Culinary Challenge : Rahasia Di Balik Lenko Olen

Kriiingg… Kriiinnng…

Kriiinng… Kriingg…

“Iya, iya bentar!”

Huh. Siapa sih pagi-pagi gini telpan-telpon-telpan-telpon, ganggu aja. Nggak tahu apa ini jam berapa. Gerutuku sambil lalu ku angkat telpon yang terus menerus berdering.

“Iya, hallo, selamat…”

“Hallo, Dek? Itu kamu, kan?”

“Hah…?”

“Dek, tolongin Abangmu ini, Dek. Abang habis kecopetan nih, Dek. Tolong transferin uang gitu ke Papa seratus lima puluh ribu aja buat ongkos. Ini Abang masih di bandara, lagi lapor ke petugas di sini. Atau ada yang bisa jemput Ab…”

“Maaf, Mas. Salah sambung!”

Ku potong pembicaraannya yang panjang nyerocos tanpa henti, tanpa spasi, tanpa jeda titik koma. Lalu ku tutup telpon dengan segera setelah ku katakan itu.

Huh… Zaman sekarang ya, penipuan semakin merajalela. Bukan sekedar lewat sms yang minta diisiin pulsa atau ditransfer uang.Tapi ternyata ada juga ya yang nyampe nekat nelpon kayak tadi. Idiiihh.. Gimana jadinya kalau ada orang yang beneran tertipu terus dateng nyamperin. Mungkin bukan Cuma dirampok itu orang, tapi sekalian di’coba’ kali yah. Hiiiiyy…. Aku bergidik membayangkan imajinasiku sendiri.

“Siapa, ndok?” Tanya Emak yang baru keluar kamar, hendak ke kamar mandi nampaknya.

“Bukan siapa-siapa, Mak. Salah sambung.” Ujarku sambil tersenyum.

Aku pun kembali menaiki tangga, menuju kamarku. Membereskan beberapa lembar kertas yang berserakan, sisa mengerjakan tugasku semalam, pergi mandi dan bersiap pergi.

“Mak, Olen berangkat dulu ya.”

“Enggak sarapan dulu, Ndok?”

“Enggak, Mak, nanti saja.” Sambil ku cium pipi kanan dan pipi kiri Emak. Lekas pergi setengah berlari, takut terlambat karena angkot ngetem atau macet di jalanan nanti.

 

Namaku Carolline. Bisa dipanggil Care, Carol atau Olin. Tapi orang-orang lebih akrab memanggilku dengan sebutan Olen. Mungkin biar kerasa Nyunda kali ya. Aku lahir di Bandung. Mendiang Mama lahir di Tanah Sunda. Hanya Papa yang murni kelahiran Champagne , salah satu kota yang terkenal sebagai penghasil Champagne di Perancis. Papa meninggal saat aku berumur 12 tahun. Dua belas tahun setelah mama meninggal karena kelahiranku. Sekarang ini aku tinggal bersama Emak, nenek dari Mamaku. Di rumah megah yang sepi..

“Len, Olen. Lu ditanya dosen tuh!” Eka berbisik tepat di telingaku, menyadarkanku dari lamunan.

“Hah? Apa! Ya, Bu?”

“Ya, Caroll?” Tanya Bu Novi, dosen mata kuliah Tipografi di kelasku.

“Heu, ummmh… Maaf, Bu. Bisa tolong diulangi lagi pertanyaannya?” Pintaku.

Tapi Bu Novi tidak lalu memenuhi permintaanku. Sebelah matanya naik.

“Pertanyaan?” Ia balik bertanya menandakan ada yang tidak beres.

“Oh My…” Batinku

*

“BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…..”

Eka terbahak mengingat ketololanku di kelas tadi.

“Arrrrgghhhh….. Ka!! Lo itu gak kira-kira ya ngerjain orang! Dasar! Tega yah lo!”

Teriakku kesal. Aku tak peduli seperti apa tampangku saat ini. Yang pasti aku kesal, sangat-sangat kesal. Ku kerucutkan bibirku hingga terbentang beberapa inchi ke depan. Dan..

“WAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…..”

..semakin keras saja suara temanku yang satu itu.

“Akhh, Lo. Ketawa mulu. Kang, timbel satu!” Pesanku setengah berteriak.

Warung belakang kampus memang sudah menjadi best camp kami, aku dan anak-anak kelas. Baik dalam hal isi perut atau sekadar nongkrong menghindari dosen mata kuliah.

Hmm…kenyang juga akhirnya. Kataku dalam hati.

“Ka, Gwe balik ya!” Ucapku masih dalam nada kesal. Tanpa menunggunya menjawab, langsung saja ku mantapkan naik angkutan umum yang saat itu berhenti untuk menurunkan penumpang.

*

“Mak, sudah makan?” Tanyaku setibanya di rumah.

“Eeee… sudah pulang toh, Ndok?”

Aku tersenyum sambil ku cium pipinya yang tinggal tulang berlapiskan kulit itu.

“Makan yuk, Mak. Olen bikinin Lenko kesukaan Emak ya! Nanti kita makan bareng sama Mang Ujang sama Bi Nartih. Tapi Olen ganti baju dulu ya, Mak.”

Emak tersenyum. Aku pun bergegas ke kamar.

Emak memang agak susah kalau disuruh makan. Badannya kurus kering, matanya sayu berkantung, tidak tega aku melihatnya seperti itu. Hanya dialah satu-satunya keluarga yang ku punya. Satu hal yang tak kumengerti, kenapa dia hanya mau makan disaat ada Lenko buatanku? Entah kenapa harus aku? Padahal cara membuatnya sangat-sangat mudah. Masih bisa dibuatkan oleh Bi Nartih. Pikirku.

Buru-buru aku turun setelah berganti pakaian. Lalu dengan cekatan, ku siapkan segalanya. Tak lebih dari lima belas menit Lenko siap disajikan. Kami pun makan pada satu meja. Aku, Emak, Mang Ujang dan Bi Nartih. Satu meja yang berisikan seorang cucu, nenek, satu tukang kebun yang merangkap sebagai sopir pribadi, serta seorang pembantu rumah tangga. Satu meja tanpa karsa. Beginilah indahnya hidup.

*

“Mang Ujang, anterin Olen ke kampus, yuk. Lagi males naik-turunn angkot nih.”

Ku lihat saat itu Mang Ujang baru saja selesai menyiram tanaman. Dia pun menoleh ke arahku sambil mengangguk pelan, khas orang Sunda.

“Nanti pulangnya mau dijemput, Non?” Tanya Mang Ujang setelah berhasil mengantarku sampai di tempat tujuan dengan selamat.

“Akh, enggak usah, Mang. Lagian nanti pulangnya mau ngerjain tugas dulu di rumah temen. Nanti Olen pulang naik angkot aja.” Jawabku sambil melambaikan tangan pada Eka yang sudah menunggu di warung belakang. Mang Ujang pun langsung saja melaju pergi setelah pamit padaku.

*

Di waktu lain..

“Mang Ujang!”

Seru seseorang di depan sebuah hotel cukup ternama di kota ini.

Mang Ujang yang sedari tadi celingak-celinguk, kini wajahnya berseri sumringah, seperti baru menemukan lagi sesuatu yang lama tidak nampak.

“Subhanallah, Den. Sehat-sehat kan di sana?”

Mang Ujang menciumi tangan Pria yang memanggilnya tadi, sembari membukakan pintu mobil untuk orang itu. Setelah memasukan dua buah koper ke dalam bagasi.

“Alhamdulillah, Mang. Esa baik-baik saja. Mang Ujang sama yang ada di rumah gimana kabarnya? Esa kangen banget sama Papa, sama Eyang..”

Pria itu menghentikan pembicaraannya saat dilihatnya wajah Mang Ujang berubah duka, tertunduk menerawang setir yang ia pegangi.

“Sebaiknya kita bicarakan di rumah saja, Den.” Ucap Mang Ujang lesu.

Mobil hitam itupun melaju ke arahh sebelum ia pergi mengantar seorang Gadis.

*

“Emaakkk…!” Seruku sambil terus masuk ke dalam.

Di ruang tengah ku lihat seorang Pria terduduk menatap layar televisiyang seru-serunya menayangkan pertandingan sepak bola antara Indonesia dengan Vietnam. Aku pun mendekati Emak yang sedang menyeduh air teh di dapur.

“Mak, itu siapa?” Ku tanyakan itu setengah berbisik di telinga Emak.

Raut muka Emak yang semula berseri-seri, kini nampak layu terluka. Di sorot matanya.

Aku bingung, apa yang salah dengan pertanyaanku tadi.

“Hei, sudah pulang si cantik ini!”

Aku terlonjak ketika suaranya yang lembut hanya beberapa inchi dari daun telingaku. Terlebih kedua tangannya yang nyaris saja mendarat untuk memelukku. Aku terkesiap ke satu sisi tubuh Emak. Mataku melotot tajam pada Pria itu. Dia mundur selangkah untuk meyakinkan bahwa dia tidak berbahaya.

“Dek..?” Pria itu bertanya. Entah pada siapa, tapi matanya jelas tertuju padaku.

“Ndok, dia ini…”

“Akhh, Gwa inget! Gwa inget suara Lo!” Kata-kataku meluncur begitu saja sebelum Emak menuntaskan apa yang hendak dikatakannya. Ada senyum yang hendak terlintas di wajah Pria itu.

“Apa Lo? Senyam-senyum. Lo penipu yang tempo hari nelpon subuh-subuh,kan!” Tuduhku sambil mengarahkan susuk wajan ke wajahnya.

“Ap.. penipu?” Tanyanya bingung. Entah pura-pura tak mengerti.

“Iya,kan! Ayo ngaku! Darimana Lo tahu alamat rumah Gwa? Meski Lo gak ngaku juga Gwa inget suara orang! Terlebih penipu amatiran macam Lo! Gwa gak akan biarin Lo nyakitin semua yang ada di rumah ini, termasuk harta benda yang ada di sini!” Bentakku sambil terus maju agar ia mau pergi. Tapi nampaknya ada yang salah?

“Hmmm…hihihi..hahaHAHAHA…”

Tawanya membludak di tengah keteganganku. Dan Emak…? OMG! Emak juga malah ikut-ikutan ketawa. Ada apa ini?

Akhirnya senjata panjang yang ku pegang itu terlepas dari tanganku. Lemas. Wajahku memerah, malu bercampur bingung. Emak memapahku ke tangga. Ke kamarku.

“Ndok, sekarang kan sudah malem. Nanti kalau libur kuliah, kita ngumpul buat ngobrol-ngobrol, ya. Besok Sabtu, libur, kan?” Tanya Emak lembut padaku yang masih saja menunjukan kebingungan.

“Besok…Olen ada jadwal tambahan, Mak..” Jawabku datar.

Emak hanya tersenyum sambil mengecup keningku.

“Ya, sudah. Kalau begitu Minggu juga bisa, kan?” Pintanya. “sekarang istirahat ya, Ndok. Biar besok ndak terlambat.” Lanjutnya lagi sebelum akhirnya menutup rapat-rapat pintu kamarku.

Apa yang terjadi? Oh My..

Jangan-jangan Pria itu udah meletin orang-orang di rumah ini lagi. Kalo enggak, ko mereka bisa tenang-tenang aja ada maling di sini? Pikirku bingung.

Dan akhirnya...

*

Oh.. Thank’s God. Pagi membangunkanku dari mimpi yang sangat membingungkan. “Eh…?”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…”

Aku berteriak tanpa sadar begitu melihat jarum jam yang memberikan isyaratnya bahwa aku sudah terlambat selama dua jam!

“Oh, My dosen, tolong jangan ngamuk..” Bisikku.

Aku beringsut ke kamar mandi. Gosok gigi, tapi tidak mandi. Tak ada waktu. Pikirku. Hanya cuci muka itu cukup buatku. Lagian aku bukan cewek-cewek ganjen yang perlu satu jam lebih hanya untuk make-up-an.

“Mak, Olen berangkat ya!” Ucapku sambil memakai sepatu tanpa melihat ke arahnya.

“Ndak sarapan dulu, Ndok?”

“Enggak, Mak. Udah telat banget. Dadah Emak..!” Ku sempatkan melambaikan tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil untuk diantarkan Mang Ujang ke kampus.

Sementara Mang Ujang mengemudi, aku sibuk saja mencari-cari lembar acc-anku.

“Nyari apa, Dek?”

“Kertas acc-an, mang.” Jawabku.

Eh..? Tunggu, sejak kapan Mang Ujang manggil aku ‘Dek’?

Aku pun menoleh. Sesosok Pria mengemudikan mobil dengan santainya. Dan bukannya Mang Ujang!

Dia nyengir ke arahku.

“AAAAAARRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH……!!!!!!!!!!”

Aku berteriak sejadi-jadinya sambil terus ku coba membuka pintu mobil. Tapi percuma, dikunci otomatis dari pintu pengemudi.

“Gak usah panik gitu, Dek. Masa tega sih Abang ngapa-ngapain Adeknya sendiri.”

What?? Hello…sejak kapan Gwa jadi Adek Lo! Tanyaku dalam hati.

“Buka kunci pintunya! Gwa mau turun. Sekarang juga!” Bentakku pada Pria itu.

OMG! Ku pikir kejadian semalam itu hanyalah sebuah mimpi. Kenapa malah lebih buruk dari itu? Desahku pelan.

Tak sadar kubanting pintu mobil itu. Tapi..

“Akhh. Aww!” Pria itu memekik kesakitan terkena bantingan pintuku tadi.

“Upss.. mesti cabut nih.” Bisikku sambil lantas menghampiri Eka tanpa menoleh pada Pria di belakangku itu.

“Waahhh, Len. Siapa tuh? Cowok Lo?” Tanya Eka antusias.

“Hah?!”

“..ato, sopir baru Lo?”

“Akh, iya, iya. Itu sopir baru Gwa. Ya, Lo tahu lah kalo Mang Ujang terus-terusan jadi sopir Gwa, nanti siapa donk yang ngurusin kebun. Yuk ah, masuk.” Desakku pada temanku itu.

“Sopir baru Lo cakep juga ya, Len. Boleh donk kapan-kapan kenalin ke Gwa.” Bujuk Eka padaku.

Kelihatan banget dari wajahnya yang memerah itu. Nampak malu-malu tapi mau.

“Hmm. Lo deketin aja sendiri.” Jawabku singkat.

Saat masuk kelas, untunglah dosen yang mengajar hari ini sedang cuti sakit. Jadi kami hanya diberi tugas, lalu pulang.

Sepulang kuliah..

Tidid… Tidid… Tididit..

Klakson mobil yang merayap di sebelahku semakin bising saja. Sampai-sampai aku harus berteriak..

“Heh! Gwa udah bilang kan, kalo Gwa nggak mau diantar-jemput sama orang selain Mang Ujang!” ku balikan badanku dan terus berjalan hingga perempatan jalan, di sana barulah kuputuskan untuk naik angkot.

Tidididid… Tidid… Tidid..

“Berisik!” Teriakku sambil menutup telinga.

“Ayolah, Dek. Bentar lagi ujan nih. Kamu gak mau kan, naik-turun angkot sambil ujan-ujanan.” Desaknya.

Tak ku pedulikan kata-katanya. Langsung saja ku naiki angkot yang biasa ngetem di perempatan itu. Dia nampaknya kesal. Ku lihat mobil hitam yang biasa dikemudikan Mang Ujang itu kini melesat jauh di depanku.

*

“Eemaaakk…… Udah makan, Mak?” Tanyaku pada Emak yang tengah mendidihkan air di dapur.

“Eeeee..sudah pulang, Ndok. Kebetulan Emak baru mau makan. Tapi nunggu Lenko bikinan kamu, Ndok. Kalau ndak ada Lenko itu…mau dikasih makanan segimana enak dan mahalnyapun Emak ndak akan mau, Ndok.”

Emak mengiris-iris wortel, timun, tahu dan tempe membentuk dadu-dadu kecil. Itu berarti Emak sudahh member aba-aba agar aku melanjutkan membuat Lenko nya. Aku tersenyum. Ku kecup pipi Emak sebelum akhirnya ke kamar untuk berganti pakaian. Dan kembali ke dapur..

Seperti biasa. 15 menit..

“Waahhh… Ini ya, Yang, masakan kesukaan Eyang itu?” Tanya Pria yang semalaman dipersilahkan tidur di rumah kami itu. Aku bahkan tidak tahu namanya.

“Iya, Sa. Ayo makan sama-sama.” Ajak Emak.

Aku tidak lagi bersikap kasar padanya. Meski sebenarnya ingin sekali ku remukan tangannya itu. Tapi melihat Emak yang nampak senang dengan keberadaannya, maka ku urungkan niatku. Aku hanya diam sepanjang malam itu. Keberadaan Pria itu di rumah kami tak begitu ku permasalahkan lagi. Meski sebenarnya masih banyak Tanya di kepalaku.

*

Tititit… tit… tit..

Tititit… tit… tit..

Jam weaker di kamarku berbunyi nyaring. Sangat, sebenarnya. Tapi tak ku hiraukan. Lelah. Ini hari untuk bersantai, jadi tak perlulah aku buru-buru bangun. Pikirku.

Sayup-sayup ku dengar nampan yang diletakkan di meja belajarku. Dalam mata yang setengah ku buka enggan, ku lihat bayangan seorang Pria, muda, tinggi, wajahnya seperti…

“Papa…?” Aku memanggil.

Aku rindu Papa. Tangannya menyentuh pipiku. Hangat. Ku dapatkan tangannya. Ku kunci dalam genggamanku. Masih dalam keadaan belum terbangun, aku berkata, “Jangan pergi, Pa..”

Dan kata-kata terakhirnya yang aku ingat sebelum benar-benar tertidur lagi hanyalah, “Aku takkan pergi lagi, Sayang.”

Tepat jam sepuluh siang aku bangun. Ke kamar mandi, gosok gigi, cuci muka. Tidak mandi. Yah, biarkan aku jorok seminggu ini. Kataku dalam hati. Ada segelas susu di meja samping tempat tidurku. Aku terkaget.

Itu… bukan mimpi,kan? Ta..tapi apa mungkin papa benar-benar kemari? Pikirku lebih keras. Tentu orang yang sudah meninggal tidak bisa kembali. Tapi, bukan tidak mungkin kalau Papa datang untuk menengokku. Yang setiap paginya membawakan susu ke kamarku Cuma Papa. Tak ada siapapun yang melakukan kebiasaan rutin itu, setelah dua belas tahun berlalu. Tidak Bi Narti, Emak pun tidak. Apalagi Mang Ujang. Ku minum teguk demi teguk air susu itu hingga habis. Dan air mataku mulai berjatuhan. Aku benar-benar kangen Papa..

“Dek, sudah bangun?”

Pria yang dipanggil Emak dengan sebutan Esa itu mendekatiku. Alih-alih berteriak atau mengusirnya pergi, tanganku sibuk menyeka air mata. Dia duduk di sebelahku.

“Dek, abang gak maksud buat kamu sedih.” Kata Pria itu.

Suaranya lembut. Dan aku yakin, dia lah yang tadi pagi membawakan segelas susu ke kamarku. Ku sangga wajahku di atas bantal, setengah terbenam.

“Abang bahkan enggak tahu kalau Papa sudah enggak ada. Baru ku tanyakan tadi pada Emak, setelah Abang dengar kamu mengigau memanggil Papa.” Ucapnya.

Aku terisak. Sebenarnya apa maksudnya dengan memanggilku Adek. Abang.. Papa.. Apa aku punya Abang?

“Kenapa kamu manggil aku ‘Adek’?”

Akhirnya ku paksakan diri untuk bertanya. Masih dalam isakan. Tapi dia hanya tersenyum, menghela nafas..

“Abang juga bingung, dek. Kenapa kamu sampai segitunya ngelupain Abangmu ini.”

Aku melihatnya bingung. Dan aku pun bingung.

“Kamu tahu, gak, kenapa Emak suka banget Lenko buatan Adek?” Tanyanya.

Tapi beberapa detik kemudian dia menjawab pertanyaannya sendiri.

Lenko Adek itu.. rasanya persis banget sama Lenko bikinan Mama. Gak terlalu mateng, gakl terlalu kering, bahkan rasa sambelnya..sama banget ma selera Mama.”

“Kamu tahu Mama?” Tanyaku heran. Aku bahkan nggak pernah tahu banyak soal Mama.

Dia tersenyum. “Ke bawah yuk, Dek. Semua dah nunggu di bawah. Kita ngobrol-ngobrol sambil ngebubuy sampeu. Abang juga bingung kalo harus jawab semua sendirian.”

Dia mengusap-usap kepalaku, memberantakan rambutku. Sama seperti yang ku ingat, Cuma Papa yang ngelakuin itu padaku.

Setelah cuci muka, lagi. Dan ku yakinkan bahwa wajahku tidak terlalu merah menampakan bekas tangisanku tadi, aku pun tertunduk berjalan di sampingnya. Kami turun bersamaan, duduk di atas karpet yang tergelar di ruangn tengah. Ada Emak, Bi Nartih, Mang Ujang nggak ada, mungkin sedang mengurusi kebun di luar. Sebakul bubuy sampeu lengkap dengan gula pasir dan sambel ijo. Semua kenangan-kenangan akan Papa ada di sana. Keadaan perekonomian kami mamang tergolong high class. Tapi meskipun begitu, Papa selalu mengajarkanku untuk hidup sederhana. Meski Papa murni berdarah Perancis, tapi dia selalul memfavoritkan makanan-makanan dari Tanah Kelahiran Mama, di Bandung ini.

“Ndok, Emak tahu kamu masih bertanya-tanya,kan,tentang Pemuda ini?” Emak menunjuk Pria di sebelahku. “Dan tentang apa-apa yang Ndok pikir semua itu ndak ada hubungannya dengan kita.” Katanya lagi.

“Emak, juga semua yang ada di sini sangat berharap kamu siap untuk menerima semuanya, Ndok.” Lanjut Emak.

Aku takut. Aku tidak tahu apakah aku siap atau tidak. Tapi aku tidak ingin terus menerus bertanya pada pikiranku yang tak kunjung member jawabnya.

Aku mengangguk pelan. Emak memperlihatkan album-album foto usang, foto waktu Papa dan Mama masih ada. Fotoku waktu kecil, Emak, Mang Ujang, Bi Nartih dan.. seorang anak laki-laki. Emak pun menceritakan foto demi foto yang ditunjukannya pada kami, secara tidak langsung, padaku.

 

Aku, Carolline Dwi Kirana, anak ke dua dari pasangan suami-istri percampuran darah Perancis-Indonesia. Anak pertamanya bernama Ares Augusta Pratama, yang lebih akrab dengan panggilan Esa. Dia Abangku. OMG! Pantas saja dia, selalu lebih mengingatkanku pada Papa. Emak bilang, saat aku berusia dua belas tahun, begitu bangun tidur Abang sudah tidak ada di rumah. Papa bilang, dia pamit untuk pergi ke Tanah Kelahiran Papa, Perancis. Ada beasiswa yang diberikan pihak sekolah bagi para siswa yang berprestasi. Ia melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa sebuah Universitas di sana. Aku tidak terima Abangn meninggalkanku begitu saja. Lalu, kata Emak, aku merengek pada Papauntuk menyusul Abang. Aku membuat Papa terburu panik. Kata orang yang membawaku ke Rumah Sakit, dia melihat mobil yang kami kendarai lepas kontrol. Ada truk pengangkut barang dari arah berlawanan, dan kami menabraknya. Saksi membawa kami ke Rumah Sakit terdekat, dan langsung diseret ke Unit Gawat Darurat. Di sana.. aku kehilangan Papa untk selama-lamanya. Dan aku tak ingat apa-apa. Dokter memvonis ada kerusakan pada beberapa jaringan di otakku yang mengakibatkan beberapa memori hilang. Terutama penyebab kematian Papa, secara tidak langsung, Abangku pun termasuk di dalamnya.

Aku ingat, aku kehilangan orang tua. Mama.. saat aku lepas dari rahimnya. Dan Papa.. menyusul kepergiannya saat usiaku dua belas tahun. Tidak ada cerita tentang kecelakaan itu, tak ada cerita tentang Abangku, tidak ada cerita tentang pemburuan mengejar Abangku sehingga menewaskan satu orang yang teramat ku cintai. Semua bungkam, karena kata dokter, aku harus sudah siap. Bahkan Abangku sendiri tidak diberi tahu tentang berita duka itu. Karena takut ada kecelakaan lagi jika Abang bergegas pulang dalam keadaan panik.

Aku menangis. Ku pandang sosok Pria di sebelahku. Bukan ingin menghakiminya atas kepergian Papa. Tapi lebih pada menghakimi diriku sendiri. Tega-teganya aku menuduhnya penipu dan membentaknya dengan kata-kata kasar. Dia merangkul kepalaku, memelukku. Aku menangis di bahunya. Meski aku belum benar-benar mengingatnya, tapi aku ingin dia selalul sedekat ini denganku. Kini.. dan selamanya.

Entah bagaimana rapuhnya perasaan seorang Ibu yang ditinggal suami, anak serta menantunya ini. Emak benar-benar sendiri dengan seorang cucu yang masih dalam keadaan koma saat itu.

“Tapi ajaibnya.. saat pulang, cucu Emak ini..” Emak ikut memelukku sebelum melanjutkan kata-katanya.

“..tiba-tiba kamu bikin Lenko yang sama dengan yang pernah Mamamu buat. Entah darimana kamu belajar itu, Ndok. Padahal kamu sendiri belum sempat melihat perempuan yang melahirkanmu itu.” Emak mulai merebakan air matanya. Hangat.

Aku tersenyum. Aku bersyukur bisa membuat Lenko seperti Mama. Meski aku sendiri tak mengerti mengapa aku bisa. Tapi Lenko itu, satu-satunya yang mengingatkan tentang Mama. Satu-satunya yang membuat Emak bertahan. Aku mengerti sekarang, mengapa Emak hanya mau makan jika kubuatkan Lenko itu.

Mungkin itulah jalan Tuhan untuk membuat kami tegar, bertahan dan.. bersatu kembali. Resep Mama yang sama sekali aku tidak tahu. Lenko.. keajaiban yang berawal dari kesederhanaan.

 

Terima Kasih, Tuhan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

komentar dibawah ini adalah subyektif.

saya bilang ini cerita bagus, namun karena ini genrenya slice of life, terkadang otak menskip sendiri beberapa pharapgraph yg dianggap biasa.

maaf sekali lagi maaf, tapi ini memang cerita bagus kok!

Kabur.exe

70

Ceritanya menyentuh.

Ada beberapa typo.

Hanya saja kok bisa-bisanya si abang ndak tau bapaknya meninggal ampe selama itu.

100

.....karena dari segi cerita udah bagus (yah, saya mau komentar apa lagi? udah diwakilkan dengan yang di bawah ;(), saya komentar beberapa hal lain aja ya...
.
1) Best camp? Maksudnya basecamp?
2) Ng, kata 'Lo', Gwe', dan 'Pria', kenapa selalu kapital? Apa memang disengaja? Saya ngerti sih kalau buat 'Emak' atau 'Mama'
3) OMG-nya entah kenapa beberapa kali membuat saya melupakan suasana dramanya
.
Other than that, thanks for the story~!

90

iya...jadi inget mama...ga bisa ketemu lagi juga...
Huueeeeeeeeee...(saya butuh tisu juga)

sama nasibnya ya gan...huwaaaaaaahhhh(tisunya abiiiss)

80

Hiks..jadi inget mamah gue. ga bisa ketemu lagi.Huwaaaaa....(saya butuh tisu.Hehe)

90

...touchy... :|d