Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 2)


 

(dua)

Wajah malaikat kecil itu selalu berhasil membalut kerapuhan hatinya setiap kali ia melihatnya. Nathan Saverio, buah hatinya, harta paling berharga yang dimilikinya saat ini, nampak tertidur pulas di samping tempat duduknya. Joanna membelai kepalanya yang pelontos secara lembut dan hati-hati. Ia ingin Nathan tetap terlelap, menghimpun kembali energinya setelah setengah hari menjalani aktivitas di sekolah.

Di tengah lampu merah begini, biasanya Nathan akan meracau tentang banyak hal. Menanyakan dan membicarakan apa pun yang dilihatnya di sekitar. Berteriak-teriak minta diambilkan dan dibelikan sesuatu dari pedagang asongan. Menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di kelas. Namun kali ini, ia nampak sangat kelelahan.

Telapak tangan Joanna menjadi lembap karena keringat di dahi Nathan. Selembar kertas ikut terbawa dari dalam tas bersama saputangan yang ia keluarkan. Kertas berisi pengumuman sekaligus undangan rapat orang tua siswa yang diberikan Pak Guru Tristan. Selama beberapa detik, Joanna mengacuhkannya, membaca sekilas isi kertas, sebelum ia meneruskan maksudnya menyeka keringat di dahi Nathan.

Joanna kembali pada selembar kertas pengumuman itu: ia harus menghadiri rapat orang tua siswa, besok. Besok? Mendadak ia baru ingat kalau ia sudah membuat janji bertemu dengan Koh David, calon supplier batu-batu dan bahan aksesoris lainnya, pada waktu yang hampir bersamaan dengan agenda rapat orang tua. Ia benci harus memilih antara menghadiri rapat orang tua siswa atau rapat dua orang yang hendak menggalang kerja sama. Seandainya ia tahu ada orang lain yang memiliki barang-barang dengan kualitas yang lebih baik dan harga yang lebih bersahabat dibanding milik Koh David, pilihannya bakal lebih berat ke menghadiri rapat orang tua siswa. Dan satu hal yang melintang di antara otak kanan dan kirinya adalah, fakta menyebalkan di mana, membuat janji bertemu Koh David sesulit dan seeksklusif membuat janji bertemu selebriti.

Nathan adalah prioritas utama dalam hidupnya, dan bisnis perhiasan dan aksesoris yang baru akan dibangunnya ini pun mulai diletakkan di level prioritas demi menjaga stabilitas prioritas utamanya. Segala yang berhubungan dengan Nathan adalah hal yang sangat penting baginya, termasuk menghadiri rapat orang tua siswa. Setelah guru-gurunya, Joanna harus menjadi seseorang di satu urutan selanjutnya yang mengetahui perkembangan kemampuan buah hatinya. Dan ia pun harus menjadi bagian dari tim pendukung dan perancang program-program pendidikan di sekolah tempat buah hatinya berada. Namun kini, ia juga harus menjadi delegasi utama bagi bisnis yang tengah dirintisnya.

Seandainya Joanna bisa membelah dirinya menjadi dua....

Teacher Tristan...,” gumam Nathan dalam tidurnya, membuat Joanna berpaling kepadanya.

Joanna tak salah dengar, baru saja Nathan menyebutkan nama guru laki-laki itu. Tristan. Bahkan, Nathan sempat tersenyum saat menggumamkan nama itu sebelum akhirnya kembali terlelap, dan tentu saja Joanna tak salah lihat. Ia lantas berpikir, sejauh apa hubungan di antara puteranya dengan guru laki-laki itu?

Memang, dalam pengamatannya, Nathan lebih dekat dengan Tristan dibanding guru-guru lainnya di sekolah. Joanna bisa melihat ekspresi wajah Nathan yang ceria dan bahagia ketika berada bersama Tristan. Begitu pun sebaliknya, Tristan tampak lebih dekat dengan Nathan dibanding murid-muridnya yang lain. Dan aroma perhatiannya pun tercium lebih pekat. Oh, sebenarnya, ini baru kesimpulan sederhana di dalam benak Joanna. Kesimpulan yang sedikit bercampur dengan...

... mungkin... harapan.

Ah, Joanna merasa sudah keluar batas. Apa yang baru saja dipikirkannya sedikit konyol, terutama di bagian Tristan tampak lebih dekat, dan perhatiannya lebih pekat terhadap Nathan. Bukankah semua guru akan bersikap seperti itu terhadap semua, ya, semua muridnya?! Dan, oh, ayolah, seorang anak kecil berusia tiga tahun akan menggumamkan apa dan siapa saja saat sedang mengigau, bukan? Jadi, yeah, Joanna tak perlu membesar-besarkan perkara sederhana mengenai apa yang baru saja dilakukan Nathan.

Lampu hijau.

Joanna memacu kendaraannya di bawah level normal, sebab dirinya tengah bersama Nathan. Level normal dalam versinya tentu saja memiliki pengertian yang agak berbeda dari kriteria normal dalam kamus berkendaraan seorang perempuan. Saat masih gadis, hobinya adalah kebut-kebutan di jalanan. Sekali waktu, ia pernah mengalami kecelakaan, namun itu tak lantas membuatnya jera. Tak seorang pun mampu menghentikannya. Sampai kemudian, muncullah seseorang....

Adam. Seorang calon Dokter dengan segala kesempurnaan dan keteraturannya, yang datang melalui perkenalan seorang teman. Yang kemudian mengakui dan mengungkapkan kekagumannya terhadap Joanna yang nyaris berseberangan dengannya. Adam yang jatuh cinta pada kesederhanaan Joanna. Adam yang manis dan romantis, yang menghiasi hari-hari Joanna dengan nuansa warna merah muda dan mahkota-mahkota mawar di mana-mana.

Semenjak mereka berhubungan, Adam tak pernah membiarkan Joanna menyetir. Adam yang sempurna dan teratur tak menyukai gaya slengean dan ugal-ugalan dalam berkendaraan. Hanya itu satu-satunya hal yang tidak disukaiAdam dari Joanna, dan selalu menjadi bahan permasalahan mereka. Tetapi pada masa itu, medan cinta di antara mereka masih sekuat ikatan atom dalam benda padat. Terlebih, Joanna tak kuasa menolak kebaikan dan pesona Adam.

Minggu berganti bulan, hubungan mereka terasa kian mantap. Dunia milik berdua lantas memerangkap mereka dalam sebuah persoalan klasik. Joanna hamil. Adam mengelak dengan serangkaian teori kontrasepsi dan reproduksi yang ia kuasai. Namun hasil pemeriksaan Dokter tak sejalan dengan motif pengelakan Adam. Lantas Adam mencari kambing hitam.

Joanna tak hanya kecewa, melainkan juga terluka. Namun ia tak lantas putus asa. Ia berusaha tegar tanpa bergantung pada siapa-siapa. Beruntung, ia memiliki seorang Ibu yang luar biasa, yang masih bersedia menerima kondisi putrinya apa adanya, tanpa membebankan rasa bersalah yang tak berskesudah, tak peduli kakak-kakak Joanna menentangnya.

Bulan berganti tahun, Joanna memulai hidup sebagai orang tua tunggal, bersama ibunya merawat dan membesarkan Nathan. Sementara, Adam menghilang setelah memberi kabar terakhir bahwa ia akan menyelesaikan studi kedokterannya di Amerika.

Seharusnya Joanna sudah mengubur semua kenangannya bersama Adam dalam-dalam. Sebagian memang sudah tenggelam. Sisanya, mau tak mau masih tetap tertinggal, di saat-saat tertentu ketika Joanna memandangi Nathan. Bagaimana pun, ada darah laki-laki itu di dalam diri Nathan, meskipun Joanna mati-matian mengharamkannya. Dan betapa pun, Nathan tetaplah seorang anak laki-laki biasa yang memerlukan sentuhan kasih sayang dan perhatian dari seorang laki-laki dewasa, meskipun Joanna mati-matian berusaha menjadi seorang Ibu yang mampu berperan ganda.

...

Tiba-tiba Joanna merasakan sesuatu yang tak beres pada kendaraannya. Ia menepi, lalu turun dan mendapati ban mobil sebelah kiri-depannya kempes. Ban sebelah kiri-belakangnya menjadi pelampiasan tendangan bebasnya ketika ia beranjak ke bagasi dan tidak menemukan peralatan apa-apa di sana. Ia baru saja ingat, mobilnya baru dicuci, dan semua isi bagasinya berpindah ke garasi.

Joanna mengeluarkan ponsel dari tasnya. Selama beberapa saat, ia mencari-cari nama kontak yang bisa dihubungi dan siap sedia membantunya. Ya, idealnya, di saat-saat seperti ini, setidaknya ada satu nomor di ponselnya yang pasti ia hubungi dan pasti siap sedia membantunya. Idealnya.[] 

Read previous post:  
169
points
(1104 words) posted by cat 9 years 11 weeks ago
84.5
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | cat | CERFET | guru | kolaborasi | Romantis
Read next post:  
100

g tw mw komen apa tapi ini bagus

Writer NiNa
NiNa at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 2) (8 years 51 weeks ago)
60

yah... kurang :)

100

Kenapa ya, ga bisa ngasih poin dibawah 10 kalau buat Kak Dadun XD XD
.
Narasinya mengalir banget, dan terasa amat sangat karakter Joanna-nya XD
.
oh ya, Teacher sama slengean-nya tolong dimiringin XD

edited. thank you Kak Maximus :)

100

Inilah kualitas penulis yang terbiasa menulis kolaboratif dan dikejar batas waktu. Bagi pembaca yang belum terbiasa, akan membaca sedikit lebih lambat pada episode ini.
-------------------------------------------------------
Kurang padat dibanding karya-karya dadun yang lain. Namun justru itu lebih tepat untuk kolaborasi seperti ini.

90

hai om dudun.. :D

100

enak :D
sumbang poin dehh..

ada satu kata yg menarik "slengean"
itu bahasa jawa ya? ohoho

100

wuuuaaaaaa..... maaaniiiisssss

90

lah tau2 dah habis bag 2 nya..
mantaf

100

Mantap. Chaining-nya kelihatan sekali tertata. Dan endingnya itu... ini berarti, harus ada satu karakter tambahan nih, hehe.
.
Btw, ya, saya ikut deh. Hitung2 nyoba romance dewasa. Tapi kalau jelek, jangan digantung ya, heh heh :D

90

duh..
mo kumen apa ya..
kasi poin aja lah..
eh..
cem nya ada kata yang gak baku itu ya..
"motiv" dan apa ya.. *lupa saia*

motiv ternyata harusnya motif ya. hehe. makasih majnun. ayo apa lagi yg nggak baku, nanti ta coba perbaiki.

90

*deg-degan* >.<
saya ngikut komen dibawah^^

100

Setuju dengan komen-komen di bawah. Suka dengan paragraf terakhirnya. :)

90

uhh, tenang sekali. Saking larutnya, hampir saja saya terkecoh dengan kalimat ini:
"Nathan adalah prioritas utama dalam hidupnya, dan bisnis perhiasan dan aksesoris yang baru akan dibangunnya ini pun mulai diletakkan di level prioritas demi menjaga stabilitas prioritas utamanya."

100

soooo soft <3
ngalir banget, bang dadun >.<
full narasi tanpa dialog, tapi, tapi ... saya tetep enak bacanya >.<

100

Mantep!!!
Yang ini ceritanya ngalir banget!
Say aikutan deh kak Sun (jangan gigit ato patuk saya ya!)

Tapi saya tetep mo nambahin satu tokoh--soalnya saya gak gitu bebas mainin karakter orang ahahahaha (rasanya jadi kayak bikin cerita pake POV-2 karena saya gak gitu kenal ama karakternya).

Yeay... Irene ikutan :* xixixiiii.. Asek.. Lapoe emak dl, telah dijaring 1 korban tambahan.. Wakakkakaka

Entah kenapa saya rasanya melakukan kesalahan besar. ==a
Uoooh ... saya kan mahluk fantasi ...

Tidak bole mengundurkan diri.. Xixiixii.. Klo nda, sy emut2 nanti :p
Km kan ahli dlm berbagai genre, irene :p

bisa nulis dalam beberapa genre kan gak termasuk ahli kak TAT
cih saya gak bisa kabur nih ...

100

wa.. rapi sekali ceritanya.. kak lavvv, jgn cepet2 ya..

90

Nambahin poinnn ahhhh~

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 2) (9 years 10 weeks ago)
100

Daduuuun selalu dengan kisah lembutnya.

Aakuuu terhanyuuuuut.

Btw jd si Papa Nathan itu ndak merit ma mama Nathan yah.

Lavender go go go go.

100

aduuuhhhhhh... giliran saya... hiks