Dead Memories of Death : Stage Two

“Kau baik-baik saja?!”

 

Beberapa menit kemudian terdengar suara dobrakan pintu diiringi dengan teriakan Larra. Itu cukup membuatku kaget, namun tenang setelahnya. Ya, karena aku mengharapkan Larra segera datang menemaniku.

 

“Lumayan. Setidaknya bau amis ini tidak memperburuk keadaanku,” jawabku.

 

“Ughhh!!” Larra spontan menutup hidungnya dengan menggunakan kedua tangannya. Aku rasa memang bau amis ini sangat menyengat sehingga dia sampai menggunakan kedua tangannya.

 

“Bau ini…apa kau benar-benar baik-baik saja?”

 

Aku dengan tenang mengangguk.

 

“Kau sudah di sini, dan terima kasih sebelumnya. Aku rasa aku sudah bisa tenang dan berpikir lebih jernih.”

 

“Maksudmu, kau ingin berbagi bau amis ini denganku? Kau sangat baik hati,” keluh Larra.

 

Aku tertawa kecil, “Bisa jadi. Tapi komentarmu yang seperti inilah yang aku tunggu dari awal. Hmmm, ada ide?”

 

Larra melihatku dengan cermat, mata biru jernihya menelusuri tubuhku dari bawah sampai ke atas sebelum kemudian bertanya, “Kau…belum mandi?”

 

Ya ampun.

 

“Kau sedang bercanda atau memang otakmu tidak beres? Tapi tidak mungkin, kau ‘kan jenius. Lebih baik aku menganggap kalau kau sedang bercanda dan…perlukah aku tertawa?”

 

“Ma-maksudmu apa?! Aku benar-benar tidak tahu apa yang ingin kau katakan!”

 

Aku menghembuskan napas maklum, “Lihat, di sudut sana ada sebuah…atau lebih pantasnya, seonggok kardus basah yang cukup besar dengan bau menyengat  dan memiliki rambut hitam panjang lembek yang keluar dari sobekan di bagian bawah kardus itu. Oh, atau kau lebih tertarik denganku yang lebih jenius darimu ini daripada benda mencurigakan itu? Hahah, itulah ketakutanmu padaku, Hououin Kyo—“

 

“DIAM OTAKU BODOH!!” potong Larra sebelum kemudian memalingkan wajahnya yang memerah dan bibirnya yang gemetar. Sepertinya dia marah.

 

Aku bukannya suka menggoda orang lain atau sejenisnya, tapi….bagaimana aku menjelaskannya? Melihat ekspresi Larra yang seperti itu membuatku cukup terhibur dan lebih tenang bila dalam tekanan yang cukup berat. Aku rasa hal itu seperti “obat penawar” untukku yang sebenarnya ketakutan ini. Berkat kehadirannya, aku sudah bisa berpikir lebih tenang dengan hati yang lebih kuat.

 

Namun memang keadaan seperti ini akan membuat suasana terasa canggung. Jadi, aku mendekati Larra, menepuk pundaknya seraya berkata, “Tapi sebelumnya, terima kasih kau mau datang ke sini untuk menemaniku meski di luar hujan deras. Aku sangat senang dan maaf kalau kalimatmu tadi membuatmu ma—“

 

Suasana menjadi hening. Tidak, maksudku tidaklah hening hingga pada tingkat suara hujan deras di luar tidak terdengar lagi. Hanya saja, seharusnya Larra bisa lebih berisik daripada ini.

 

Namun tak lama, Larra mulai memecah keheningan, memaksaku untuk fokus kembali.

 

“Tak apa,” ucap Larra lemah.

 

“Eh?”

 

“Aku bilang tidak apa-apa. Lupakan saja.”

 

“Kau yakin? Terima kasih jika begitu,” ucapku dengan sebuah senyuman.

 

“Lalu, apa yang kau inginkan dariku?” Larra masih memalingkan wajahnya dariku. Sepertinya dia masih marah, apa boleh buat.

 

Daripada berlama-lama seperti ini, lebih baik aku langsung pada intinya saja. Kutinggalkan Larra tanpa menjawab pertanyaannya. Kudekati kotak yang semakin lama aku melihatnya, semakin aku tidak ingin membukanya itu, seolah menuntun Larra untuk segera menerka maksudku.

 

Dan benar, dia segera merespon dengan nada santai, “Aku yakin 90% bahwa isinya adalah mayat.”

 

Sekejap tubuhku bergetar, bulu kudukku berdiri. Tanpa bicara, aku segera mengunci pintu kamarku, membuat Larra terdiam dengan mulut ternganga.

 

“Kau takut?”

 

Kata-katanya tepat sasaran, tapi salah anak panah.

 

“Jangan salah paham. Aku bukanlah orang yang suka sembarang menebak, tapi bisa kupastikan kalau apa yang kau pikirkan itu salah.”

 

“Lantas apa?”

 

“Coba kau berpikir lebih jenius. Ini bukannya aku takut, hanya sa—“

 

“Bukankah kau memang penakut?”

 

Ada sedikit rasa sesal tentang keputusanku memanggilnya ke sini. Larra memang sangat mengenalku, melihat sudah berapa lama aku dan dia sudah menghabiskan waktu bersama-sama melakukan berbagai macam penelitian. Tapi itu bukanlah sesuatu yang harus dibicarakan saat ini.

 

“Dengar, lupakan masalahku. Coba kau bayangkan bila ada seseorang yang tiba-tiba masuk dan mencium aroma busuk ini. Apa yang akan terjadi?”

 

Larra menghembuskan napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya meremehkanku.

 

“Memangnya ini swalayan? Maksudku, bukankah setidaknya seseorang akan mengetuk pintu dulu sebelum masuk?”

 

Dia benar di satu sisi, tapi di sisi lain dia salah.

 

“Sepertinya aku lupa memberitahukannya padamu.”

 

“Eh?”

 

“Ya, aku ingat kemarin ada tetangga yang baru saja menyewa dan menempati kamar di sebelah. Namanya John, John Mayer. Orangnya tinggi jangkung dan selalu mengenakan jas yang rapi…”

 

Aku berhenti, mengambil napas dan kemudian melanjutkan, “…Ketika aku mengatakan bahwa tidak apa-apa jika dia datang kemari ketika meminta pertolongan atau ada pertanyaan, dia berulang kali datang dan masuk tanpa permisi. Yah, itu membuatku menyesal sudah mengatakan ‘anggap saja rumah sendiri’ padanya.”

 

Baru kali ini aku menyesal setelah mengucapkan kalimat “anggap saja rumah sendiri”.

 

“Jadi begitu. Memang bahaya jika ada orang lain yang mengetahuinya. Kalau itu aku, aku tidak akan menuduhmu karena aku tahu siapa kau. Tapi kalau yang lain…”

 

“Benar. Dan sekarang, kita apakan mayat itu?”

 

Larra terdiam sebentar, sebelum kemudian mengangkat telunjukknya dan berkata, “Kita buang.”

 

Spontan, aku menolaknya, “He-hei, yang benar saja!”

 

Heheh, kekeh Larra. “Kau memang takut.”

 

“Ti-tidak! Tidak mungkin a-aku takut!”

 

“Kalau begitu, ayo kita angkat,” kata Larra tenang. Dengan santainya dia mendekati kardus laknat itu, menepuk pelan dengan jari telunjukknya, “Ihhh, bau.”

 

“He-hei, tunggu dulu. Kau serius?!” Aku tidak bisa tinggal diam.

 

“Cepatlah ke sini. Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini juga. Aku tidak bisa selamanya mengasuhmu seperti ini,” kata Larra sedikit tegas.

 

“Ta-tapi, itu ‘kan mayat. Bagaimana kala—“

 

“Dengar, cepat angkat dan buang benda ini atau aku akan pergi sekarang juga,” potong Larra dingin.

 

Tapi tunggu, buang ke mana? Bagaimana kalau ketahuan tetangga? Lagipula ini ‘kan hujan deras. Akan sangat sulit untuk membawanya ke tempat pembuangan, sekalipun kita berhasil tanpa adanya saksi mata.

 

“Aku hitung sampai tiga. Satu, dua,…”

 

“Ba-baiklah!”

 

Apa boleh buat, aku tidak ingin sendiri di kamar ini bermalam dengan mayat. Mungkin Larra punya ide yang bagus karena yah, bisa dibilang dia itu pintar. Dan…aku harap tombol kepintarannya sedang dinyalakan.

 

Aku tatap kardus basah itu yang sudah berubah warna menjadi coklat kehitam-hitaman.  Jikalau benda itu dari awal tidak ada di ruangan ini, mungkin saja aku tidak perlu repot-repot seperti ini. Ketakutan, memanggil Larra, mencium bau busuk, aku tidak perlu merasakannya.

 

Ya, benda ini memang harus aku buang.

 

“Tapi kardus ini cukup besar. Aku angkat sebelah sini dan kau sebelah sana,” perintah Larra layaknya seorang pelatih.

 

Kusentuh permukaan kardus yang makin lama makin menghitam ini. Rasanya padat namun cukup lembek, seakan banyak cairan yang sudah terserap ke dalam pori-pori kardus ini. Dingin yang cukup menyengat juga membuatku merasakan sensasi yang spontan, membuatku sesaat melepaskan tanganku dari kardus ini.

 

“Kau sudah siap?” tanya Larra.

 

Aku berharap semuanya akan selesai setelah aku dan Larra membuang kardus ini…

 

“Ya, aku sudah si—“

 

….namun aku salah.

 

Di belakang, tepatnya di belakang Larra, tampak sesosok wanita berambut panjang hingga menutupi wajahnya berdiri membungkuk dengan baju lecek yang memiliki bercak merah seperti darah, seakan menatapku tajam meski tidak menampakkan wajahnya. Kulitnya lecet, biru pucat pada memarnya. Sesekali bergetar-getar, seolah sedang tersengat listrik.

 

Spontan tubuhku gemetar, bulu kudukku kembali berdiri denganku mengeluarkan sebuah teriakan, “AAAHHHHHH!!”

 

“A-ada apa?”

 

Aku melepas kardus itu, mundur ke belakang hingga menempel ke dinding. Kupendam sekali lagi wajahku ke lutut, memeluknya erat seakan dengan melakukan itu aku bisa lebih tenang dan hangat. Karena kali ini aku takut, sangat ketakutan.

 

Aku sangat berharap itu bukanlah hantu.

Read previous post:  
67
points
(833 words) posted by nereid 9 years 44 weeks ago
74.4444
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | horor | drama | komedi
Read next post:  
Writer hamdan15
hamdan15 at Dead Memories of Death : Stage Two (7 years 50 weeks ago)
90

hee, mcnya emang penakut gitu, padahal dia otaku.
.
knpa yg cewek nggak takut ya? apa karena dia jenius?

Writer Erick
Erick at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 42 weeks ago)
80

kalo boleh berasumsi, mungkin wanita itu yg ngebunuh si mayat-dalam-kardus?

*sotoy*

trus yg jdi pertanyaannya, siapa gerangan mayat itu? Apa ada hubungannya dengan si pembunuh? :(

 

wah, sepertinya kian menarik, terlebih lagi senpai membawakan cerita sesuai ciri khas senpai. Fired up! *o*

begitulah, sekian! ^^

Writer nereid
nereid at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 42 weeks ago)

tunggu episode selanjutnya! :D
.
eh, btw, ciri khas saya apa ya? <---ga tau selain suka game RPG
Makasih Rick, semangat juga buatmu! :D

Writer Erick
Erick at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 42 weeks ago)

mau tahu? *rolleyes*

kenapa aku nyempetin baca RIEL bhkn smpe sepanjang itu? Dan juga baca proyek karya yg ini?

karena........, bahasanya lugu! >_<

*kabursebelumdilempardingklik*

Writer Sinagha
Sinagha at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 43 weeks ago)

Apa ya?

Writer nereid
nereid at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 43 weeks ago)

apa hayoo? :D

Writer KD
KD at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 43 weeks ago)
100

hmmm

Writer nereid
nereid at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 43 weeks ago)

yahhhh, om panda hmmm mulu..

80

request : masukin tuyul donk biar eksis, kayaknya g ada yang bikin cerita tentang dia :p
hahaa sadako po?
mau dibikin serem tingkat berapa? akan saya ikuti ><

Writer nereid
nereid at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 43 weeks ago)

weeeee, dari bawah sudah saya bilang, ini bukan Indooooo >w<
Sampe selese pokoknya, makasih loh, mampir lagi yak! :D

Writer Alfreda
Alfreda at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 43 weeks ago)
70

hahhhaha iya itu wewe gombel kali ya :D

ehehehe saya suka cerita seram..
kirain ini cerita science semacam RE tapi ternyata hantu hantu :p

salam suhu

Writer nereid
nereid at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 43 weeks ago)

haha, itu di Indooo.... >,<
saya juga masih belajar kok (suka juga yang serem2, makanya mau coba bikin)
iya nih, emang hantu kok.
kalo suka horor, klik aja tag horor pasti keluar semua...
Salam juga, tapi saya juga masih belajar kok, panggil aja nereid~

Vangel at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 44 weeks ago)

Hm..., salam kenal
Masih newbie ^_^V
xixixxi

Writer nereid
nereid at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 44 weeks ago)

salam kenal..
semangat nulis! :D

70

kuntilanaaaaakkkkk

Writer nereid
nereid at Dead Memories of Death : Stage Two (9 years 44 weeks ago)

waaaaaaaaaaaa...bukan sih.
kuntilanak kan di indo #plak!
makasih udah mampir :D