Tentang Kakak

 

 

Aku melihat kakakku duduk di atas kursi. Ia sedang membaca buku. Aku tidak bisa melihat sampul buku tersebut, namun tahu buku itu tebal: jenis yang membuat pembacanya tampak seperti seorang cerdas berkacamata (walau si pembaca tidak memakai kacamata), atau seorang pemikir yang tampak lebih sering merenung daripada berbicara dengan sesama manusia.

 

Kakakku memakai baju santai Minggu siang. Ia membaca dengan perhatian intens, dan tidak peduli pada pakaiannya yang berantakan dan rambutnya yang awut-awutan seperti rumput kering yang mudah terbakar.

 

Ia sedang membaca satu lembar terakhir, dan, begitu selesai, kakak menutup buku itu dan menaruhnya ke atas meja. Lalu ia bersender, menyilang-datarkan satu kakinya ke atas lutut, menaruh siku ke lengan kursi dan membiarkan punggung tangan menahan kepalanya. Matanya menerawang, dan ia tersenyum samar, seolah tahu tentang suatu rahasia yang hanya ia dan segelintir orang di dunia ini yang dapat kesempatan mengetahui isinya apa.

 

Saat itulah ia melihatku. Ia tidak terkejut. Ia memanggil dengan lambaian tangan dan aku mendekatinya. Aku duduk di kursi seberangnya, tidak bersender, melainkan duduk condong dengan punggung agak membungkuk, tangan terkait di jemari dan mata menatap meja. Kami berdiam diri beberapa saat, dan tak lama kakak berbicara, dalam cara yang, -aku sudah lupa,- mirip denganku, hanya lebih jelas, lebih keras, dan lebih tua lima tahun dari suaraku sendiri: "Ceritanya bagus."

 

Lalu kakak mencondongkan tubuh, mengambil buku itu, dan membuka halaman pertama.

 

Ia membiarkan halaman itu terbuka. Perlahan, dari muka kertas, muncul seekor katak, dengan tungkai panjang yang ujung jemari-jemarinya berselaput seperti dayung. Katak itu mengedip, bergerak, lalu melompat. Tapi tidak jatuh ke atas tanah. Katak itu mengambang, seolah berada di atas air, lalu menendang, meluncur, melayang ke atas langit.

 

Lalu muncullah yang lain: ayam bermahkota dengan surai-surai bulu keemasan, lemur putih dengan mata hijau besar yang memakai jam perak sebagai bandul kalungnya, tiga monyet berisik dengan ekor yang saling terkait satu sama lain, seekor flamingo dengan sepatu bot di tungkai dan cerutu di mulut yang tampak sangat tangguh, dan seekor ular bersisik cerah yang mendengungkan melodi-melodi sembari merayap di atas perutnya yang datar. Lalu muncul selembar tirai cahaya, yang begitu tipis dan halus dan membiaskan warna pelangi yang samar. Tirai cahaya itu melayang sebentar, sebelum jatuh perlahan dan menyentuh meja dan lantai. Muncul suara air; jenis yang mengalir dan menyelusup ke dasar ceruk-ceruk berbatu dan berlumut dan berkerikil tajam-tajam.

 

Bentangan tirai itu semakin memanjang dan memanjang, dan tanpa kusadari, aku sudah ada di satu sisi sebuah sungai kecil yang membelah sebuah hutan rimbun, di mana ujung satunya muncul dari arah hutan dalam, dan satunya mengarah ke bukaan hutan yang terang dan lebih jarang vegetasinya.

 

Kakakku, yang ada di sisi seberang, mulai berjalan, dan berkata, “Ayo.” Aku mengikutinya. Kami berjalan bersama, bersisian, melintasi hutan yang kini riuh-rendah dengan suara-suara penghuninya.

 

Tak lama kami sampai pada ujung sungai, yang memberi rasa janggal, akibat ketiadaan gemuruh suara air terjun.

 

Penasaran, aku maju ke tepi, dan melihat ke bawah. Aku melihat warna biru gelap pada hamparan yang tampak seperti sebuah samudra. Namun, begitu kuperhatikan lagi, aku tersadar sungai itu tidak akan pernah mencapai dasarnya; warna biru itu bukan samudra, melainkan langit, dan aku sedang menunduk menatap muka angkasa yang hampa, yang harusnya berada di atas kepala, bukan di bawah kedua kakiku.

 

“Lihat ke depan.”

 

Aku melihat. Dan di cakrawala ada matahari putih serupa bulan. Tidak silau, mungkin karena ada kabut melenturkan pendar cahayanya hingga menyamarkan kekuatannya, juga wujudnya menjadi serupa makhluk putih raksasa, dengan bentangan cakrawala biru sebagai tempatnya mengambang tanpa suara.

 

Aku duduk di atas rumput, sementara kakak, tanpa takut, duduk di tepi tebing.

 

“Kau masih ingat tempat ini?”

 

Tentu saja. Aku menjawabnya segera.

 

Kakak tertawa, “Ya, dari cerita yang itu. Tapi aku tidak tahu tamatnya. Bisa ceritakan padaku?”

 

Aku menceritakannya, dan kakak mendengarkan, dan selagi aku bercerita, matahari jadi semakin putih dan pendar biru di sekitarnya semakin redup dan hilang cerah menjadi ungu. Mendekati akhir cerita, langit sudah jadi ungu gelap dan bintang-bintang bermunculan di langit, cakrawala, atas dan bawah kepala kami, dan ketika selesai, matahari sudah jadi kecil dan putih dan berganti wujud jadi purnama sempurna.

 

Kakak menatapku, dan dari wajahnya, aku langsung tahu kalau dia akan segera pergi. Aku ingin menahannya, tapi aku tahu percuma. Bila wajah kakak sudah begitu, tidak ada yang bisa menahannya tinggal; tidak ayah maupun ibu, apalagi aku sendirian. Jadi aku diam, dan menunggu.

 

“Apakah ada pertanyaan untuk kakakmu ini?”

 

Tentu. Aku memberikan pertanyaan yang, dulu, tidak pernah sanggup aku tanyakan padanya. Kakak mendengarnya, tertawa, dan menjawabnya. Aku teramat senang mendengar jawabannya, tapi aku tidak ingat apa jawabannya, sementara, rembulan di depan kami jadi semakin terang dan semakin besar, silaunya menyakitkan sehingga aku harus menutup mataku agar tidak jadi buta menatapnya secara langsung.

 

Dan aku membuka mata, atau terbangun, atau keduanya. Aku ada di kamar, menatap pijar bohlam di langit-langit kamarku. Aku telentang, di atas lantai, di atas kasur lipat. Wajahku lembab. Dari peluh, atau air mata?

 

Di sampingku ada buku, dengan sampul biru yang menyerupai langit tanpa awan, yang samar-samar aku ingat ada di dalam mimpiku.

 

Mimpikah?

 

Haruskah aku percaya bahwa itu memang adalah kakakku, entah roh atau potongan alam sadarnya, yang aku temui di dalam mimpi, yang datang menanyakan akhir cerita yang tidak pernah ia dengar, sebelum dirinya keluar dari rumah dan tidak masuk kembali? Atau haruskah aku menganggap itu mimpi, yang muncul dari dunia alam khayalku yang sesekali muncul untuk membuatku senang dan berpaling dari realitas yang seringkali kejam dan tidak kenal peduli sama sekali?

 

Aku mengambil pena dan menulis apa yang tersisa dari mimpi di dalam ingatanku. Mungkin nanti akan kubuat cerita lengkapnya, dan memajangnya di sebuah situs kepenulisan yang akhir-akhir ini sering aku datangi. Di sana banyak kritikus yang beberapa di antaranya, mungkin bersedia memberi saran-saran untuk menyempurnakan cerita yang kutulis. Setelah selesai, aku mematikan lampu dan berbaring di atas kasur, berpikir tentang malam-malam yang sudah lewat setahun ini, dan mimpi yang tidak akan pernah aku tahu apa artinya.

 

Malam itu aku tidur, tanpa bermimpi melihat kakakku membaca buku bersampul biru di atas kursi lagi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer tommradd
tommradd at Tentang Kakak (8 years 37 weeks ago)
80

Astaga...tulisanmu keterlaluan menggelitik dan menggoda imajinasi mbak. Fans!! :)

Writer nagabenang
nagabenang at Tentang Kakak (8 years 36 weeks ago)

hahah, glad to be of service ^^a and thanks :D

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)
100

Meong~ ♥ Suka.
Kak popon juga jago bikin tear-jerking. Ah, dirimu emang master~~
Duh, apa ya apa dong? Aku bingung mau komen apa. XD Sebenernya pas pertama kali baca, aku agak susah mudeng. Baru mulai nangkep pas baca kedua kalinya. Uh, pokoknya keran deh. ><
Btw aku udah ketemu paragraf sejenis ini di beberapa karyamu yang kubaca:

Quote:
Aku mengambil pena dan menulis apa yang tersisa dari mimpi di dalam ingatanku. Mungkin nanti akan kubuat cerita lengkapnya, dan memajangnya di sebuah situs kepenulisan yang akhir-akhir ini sering aku datangi.

^semacam ciri khas ya?
XD

Writer nagabenang
nagabenang at Tentang Kakak (8 years 37 weeks ago)

yah, ini nuansanya masih mirip cerpen Hujan it, jadi kalau bacanya jadi rada tear-jerking, harap maklum, wkwkwk~
.
mmm, kekny memang kurang rapi untuk cerpen yg musti dibaca sekali langsung ngerti isinya yah, hahah
.
ah, "ciri khas" itu ... gimana yah, irresistible aja bikinnya XD, yah, ntar bakalan kukurangi deh kebiasaan it, biar yg baca enggak pada bosan ending-nya gitu terus, hehehe XD
.
aniwai, kalau ada yg mau tahu, inspirasi2 untuk cerpen ini, adalah komik Solanin karya Asano Inio, novel Anansi Boys karya Neil Gaiman, sama cerpen2 sejenis yg orang-orang buat n sudah ak baca ^^
.
thx Ratu :)

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)
100

Dikau harus tanggung jawab... sa-saia terharu baca ini! >.<
(Mungkin karena saia bacanya sambil dengerin musik bossa, kali ya.)

Writer nagabenang
nagabenang at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)

biar ku bantu mu dengan sekotak tisu, sahabat.
#sokpuitis #eaaaaa #muntah
.
hahah, glad to be of service (in some other way, perhaps), thx, Rea :)

Writer anggra_t
anggra_t at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)
90

like this story. penggambaran suasananya bagus. tutur katanya polos. tema surga bukunya kayanya samar, soalnya menurutku cerita ini jauh lebih dalam intinya.

Writer nagabenang
nagabenang at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)

ya ... tampaknya memang jauh banget dari tema "surga buku menurutmu" yang diminta website-nya sih ... tapi untuk hasil ceritanya sendiri, ak lumayan puas, secara udah berapa bulan ini mau nulis satu cerita aja selesainya susah amat ....
hahah, ak senang cerita ini bisa Kak Anggra nikmati, walau mgkn masih rada kurang rapi dikit (yang untuk itu, ak minta maaf sepenuhnya), terima kasih sudah membacanya, kak :)

Writer elbintang
elbintang at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)
80

sederhana : ini tentang buku. pengarang yang menulis buku, pengarang yang bertemu kakaknya. Dia yang pernah sama menciptakan crita.

njlimet : aaah, ini tentang filosofi hidup. tentang cinta yang universal, tentang kewajiban dan tanggung jawab. Juga perasaan ikhlas menerima hidup

geje : ini sambungan crita naga yang suka cokelat ketemu monjerp.

Thumbs up, dude ^_^

Writer nagabenang
nagabenang at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)

ane paling suka kesimpulan yang geje kekny deh, thx Kak El~ wkwkwkwk~ *plak
.
kesimpulan yg pertama n yg kedua membuat ak jatuh bertekuk lutut di hadapan anda ... itu pemikiran paling mendalam yg pernah ak dapet untuk cerita ak, hahahah ... makasih banyak untuk apresiasinya, kak El :)

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)
90

.... /baca ulang
Oh =]]

Paling cinta universe yang digambarkan, nih. Sukses bikin saya sesaat 'masuk'. Keep writing :"|

Writer nagabenang
nagabenang at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)

hahah, glad to be of service ^^ keep writing too!
psst: kapan2 saya balas kunjungi lapak juga anda yah :>

Writer H.Lind
H.Lind at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)
90

Jujur saya agak bingung sampai harus mengulang membaca beberapa bagian dari cerita ini. Inti dari ceritanya sih sudah bisa tertangkap (kalau engga salah) pada akhir ceritanya. Tapi masih ada pertanyaan2 yg mengganjal seperti pertanyaan 'Aku' kepada kakaknya.
Tapi selain itu penggambaran dunianya keren. Apalagi tentang angkasa yang berada di bawah kaki. Oh iya, paragraf pertamanya terlalu kompleks. Masalah selera saja sih. :D

Writer nagabenang
nagabenang at Tentang Kakak (8 years 38 weeks ago)

yah ... saya akui memang cerita ini masih kurang rapi sih, tapi tampaknya sudah cukup untuk bisa memberikan sebuah "kesan" tentang dunianya untuk para pembacanya, yah, hahahah~ *maksa *plak
.
hmmm, paragraf pertamanya terlalu kompleks yah, tadinya ak maksudkan menulis itu biar bisa nge-grip para pembaca yg tipe pemikir sih, hahah~
.
ah ... pertanyaan si aku pada si kakak itu ... dibiarkan menggantung untuk interprestasi bebas sih, apa terlalu samar ya jadiny?
.
thx, Lind ^^, dan saya juga suka sama gaya narasi dikau dalam bercerita :D.