ceritaku

Pertemuan, perkenalan, pertemanan,................................................................
haruskah berujung pada persahabatan atau hubungan yang lebih dalam??? Aku sendiri tak mengerti. Dari awal mengenal dunia luar, selalu saja berputar dalam dunia itu. Sampai-sampai teman-temanku menyebut diriku pencari cinta. Kenapa? Menurut mereka, aku selalu beralih dari pelukan lelaki satu ke lelaki yang lain. Orang menganggap aku suka gonta-ganti pacar, padahal tak ada niat seperti itu, aku hanya ingin mencari lelaki yang bisa diterima orangtuaku dan menerimaku apa-adanya. Ooohh.......pingsan deh.

Sudah banyak hal yang kulalui tentang urusan cinta. Sampai akhirnya aku bertemu dengan calon suamiku, yang kini kami bersama-sama bekerja keras menabung untuk masa depan kita. Disini aku ingin berbagi cerita ke kamu semua.

PERTAMA :
Umurku masih seumur jagung, saat itu aku mulai suka dengan teman sekelasku. Dia tampan, badannya kekar untuk pemuda seumuran dia. Tapi sayang, penembakkan yang aku lakukan tak membuat hatinya luluh, pasalnya dia menyukai teman kami yang berbeda kelas tapi satu sekolah. Hal ini tak membuatku patah semangat, teman sekelas pula aku dekati lagi, awal dia menolak, tapi lama-kelamaan dia mau juga. Hingga saat perpisahan untuk kelulusan sekolah, kami membuat kenangan bersama-sama. Tapi selanjutannya kami tak bisa berhubungan lagi, tak ada komunikasi yang bisa kami lakukan, dia sudah menutup diri.

KEDUA :
Aku bertemu dia di acara kampungku. Dia tampak manis dengan baju warna biru itu. Aku ceritakan pada kawanku mengenai perasaanku yang menyukainya. Dan dia pun mengatakannya pada cowok itu. Gayung bersambut, dia pun (katanya) juga suka padaku. Jadilah kita. Umur hubungan kita 2 tahun, banyak hal yang aku lalui dengannya, karena waktu itu aku masih SMP, bayangin SMP sudah pacaran. Yah...itulah aku. Tapi sayang orang tuaku tak suka dengan dia, karena orang tuaku menganggap dia-lah yang merusak aku. Nilai-nilaiku jeblok, sering jalan-jalan, sering keluar rumah, hal ini membuat orang tuaku geram, hingga akhirnya aku tak boleh keluar rumah untuk hal apapun kecuali sekolah. Tak jera dengan hukuman itu, aku masih saja berhubungan dengannya. Backstreet, tentunya. Aku pun tak tinggal diam, aku tuntut dia untuk mendekati orang tuaku, agar beliau mengerti dan mau menerima dia. Tapi semua sia-sia, tak ada nyali sedikit pun darinya. Akhirnya aku putuskan mengakhiri hubungan itu, saat ini aku benar-benar bersyukur bisa lepas darinya. Karena aku tahu Tuhan pasti punya rencana lain. Dan dia memang bukan untukku. ^_^

KETIGA :
Nah, sekarang, aku mencoba bermain api, walau awalnya tak berniat begitu. Aku dekat dengan salah satu sahabat mantanku. Cowok itu sudah bertunangan jauh sebelum bertemu denganku. Karena aku sering curhat padanya tentang mantanku itu, jadilah kami sering pergi berduaan, tanpa diketahui mantanku dan tunangannya. Saking dekatnya, kami merasa saling membutuhkan. Jika ada aku, pasti ada dia. Orang tuaku mempercayainya karena dia sudah dewasa dan bisa membimbing aku. Memang sangat bertolak belakang dengan mantanku. Tapi seiring waktu berjalan masing-masing dari kami menyadari kalau hubungan ini tak boleh diteruskan. Kami berbicara baik-baik dan menyudahi segalanya.

KEEMPAT:
Pada waktu itu aku sudah merasa sedikit remaja, maklum ABG. Mulai mengenal dunia yang ternyata luasnya tak selebar daun kelor, hehehe...... Ada teman baru yang aku dapat dari kampung sebelah, cewek. Dia yang semakin mengenalkan aku dengan dunia luar. Dia mengajak aku untuk gabungan di sebuah perkumpulan. Awalnya aku menolak, orang tuaku pun tahu. Tapi kali ini orang tuaku mendukung aku untuk ikutan perkumpulan tersebut. Dengan dalih, memperluas pergaulan. Bergabungnya aku di perkumpulan itu, benar-benar membuat aku senang. Bagaimana tidak, aku punya teman banyak sekali. Perkumpulan itu memiliki cabang-cabang di kampung seberang juga yang masih dekat dengan kampungku. Dari situ pula, aku mengenalnya.
Ada acara yang membuat aku menginap karena kegiatan perkumpulan itu dilaksanakan di luar kota. Aku pun ikut, aku semakin dekat dengannya, kebetulan juga dalam sebuah game, aku dan dia menjadi partner. Akhir acara tak lupa kami bertukar alamat, agar mudah bertemu lagi setelah acara itu. Tapi hubungan ini tak berlangsung lama, karena aku merasa tak benar-benar menyukainya. Ternyata banyak hal yang kutak ketahui tentangnya. Tentang keluarganya, sifat-sifatnya, kebiasaan dia dan lainnya. Putuslah kami, umurnya hubungan kami tak lebih dari 1 1bulan.

KELIMA :
Walau pun kami sudah putus, tak memutuskan tali silahturahmi kami. Walau memang awalnya dia tak mau menerima keadaan ini. Kegiatanku di perkumpulan tetap berjalan, malah aku memegang posisi penting di susunan pengurus, aku sebagai sekretaris, tapi di beberapa periode aku memegang posisi bendahara. Lama aku sendiri, ada cowok yang sedikit bertingkah sok gaul. Menggunakan tindik ditelingalah, dihidunglah, di lidahlah, iiihhh...jijik, padahal dia kan cowok yang bakal jadi imam kelak jika berkeluarga, yang katanya kalau ada cowok bertindik telinga maka dia tak bisa jadi imam, apalagi ada bekasnya. Dasar! Aku pun menegurnya, walau padahal aku tak begitu mengenalnya. Dia marah dengan teguranku. Hingga mengakibatkan dia dendam dan membuatku sebagai taruhan dengan teman-temannya. Entah berapa rupiah yang ia pertaruhkan agar bisa memacariku. Jelas, awalnya aku tak tahu hal itu. Aku pun terjerat dalam rayuannya, padahal sebelumnya aku sempat bertanya pada teman-temannya. Hubungan kami berjalan mulus, karena orang tuaku menganggap kami masih berteman, tak lebih. Selang beberapa bulan, kawannya mendekatiku, pedekate gitulah bahasa sekarang. Dia juga berhasil membuatku luluh, karena cowokku yang ini tak bisa selalu mengajakku jalan-jalan, karena dia tak punya motor sendiri. Sedangkan kawannya punya motor pribadi. Sering aku diajaknya jalan-jalan, sampai pada suatu saat dia mengenalkan aku kepada teman-temannya bahwa aku pacarnya. Hal ini membuatku ge-er, bukannya marah ( aneh kan?! ) Hal ini juga membuat pacarku yang ini geram sekali. Sampai-sampai dia tak mau bersahabat lagi dengan kawannya itu. Konflik ini membuat aku memutuskan hubunganku dengannya. Dia tak mau, dengan alasan aku akan jadian dengan sahabatnya itu dan dia tak mau aku dipermainkan. Dia sudah memberikan nasehat panjang, tapi aku tak mau tahu. Jadilah kita putus, dan aku benar-benar jadian dengan kawannya itu. Lalu.......apa yang terjadi??? aku benar-benar dipermainkan. Ini karma untukku. Umur hubungan kami hanya 1 minggu. Dan kurang lebih 2 tahun yang lalu, mantanku yang ini meninggal dunia, dikarenakan kecelakaan motor yang dikendarainya, kejadian itu terjadi pada Bulan Ramadhan. Sedih? Jelas. Aku menangis sejadi-jadinya pada saat dirumah duka. Selamat jalan, kasih, damailah disana.

KEENAM :
Tak jera....dan tak pernah jera.
Kali ini aku tak ada pikiran untuk pacaran, tapi ternyata selama ini ada yang mendekatiku. Tak ada curiga atau firasat apapun. Aneh memang, padahal kata teman-teman aku ini punya indra ke-enam ( hehehe.....katanya sih ). Dia kakak sahabatku. Dia sering ikut bersama adiknya, berkunjung kerumahku. Benar-benar tak ada firasat apapun, karena dia termasuk cowok metropolis ( kata teman-temanku sih ). Tubuhnya tegap, kulit putih, wajah cakep mirip artis-artis. Siapa yang menyangka kalau dia memintaku menjadi pacarnya setelah berkunjung kerumahku hampir 15 kali. Kejutan......! Tapi, kali ini aku tak langsung percaya, karena tak mungkin cowok se-ganteng dia mau sama aku, cuma cewek biasa. Aku pun bertanya apa dia bertaruh dengan orang lain, dia bilang tidak. Entahlah apa yang membuatku mau jadi pacarnya. Dengan segala keyakinan dia mendekati orangtuaku, selalu berlaku baik, sampai-sampai beliau percaya padanya. Kemana pun aku dibawanya pergi, orangtuaku tak mempermasalahkan. Karena terlalu percayanya, masa depanku pun telah diserahkan padanya. Konyol rasanya, aku masih sekolah!!! Dan.....apa yang terjadi.....lagi-lagi aku terpuruk. Hampir 1 bulan dia tak menampakkan diri. Orangtuaku sudah curiga, Ibu melarangku untuk mencarinya. Tapi.....aku tak bisa diam saja. Kutemui dia dan putus. Dia beralasan kalau selama ini sudah dijodohkan dengan sepupunya sendiri, percaya gak percaya....aku tak bisa menuntut apapun. Selesai sudah.......

Ketujuh :
Ada sedikit perasaan trauma terhadap cowok. Capek rasanya aku dibuat sakit hati terus. Untuk menghilangkan pikiran suntuk, aku membantu temanku mengajar, anak-anak TK sampai SD kelas 6. Lama aku mengajar, posisiku dipindahkan menjadi admin, mengurus gaji para pengajar dan sirkulasi keuangan. Aku juga kenal dengan para pengajar, dekat malah. Kedekatan kami membuat kami kompak dalam segala hal. Ada 2 pengajar cewek dan 3 pengajar cowok. Persahabatan ini membuatku lupa dengan keadaanku sebelumnya. Namun, salah satu dari pengajar ada yang paling dekat denganku, cowok. Semakin hari semakin dekat, membuat kami sudah tak canggung lagi. Tak ada lagi rahasia antara kami. Dan.......singkatnya aja nih.....
kita pun jadian, lumayan lama kita jalan, hampir 2 tahun. Tapi disela-sela hubunganku dengan dia, aku sempat dekat dengan yang lain, teman kakakku. Walau tak sampai jadian, kami begitu dekat, tapi bukan sebagai sahabat. Cowokku tak pernah tahu tentang hal itu. Hubunganku dengannya mengalami sambung-putus sampai 3 kali. Yang terakhir, keputusanku sudah bulat, walau jelas-jelas dia tak mau putus. Alasannya? Orangtuaku tak menyukainya, karena? Yaa...tak selamanya harta menguasai dunia, tapi orangtua mana yang mau anaknya hidup kekurangan. Pertimbangan itu yang membuatku sadar kenapa orangtuaku tak mau menerimanya. Hingga aku lulus sekolah dan aku dapat perkerjaan, dia masih tetep menganggur. Kini, setelah 2 tahun tidak bertemu, dia sudah dapat pekerjaan tetap walau hanya sebagai officeboy, aku benar-benar menghargai itu. Kami tetap sebagai sahabat.

Dan.........itulah perjalananku. Hingga kini aku tetap bersama kekasihku yang ke-delapan. Tak perlu aku bercerita tentangnya, bagiku dia yang terbaik walau tak setampan mantan-mantanku yang dulu, tapi dia bisa mengerti dan memahamiku tanpa mau merubah aku seperti yang dia inginkan. Singkatnya dia menerimaku apa-adanya. Karena..........inilah aku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer jellyfish
jellyfish at ceritaku (14 years 46 weeks ago)
60

kaya curhatan ya....

kira-kira kalo ngalamin nasib kaya gitu, lebih banyak senengnya atau capeknya ya?

Writer felicia_noella
felicia_noella at ceritaku (14 years 46 weeks ago)
80

cerita sendiri ya??
bagus lho..

Writer f1_tr1
f1_tr1 at ceritaku (14 years 46 weeks ago)

thanks bgt buat mua komennya yaaa.....
- untuk Rien, ya deh, lainkali biar ngalir aja ya....
-untuk ArSela, he'em, setiap pertemuan emg gitu...napa ya? heheheh....
-buat redshox, otobiografi??mungkin^_^

Writer redshox
redshox at ceritaku (14 years 47 weeks ago)
100

otobiografi kah?

Writer ArSeLa
ArSeLa at ceritaku (14 years 47 weeks ago)
100

Setiap pertemuan pasti akan ada akhirnya,keep writing ya

Writer arien arda
arien arda at ceritaku (14 years 47 weeks ago)
50

kenapa gak dibiarkan mengalir saja ceritanya tidak usah diberi satu sampai sekian. Rien liat seh ceritanya runtut.
paragrafnya ya...

keep writing