Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 16)

 

 

Entakan irama progresif dari cakram hitam yang diperdengarkan ke seluruh penjuru ruangan seakan berkejaran dengan detak jantung Adam yang penuh kalut, gundah, gelisah, dan amarah. Seorang teman hang out-nya semasa kuliah di Amerika pernah bilang, bit-bit kencang yang dipadupadankan dengan efek suara menakjubkan itu dirancang sedemikian rupa untuk membebaskan ketegangan syaraf seseorang, ketika lagu kesukaan dan musik-musik konvensional tak lagi dapat diandalkan. Dan tentu saja, setidaknya, perlu segelas-dua gelas minuman penyegar.

 

Tapi, ini sudah gelas kempat, dan si Bartender seksi sudah mulai bersikap lebih ramah, sebab ia yakin, lelaki di hadapannya tak akan berhenti sampai gelas kelima. Kesan pertamanya, Adam sangat tipikal. Hampir setiap malam, ia bertemu sosok-sosok serupa Adam di tempat ini. Bright outside, broken inside.

 

“Baru pertama ke sini?” ia mencondongkan badannya ke dekat telinga Adam, dan tangannya menyorongkan segelas minuman. Dihirupnya aroma tubuh Adam yang bercampur dengan wangi parfum maskulin yang bakal membangkitkan endorfin jika terjadi sedikit saja kontak fisik. Adam tidak hanya terlihat menarik, namun juga memiliki sex appeal yang kuat di mata sebagian perempuan—salah satunya Bartender ini.

 

Sedetik setelah mengangguk, Adam menyesap rokoknya dalam-dalam. Si Bartender merebutnya dengan lembut, lantas menyesapnya, dan mengeluarkan asap tipisinya ke sisi kanan Adam, ke arah lantai dansa yang dipenuhi orang-orang. Ia memberi isyarat kepada Adam dengan menatapi mereka selama beberap detik. Namun, Adam bergeming.

 

Si Bartender mulai merasa salah perhitungan. Ternyata, Adam berbeda dari cowok kebanyakan. Barusan adalah salah satu jurus andalannya untuk mengajak cowok-cowok melantai. Namun, ia tak patah arang. Bagaimana pun, ia tak biasa ditolak mentah-mentah seperti ini. Ia hendak melancarkan jurus keduanya, ketika tiba-tiba ponselnya berdering.

 

Adam bersyukur saat Bartender seksi-tapi-mengganggu itu menjauh darinya untuk menjawab panggilan telepon. Bertepatan dengan itu, DJ memutarkan irama musik yang tidak terlalu berisik, sehingga ada beberapa potong kata dan kalimat dari pembicaraan si Bartender dengan seseorang di seberang ponselnya yang mampir di telinga Adam. Tak ada yang menarik dari perbincangan mereka, sampai kemudian Adam mendengar perempuan itu menyebut sebuah nama. Anna.

 

Ya, Adam tahu, perempuan yang pernah, dan masih dicintainya itu bukan satu-satunya pemilik nama Anna di dunia. Hanya saja, entah mengapa nama itu serasa memiliki kekuatan dan pengaruh cukup kuat bagi dirinya. Efek sampingnya yang paling instan adalah, Adam mulai respek terhadap si Bartender seksi itu.

 

“Kamu kenal Anna?”

 

Ditanya begitu, si Bartender yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya terkejut. “Maksudmu? Anna...?”

 

“Aku kenal seseorang bernama Anna, dan dia adalah perempuan paling cantik dan hebat di dunia...,” entah pengaruh alkohol, atau efek dari deklarasi nama Anna tadi, Adam mulai meracau,“tapi sayangnya, dia membenciku. Sangat, sangat membenciku.”

 

Tanpa sadar, si Bartender membentuk mulutnya serupa huruf o kecil, sambil mengangguk samar. Ia paham, laki-laki tampan-tapi-rapuh di hadapannya sedang ingin didengar. Dan hanya ingin didengar.

 

“Aku memang pecundang,” pungkas Adam sebelum akhirnya bangkit dan meninggalkan beberapa lembar lima puluh ribuan di samping gelasnya, lalu pergi meninggalkan Bartender seksi yang kini tampak keheranan sendiri.

 

 

***

 

Tristan terpaksa menuruti usul Cherry untuk memarkir sepeda motornya di parkiran sebuah mall yang tak jauh dari arah mereka demi menghindari hujan deras. Mereka baru saja selesai menghadiri seminar penting di sebuah hotel. Sambil memarkir kendaraannya, Tristan merutuki dirinya sendiri yang menolak tawaran mobil dinas dari kepala sekolah. Lebih baik terjebak kemacetan daripada terjebak hujan.

 

Parkiran tampak sepi, hanya ada sekitar lima orang termasuk mereka berdua, di antara ratusan kendaraan. Tristan mendadak canggung. Entahlah, semenjak beberapa hari terakhir ini, ia merasa ada yang berubah dari nuansa kebersamaan di antara dirinya dengan Cherry. Dari mulai kebisingan gosip-gosip tentang kedekatan mereka berdua, hingga kejadian-kejadian penuh drama yang kemudian membangun kecanggungan dan nuansa yang berubah itu.

 

Namun, Tristan benar-benar sadar, bahwa kecanggungannya ini jelas berbeda dengan kecanggungan yang terasa ketika dirinya bersama Joanna.

 

“Cher, um...,” Tristan memberanikan diri membuka suara, “sementara hujannya masih deras, mungkin lebih baik kita masuk ke mall aja. Mungkin ada seseuatu yang mau kamu beli, atau... um... entahlah, ke toilet, mungkin.”

 

“Kenapa... enggak?” Cherry mengangkat bahu, tak kalah kikuk. Namun ada rona-rona merah muda di kedua pipinya yang ber-make up minimalis itu. Beberapa hari belakangan--setelah Cherry menceritakan perihal Anna dengan Adam kepada Tristan, ia merasa sikap Tristan terhadapnya agak lain. Sedikit lebih perhatian, atau semacamnya. Mungkin itu hanya perasaan sepihaknya saja, namun entahlah, berharap boleh-boleh saja, kan? Lagi pula, sejak awal Cherry tahu bahwa Tristan adalah sosok yang cukup dingin terhadap perempuan. Sedikit perhatian cukup membuatnya bahagia. Ada senyum tertahan di ujung-ujung bibirnya yang tersapu lipstik berwarna soft pink, ketika tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan saat dirinya menyerahkan helm kepada Tristan.

 

“Kamu... suka belanja bulanan di mana, kalau boleh tahu?” tanya Cherry saat mereka tiba di dalam mall.

 

“Cuma di minimarket terdekat.”

 

“Memangnya barang-barangnya lengkap?”

 

“Lumayan.”

 

“Oh. Kalau aku biasanya belanja di hipermarket atau mall. Yah, maklum lah, namanya juga cewek. Banyak kebutuhan...,” Cherry merasa garing sendiri karena selain kurang ditanggapi, ia pun baru saja menjawab sesuatu yang sama sekali tidak ditanyakan Tristan. Tapi ia tak lantas mengasihani dirinya sendiri. Ia tetap optimis, meski dilihatnya Tristan malah asyik dengan ponselnya.

 

Hening.

 

“Jadi, mau ke mana nih, kita?” serta-merta Tristan bertanya sambil tetap berfokus pada ponselnya. Beberapa saat yang lalu, ia merasakan seperti ada getaran pertanda pesan atau panggilan masuk, namun ternyata nihil. Semenjak Adam pulang ke Indonesia beberapa hari yang lalu, ponselnya lebih sering berbunyi daripada biasanya. Di saat-saat tertentu, Adam akan menelepon atau meng-SMS-nya untuk mengajaknya pergi berjalan-jalan, makan, atau sekadar minta ditemani. Namun semenjak hari di mana mereka bersitegang, Adam tak sekalipun menghubunginya. Begitu pun sebaliknya. Namun, dari gelagatnya barusan, diam-diam Tristan merindukan kakak angkatnya itu.
 

“Ke mana pun asal kamu suka,” jawab Cherry sedikit menggoda. Namun tak mendapat respon spesial dari Tristan, kecuali, “Eh?” Dan Cherry pun menlontarkan jawaban acak, “Hm... ke tempat aksesoris itu aja, yuk!”

 

Meski agak terkejut, namun Tristan pasrah membiarkan lengannya digenggam Cherry saat mereka berjalan ke sebuah toko aksesoris dan pernak-pernik yang berinterior perpaduan klasik dan modern dengan dominasi warna-warni alam seperti kayu dan bebatuan. Membuat para lelaki yang mengantar pacar atau teman perempuannya tidak merasa gengsi atau keberatan untuk ikut masuk.

 

Tempat itu tampak minimalis, namun tetap terlihat eksklusif. Sekilas, Tristan menangkap kesan bahwa pemilik dan perancang tempat tersebut memiliki selera artistik yang baik dan cukup unik. Ia baru saja hendak meneliti sebentuk kalung yang terbuat dari batu-batu semacam granit, ketika sebuah suara mengejutkannya, “Teacher Tristaaan!”

 

Suara yang sangat dikenalinya. Nathan.

 

Keterkejutannya tak berhenti di sana. Sesosok perempuan cantik yang selama ini menempati kisi-kisi hatinya muncul dari arah yang tak terduga. Joanna. “Sayang, jangan lari-lari, nanti jatuh...!”

 

Nathan sudah menghambur di pelukan Tristan. Seolah perlu melepas kerinduan karena seharian ini tidak bertemu dengan guru kesayangannya di sekolah. “Teacher tadi ke mana? Nathan cariin kok nggak ada?”

 

Tristan tersenyum, wajahnya mendadak sumringah, “Teacher tadi ada tugas dari kepala sekolah. Tugas membasmi monster-monster jahat di luar sana!” Dan candaannya disambut hangat oleh Nathan. Mereka pun tertawa, seperti dua orang yang sangat dekat dan tak terpisahkan.

 

“O iya, Nathan lagi apa di sini?”

 

“Lagi bantuin Mama jualan. Teacher mau beli?”

 

Sesaat setelah menempatkan Nathan dalam gendongannya, Tristan melihat dua orang perempuan tengah menatapinya dalam-dalam. Joanna hanya berjarak dua langkah di hadapannya, dan Cherry berdiri tiga langkah di belakang Joanna.

 

***

 

 

Suasana bandara sore itu tidak terlalu ramai dari balik kacamata hitam seorang laki-laki yang tengah duduk menyesap kopi di kafe samping bandara. Ia memanfaatkan sisa-sisa waktunya menghirup udara Indonesia, aroma Jakarta.

 

Indonesia menyebalkan. Jakarta sialan. Rasa-rasanya, Amerika adalah tempat yang paling bersahabat baginya, setelah apa yang terjadi beberapa hari belakangan, semenjak ia tiba di Indonesia. Ia merasa, kedatangannya ke Indonesia sia-sia belaka. Sekali lagi, sia-sia belaka. Bahkan, telah menghadirkan kembali luka lama. Melodrama. Tak ada seorang pun yang mengharapkannya. Dan tak seorang pun bisa diharapkannya.

 

Maka, satu-satunya keputusan terbaik adalah kembali ke Amerika.

 

Panggilan boarding mengudara. Dengan enggan, ia bangkit dari duduknya. Hatinya mulai diliputi ragu. Tetapi kemudian ia kembali meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ini adalah pilihan terbaiknya.

 

Beberapa langkah setelah ia keluar dari kafe, seorang perempuan menubruknya dari belakang. Ia tak terlalu memperhatikan perempuan yang tampak rikuh menenteng sebuah tas besar dan tergesa-gesa itu, sampai kemudian perempuan itu menegurnya. “Adam? Apa yang kamu lakukan di sini?”

 

“Kak Thalita?”

 

 

Read previous post:  
56
points
(890 words) posted by AuThoRities_Ly 9 years 27 weeks ago
70
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | kolaborasi | Lily Zhang | Romantis
Read next post:  

bahhhh ini bikin penasaran om dadun

Writer NiNa
NiNa at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 16) (9 years 19 weeks ago)
60

yah, cerita bersambung...

100

mo kumen apa ya..?
*mendadak ndangndut nge-blank*
..^^..
poin sajalah..

90

Entah kenapa saya agak gak sreg dengan adegan si Adam marah-marah dan berniat pulang karena ditolak. Karena di bagian 15nya si Adam cuma diusir secara ringan dengan kalimat, 'Jadi buat apa kamu ke sini?'. Saya rasa bukan kalimat yang bisa menjatuhkan mental seorang Adam.
Tapi tetap suka perkembangan ceritanya. Bagus Kak! :D

90

hahaha saya suka...Adam oh Adam. terimakasih belle...

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 16) (9 years 27 weeks ago)
100

Maaf Dun saya lg malas kument.

Yg jelas tulisanmu memberikan celah yang bagus untuk estafeter yang lain.

emak pemalas! *cambuk*

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 16) (9 years 27 weeks ago)

Aaaa tolong dudun sadis sekarang.

Nantikan Kamabelle yg sadis #wowww#

90

ngebut baca dari part 1 sampe yang ini dan ngga sabar nunggu lanjutannya. ngga berani nyaran tapi, new comer sih :D)
dua kali nama tristan jadi trisan tuh tapi tinggal edit beres sih
ah, salam kenal semuanya :)

hai Rodli. terimakasih koreksinya. matamu jeli sekali. sudah kuedit :)

100

ADUH! T^T

90

Adamnya mau kabur! :<>

bagian Tristan bikin geregetaaan

100

aaaahhhhhhh love this!!
cuma typo dudunbelle : Bahkan, telah menghadrikan kembali luka lama
*
"bright outside, broken inside"
love it

thanks mbak lav. iya, aku cadel sih kalo ketemu hruup R :p
makasih koreksinya.

100

oh bay de way, aku sudan memiringkan bagian-bagian yg harus dimiringkan. namun apa daya, entah siapa yg salah, bagian tersebut tetap saja tidak miring.

100

Ya, seperti biasa om dudunbelle berhasil menceritakan ceritanya dengan mulusss.. xixiii.. ak cuma geregetan, kenapa scene joanna-tristan-cherry cuma berhenti sampe dsana. (berharap ada yg melanjutkan scene itu)
.
NOTES:
Kepada seluruh pembaca DUP, sekedar informasi saja, Part 15 yang dipakai sebagai pedoman melanjutkan cerita DUP selanjutnya, adalah part 15 SEBELUM revisi.
Terima kasiiiii :)

Suuun... thanks ya bust bantuannya. *kisskiss*
dan soal part joanna-tristan-cherry sengaja digantung, memancing yg lain untuk mengembangkan. :D

90

And so my turn begin--makasih kak Dandun dah digantungin dibagian Thalita--tau aja saya bakal ngeluarin tokoh itu lagi hahaha
.
Bagian ini bagus sih, tapi saya jadi sebel berat ama Adam (Gimanapun saya gak pernah bisa respek sama dokter ato calon dokter yang: 1. Merokok 2. Minum2 Minuman keras)--tiba-tiba gambaran scene episod berikutnya tergambar.
Yeah, say amulai nulis dah.

kan ceritanya lagi deprsi dan frustrasi :p
detailnya, udah aku inbox-in ya

90

lho? bukannya yg sebelumnya ( Di Ujung Pelangi bag. 15-revisi), cherry pura2 sakit yah?
#kabur

yg dipake, jadinya yg part 15 sebelum revisi