Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 17)

 

Adam jelas panik, dia sama sekali tidak menduga kalau dia akan bertemu dengan Thalita di saat-saat seperti ini. Mengacuhkan Thalita jelas bukan pilihan yang bagus. Thalita punya sabuk hitam tingkat tiga di taekwondo dan sebisa mungkin Adam berusaha untuk tidak merasakan tendangan wanita itu lagi.
 
“Errr ... halo kak! Apa yang membuat kakak bisa ada di tempat ini?” tanyanya datar. Sebisa mungkin mengulur waktu sekalipun panggilan boarding yang ditujukan untuknya mulai menggema di bandara.
 
Thalita menyodorkan tanda pengenal yang tergantung di tas tangannya. Tanda pengenal sebuah seminar kesehatan yang akan diadakan di Bali. Sesuatu yang jelas akan diikuti dokter seperti Thalita dan Adam jelas baru melontarkan sebuah pertanyaan bodoh.
 
“Apa yang kamu lakukan disini, Adam? Ini Terminal 2, yang artinya, klo kamu gak naik pesawat negara kayak aku, kamu berniat pergi ke luar negeri, dan dari apa yang diteriakin sama speaker di bandara ini, kamu berniat balik ke Amrik,” ujar Thalita dingin. Adam sangat membenci saat-saat Thalita memperlakukannya seperti saat ini. Wanita itu bisa meledak kapan saja dan rasanya akan amat salah jika dia harus mendapatkan beberapa memar di tubuhnya tanpa memberikan penjelasan apapun. 
 
“Pesawatku akan berangkat kak, dan—“
 
“Aku tahu kalau kamu nggak naik pesawat itu kamu akan kehilangan tiket seharga kira-kira seribu lima ratus dolar dan kalau aku nggak naik pesawatku, itu artinya aku kehilangan tiket pulang pergi ke bali, dan uang pendaftaran seminar yang seharusnya aku hadiri tiga jam lagi. Jika menghitung kemungkinannya, selisih kerugian kita hanya beberapa juta, dan mengingat bahwa kamu lebih kaya dari aku, kita anggap saja semua ini impas, masuk kembali ke cafe dan membicarakan permasalahan yang sepertinya kau alami. Penawaran yang sempurna kan?” tawar Thalita sambil meraih salah satu lengan Adam dan meremasnya dengan kuat membuat Adam tahu dia tidak akan bisa melarikan diri dengan mudah dan memutuskan untuk menuruti kemauan Thalita.
 
Pria itu kini menatap wanita di depannya dengan harap-harap cemas. Dia mengenal Thalita, dan biasanya kalau bukan bentakan, yang dia dapat dari wanita itu adalah tendangan keras di perut, atau hantaman menyakitkan di wajah, tapi kali ini berbeda. Thalita hanya duduk di depannya sambil menyendokan bersendok-sendok gula ke kopi hangat yang dipesannya tanpa mengucapkan satu katapun.
 
“Errr ... kau tahu kalau gula sebanyak itu tidak bagus untuk kesehatan kan?” tanya Adam hanya sekedar untuk memecah suasana. Thalita mengangkat matanya sekilas dari kopinya sebelum kemudian menyendokkan satu sendok gula lagi ke dalam cairan hitam di gelasnya.
 
“Rokok dan alkohol juga tidak baik untuk kesehatan,” ujar wanita itu dingin membuat Adam kembali menutup mulutnya. Bagaimanpun juga, hidung orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan jelas sangat mengenal bau alkohol dan rokok, tapi jika orang itu Thalita, itu artinya kau baru saja menawarkan dirimu untuk dijadikan karung samsak. Tidak ada yang lebih dibenci Thalita selain rokok dan alkohol, dua benda yang menyebabkan kangker di dua organ vital, jantung dan hati.
 
“Minum!” perintah wanita itu dingin membuat Adam kembali menatap cangkir kopi yang kini disodorkan ke hadapannya. Entah mengapa dia tahu kalau kopi yang sedari tadi diracik Thalita memang dibuat untuknya.
 
Dengan ogah-ogahan pria itu meraih cangkir yang disodorkan padanya dan menyesap sedikit isinya. Rasa kopi yang keras ditambah dengan rasa manis bersendok-sendok gula langsung menyengat otaknya. Rasanya seolah membuat otakmu dipacu untuk bekerja berkali-kali lebih berat, tapi tidak mengizinkannya beristirahat. Obat penetral sakit kepala yang cukup bagus untuk beberapa saat, trik yang selalu digunakan Thalita untuk membuatnya tahu hukuman bagi seorang calon dokter yang berani datang ke kampus dengan sakit kepala akibat terlalu banyak minum di malam sebelumnya.
 
“Habiskan seluruhnya, Adam!” perintah wanita itu lagi kali ini sambil menatap lurus mata Adam dengan tatapan mengancam.
 
Adam menatap cangkir di tangannya dengan tatapan jijik. Bagaimanapun juga dia tidak akan sanggup menghabiskan kopi itu. Dia baru menghabiskan secangkir kopi beberapa jam yang lalu, lambungnya yang belum diisi apa-apa selain minuman keras dan kopi tidak akan sanggup menampung kopi racikan Thalita. 
 
Wanita yang duduk di hadapannya menghela nafas panjang sebelum kemudian  menarik cangkir kopi itu dari tangan Adam. “Apa masalahmu kali ini Adam? Dari kondisimu aku hanya bisa menyimpulkan beberapa hal. Kamu mampir di salah satu bar Jakarta dan selagi di sana memutuskan untuk melarikan diri. Kamu mungkin sempat tidur beberapa saat di hotelmu, tapi saat kamu bangun kamu ingat dengan rencanamu, membeli tiket untuk hari ini dan membereskan semua barangmu. Itu yang membuat kamu ada di tempat ini dengan pakaian beraroma alkohol dan rokok—yang menurutku adalah pakaian yang kamu gunakan tadi malam, dan mencoba sebisa mungkin melarikan diri dariku kalau kita tiba-tiba bertemu. Jadi, ada apa?”
 
 
Adam menghela nafas panjang sebelum menjawab, “Anna. Aku harus kembali ke Amerika agar aku bisa berhenti menyakiti dirinya.”
 
Thalita langsung memutar bola matanya dengan gemas. “Kamu menyerah?! Kabur?!”
 
“Apa lagi yang bisa aku lakukan?! Anna tidak mau aku ada di sekitarnya, Nathan lebih menyukai Tristan dibanding diriku, dan Tristan?! Tristan jelas menyukai Anna! Aku bisa melihat dari matanya kalau dia menyukai Anna!” sembur Adam kesal.
 
“Jadi?” tanya Thalita dengan nada yang benar-benar menyebalkan.
 
“Jadi aku lebih baik pergi dari kota ini! Negara ini! Dan menghilang! Mereka tidak akan mencariku dan aku tidak akan menyakiti mereka lagi!” seru Adam geram sambil menggebrak meja. Beberapa orang di cafe itu langsung menoleh ke arahnya.
 
“Tapi kamu ayahnya Nathan, Tristan tahu itu kan?” tanya Thalita datar. Adam menutup mulutnya dan membuang muka. “Kau tidak memberitahunya?” kali ini Thalita benar-benar menatap pria di depannya dengan tidak percaya.
 
Adam menghela nafas panjang sebelum menjawab, “Aku baru akan memberitahunya tapi dia sudah terlebih dahulu mengetahui semuanya.”
 
Thalita mengerutkan dahinya sejenak,  “Berapa kali dia menghajarmu?” tanya wanita itu penasaran. Adam ikut mengerutkan dahinya tapi kemudian dia hanya menggelengkan kepalanya.
 
“Dia tidak menghajarku. Dia jelas sangat membenciku tapi dia tidak menghajarku sama sekali.”
 
Thalita hanya tersenyum. “Kalau begitu kau tak perlu menghawatirkan apapun, kan?” tanya wanita itu yang langsung membuat Adam memandanginya dengan heran.
 
“Saat aku mendengar kenyataan ini pertama kali, aku juga membencimu, bahkan aku sempat menghajarmu habis-habisan, tapi pada akhirnya aku tetap berpihak padamu. Kurasa Tristan juga tidak akan membencimu terlalu lama. Jika kau dapat menunjukkan seberapa penting peranan dirimu dalam hidup Nathan, maka aku yakin kalau Tristan juga akan mundur melihatnya, ” jelas Thalita sambil tetap tersenyum. Kali ini senyum yang jelas bertujuan untuk menenangkan.
 
“Tapi Nathan menyukai Tristan! Dia lebih menyukai Tristan ketimbang aku yang merupakan ayah kandungnya!” seru Adam frustasi. Thalita langsung memutar bola matanya.
 
 “Berikan aku handphonemu!”
 
Adam menatap wanita itu selama beberapa saat sebelum meraih ke dalam sakunya dan meletakkan handphonenya di tangan Thalita. Penasaran dengan apa yang ingin dilakukannya terhadap benda itu.
 
“Mentormu, masih si Vance?” tanyanya sambil kembali menatap layar handphone itu dengan bosan. Adam hanya mengangguk.
 
Thalita menekan tombol call di handphone Adam sebelum kemudian mendekatkan speaker handphone itu ke telinganya. Menunggu panggilannya diangkat.
 
Selama beberapa saat Adam menatap wanita itu dengan bingung, tapi saat sepertinya panggilan itu diangkat, Adam baru menyadari apa yang akan dilakukan oleh Thalita.
 
“Hei, Vance, this is Thalita. Yeah, the one who left hospital two years ago. Right, the one who’s taking care of Adam. Listen, Adam is currently in Indonesia. Yeah, I know that he tell you that he’ll be back this week, but something come up and he can’t come back for another two weeks. Yeah, he cought some bad fever here, and had to be taken care for. Can you arrange something? Great! Don’t worry, I’ll tell him that, Thanks a lot Vance. Bye!”
 
(Hei, Vance, ini Thalita. Ya, yang meninggalkan rumah sakit dua tahun lalu. Benar, yang mengurus Adam. Dengar, Adam ada di Indonesia sekarang. Ya, aku tahu dia bilang kalau dia akan kembali minggu ini, tapi sesuatu terjadi dan dia tidak bisa kembali sampai dua minggu lagi. Ya, dia kena demam berat disini dan harus dirawat. Apa kamu bisa mengurus surat izinnya? Bagus! Tenang aku akan memberi tahu dia hal itu. Terima kasih banyak Vance. Bye!)
 
Dengan percakapan singkat itu Thalita memutuskan panggilannya dan mengembalikan handphone itu ke tangan Adam yang kini menatapnya dengan tak percaya. Thalita jelas-jelas baru membohongi mentornya. 
 
“Vance bilang dia akan memperpanjang masa cutimu, tapi kau sebaiknya bekerja dengan baik saat kau kembali nanti!” ujar Thalita sambil menyunggingkan senyum puas ke arah Adam yang masih menatapnya dengan tak percaya.
 
“Dengarkan aku, Adam. Kau punya waktu dua minggu dan kau sebaiknya menggunakan waktu selama itu untuk mendekatkan dirimu sedekat mungkin dengan putramu. Jika dalam waktu sesingkat itu kau bisa meninggalkan sosok seorang ayah dalam ingatan Nathan, maka kurasa Tristan dan Anna tidak akan menjadi masalah bagimu!”
 
Adam masih menatap wanita di depannya itu dengan tidak percaya, tapi dia tahu Thalita benar. Dia masih punya sisa waktu dan dia harus menggunakan sisa waktunya ini semaksimal mungkin. Dia tidak boleh menyerah sebelum waktunya habis.

Read previous post:  
120
points
(1447 words) posted by dadun 9 years 33 weeks ago
92.3077
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | dadun | Di Ujung Pelangi | Romantis
Read next post:  
Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 17) (9 years 31 weeks ago)
80

poin aja ah..

90

^_^

90

poin :p

90

Adam masih bau rokok dan alkohol? kurasa, Adam nggak jorok2 amat dan punya waktu untuk bersih2. dan Adam juga nggak mabok2 amat kan. Waktu Adam minum2 itu kan malem2. lalu diriku kasih jeda dengan bagian Tristan-Cherry-Anna dengan seting siang atau sore. Atau, mungkin seorang dokter yg pintar dan perhatian seperti Talitha punya penciuman dan indera keenam yg tajam sampe tau adam minum2 :D
.
.
sebenarnya, aku berekspektasi, di part ini tidak hanya membahas talitha dan adam saja, melainkan muncul tristan atau anna atau siapa. untuk lebih mengembangkan plot. tapi mungkin dirimu merasa harus detail membuat narasinya dan kepentok batasan kata. nah, menurutku hal itu bisa diakali dg memadatkan bagian pembuka. kurasa nggak perlu sedetail itu soal harga tiket dsb. bisalah mereka langsung masuk kafe, lalu sebelum pada pembicaraan inti, ada sedikit narasi ttg pengantar mereka duduk di sana. ini sekedar saran aja sih.
.
.
hmmm... anyway, aku suka bagian pembicaraan mereka. terutama waktu talitha ngasih jalan ke adam buat berusaha memperjuangkan cintanya, dengan ngasih waktu dua minggu. kena sasaran! :D

Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 17) (9 years 32 weeks ago)
90

Suka dengan karakter Thalitanya di sini. :D

Writer bl09on
bl09on at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 17) (9 years 32 weeks ago)
90

di awal cerita agak risih dengan sikap adam yang kesannya kekanakan. tapi semakin ke bawah kesan itu mulai natural. keren.

100

saya mau tanya tentang karung sak-sak?? emang ada yah?? salah kali.. yang bener harusnya karung SAMSAK.. :) saya juga karate sabuk hitam dan ikut wushu, jadi tauuu kalo sak-sak itu gak ada.. xD

tapi terserah deng kalo emang ada kata-kata baru yang disebut sak-sak :D (keukeuh)

oo ... namanya samsak toh--habis nanya kemana kemari dijawabnya sak-sak mulu nih.. parah (saya gak pernah ikut beladiri--hanya tau teori)
.
Makasih yah penjelasannya!

sama-samaaa :)

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 17) (9 years 32 weeks ago)
70

Asyiiiik uda dilanjut.

#baru bangun tidur diriku lgsg disuguhi DUP
‎​(✽ˆ⌣ˆ✽) #

Lavendeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeer lanjutkan.

Aku ingin menerormu.

100

Thalita serem....
tapi saya selalu suka karakter kakak perempuan yang mengerikan XDDD

90

Thalita keren! figur yg sulit dibantah ^^ hehe
.
"Berapa kali dia menghajarmu?" tanya wanita penasaran. (kurang "itu")
langi --> lagi
jakarta --> Jakarta

*ngeliat dengan mata berkantong*
hehehe ... ternyata ada typo ... bntar saya benerin

“Mentormu, masi si Vance?" ==> ini juga kayaknya yah? meskipun ini dialog, tapi kan enakan kalo ditulis masih.. :D *guaprotes*

Udah dibenerin, makasih koreksinya!

100

Emm jd thalitanya jadi pergi ga? Ga jd yak?
Kurasa scene nya cukup pas menjabarkan pancingan dudunbelle..
Nice..
Duh my turn..

Gak jadi tuh ehehehe ... udah ketinggalan pesawat duluan