The Borrower: Prolog

Aku berdiri dengan keadaan masih memegang buku tua yang tadi kubaca di perpustakaan. Tapi nyatanya, aku tidak berada di perpustakaan dan dalam kondisi berdiri! Padahal sedetik yang lalu aku berani bersumpah aku masih duduk di ruang perpustakaan yang panas itu. Padahal sedari tadi aku hanya membaca buku tua milik kakekku yang kebetulan kutemukan di bawah ranjangku, lalu membawanya ke sekolah untuk di baca sementara aku menunggu adikku selesai dengan kegiatan klubnya. Aku iseng-iseng mambaca kalimat paling depan, Ginsisess Thelu Bel, entah dari bahasa apa. Dan ketika kau mendongak untuk melihat jam dinding, aku sudah berada di sini.

Tempat ini sekilas nampak seperti ruang pengadilan, tapi setelah kuperhatikan mungkin saja ruangan ini merupaka ruang singgasana. Sebuah kursi singgasana yang megah dan besar terletak tak jauh di hadapanku. Dan dalam satu kedipan mata yang cepat, kursi singgasana yang kosong itu sudah diduduki seorang laki-laki berambut putih keperakan pendek dan berjanggut rapi. Ia mengenakan jas dan topi tinggi seolah ia hendak menghadiri suatu pesta kuno di sebuah negeri lain, atau semacamnya.

“Ah, selamat datang!” sapanya sambil tersenyum. Ia merebahkan badannya di kursi. “Apa yang anda lakukan di sini? Apakah anda ingin melakukan transaksi?”

Aku terlalu kaget dan takut untuk mengatakan sesuatu, jadi aku hanya memandangnya dengan ngeri. Orang itu melihat buku dan mendekatkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas.

“Oi, apa yang kaku pegang itu?” tanyanya sambil menunjuk bukuku dengan tongkatnya. “Tunjukkan sampul buku itu padaku.”

Aku mengangkat buku, sehingga sampulnya nampak jelas. Sebetulnya tak banyak yang bisa di lihat. Hanya judul sampul itu saja, “The Chosen” dan sebuah simbol merah yang tak dapat kukenali lagi karena warnanya sudah memudar. Sampulnya sendiri hanya terbuat dari karton tebal yang awet. Namun, mata orang itu menatap dengan tidak percaya, sekaligus padangan berbinar-binar karena senang.

 “Demi Arvitonver!” serunya, sebelum melompat berdiri dan membungkuk hormat ke arahku. “Aku tak menyangkanya! Rupanya kau yang terakhir dari yang ia pilih! Maafkan aku, aku kira kau takkan pernah datang!”

Orang itu menepuk tangannya. Entah bagaimana caranya, sebuah meja muncul di antara kami. Sebuah kursi muncul dari belakang dan mendorongku duduk sekaligus bergerak mendekat ke meja. Kursi siggasana juga melakukan hal yang sama pada laki-laki misterius itu.

“Pertama-tama, taruh dahulu buku itu. Tak capekkah kau membawa buku tebal it uterus menerus?” pintanya. Aku menaruh bukuku ke meja, masih dalam keadaan terbuka. “Nah, sekarang kita baru bisa bicara bisnis…”

“Tunggu, apa maksudmu?!” jeritku. Jelas saja wajah licknya dan tangannya yang diusap-usap dengan aneh membuatku curiga. “Buku ini hanya buku catatan kakekku, tak ada yang special. Aku ingin pulang!”

“Oh, buku catatan?” tanyanya dengan nada mengejek. “Tak ada buku catatan di duniamu yang fana itu yang dapat mencatat kontrak hidup seseorang, setahuku.”

Aku memandang ke bawah, kea rah buku itu. Tepat di halaman yang sedang terbuka itu terdapat sebuah kontrak. Ada namaku di situ. Di sana ada tertulis tahun, bulan, hari, jam, menit, dan detik. Namun detik it uterus menghitung, sisanya mengikuti saja. Detik merubah menit, menit merubah jam, jam merubah bulan, dan bulan berubah menjadi tahun. Aku melongo, laki-laki itu tertawa.

“Yah, kurasa kau memang belum tahu apapun, ya?” tanyanya. “Itu adalah kontrak hidupmu. Baru akan dilunasi ketika kau akan pergi.”

“Lalu apa hubungannya dengan bisnis yang baru saja kau bicarakan itu?” tanyaku. “Tak usah kau jawab. Aku ingin segera pulang. Seluruh kota bisa saja sedang diaduk-aduk polisi saat ini, keluargaku pasti cemas.”

“Tak usah khawatir. Waktu di sini berbeda dengan waktu di luar sana,” jawabnya. Dia tersenyum kecil. “Mari kita selesaikan dengan cepat. Kau ingin membayar dengan―”

Laki-laki itu tak melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba saja api keluar dari buku yang tergeletak di atas meja. Anehnya, api itu tak membakar meja ataupun bukuku. Tidak ada bau hangus yang tercium. Laki-laki itu tertawa.

“Iya deh iya. Dasar pemarah.” Kata laki-laki itu. Tiba-tiba saja api itu padam sendiri. “Toh kau memang beruntung sudah dibayari.”

Laki-laki itu menjentikkan jarinya. Dan sebelum aku sadar apa yang terjadi padaku, rantai hitam bergembok hitam kecil tipis namun kuat muncul di pergelangan tangan kananku. Aku hanya diam memandang laki-laki itu. Berharap supaya aku dijelaskan sesuatu.

“Untuk saat ini, atas permintaan… seseorang.. Aku meminjamkan kekuatanku padamu.” Katanya. Dia tersenyum lebar. “Jullius Allves Fucion, kau sekarang boleh memanggilku dengan nama Deus. Ingat ini, akulah yang meminjamkanmu kekuatan tanpa batas. Tanpa pembayaran. Sekarang nikmati fitur gratis yang kuberikan padamu, pergilah pulang.”

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Riesling
Riesling at The Borrower: Prolog (8 years 43 weeks ago)
80

typo.
Saya tunggu kelanjutannya *Evilgrin*

Writer too much idea
too much idea at The Borrower: Prolog (8 years 43 weeks ago)

Abis UAS ya kak 8D

Writer KD
KD at The Borrower: Prolog (8 years 43 weeks ago)
100

hmmm
-------------------------
#davincihidupabad18

Writer too much idea
too much idea at The Borrower: Prolog (8 years 43 weeks ago)

:3

Writer kudit
kudit at The Borrower: Prolog (8 years 43 weeks ago)
70

saya agak familiar dengan ceritanya :D
tapi tetep asik untuk dinikmati kok bagi saya :D

Walo ada beberapa kesalahan ketik yg bikin saya agak keseleo pas baca :D

Wah penyakit sotoy saya kambuh :v

Writer too much idea
too much idea at The Borrower: Prolog (8 years 43 weeks ago)

semoga bukan plagiat ga sadar DX
barusan baca ulang, bener banyak typo ga enak :D