Sumpah Pemuda

 

Amit minta dibuatkan nasi kuning.

“Untuk apa?”tanya Bu Amit curiga.

“Merayakan Hari Sumpah Pemuda.”

“Lho merayakan Sumpah Pemuda kok pakai nasi kuning?”

“Ya sudah, kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!”

Bu Amit tercengang, kontan membentak.

“Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Sumpah Pemuda! Nggak! Nggak ada waktu!”

Amit tidak membantah. Kalau dibantah, pasti “nggak-nggak”nya Bu Amit akan menjadi kenyataan. Tapi kalau tidak dibantah, biasanya “nggak" dari Bu Amit hanya sekedar gertakan, nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu.

“Tenang saja, “ kata Amit pada Ani, “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu, jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Sumpah Pemuda ke rumah. Kita rayakan momentum kelahiran negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Sudah terlalu banyak pemuda yang kini lupa. Kita harus pertahankan!!”

Pada tanggal 28 Oktober, Amit keramas dengan air bunga, lalu menggenakan stelan putih-putih. Sepanjang hari ia menyendiri, seperti masuk ke dalam sanubarinya. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. Ternyata tidak ada. Amit mulai deg-degan.

Sore hari, Amit melirik ke meja makan. Tapi tidak ada perubahan. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Amit mulai tidak yakin. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Di situ ia kecewa sekali, karena “nggak” Bu Amit sekali ini memang berarti tidak.

Amit masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. Tetapi di gudang hanya ada ayam yang masih hidup. Jumlahnya pun masih utuh. Tak satu pun yang disembelih. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung.

Waktu Ani pulang dari kampus, Amit panik.

“Ani, Bapak salah perhitungan hari ini. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Sampai sekarang belum pulang. Jadi kita akan menghadapi bahaya.”

Ani mengangguk tenang.

“Nggak apa, Pak. Tenang saja. Kita kan sudah 350 tahun dijajah, kita sudah biasa menghadapi bahaya.”

“Tapi kita akan malu besar, bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?”

“Tenang saja, Pak.”

“Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?”

“Memang.”

“Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Sumpah Pemuda mestinya untuk membangun kepercayaan. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Itu bisa tambah merusakkan hakikat sumpah pemuda”.

Ani mengernyitkan dahinya.

“Masak begitu?”

“Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Makanya kalian semua cepat marah. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo, turun ke jalan berteriak-teriak, menentang, menggempur apa saja. Bapak mengerti sekali itu. Sekarang akan tambah bukti lagi, aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!”

“Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji.”

“Habis kalau tidak dipikat begitu, mereka pasti tidak akan mau datang!”

Ani nampak beringas.

“O, jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?”

“Ya kan?!”

Ani tiba-tiba tertawa.

“Kok ketawa?”

“Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza, burger atau fried chicken. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. Mereka tertarik karena masih ada orang mau merayakan Sumpah Pemuda di rumahnya secara pribadi. Itu berarti Sumpah Pemuda bukan hanya dipajang sebagai slogan, tetapi dilestarikan di dalam rumah, di dalam diri. Mereka suka, karena itu mereka akan datang.”

Amit tercengang.

“Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?”

“Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan Sumpah Pemuda karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ani tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!”

Amit terkejut.

“Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?”

“Ngapain pakai nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan martabat para pemuda Indonesia! Nyogok itu namanya!”, sahut Ani ketus.

Amit mengurut dada senang. Ia merasa amat bahagia.

***

Malam hari, sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ani datang. Peringatan diadakan dengan membacakan naskah Sumpah Pemuda. Disusul dengan pidato dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan bendera pusaka, sehingga Amit merasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung.

Setelah peringatan Sumpah Pemuda yang sederhana namun khusyuk itu selesai, tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk.

“Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?”

Amit terkesiap. Ia gugup. Buru-buru ia mencari Ani ke belakang, sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

“Ani! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?”

“O ya?”

“Ya! Padahal kamu kan sudah bilang, kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amit bingung karena panik.

Ani tersenyum.

“Tenang, Pak. Mereka sudah biasa dibohongi. Dibohongi sekali lagi, mereka tidak akan apa-apa. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Bangsa kita kan jago memaafkan. Lagipula kalau pemudanya pembohong, tidak berarti sumpahnya juga bohong! Ayo, kalau berani berbohong, Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ani menyeret bapaknya kembali ke depan.

Dengan sangat malu Amit terpaksa ikut. Ternyata di depan, teman-teman Ani sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amit dari tetangga.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Sumpah Pemuda (2 years 27 weeks ago)

WAH, TERNYATA BEGITU TOH....
bagus, sip sip sip...

Writer lutherpulalo
lutherpulalo at Sumpah Pemuda (10 years 25 weeks ago)

ngena banget
bisa bikin tercengang hampir semua kalangan apalagi momennya dapet banget

Writer H.Lind
H.Lind at Sumpah Pemuda (10 years 26 weeks ago)
100

Suka sekali dengan pembicaraan Ani dan bapaknya pada bagian pertama. Membuat senyum terkembang dan perasaan bangga pada pemuda2.
Memasuki bagian kedua, terasa sekali satirnya. Lumayan nyesekin dada dan kontradiktif dengan bagian pertama. Tapi, kurasa, ending itu menyelematkan.
Pokoknya suka dengan gaya dan ide kepenulisanmu. :D

Writer Riesling
Riesling at Sumpah Pemuda (10 years 26 weeks ago)
100

*jempol*

Writer neko-man
neko-man at Sumpah Pemuda (10 years 26 weeks ago)
80

satirnya dalam..

Writer Ivan Rampengan
Ivan Rampengan at Sumpah Pemuda (10 years 26 weeks ago)
80

serasa nonton side movie di acara parodi pemerintahan Metro TV

Writer nagabenang
nagabenang at Sumpah Pemuda (10 years 26 weeks ago)
100

sep!

Writer panglimaub
panglimaub at Sumpah Pemuda (10 years 26 weeks ago)
100

Ngakak ngguling-ngguling!!!

Ini seru dan lucu!!! kalo saja ada Bapak kaya Pak Amit di daerah saya :D

Writer sabbath
sabbath at Sumpah Pemuda (10 years 26 weeks ago)
90

dibikin "naik-turun" sama konfliknya.. haha...
cerdas banget dialognya..
.
ada beberapa typo, kelebihan tanda baca.. mungkin bisa dikoreksi lagi..^ ^
salam kenal.

Writer eNTegila
eNTegila at Sumpah Pemuda (10 years 26 weeks ago)

gokil...