Setetes embun untuk senyum ceriamu

Setetes embun untuk senyum ceriamu.

 

Pontianak, Dusun Teluk Pakedai, 1960.

"Desa sedang diserang wabah sakit mata yang parah," teriak Apak sambil menepikan sampannya.
"Kau baru mengabari sekarang. Lihatlah Agwek sudah kena tadi pagi," Amak mengelengkan kepala dengan lesu.

Di ruang tengah, seorang anak berumur sepuluh tahun terbaring lemas. Sementara itu dua adik perempuannya berdiri sambil terus mengintip dari balik tirai kamar.
"Hun, Cin jangan kau dekat-dekat dengan cecemu. Nanti tertular sakit mata juga. Bisa gila Amak mengurus kalian bertiga," teriak Amak ketika melihat anak kedua dan ketiganya mulai bergerak maju mendekati kakak perempuan mereka.

"Bagaimana bisa Agwek terkena sakit mata?" Apak melepas lelah dari ladang sambil meneguk setengah cangkir kopi manis kesukaannya. Itulah hidangan termewah yang ada di rumah kayu tersebut.

"Anaknya Sa pek (Paman ketiga, saudara laki-laki dari Amak yang ketiga), si Aleng terkena sakit mata juga," sahut Agwek dari dalam. 
"Lalu kenapa kau bermain dengannya. Padahal sudah kau tahu juga Aleng sakit mata," Apak mendesah.

"Kami habis mengantar pisang goreng pesanan Sa Pek. Setelah itu Aleng menunjukkan ikan yang baru dia tangok (tangkap) di parit depan rumahnya. Ikan slomang biru, Apak." Ahun ikut berbicara.
"Ekor slomangnya cantik, Apak. Kayak kipasnya Nyonya Jong," tambah Acin, sibungsu dari tiga bersaudari itu.

"Lalu kalian main terus sampai lupa waktu. Sampai-sampai lupa mengantarkan pisang goreng pesanannya Pak Tulang? Pisang dipatuk ayam semua. Duit tak di dapat, rugi yang merapat," omelan Amak membuat ketiganya membisu.
"Maaf, Amak. Kami tidak sengaja. Lain kali tidak lagi," suara Agwek yang matanya masih sakit terdengar lesu.

Amak mendekati anak perempuan pertamanya. Dia mengelus rambut Agwek dengan penuh sayang. Sifat Amak memang galak dan disiplin. Semua dia lakukan karena kesulitan dalam hidup ini. Bila dia tidak mengatur semua pekerjaan rumah dengan baik dan tegas, maka alamat tidak ada makanan di dalam tudung saji.

Suaminya bukanlah pria yang biasa hidup miskin. Anak orang kaya yang tiba-tiba saja usahanya jatuh bangkrut. Seorang pria yang mau bekerja, namun tidak akan berhasil tanpa dikomandoi dengan tepat.

"Sudahlah, kalian semua tidur dulu. Besok Amak akan ke tempat Akong (kakek) untuk meminta obat dan jampi-jampi yang bisa menyembuhkan kamu," Amak menyelimuti Agwek dan mengiring Ahun dan Acin masuk ke kamar untuk tidur.

--

Amak menangis di sudut kamar. Perasaannya kacau ketika melihat ternyata anak kedua dan si bungsu juga tertular sakit mata. "Kita minta obat saja sama Apakmu," ucap Apak kepada Amak.
"Kau tahu, Apakku suka mengejek kita. Dia pasti tidak senang kalau kita bawa ketiga putri kita untuk berobat padanya," sahut Amak.

Apak terdiam. Dia tahu sifat mertuanya, memandang rendah pada mereka yang miskin. Salahnya juga yang tidak dapat menjaga keluarga hingga semua harta habis ditipu oleh sahabat karibnya sendiri di kota.

Saat ini mereka cuma bisa tinggal menumpang di tanah kosong milik Sa Pek, abang laki-laki ke tiga istrinya. Mengarap lahan terbengkalai yang tidak begitu subur.

Apak sangat bangga dengan istrinya yang mampu mengolah tanah kering itu menjadi lahan yang baik. Mengurus sepasang ayam kampung dan bebek serati pemberian Amaknya hingga menjadi cukup banyak.

Namun untuk urusan pengobatan akan dibutuhkan biaya lebih. Ke mana mereka mendapatkan uang itu. Satu-satunya jalan adalah pergi kepada ayah dari istrinya yang merupakan tabib sekaligus dukun kampung yang sudah ternama di penjuru dusun.

Mereka menebalkan muka dan memohon agar ketiga putri mereka mendapatkan obat. Ibu mertua yang sayang pada putri tertuanya segera membantu memohon. 

Mereka pulang dengan sekantung kecil obat dari ayah mertuanya. Obat itu hanya akan bertahan hingga dua hari. Apak hanya bisa berdoa agar ketiga putrinya lekas sembuh.

--

Dengan telaten Amak menempelkan obat dari ramuan daun ke mata ketiga putrinya. Sementara Apak mengurus bebek, ayam dan ladang mereka.

Amak terus memperhatikan isi dalam ramuan. Dan mencoba menghapalnya satu persatu. Amak mencari bahan-bahan tersebut di hutan kayu dan menumbuknya sebagai persediaan.

Sebenarnya cara terbaik adalah pergi ke kota dan menemui dokter puskesmas untuk mendapatkan tetes mata yang harganya sangat mahal. Namun jauhnya perjalanan mengayuh sampan ke kota serta mahalnya obat membuat Apak dan Amak hanya bisa mencoba pengobatan kampung.

Esok paginya ketiga putrinya belum juga menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Amak memukul dada dengan sedih. Dia mencari cara. Di tatapnya seekor induk kucing yang sedang menjaga anak-anaknya.

Amak bergegas ke dapur, mengambil sebuah wadah yang bersih. "Apak, kau jaga mereka dulu. Aku mau mencari obat lagi," ucap Amak.
Apak yang sama sekali tidak mengerti hanya mengangguk.

Apak dan Amak tidak tega melihat ketiga anak gadisnya demam tinggi dengan mata yang penuh dengan tahi mata serta terus berair. Anak di kampung sebelah bahkan ada yang sampai buta karena wabah sakit mata ini.

--

Amak berjalan memasuki hutan. Cuaca subuh ini sangat dingin. Dia segera merapatkan kain tipis yang membungkus tubuhnya. Dilihatnya satu persatu daun-daun tunas muda yang baru setinggi lutut anak kecil.

Dikumpulkannya setetes demi setetes embun pagi yang menempel di sana dengan hati-hati. Setelah berjalan cukup lama dan merasa air embunnya telah terkumpul cukup. Amak kembali dengan segera ke rumah sambil terus menjaga wadah tempatnya menyimpan air embun tidak tumpah dan kotor.

Sesampainya di rumah Amak segera mendekati ketiga putrinya yang tidak berani mengeluh apapun. Mereka terlalu takut untuk mengerang kesakitan. Mereka tahu betapa susah keadaan Apak dan Amaknya.

Amak membersihkan mulutnya dengan berkumur. Dia menyediakan sebuah baskom berisi air hujan bersih yang telah dimasak hingga mendidih. Sebuah baskom besar, kosong. Selembar kain sarung yang sudah tua namun lembut, kain itu telah di potong menjadi tiga. Dan yang terakhir air embun yang dia ambil tadi.

Amak mendekati putri pertamanya. Dia menunduk dan menjilati mata putrinya yang penuh dengan tahi mata. Membersihkan dengan lembut. Menyeka matanya dengan kain bersih. Kemudian meneteskan air embun sebayak dua tetes pada setiap mata. Demikian hal pula yang Amak lakukan pada putri ke dua dan ke tiganya.

Selama dua hari Amak bolak balik ke hutan untuk mengambil air embun. Perjalanan yang begitu jauh, di subuh yang dingin serta keadaan yang menyeramkan tidak menyurutkan langkahnya. Semua agar ketiga putrinya sembuh. Dia tidak ingin masa depan putrinya gelap karena tidak bisa melihat dengan baik.

Perkembangan yang dialami ketiga putrinya setelah ditetesi dengan air embun cukup mengembirakan. Hal itu pula yang menambah semangat Amak. Anak-anak di dusun yang terserang wabah sakit mata sudah banyak yang sembuh dengan sendirinya. Tapi tidak sedikit juga yang tidak sembuh sepenuhnya. Ada cacat berupa bintik putih di tengah biji hitam bola mata mereka yang mengakibatkan pandangan jadi tidak sejelas yang dulu.

Amak berdoa kepada langit, agar ketiga putrinya tidak mengalami hal tersebut. Bagaimana jadinya masa depan ketiga putrinya nanti bila matanya cacat. Sudahlah miskin, cacat pula. Siapa yang mau mengambil menantu gadis cacat.

--

Hari ke lima dan pagi itu senyum cerah merekah menghiasi wajah kelima penghuni rumah kayu.

Sepiring telur bebek yang di dadar dengan potongan bawang membawa aroma yang mengugah selera makan.

"Hari ini ada acara makan besar?" si bungsu bertanya dengan kebingungan.
"Tidak, setahuku belum saatnya," Agwek, si sulung mengeleng sambil menatap Amak.

Tiga putrinya yang berumur sepuluh, enam dan empat tahun itu terlihat ceria. Dan itu adalah sumber kekuatan Amak dan Apak dalam menjalani hidup.

"Hari ini khusus Amak masakkan telur bebek goreng kesukaan kalian. Karena kalian telah sembuh dari sakit mata," ucap Amak.
"Lagipula kasihan kalian hanya makan sop bening selama lima hari. Tenaga kalian harus diisi kembali," sahut Apak.
"Mereka memang harus makan sop bening, Apak. Kalau mereka makan yang amis bisa-bisa sakit mata mereka tidak akan sembuh," ucap Amak.

"Amak, kenapa mata kami harus dijilat?" Ahun, sitengah bertanya.
"Kenapa tidak dibersihkan dengan kain saja?" sambungnya lagi.

"Kalau dengan kain, takutnya melukai mata kalian. Lagipula Amak memperhatikan induk kucing yang menjilati mata anak kucingnya yang sedang sakit. Dan dengan cara itu anak kucingnya bisa sembuh. Amak tidak tahu cara apa lagi yang harus dilakukan. Jadi Amak mencoba yang bisa Amak lakukan," senyum lembut Amak menghiasi wajahnya yang dipenuhi garis-garis kelelahan.

"Terima kasih, Amak," ketiga putrinya memeluk Amak dengan penuh sayang.
"Lakukanlah yang terbaik juga untuk anak-anak kalian nantinya. Jangan berputus asa, temukan jalan itu," Amak kembali memeluk ketiga putrinya.

"Ayo kita makan! Masa makanan seenak ini dibiarkan saja," teriak Apak gembira.

Amak membagikan nasi ke piring-piring besi yang mulai mengelupas.  Sedangkan Apak membagi telur dadar itu menjadi tiga bagian yang sama besar.

"Apak dan Amak tidak makan telurnya?" Agwek bertanya ketika ketiga potong telur itu dibagikan ke piring mereka.
"Kami tidak terlalu suka telur. Pucuk ubi dan kangkung ini lebih enak," sahut Apak.

"Payah, Apak sama Amak  tidak tahu apa kalau telur itu sangat enak," ketiga anak mereka dengan kompak berkata.

Apak dan Amak tersenyum sambil saling bertukar pandang.

Amak dan Apak tahu betapa nikmatnya telur dadar itu. Namun dua butir telur itu lebih baik untuk kalian. Melihat kalian sehat dan tersenyum ceria adalah kenikmatan yang terindah.

------

Catz Link Tristan

 

Pontianak

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

jangan menyerah tuk terus menciptakan karya

Writer Maximus
Maximus at Setetes embun untuk senyum ceriamu (8 years 48 weeks ago)
80

Alo kak Cat XD
.
Endingnya kurang nendang ah, harusnya tiga anaknya menangis di depan pusara ibunya yang meninggal karena tertular akibat menjilat mata ketiga anaknya XD XD (kejam)
.
.
.
~kabur sebelum dilempar sendal

Writer cat
cat at Setetes embun untuk senyum ceriamu (8 years 48 weeks ago)

Aaaa kurang nendang yak.

Gmn kalo semuanya di tiwaskan saja #ah penulis mulai ngaco#

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

90

Mumumuuuu.. Ak mau juga diceritain cerita macam ginih Kak
ixixii

Writer lavender
lavender at Setetes embun untuk senyum ceriamu (8 years 49 weeks ago)
100

sudah pernah baca dakuuu... daku sukaaaaaa.. huks huks hukss..

Writer k0haku
k0haku at Setetes embun untuk senyum ceriamu (8 years 49 weeks ago)
100

Jadi kangen rumah... T^T
Keren, ceritanya sederhana tapi mengena.
Ngomong-ngomong, Apek itu bukannya kakak laki-laki dari pihak ayah ya? Kalau dari pihak ibu bukannya Aku?

Writer cat
cat at Setetes embun untuk senyum ceriamu (8 years 49 weeks ago)

Iyah aku salah ingat. Aku bukan Apek.

Thx koreksinya.

90

T_T ingat mamaku, hiks..
Kasih sayang ibu yang luar biasa, keren mak :)

Writer adindaRA
adindaRA at Setetes embun untuk senyum ceriamu (8 years 49 weeks ago)
60

wah wahwah, bagus ya......
seru nih, jadi ketagihan.
buat yang lucu lagi ya....., aku lebih suka cerita anaksih, tapi gak apa-apa kok aku suka baca cerita.

Writer dansou
dansou at Setetes embun untuk senyum ceriamu (8 years 49 weeks ago)
90

Emak, cerita macam begini ngingetin saya sama cerita lama Bobo waktu saya masih kecil >,<.Kirim ke majalah dooong ~~

100

love u amak dan apak...kasih sayang orang tua memang sepanjang masa.

jd inget mama ma papaku hiks

100

Amak dan Apak tahu betapa nikmatnya telur dadar itu. Namun dua butir telur itu lebih baik untuk kalian. Melihat kalian sehat dan tersenyum ceria adalah kenikmatan yang terindah.

terharu mak..