(Prolog) Fantasy Amian_zanggol

GELEGAR!!!

Halilintar memperdengarkan pekikannya. Kilatan putih kemerah-merahan mewarnai langit di tengah lautan. Niscaya, bulu kuduk Penia (1) manapun akan berdiri tegang menyaksikan hal ini. Langit merah berarti marah, bencana, kematian, atau minimal kesengsaraan.

Halilintar itu tak sendiri. Angin puyuh dan hujan liar turut serta mengombang-ambing sebuah kapal layar berukuran empat puluh kaki. Dua puluhan Penia yang berada di dalamnya kocar-kacir merasakan panik. Hanya satu Penia yang terlihat tenang-tenang saja duduk di sebuah kursi baja.

“Isbas! Tak becusmu kali ini tak termaafkan!! Mulai saat ini, kau turun posisi menjadi tukang pel!!!” tangan lelaki yang duduk di atas kursi baja itu mengibas. Air hujan sejarak empat meter, searah dengan kibasannya terbelah dua. Sebuah tongkat pel yang berada di jarak itu terlempar tanpa disentuh, mengenai tubuh seorang Penia yang kemudian terjungkal. Isbas tak langsung berbuat apa-apa, masih mencoba meyakini bahwa yang terdengar olehnya tadi hanyalah sebuah guyonan.
“Tunggu apa lagi?! Cepat kau pel kapal ini sampai kering!!”
Isbas sungguh tak mengerti, apa gunanya mengepel lantai kapal di tengah badai.

Penia berbangsa Parawa, bernama Isbas itu, tak punya pilihan lain selain menuruti perintah pemimpin kapal. Ia memang bersalah, tak mampu melakukan tugasnya dengan baik. Seharusnya seorang Parawa bisa menebak datangnya badai yang sedang mereka hadapi saat ini. Nyatanya perkiraannya salah total. Maka mulailah ia mengepel lantai kapal, walau semua Penia tahu, kapal itu tak perlu dipel.

Tangan sang pemimpin kapal kembali mengibas. Kali ini kibasannya lebih teratur mengarah ke sisi kanan, kiri, kemudi, dan kemudian tiang layar. Bulir-bulir air hujan yang diterpa kibasannya memercik, dan akhirnya menegang tepat sejarak dua kaki di hadapan Zanggol-sintruktian (2) di masing-masing posisi.
“Kayuh, empat dua!!!” perintah sintruktian di bagian kanan kapal, tentu saja setelah membaca instruksi sang pemimpin dari air yang sempat mengkristal sedetik tadi.
“Kayuh, satu satu!!!” perintah sintruktian di kiri kapal bersamaan.
“Layar, satu tiga satu!!!” dari tiang layar.
“Kemudi, tiga lima!!!”

Setiap satu detik, kibasan tangan itu memberikan instruksi yang berbeda. Badai sulit diduga, hanya seorang Zanggol, Parawa, atau Kudiy berwawasan tinggi yang mampu membaca badai seperti ini.
“Kayuh, satu tujuh!!!”
“Layar, dua tujuh enam!!!”
“Kemudi, satu satu!!!”
Tiba-tiba saja Isbas menyeletuk, “Goyang, enam sembilan!!!”
PLETAK!!! Sekali kibas, jidat Isbas koleksi dua jendol berbentuk angka NOL.
“Jendol, kosong kosong!!!” jerit sang pemimpin.

Seluruh awak kapal bekerja-keras. Keringat membasahi tubuh mereka. Namun, ada satu Penia yang duduk tergeletak santai, menghisap sebuah pipa besi sebesar telunjuk, mengeluarkan asap berbentuk ‘O’. Keberadaannya di situ didapati oleh Isbas.
“Hei! Siapa kau?!” tanya Isbas, merasa Penia itu bukanlah bagian dari awak kapal mereka.
“You don’t know me?” jawab lelaki itu setelah sebelumnya, mengerutkan dahi sejenak.
“Ora iso English, cuy!”
“Heh? Saiya tichak menggertiy!”
Mereka berdua pun nyengir bebarengan.

“Let me introduce myself. My name is Captain Jack Sparrow!” ucap lelaki itu bangga.
Isbas mengerutkan keningnya.
“Huahahaha!!!” tawanya meledak seketika.
“What are you laughing for? Are there something funny in me?”
“Huahahaha!!! Salah pelem, cuy! Ini bukan pelem Pirates of Caribbian!”
“Oh ya?!” wajah Sparrow kaget luar biasa.
“Ini tu pelem fantasy Amian_zanggol pu……”
Belum sempat Isbas menyelesaikan kata-katanya, si Sparrow nyasar itu telah lebih dahulu…… KABBOOOOOR……!!! Isbas hanya bisa geleng-geleng kepala.

CRACK!!!
“Capi Zanggol! Kapal ini sudah tak kuat lagiii!” jerit Penia di belakang kemudi.
“Jangan hilang konsentrasi. Turuti saja instruksi dariku!” balas Capi (3) berbangsa Zanggol itu. Tangan Sang Capi kembali mengibas angin, gerakannya mulai melemah setelah tiga jam lebih melakukan gerakan yang sama.

CRACK!!!
“Capi Zanggol! Lebih cepat sedikit, perintah darimu terlalu lambaaat!!”
Sebenarnya bukan hanya Sang Capi yang melambat. Penia-penia lainnya pun sudah mulai lelah, termasuk Isbas, yang kini mengepel di tempat yang sama seraya menggerutu, “Puas, Capi! Puaazzz?! Kenapa gak sekalian aja kau suruh aku mengepel tanah di dasar danau, biar kelelepan aku, biar sekalian mampoooss!!”
Namun omelannya tak lagi terdengar oleh Capi Zanggol. Mata pimpinan kapal itu telah tertutup, tangannya tak lagi mengibas, bahkan sebelah tangannya terlihat kaku, menjejak di udara.
Tanpa perintah dari pimpinan mereka, para awak terikut ombang-ambing kapal. Sebagian telah pingsan lebih dahulu, satu-persatu menyusul.

# # # # #

Klontang… zzhuurrr… klonteng… zzhuurrr… suara sebuah kaleng, yang mengikuti naik turun kapal, disertai suara riak pantai, bersahutan.
Akwak kwak kwak…!!! Burung pantai pun ikut menyahut.

Di dalam kapal, para awak tergeletak tak sadarkan diri. Langit telah terang, cahayanya menembus kelopak mata. Badai sudah menghilang entah sejak kapan. Yang menyadari hal ini pertama kali adalah Isbas, yang kini terlihat menggeliat, perlahan-lahan bangkit, menyadarkan diri.

Kepala Isbas menoleh ke kiri. Setelah berulang kali melakukan proses 'kucek-kucek' mata, akhirnya mulutnya mengeluarkan suara,
“Owh my god!!” berbisik tertahan.
“Capi Zanggol, semuanya! Bangoooooonnn!!!” jeritnya seketika.
Sang Capi menggeliat, Penia yang lain melakukan hal yang sama.
“Apa yang terjadi, Isbas?” lirih Sang Capi, memicingkan matanya yang belum terbiasa dengan cahaya langit.
“Lihat itu, Capi!!”
Tak hanya mata Capi-zanggol yang mengikuti arah telunjuk Isbas, semuanya menolehkan kepala. Di sana terpampang pemandangan sebuah pulau. Jaraknya berkisar tiga ratus kaki dari kapal. Di kedalaman pulau, terlihat kepala sebuah gunung yang tertutupi awan kabut.

Vigatoran (4), tekinan (5), dan para Haindra, bersiap-siaplah. Mungkin kita telah menemukan hidup baru kita,” perintah itu tidak diucapkan dengan suara yang keras, namun ketegasan tertangkap oleh masing-masing jiwa para Penia di dalam kapal itu. “Vigatoran! Bersiap menentukan posisi!!” Isbas sang Parawa, kembali in action. “Tekinan! Bersiap memperbaiki kapal dan melakukan transmisi!!” jerit lainnya. “Heindra! Mari kita bertualang!!”

# # # # #

langit merah

Di sebuah pantai, di tempat yang lain. Dimana langit berwarna merah pekat. Bukan karena halilintar menyambar atau pun badai.
BOOM!!
Sayup-sayup terdengar suara meriam dilesatkan.

Dari arah lautan lepas, sebuah benda kecil berbentuk kotak persegi panjang, terbang di udara. Sepasang sayap bergerak teratur dengan cepat di sisi kiri dan kanannya. Kuclukuclukuclukucluk…… begitulah bunyinya. Ia terbang mendekati bibir pantai dan kemudian masuk ke dalam sebuah goa tersembunyi yang tertutupi pepohonan dan akar-akar serabut. Benda kecil itu terus memasuki goa, semakin dalam. Hingga akhirnya tertangkap oleh sebuah tangan.
Kopar (6) dari tim Zanggol, Paduka!” jerit Penia yang menangkap benda itu.
“Bawakan kemari!” perintah lelaki yang dipanggil paduka tersebut.

Kotak itu telah berpindah tangan. Setelah terbuka, ternyata isinya adalah sebuah lilin.
“Hmm… Pesan rahasia Zanggol. Berarti ini adalah berita penting,” lelaki itu bergumam.
“Apakah ada Zanggol di sini?!” teriaknya.
“Ada!!” sahut seseorang.
“Cepat datang kemari!”
“Aku sudah berada di depan Paduka.”
“Jangan bercanda!”
“Lihat ke bawah, wahai Paduka!”
Barulah lelaki itu sadar, Zanggol yang ada di dalam goa itu hanyalah seorang anak kecil berumur delapan tahunan.

“Siapa namamu, wahai Zanggol muda?” suaranya melembut, namun tersirat keraguan.
“Namaku Amian. Cucu Azzara, yang mengirimkan pesan itu.”
“Hmm… Bisakah kau membacakan pesan dari kakekmu ini?”
Amian mengangguk, diraihnya lilin yang diulurkan oleh paduka kepadanya.

fwuuuzzhh… tangannya mengibas, lilin itu menyala. Asap dari lilin itu menciptakan bentuk-bentuk aneh yang hanya bisa dimengerti oleh Bangsa Zanggol. Dan pesan ini… memang ditujukan agar hanya dapat dibaca oleh Amian, bukan Zanggol-zanggol yang lain.
“Ini adalah koordinat posisi!” ucap Amian bersemangat.
Paduka menunjuk seorang Parawa untuk segera mendekati Zanggol muda bernama Amian itu. Parawa tersebut segera memegang pundak Amian, yang segera berkonsentrasi untuk mengirimkan imaji, yang terlihat di matanya kepada Parawa itu.
“Sebuah pulau, di arah Utara!” jerit Parawa itu dan segera melepas pegangannya dari pundak Amian, menuliskan angka ordinat.

“Apakah pulau itu kosong?” tanya paduka.
Amian tak segera menjawab. Keningnya mengkerut, tangan kanannya mengelus-elus pipi, giginya merapat, matanya memicing.
“Zanggol muda! Apakah kau mendengarkan aku?!” jerit paduka, merasakan kebingungan Amian.
“Maaf, Paduka! Ku sedikit bingung dengan pesan terakhir ini. Kata kakekku, pulau ini sangat layak untuk ditempati. Tapi…… apakah itu kosong atau tidak…… hmm…”
“Ya??”
Amian tersenyum dan melangkah agak jauh dari lilin itu. Tangannya mengibas… fwuuuzzhh… lilin itu padam.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Zanggol muda!”
Amian tidak mempedulikan ucapan marah dari pimpinan mereka itu. Matanya fokus memperhatikan asap yang keluar dari lilin yang telah padam. Semua mata Penia yang berada di dalam goa itu mengikuti arah pandangannya. Asap-asap itu berkumpul membentuk gumpalan padat, berupa tulisan

----- K O S O N G -----

Tak satupun dari mereka yang berada di sana, yang tak melukis senyum di wajah mereka. Hidup baru, akan tertempuh.

[di saat inilah lagu soundtrack ‘Fantasy Amian_zanggol’ dinyanyikan]

Dari dalam goa terlihat tujuh buah Kopar terbang ke berbagai arah. Kotak pertama tiba di negeri yang dihuni oleh Bangsa Zanggol, yang kontan menciptakan teriakan kebahagiaan. Kotak kedua tiba di negeri yang dihuni oleh Bangsa Parawa yang segera melakukan ritual minum air raksa. Yang ketiga diterima oleh Bangsa Kudiy, lalu Bangsa Haindra, Lugga, Reisa, dan akhirnya Duyumi. Bangsa Duyumi, yang sangat gemar mengajak “DUgem YUk Malam nIy!” merayakan khabar gembira ini dengan goyang patah-patah ala Farid Harja.

[lagu soundtrack sudah hampir usai. Di layar bioskop terlihat tulisan bercetak miring tebal]

Jaman kegelapan bagi tujuh bangsa. Masing-masing mencoba untuk menjadi yang terkuat. Peperangan terjadi dimana-mana. Mereka, yang menginginkan kedamaian memilih untuk bersama-sama, bahu-membahu, mencari tempat baru demi kehidupan yang baru.

.....Pulau Morla --- Persekutuan Damai Tujuh Bangsa.....

Hingga…… tiga belas tahun kemudian……

BERSAMBUNG

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sandymaz_87
sandymaz_87 at (Prolog) Fantasy Amian_zanggol (6 years 33 weeks ago)
20

Fikfan yg ok, pasti banyak menganalisis tentang pelayaran sblmnya. Kosa kata juga nggk monoton, tapi footnote saya setuju sama Rea_sekar. Alangkah baiknya di selipkan ke dalam narasi, tanpa memberi kesan ceramah / menggurui pembaca dengan kalimat yg dibuat mengalir.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at (Prolog) Fantasy Amian_zanggol (9 years 2 weeks ago)
60

Hum. Sebelum ngasih permen, mungkin saia akan kasih daftar hal-hal yang mengusik saia (sebagai pembaca) dulu ya :D
.
1. Footnotes, like, seriously? Itu penjelasannya kan bisa dileburin ke narasi. Futnot yang dikau berikan itu gak penting, menurut saia... soalnya masih bisa dimasukin ke narasi tanpa merusak jalinan cerita. Rumus gampangnya sih ya bikinlah futnot hanya jika penjelasan tersebut akan melambatkan/membuyarkan cerita.
.
2. Ini settingnya di dunia lain kan? Kok bisa ada bahasa Inggris? Oh cuma mau guyonan doang ya... hum... gak lucu.
.
3. SFX SFX SFX. Saia gak gitu keberatan, cuma dikau memakainya secara tidak enak. Apalagi yang ini nih:
Klontang… zzhuurrr… klonteng… zzhuurrr… suara sebuah kaleng, yang mengikuti naik turun kapal, disertai suara riak pantai, bersahutan.
Malah jadi overtelling.
.
Nah sekarang permennya!
Saia kesel sama gaya bicara si Isbas. Saia selalu salah-baca Penia jadi pen**.
Sintruktian = instruktian? Vigatorian = navigator? Tekinan = techie? Kopar = koper?
.
Hum. Kaekna saia gak jadi ngasih permen deh. Ceritanya masih belom jelas di prolog ini. Ya sudah, teruskan!

dadun at (Prolog) Fantasy Amian_zanggol (9 years 2 weeks ago)
80

waah. lanjut om! :D
oiya om, nanti tanggal 11 Desember, beberapa user k.com jaman jebot mau pada posting masal. oom ikutan yak! ada missworm, dian k, villam, sefry, alfare, w1tch, KD, dll.... oke om?