RIEL - Chapter 2 : Penjelasan

“Seperti kata Pak Adam tadi, kita menyebutnya sebagai Collo…”

 

Di depan kelas, Pak Putih memulai penjelasan tentang “Perang Dunia”, serius tentunya. Tidak seperti Pak Adam, Pak Putih tidak bertele-tele dan langsung menyinggung tentang “Perang Dunia”, singkatnya PD.

 

“…Collo memiliki tiga sisi bangunan yang masing-masing berada di ujung zona yang berbentuk huruf ‘T’ itu. Dua bangunan yang berhadapan adalah markas dari dua kelas yang sedang berperang dan satu bangunan yang ada di ujung kaki ‘T’ adalah titik checkpoint…”

 

Dan yang akan kita lakukan adalah menuju ke titik checkpoint atau yang biasa disebut sebagai Avalon.

 

Peraturannya cukup mudah untuk diingat. Setiap tim/kelas bebas untuk melakukan apa saja untuk dapat “menguasai” Avalon. Baik itu berperang, mengancam, negosiasi, damai, atau yang lainnya, tidak ada yang melarangnya. Tapi membunuh adalah hal yang mustahil, mengingat ketika PK habis, siswa akan otomatis KO dan keluar dari zona tersebut.

 

“…Namun satu hal yang perlu diketahui, untuk mencapai Avalon harus ada pengorbanan. Ya, perjalanan dari markas menuju ke Avalon cukup jauh. Akan ada beberapa pembatas yang menghalangi semua siswa, atau ‘pemain’ untuk PD ini, untuk bisa menuju Avalon tanpa pengorbanan…” lanjut Pak Putih yang terus menjelaskan tanpa henti.

 

Ya, dapat dilihat dilayar yang memiliki gambar yang sama dengan yang ditampilkan Pak Adam tadi dengan tambahan tiga persegi panjang yang berwarna pink yang terletak berselang di kaki huruf “T”. Masing-masing pembatas memiliki persyaratan untuk bisa terbuka. Kuncinya adalah beberapa pengorbanan, yaitu…

 

“…harus ada 10 KO untuk bisa membuka pembatas yang pertama,” jelas Pak Putih yang kemudian berhenti melanjutkan penjelasannya. Sepertinya dia sengaja memberi jeda untuk memperberat suasana dan tenggelam dalam keseriusan karena memang sesaat, suasana tiba-tiba menjadi hening dan tegang.

 

Dan meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa ada respon positif untuk hal itu. Ya, salah satu siswa yang berambut spike merah dengan beberapa cincin besar di jarinya dan entah-siapa-karena-aku-tidak-tahu-namanya, dengan tatapan seperti preman bertanya, “Apakah itu berlaku untuk masing-masing kelas atau ada solusi yang lainnya?”

 

Pak Putih tersenyum kecil, mungkin merasa sedikit senang ketika ada yang meresponnya sebelum kemudian menjawab, “Ada. Sepuluh KO tidak harus pada masing-masing tim melainkan keseluruhan tim. Jadi, ketika di Collo tercatat ada 10 KO yang terjadi entah dari tim mana sajakah mereka, pembatas pertama akan terbuka.”

 

Dan Pak Putih melanjutkan penjelasan dengan mengatakan bahwa setelah pembatas pertama terbuka, lima KO selanjutnya akan membuka pembatas kedua dan lima KO setelahnya lagi, pembatas ketiga akan terbuka. Dan….

 

“..Itu saja yang bisa saya jelaskan untuk Collo, ada pertanyaan?”

 

…aku merasakan de javu. Sepertinya aku pernah merasakan hal yang sama sebelumnya…ah! Sama seperti Pak Adam, selalu menggantung dan tidak lengkap.

 

Jadi, hal itu membuat seisi kelas menjadi ramai dalam pertanyaan.

 

Aku tidak bisa mendengar semua keluhan yang terlontar dari semua orang yang ada di ruang kelas 1-C ini. Hanya saja, kebanyakan mereka mempertanyakan tentang bagaimana bila kedua tim sampai di Avalon. Apakah keduanya dinyatakan menang, apakah yang menjadi syarat untuk menang, dan apa yang harus dilakukan ketika sampai di Avalon. Itu adalah pertanyaan dasar, dan memang benar bila menganggap penjelasan Pak Putih belumlah jelas. Tapi, tanpa aku duga, entah sejak kapan-aku-tidak-menyadarinya Elisse sudah berdiri di dekat Pak Putih dengan menampakkan sebuah senyuman aneh sebelum kemudian dengan lantang berkata, “Aku mohon perhatiannya.”

 

Seisi kelas mendadak hening. Namun sesaat kemudian menjadi ramai kembali dengan pertanyaan baru yang terlontar, “Siapa dia?”

 

Elisse tersenyum kecil. Seakan seperti memang inilah yang diharapkannya, masih dengan suara lantang Elisse menjawab, “Namaku Elisse Secretz, anggota siswa 1-C. Dan untuk PD, aku akan menjadi menjadi kolonel perang kelas 1-C. Ada pertanyaan lain mengenai hal itu?”

 

“Apakah itu benar, Pak Walter?” tanya salah seorang siswa yang menggunakan kacamata dengan frame putih.

 

Pak Putih tersenyum, memberi jeda, dan kemudian menjawab, “Yang kau dengar adalah kenyataannya, Nak.”

 

Tidak ada yang mengeluh dan bertanya lagi. Bila Pak Putih saja berkata demikian, tentu saja itu bukanlah bualan. Dan terlebih, aksi Elisse saat uji coba juga bukanlah sebuah hal yang biasa, itu cukup hebat. Jadi, suara yang ada di ruang kelas saat ini hanyalah milik Elisse saja yang dapat didengar.

 

“…Aku ingin menjawab sebuah pertanyaan, yaitu tentang apa yang akan dilakukan sebuah tim untuk bisa menang. Begini, setelah dari Unity tadi, perwakilan tiap kelas mendapatkan pesan dalam bentuk e-mail yang berisi tentang bagaimana cara untuk menang dalam sebuah perang di PD…” jelas Elisse. Ia berhenti sejenak untuk mengambil napas sebelum kemudian melanjutkan.

 

“…Isinya adalah sebuah kalimat, yaitu ‘Raja adalah seseorang yang harus mengibarkan bendera negaranya sendiri’. Kalian tahu apa itu artinya?”

 

Seisi kelas hening kembali. Aku rasa tidak ada yang berani menjawab, apa boleh buat. Mungkin mereka masih takut untuk menjawab acak pertanyaan Elisse. Jadi…

 

“Ketua kelas harus melakukan sesuatu di Avalon.”

 

…aku menjawabnya dengan cukup lantang.

 

“Ohh, jawaban yang sudah bisa aku harapkan dari ketua kelas. Silahkan maju dan perkenalkan dirimu sekali lagi. Kau juga, Kain, silahkan maju,” ucap Elisse dengan masih memberikan sebuah senyuman yang aneh, seperti…iblis yang menahan tawanya?

 

“Tidak perlu, aku di sini saja,” jawab Kain cuek.

 

Aku pun demikian. Malas rasanya untuk maju ke depan kelas hanya untuk memamerkan jabatan. Aku bukanlah orang yang suka terlihat menonjol di kelas, dan aku sudah terbiasa dengan itu karena dukungan dari lingkungan juga di masa lalu. Jadi, aku menolak untuk…

 

Tunggu.

 

Aku rasa bukan itu.

 

Aku bohong, aku rasa tidak seperti itu.

 

Ya, aku memang hanyalah seorang pengecut dan penakut, itu saja. Ia yang selalu dikucilkan, ia yang selalu mengurng dirinya, ia yang selalu mencoba untuk tenggelam dalam kebiasaan “aman” itu.

 

Dan orang itu adalah aku.

 

Ironis, sampai sekarang aku masih melakukannya. Kesempatan seperti ini hampir tidak akan pernah terjadi lagi, dan aku masih ingin merasa “aman”. Itu tidak akan membawaku kemana-mana.

 

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Kain, aku yakin dia punya alasan tersendiri. Bagaimanapun juga permasalahanku berbeda dengannya, jadi bukanlah “menyelesaikan” jika aku bersikap sama seperti Kain. Jadi aku…

 

“Perkenalkan kembali, namaku Aeron, Aeron Shevart…”

 

…mencoba merubah diriku di kesempatan yang sempit ini.

 

“…Aku adalah ketua kelas 1-C, begitu juga Kain yang duduk di sana. Dalam PD, kami disebut sebagai ‘Raja’.”

 

“Tunggu, mengapa ketua kelas ada dua orang?” Lagi-lagi si rambut spike yang aku-tidak-tahu-siapa-namanya itu bertanya. Namun itu adalah pertanyaan yang sudah aku nantikan sebelumnya, sehingga aku menjawab, “Untuk mengelabuhi, atau lebih tepatnya membuat bingung lawan kita. Caranya juga tidaklah mudah ditebak, jadi strategi itu akan aku jelaskan nanti.”

 

“Tch! Aku harap itu bukan hanya bualan saja,” gumam si rambut spike dengan wajah kecewa yang masih bisa aku dengar.

 

“Baiklah, untuk permasalahan Avalon, aku, Kain, dan Elisse sudah membicarakannya. Menguasai Avalon adalah hal yang terpenting. Namun menurut kami, misi dari PD yang sebenarnya adalah mengantarkan ‘Raja’ ke Avalon,” jelasku.

 

Melihat petunjuk yang seperti itu, aku tidak bisa berhenti berpikir bahwa dari awal sampai akhir pasti akan ada pertarungan satu lawan satu. Ya, ketika di awal seisi kelas berbondong-bondong mengatarkan “Raja” ke Avalon dengan syarat harus ada KO, maka jelas diakhir pasti akan ada pertarungan satu lawan satu, yaitu pertarungan antar ketua kelas.

 

Tapi itu hanyalah dugaan sementara saja, tidak lebih.

 

“Petunjuk selanjutnya akan diberikan melalui e-mail kepada ‘Scout’ ketika pembatas ketiga terbuka,” tambahku.

 

Dengan itu, seisi kelas kembali ramai. Memang terasa sangat menjemukan dan menjengkelkan ketika sesuatu yang sangat ingin kita ketahui tertunda berulang kali seperti ini. Kalau ingin berpikir positif, aku harap ada alasan yang bagus di balik hal yang menggantung ini karena jujur, aku juga tidak tahu mengapa.

 

“Bagaimana ini?” tanyaku pada Elisse.

 

Elisse menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian menjawab, “Tidak tahu. Ini kali pertamanya aku melakukan hal seperti ini. Pak Walter?”

 

Benar juga, aku dan Elisse bukanlah mahkluk sosial biasa. Intinya, kami memiliki kesendirian masing-masing, menjauh dari keramaian. Jadi Elisse mengisyaratkan sesuatu kepada Pak Putih. Pak Putih pun menjawabnya dengan senyum tipis sambil menggaruk-garuk kepala. Aku rasa dia mengerti maksud Elisse karena dia berkata dengan suara lantang, “Tenang, anak-anak.”

 

Perlahan suasana mulai menjadi tenang kembali. Satu informasi yang kudapatkan dari ini : Guru memang berguna dalam hal seperti ini.

 

Melanjutkan pembicaraan, Elisse kemudian mengeluarkan selembar kertas yang dilipat kecil sembari berkata, “Ehm, akan ada pembagian divisi untuk kelas 1-C dalam PD ini…”

 

“…Dalam PD ini, Pak Walter memutuskan untuk membagi kelas menjadi empat divisi dengan total enam kelompok. Dua kelompok untuk ‘Raja’, satu kelompok untuk ‘Scout’, dua kelompok untuk ‘Hitter’, dan satu kelompok untuk ‘Defender’,” lanjut Elisse sebelum kemudian mengambil napasnya.

 

Dengan begitu, mau tidak mau Elisse menjelaskan tentang divisi-divisi tersebut. Raja adalah ketua kelas atau sang Raja itu sendiri, Scout adalah pengintai dengan jarak pandang yang jauh, Hitter adalah penyerang yang biasanya berada pada lini depan, dan Defender adalah yang memberi support seperti pelindung atau yang sejenisnya.

 

Cukup berat memang untuk Elisse menjelaskan seperti itu kepada banyak orang, melihat dirinya yang dingin dan sepertinya tidak suka keramaian itu. Tapi bagaimana untukku menjelaskannya, dia…..Elisse sekarang mulai berubah, tiu hal yang baik tentunya. Aku rasa memang banyak perubahan yang terjadi padaku dan sekitarku. Dan itu terjadi ketika aku masuk di Zean Histoire ini, jadi, aku rasa memang ada sisi positifnya untuk apa yang telah kami lakukan. Meskipun itu PD sekalipun.

 

“…dan itu penjelasan dariku tentang divisi. Ada pertanyaan?” tanya Elisse yang sudah bisa aku pastikan, dia kehabisan napas.

 

Melihat ke sekitar, sepertinya tidak ada sesuatu yang membingungkan dari penjelasan Elisse. Bagaimanapun juga kebanyakan dari siswa pasti tahu tentang istilah dan peran tersebut, melihat bukan hanya tahu game, tetapi mereka sendiri juga termasuk bagian yang ada di dalamnya. Kalau pada catur, merekalah pion-pion itu.

 

“Tidak ada? Kalau begitu langsung saja. Pada beberapa kelompok ini, akan ada ketua kelompok untuk memudahkan dalam komunikasi dan hal lain dalam PD. Untuk ketua, tidak perlu disebutkan lagi….”

 

Jujur, aku sedikit kecewa dengan kalimat Elisse itu.

 

“…Untuk Scout, aku akan menjadi ketuanya. Hitter akan diketuai oleh Romoe Karl dan Edward Frionne. Dan untuk Defender, Rena Kinrad adalah ketuanya,” jelas Elisse. Ya, tadinya aku tidak menyangka Rena bisa menjadi ketua divisi. Tapi itu semua keputusan Pak Putih, jadi aku tidak bisa seenaknya mengganggu gugat karena aku yakin, itu pasti yang terbaik.

 

“Itu saja. Untuk yang lainya, aku akan menempel kertas ini di papan pengumuman kelas. Kalian bisa membacanya dan saling mengenal lebih dekat lagi satu sama lain setelahnya,” tambah Elisse sebagai kalimat terakhirnya untuk hari ini.

 

“Oke, saya ambil alih,” ucap Pak Putih sembari berdiri sebelum kemudian melanjutkan, “Besok adalah hari dimana PD pertama dimulai. Tidak ada kegiatan lagi hari ini, dan memang sengaja agar semuanya dilakukan secara mendadak ketika perang dimulai. Jadi pihak sekolah melarang berlatih, berdiskusi, atau yang lainnya di lingkungan sekolah. Cukup itu saja untuk hari ini, saya harap kerjasama baiknya untuk besok. Sampai jumpa!”

 

Pak Putih melanjutkan langkahnya menuju ke luar kelas. Tidak hanya itu, Kain lompat dari kursinya dan kemudian pergi meninggalkan kelas, diikuti dengan Elisse yang melakukan hal yang sama setelahnya.

 

Ketika pembawa “aura dingin” sudah tidak ada, untuk yang terakhir kalinya seisi kelas ramai lagi. Tidak hanya membicarakan tentang apa yang baru saja dibahas, tetapi juga membicarakan tentang apa yang akan terjadi nantinya saat PD dimulai. Ada juga yang saling menyenggol, mengerumuni kertas pembagian divisi di papan pengumuman. Ya, bagaimanapun juga hal ini sangat membuat kami para siswa tertarik dan tertantang.

 

PD memang memberikan efek yang luar biasa.

 

Begitu banyak sekali penjelasan yang diberikan untuk hari ini. Aku harap semuanya mengerti dan mampu mencernanya dengan baik. Memang sangat memaksakan tapi apa boleh buat, semuanya juga harus tahu, dan inilah waktu yang tepat.

 

“Aku harap besok semuanya akan baik-baik saja,” pikirku.

 

Hari Pertama : Briefing Kelas Selesai – 10:48

 

 

*bersambung*

Read previous post:  
16
points
(1544 kata) dikirim nereid 9 years 49 weeks yg lalu
53.3333
Tags: Cerita | Novel | petualangan | drama | fantasi | komedi | light novel | super power
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
80

banyak kosakata baru, padahal yang kmrn aja blm pada apal T.T
*belinangairmata*
kalo udah jadi satu volume ya mas, langsung kasih tau aku :D

Penulis nereid
nereid at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 43 weeks ago)

ohh, kasi tau aja e-mailmu, ntar tak kirimin :D

tre3van_imutz@yahoo.com
kalo udah vol 1 kirim loh :D

Vangel at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 44 weeks ago)

Numpang nyimak ga

Penulis nereid
nereid at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 43 weeks ago)

monggo~

Penulis Erick
Erick at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 44 weeks ago)
80

maafkan daku, tapi aku bingung pas mbaca bagian nie, senpai! =_=
*nundukdalemdalem*

kayaknya banyak istilah2 yg seabreg jadi harus ngapalin satu2, dan banyak keterangan pula. dan satu lagi, aku udah lupa chapter yg kemaren2, malah kayak pembaca absurb yg ga tau kisah awal2nya... =_=
*nundukdalemdalem*
*dilempar bakiak*

kalo ada waktu, aku baca dari awal smpe yg terakhir nie agar ngerti jalan ceritanya...

maafkan kelemotan otakku, senpai! >,<

Penulis nereid
nereid at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 44 weeks ago)

emang nih, makanya saya juga ga suka bagian penjelasan dengan istilah baru....
ntar kalo udah jadi 1 volume saya kirimin file nya ke kamu deh...
makasih udah mau berpusing-pusing ria, haha, maap sebelumnya XD

60

aku tidak suka

Penulis nereid
nereid at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 45 weeks ago)

ohh, makasih buat poinnya :D

Penulis Sam_Riilme
Sam_Riilme at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 45 weeks ago)
100

Poin apresiasi sesama penulis LN~
.
Saya juga pengennya kita tukeran naskah jadi aja, hehehe (males baca satu-satu, kecuali saya ditunjukin OUTLINE DRAFTnya -yang kayak AlterNate- biar mudeng part-part ceritanya kayak gimana)

Penulis nereid
nereid at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 45 weeks ago)

wah, makasih nih...
kayaknya emang perlu, buat share juga, tapi...oh my dog, entah ini karena saya terlalu bodoh, sombong, atau apa, tapi beneran, saya ga tau apa itu outline draft!!
*dirajamsekastildansekecom*
hmmm, bisa kasih tau saya seperti apa outline draft itu lewat fb?
akan saya buatin ntar, sekalian tukeran gitu kan?
atau mau naskah jadinya (kayak Dansou) ?

Penulis Sam_Riilme
Sam_Riilme at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 45 weeks ago)

terserah..
bentar, saya tag di notes FB saya deh

Penulis nereid
nereid at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 45 weeks ago)

oh, itu yang namanya outline draft??
oke bentar....saya juga bikin dulu...

Penulis dansou
dansou at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 45 weeks ago)
90

Hmmmm.... *dilindes*
.
Saya kirimin yang udah kau tulis dong, Dim. Saya udah lama enggak ngikutin, dan saya males buat ngeklik-klik >,<

Penulis nereid
nereid at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 45 weeks ago)

boleh, .
Besok langsung saya kirim (ol mobile ni soalnya).
Mau cek ato kontan? #plak!
Btw, makasi lho :D
*kegirangan lapaknya laris*

Ziza Freya at RIEL - Chapter 2 : Penjelasan (9 years 45 weeks ago)

hmmm