba tidak tahu, Raden!”

 

Untuk kesekian kalinya, Yuda merasa jengkel karena tidak mendapat jawaban sesuai keinginannya. Namun ia meredam api di dalam dadanya. “Katakan padaku, benarkah yang melakukan semua ini hanya tiga orang?”

 

“Ampun, Raden! Menurut para prajurit, memang hanya tiga orang yang masuk sampai ke sini. Tapi di luar istana masih ada beberapa orang lagi yang bekerja sama dengan mereka.”

 

Yuda melemaskan jemari tangannya yang sedari tadi ingin sekali menggenggam gagang pedang. Ia ingin sekali menebas siapapun yang berada di dekatnya saat ini. “Dan benarkah prajuritmu tidak bisa menghadapi tiga orang?”

 

Melihat Patih Sudirman membisu beberapa saat, Yuda nyaris menarik tali kekang kudanya agar kudanya menyepak lelaki yang tempo hari sangat dipercayainya itu. Tindakannya hanya berhenti karena ia mendengar derap langkah kuda dan seruan yang amat dikenalnya.

 

Dengan sangat perlahan, Yuda berbalik. Ia hanya ingin melihat Senopati Arga hanya jika lelaki berkulit kehitaman itu membawa para pengacau yang telah beraksi di istananya. “Darimana saja kau?”

 

Senopati Arga jelas bingung mencium aroma dingin dalam nada bicara Pangeran Yuda. Tapi ia berusaha tenang sambil mengingatkan dirinya sendiri bahwa tuannya itu memang bukan seorang penyabar. “Hamba baru saja memantau keadaan kadipaten, Raden!”

 

“Kau tangkap mereka?”

 

“Ampun, Raden Yuda!” Senopati Arga sudah tahu bagaimana reaksi tuannya setelah ini. “Mereka berhasil lolos.”

 

“Apa!? Kau tidak bisa menangkap tiga orang dengan seratus prajurit yang kuberi untukmu!? Lalu, untuk apa aku repot-repot memperkerjakanmu!?” Kedua tangan Yuda yang mengepal bergetar hebat. Seakan menguatkan kemarahan tuannya, kuda Yuda mendengus.

 

“Raden,” sela Patih Sudirman, yang saat ini tampak kerdil sekali. “lebih baik raden istirahat terlebih dahulu, Raden baru saja menempuh perjalanan panjang. Selain ruang penyimpanan rontal, tidak ada bangunan lain yang rusak.”

 

Mendengar saran dari bawahannya, membuat Yuda semakin jengkel. Ia tidak suka diatur. Rahangnya mengeras, begitu juga dengan otot-otot di lengannya. Tapi seberapapun besarnya kemarahan Yuda, ia masih bisa menguasai dirinya. Dipejamkannya mata, lalu menyadari saran yang cukup baik dari patihnya itu. Ia tak menolak saat dituntun menuju biliknya.

 

Di alam mimpi, Yuda sedang bertarung melawan segumpal api. Dikibaskannya pedangnya berkali-kali, namun tak juga bisa membasmi gumpalan api di hadapannya. Ketika ditebas, api tersebut terbelah menjadi dua, namun kemudian bersatu lagi dengan ukuran yang lebih besar. Yuda semakin lelah dan tak kuat lagi mengangkat pedang, saat itulah segumpal api yang sudah semakin besar melilit tubuhnya. Yuda terbangun dengan keringat mengalir deras, ketika matahari sudah sepenggalah.

 

Ia keluar dari biliknya, memandangi kolam yang dibangun di sekitar—persis seperti kediaman keluarganya yang ada di istana Maheswara di kotaraja. Ia merasa senang mendengar kecipuk ikan di dalam air ditambah dengan harumnya bunga kenanga yang dahulu ia tanam sendiri. Matahari sudah semakin tinggi ketika Yuda mengenakan kembali pakaian kerajaan lengkap dengan pedang yang tak pernah ia lupakan.

 

Keluar dari lingkungan biliknya, ia tak terlalu memperhatikan para prajurit maupun abdi dalem atau emban yang semuanya menunduk ketika berpapasan dengannya. Seorang abdi dalem berlari-lari kecil menghampiri Yuda.

 

“Raden, seseorang ingin bertemu dengan Raden!” katanya.

 

“Suruh dia ke balai bendul!”

 

Di balai bendul, Yuda bertemu dengan seorang prajurit yang cukup kotor dan tampak kuyu. Sang raden merasa sesuatu yang tidak sewajarnya telah terjadi.

 

“Ampun, Raden!” sang prajurit menyembah suaranya serak tertahan. “Tumenggung Aswandaga memberontak. Istana Maheswara jatuh. Raja dan raden Hadyan telah mangkat.”

 

Yuda merasa langit jatuh menimpa kepalanya. Jantungnya ditusuk seribu pedang.

 

“Apa!?” Dengan gerakan nyaris tidak terlihat, tangan Yuda telah menggenggam pedang yang menempel di kulit leher si prajurit. “Jangan main-main denganku!”

 

Namun kenyataan memang tak bisa dirubah. Hari itu, Yuda menyimpan kepedihan, kemarahan, dan hasrat ingin menuntut balas. Ia membawa kepedihannya saat ia ingat bagaimana didikan ayahnya selama ini, bagaimana masa kecilnya bersama adiknya. Hatinya selalu diisi dengan kemarahan yang semakin lama semakin berkobar, kemarahan yang membutuhkan penyaluran, kemarahan yang mendorong hasrat balas dendam.

 

Esoknya, seorang utusan muncul di depan gapura Klarap. Ia membawa rontal dari Anila yang isinya meminta putra sulung Kurantanegara segera menyerahkan diri ke istana Maheswara. Mendengar tentang kedatangan utusan tersebut, Yuda yang sedang berada di istana lekas-lekas melompat ke atas kudanya lalu berpacu ke arah gapura. Secepat kilat ditebasnya leher si utusan tepat di depan gapura Klarap.

 

Masih menggenggam pedang berlumur darah, Yuda berteriak lantang, “ASWANDAGA KEPARAT! AKAN KUPISAHKAN KEPALAMU DARI BADANMU!”

 

Hari itu juga wara-wara disebar berdasarkan perintah dari Yuda. Dihimpunnya prajurit maupun penduduk yang masih setia pada ayahnya, dibentuknya pasukan sekuat mungkin. Dalam enam hari, prajurit demi prajurit, pendekar demi pendekar, sampai laki-laki tua-muda dari tujuh kadipaten berbondong-bondong datang ke Klarap. Perang berdarah akan segera terjadi antara Klarap dan Anila, antara Yuda melawan Aswandaga.

Read previous post:  
17
points
(5997 words) posted by Sang Terpilih 10 years 51 weeks ago
56.6667
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi
Read next post:  
Be the first person to continue this post