Kemal Potter (Chapter 4 : Aku Memecahkan Telur Dengan Sapu)

Aku sekarang berada di lapangan untuk pelajaran pertamaku, yaitu menggunakan sapu sihir. Kami belajar di lapangan Quidditch yang terletak di luar sekolah. Cuacanya sangat enak, rasanya aku jadi bersemangat.

Guru yang akan mengajar adalah seorang wanita yang masih terbilang muda bernama ibu Heni. Dari mukanya yang keras, bisa ditebak kalau dia adalah guru yang galak. Lapangan dipenuhi warna merah karena semua yang disini adalah anak baru dari asrama Bambang Pamungkas. Sapu-sapu sihir diletakkan secara rapi di sepanjang lapangan.

"Masing-masing dari kalian berdiri di dekat sapu!" perintah bu Heni.

Kami pun langsung memilih sapu dan berdiri di dekatnya.

"Sekarang arahkan tangan kalian ke sapu," bu Heni memperagakannya, "lalu bilang 'naik'. Jika sihir kalian cukup kuat, sapu itu akan naik ke tangan kalian."

Para murid mulai mencobanya. Ada yang langsung berhasil, ada yang sapunya melayang-layang, ada yang tak bergerak sama sekali. Aku pun ikut mencoba.

"Naik!"

Tidak terjadi apa-apa. "Naik, naik!" Sapu itu tak mau menurutiku. Sepertinya aku memang tak punya bakat sihir. Kulirik ke samping,  sapu Nia sudah berada di tangannya, Indra bahkan sudah membuat sapu itu melayang. Tak mau kalah, aku beranggapan ini karena tanganku yang terlalu jauh dari sapu. Aku lalu meletakkan sapu di antara kakiku dan makin mendekatkan tanganku.

"Naik! Naik! Naik!"

Sapu itu tetap tak bergerak. Kutegakkan kembali badanku, masih bingung dengan kengototan sapu sihir sialan ini. Lalu hal itu terjadi.

Tiba-tiba saja sapu itu naik dengan kecepatan tinggi dan membentur selangkanganku. 

"OWWHH"

Dan karena tadi aku memerintahkannya tiga kali, maka sapu itu pun naik turun sampai tiga kali, yang berarti menghantam selangkanganku sampai tiga kali. Aku pun tak sanggup berteriak lagi dan hanya bisa berlutut memegan selangkangan. Bu Heni menghampiriku.

"Kamu kenapa?"

"Te...telor saya...."

Bu Heni menggelengkan kepala, "Istirahatlah dulu."

Dia kembali mengajar yang lain. "Jika kalian sudah memegang sapu, naiki dengan hati-hati. Lalu melompatlah sepelan mungkin dan melayanglah sampai kalian berada di atas sapu dengan stabil. Jangan coba-coba langsung membawanya terbang,"

Indra sepertinya tidak tahu arti dari 'melompat sepelan mungkin' karena dia menjejakkan kakinya ke atas dengan sangat keras sehingga kini dia melayang setinggi 8 meter dan tak bisa mengendalikan sapunya.

"Toloooonngggg!!!"

Bu Heni dengan tenang mengarahkan tongkat sihirnya ke arah Indra dan sapu itu secara ajaib turun ke tanah dengan pelan. 

"Itulah yang terjadi jika kalian tidak menuruti kata-kataku."

..................................................................................................................................................................................................................................

Setelah pelajaran sapu sihir, kami semua ke aula untuk makan siang. Aku tak sempat belajar sama sekali karena masalah 'pecahnya telor' ini. Bahkan sekarang aku tak terlalu selera makan karena selangkanganku masih sakit. Sedangkan Indra, dia masih shock karena terbang lepas kendali. Suasana makan kami jadi kurang nyaman.

Lalu Ryan datang, membuat semuanya makin kacau. Dia menggunakan jubah kuning asrama Iwan Fals.

"Aku dengar dari temanku, kau tak bisa menaiki sapu sihir ya. Menyedihkan, aku bahkan sudah bisa menguasainya saat masih kelas 2 SMP."

Aku melihatnya dengan kesal, "Baguslah. Aku bisa membayangkan kau dengan sedang menyapu rumah dengan sapu itu."

Respon dari ejekanku itu adalah sebuah koran. "Simpan ini untukmu, dan berpikirlah dua kali sebelum mengejekku." Dia melemparkannya ke meja dan pergi.

Koran itu adalah Koran Sekolah yang dibikin oleh murid-murid dari Ekstrakulikuler Jurnalistik Sihir. Disini memang ada banyak kegiatan ekskul, tapi aku belum memilih satupun. Di koran itu ada berita tentang Ryan yang menjadi anggota Quidditch asrama Iwan Fals dan dia adalah satu-satunya anak tingkat satu di tim itu lengkap dengan fotonya yang bergerak-gerak. Jadi ini yang ingin dia pamerkan. Aku melemparkan koran itu ke meja karena tak tertarik.

"Hei, lihat berita ini."

Indra memperlihatkan berita yang tak kulihat tadi. 

"Disini tertulis kalau penyihir jahat, Gayus, melarikan diri lagi dari penjara Cipinang."

Aku pernah mendengar itu. Gayus adalah salah satu pendukung Voldemort yang masih tersisa. Dia pernah melarikan diri dari penjara dan menyamar di Bali walaupun kembali tertangkap.

"Mengerikan ya, penyihir jahat seperti itu berkeliaran di luar sana," kata Nia.

"Aku berharap tak terjadi sesuatu yang buruk. Baru kali ini ada penyihir yang bisa kabur dua kali dari penjara sihir Cipinang."

Aku tak terlalu memikirkan hal itu, yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana menyembuhkan selangkanganku ini.

 

 

(Bersambung....)

Read previous post:  
124
points
(930 words) posted by kemalbarca 9 years 41 weeks ago
82.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fanfic | komedi | sihir
Read next post:  
90

Wakakakakak XD
.
Ah, tapi entah kenapa saya jadi simpati sama Ryan.. (habis dari kata-katanya dia kayak bocah kesepian gak punya temen)

80

ki joko bodo kebagian peran gak neh di serial ini,...? lanjut baca ...

90

Poin dulu....

90

Azkaban ---> Cipinang. Ahahahaha

80

hahahaha ngakak abis deh! (tetep) ditunggu chapter selanjutnya kak!

80

maaf aku yg salah ato gmn ya, Ryan itu asramanya Iwan Fals ato Mario Teguh?
----> Lalu Ryan datang, membuat semuanya makin kacau. Dia menggunakan jubah kuning asrama Iwan Fals.
----> Di koran itu ada berita tentang Ryan yang menjadi anggota Quidditch asrama Mario Teguh dan dia...
tapi tetep lanjut ya ><

mampus!
dia itu asrama Iwan Fals
akan kuedit
thanks banget ya!!

90

wakakakaka
makan siangnya telor ceplok apa dadar?
.
lanjuuut

80

WAKAKAKAKAKAKAKAKA... Kemaaaaaalll <3

90

wkwkwkwkwkwkwk

100

hahahhaha....

70

Hahahha. Nazarodon juga komplotannya? Pelahap Duit kah?
Nyok ah dilanjut, jeng....biar cucok gitu, bow.Hahaha

2550

Gayus satu komplotan sama Voldemort?? saya setuju BANGGETZ!! xD
lanjut Kek! eh, Pak! eh, Om! eh, Kak! (^o^)