Culinary Challenge : Coklat Diet

“Baiklah, ini saat yang tepat untuk melihat berapa berat badanku sekarang,” gumam Beth pada dirinya sendiri. Sambil menutup mata, Beth mulai menaiki timbangan konvensional.

 
“APAAAAA!! MASIH DI ATAS SERATUS KILOGRAAAAAAAAM!! TIDAAAAAAAAAK!!!” Beth berteriak dan teriakannya itu membahana di seluruh rumah. Tanpa sadar dia pun telah membangunkan semua penghuni rumah.
 
Ibu dan Ayah Beth yang juga memiliki berat badan hampir seratus lima puluh kilo, menghampiri Beth dan berkata, “Beth, kamu kenapa? Kok teriak-teriak sih! Masih pagi juga.”
 
“Diet sialan! Berat badan Beth belum berkurang secara signifikan, Ma, Pa. Masih stuck di seratus lima kilogram!” kata Beth sambil terisak dan mulailah pagi itu Mama juga pembantu di keluarga Beth mau tidak mau menyiapkan makanan ekstra untuk meredakan kesedihan Beth.
 
Beth adalah anak satu-satunya dari Bapak Kristanto. Hal itu membuat Beth bisa mendapatkan apa saja yang dia mau. Terlebih lagi, ayah Beth yang merupakan pengusaha terkenal di kotanya, bisa membeli apa saja yang Beth minta. Gara-gara itulah, Beth jadi sangat manja dan badannya gemuk seperti sekarang ini.
 
Beth masih menangis sesenggukan di ruang makan karena mengetahui kalau berat badannya masih sama seperti biasa, belum juga turun. Padahal, semua kegiatan diet mahal dengan berbagai macam obat herbal, sayuran, permen diet, sampai obat kimiawi sudah dicoba. Satu hal yang Beth tidak ingin adalah sedot lemak. Itu bisa membuat kulitnya tidak kencang lagi dan dia tidak akan cantik lagi. Beth sebenarnya cantik, hanya saja, kurang bersyukur. Badannya yang gemuk sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya saja, Beth ingin terlihat sempurna sebagai orang yang terpandang. Ingin dipandang sempurna sebagai putri satu-satunya Bapak Kristanto.
 
“Non, makan dong Non. Nanti kurus deh,” kata salah satu pembantu Beth pada Beth yang sejak insiden berat-badan-belum-turun tadi mengurung diri di dalam kamar.
 
“Nggak mau ah! Beth pokoknya pengen kurus!! Peduli amat nggak makan seminggu juga!” teriak Beth dari dalam kamar dan membuat pembantunya itu menggelengkan kepalanya karena sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk memohon agar Beth mau makan.
 
Ya begitulah, keinginan Beth memang sangat kuat kalau sudah urusan fisik. Dia sudah tidak bisa diganggu gugat lagi kalau menginginkan sesuatu. Keinginannya harus tercapai, kalau kehidupan di rumah Beth ingin tetap damai dan tentram.
 
***
 
“Kamu lagi buat apa Bim? Kelihatannya enak ya?” tanya seorang Ibu yang belum begitu tua pada seorang lelaki seumuran Beth.
 
“Ini coklat Bu. Buat dijual ke orang-orang kaya di sekolah Bimbim,” kata lelaki itu.
 
“Oh begitu. Uang jualannya mau buat apa Bim?” tanya Ibu itu lagi.
 
Lelaki yang bernama Bimbim itu, menghentikan kegiatan menuangkan coklat cair ke cetakan kecil dan menatap dalam pada Ibunya dan berkata, “Buat bantu-bantu Ibu sama buat Lissa sekolah.”
 
“Mulia sekali kamu Nak. Ibu doakan supaya lancar ya jualannya, biar bisa bantu Ibu dan sekolah Lissa,” kata Ibunya sambil menitikkan air mata sejalan dengan tetesan keringat dari dahi Bimbim yang menetes karena terkena uap dari panci.
 
Sekitar setengah jam pengadukan dan penuangan ke dalam cetakan coklat, coklat buatan Bimbim siap untuk didinginkan. Coklat-coklat dengan berbagai bentuk dan rasa itu akhirnya siap untuk dijual di dalam boks-boks kreasi Bimbim sendiri. Keesokan harinya, Bimbim sudah siap untuk berjualan di sekolahnya. Meskipun dia belajar di sekolah internasional karena beasiswa, dia tidak malu untuk tetap belajar sambil berjualan di sana. Selain menjaga kantin sekolah dan menjadi petugas perpustakaan, Bimbim juga sering menitipkan barang dagangannya di kantin. Dan sekarang, dia akan mencoba berjualan coklat kreasinya.
 
***
 
Bel istirahat sudah berbunyi dan Beth tidak pergi ke kantin seperti biasanya. Kalau sudah masuk jam istirahat, dia pasti sudah membeli bakso, mie ayam dan es kelapa. Tapi, kali ini Beth diam di kelas. Kepalanya tertunduk di meja dan hanya ada satu botol air minum di mejanya, tanpa makan siang seperti biasanya.
 
Bimbim menghampiri Beth dan mulai membangunkannya, “Beth? Beth, tidur lu? Tumben nggak makan siang. Mending lu beli aja coklat gue nih!” Bimbim lalu menyodorkan satu kotak kecil coklat kreasinya itu. Di luar kotak itu tertulis, Hazelnut and Orange.
 
Beth bangun dengan malas dan matanya memicing sedikit pada kotak coklat itu.
 
“Choco Bimbim? Jelek amat namanya! Gue tebak yah, pasti rasanya juga nggak karuan!” pekik Beth pada Bimbim dan mengenyahkan coklat itu dari hadapannya. Beth sebenarnya tergoda, tapi dia harus menahan godaan itu karena teringat akan program dietnya.
 
“Lu nggak mau beli? Hmm. Padahal, ini kan coklat murah. Udah gue desain buat diet juga bahan-bahannya. Rendah gula kok, Beth!” kata Bimbim sambil terus mempromosikan coklat pada Beth.
 
Beth yang mendengar kata coklat, murah, diet, dan rendah gula, jadi tertarik untuk membeli coklat itu. Akhirnya, dia membeli satu kotak coklat untuk percobaan. Setelah memakan satu buah coklat, Beth merasakan sesuatu yang lain dari coklat itu. Sesuatu itu membuat perutnya mulas. Rasanya memang enak di lidah, tapi coklat itu sekaligus membuat dirinya ingin segera ke kamar mandi.
 
Beth pergi ke kamar mandi dengan terburu-buru. Sementara itu, Bimbim yang sudah mengantongi pendapatan dan mendapatkan sasaran penjualan utama, mulai menyusun rencana. Dia kumpulkan teman-teman yang senasib dengannya di sekolah itu dan mulai melancarkan rencananya saat Beth kembali dari kamar mandi.
 
“Bim! Coklat lu enak! Tapi, lu mau ngeracunin gue pake bahan coklat apaan sih? Ini broklat ya?” tanya Beth sambil marah-marah kepada Bimbim.
 
Sebelum Bimbim membalas perkataan Beth, teman Bimbim sudah lebih dulu berkata, “Beth, lu kurusan ya sekarang! Wah, nggak nyangka tuh coklat diet bikinan Bimbim bisa langsung bereaksi! Bimbim kan emang calon ilmuwan, jadi ngerti dia soal diet-dietan!”
 
Beth menatap teman Bimbim setengah tidak percaya lantas berkata, “Yang bener lu Gun? Gue kurusan emang? Wah iya juga. Badan gue jadi lebih enteng.”
 
Beth lalu melihat badannya dan masih terkesima dengan perkataan teman Bimbim. Sementara itu, Bimbim dan temannya hanya tertawa kecil saja. Beth mulai menemukan semangat baru. Dia jadi lebih rajin membeli coklat Bimbim setiap istirahat tanpa takut gemuk lagi.
 
***
 
Hari Minggu yang cerah membuat Beth semangat bangun pagi. Dirinya yang terikat janji diet untuk membiasakan diri lari pagi. Beth sebenarnya tidak suka lari pagi karena dirinya lebih senang menghabiskan waktu untuk tidur sampai siang kalau hari Minggu. Lagipula, berlari dengan jaket tebal dan celana tebal alih-alih membakar lemak, membuat dirinya terlihat seperti orang bodoh yang kedinginan di siang hari yang sangat terik. Ya begitulah kecantikan fisik membutakan Beth.
 
“Beth! Woi Beth! Beli dulu dong!” teriak Bimbim yang sedang duduk di pinggiran kolam air mancur dekat kompleks perumahan Beth. Bimbim saat itu sedang menghitung pemasukan sambil beristirahat dari kegiatan berjualan yang biasa dia lakukan di hari Minggu.
 
“Eh Bim. Lagi ngapain lu? Beli apaan?” tanya Beth sambil berlari kecil menghampiri Bimbim.
 
“Biasa Beth, gue kan jualan mulu buat bayar buku di sekolahan. Eh, ini coklat diet lagi. Rasa yoghurt buat nyuci perut lu,” kata Bimbim sambil terkekeh dan melempar satu kotak coklat pada Beth.
 
Beth dengan senang menangkap coklat itu dan melemparkan sejumlah uang pada Bimbim. Dengan senang pula Bimbim menerimanya.
 
“Ternyata, orang kaya itu gampang banget dicuci otaknya,” gumam Bimbim dalam hati.
 
Beth yang mulai memakan coklat itu satu per satu, mulai tidak enak perut. Dengan cepat, Beth berlari ke rumahnya. Sudah tidak dia hiraukan lagi rasa lelahnya. Yang ditujunya kini hanya rumah dan toilet. Setelah Beth sampai di toilet, perut Beth sudah terkuras. Dia mulai merasakan lapar. Dia baru ingat bahwa sejak dia mulai demonstrasi dan mogok makan dua hari yang lalu, dia benar-benar belum makan nasi sekalipun. Akhirnya, sekitar pukul tiga sore, Beth mulai makan nasi lagi. Orang tua dan pembantu-pembantu Beth merasa senang karena Beth sudah mau makan lagi.
 
***
 
Begitulah Bimbim mengubah pola piker para orang kaya. Tidak pernah ada yang namanya coklat diet. Semua itu hanya akal-akalan Bimbim dan semua perkataan tentang ‘Beth kurusan ya sekarang!’ hanyalah basa-basi Bimbim dan teman-temannya dalam rencananya sendiri. Bimbim meraup untung yang tidak sedikit dan Beth telah berubah pola pikirnya. Dirinya tidak lagi mengikuti kegiatan diet yang terlampau berat dan menguras biaya. 
 
Beth sekarang sudah lebih rajin olahraga dan makan makanan berserat. Coklat baginya hanya sekedar pelengkap saja sekarang. Beth masih rajin membeli coklat Bimbim untuk sekedar membantunya ingat akan makan sehat. Bimbim malah melihat perubahan Beth yang sangat drastis. Setiap Minggu pagi, Bimbim masih bisa melihat Beth yang lari pagi sudah tidak dengan celana training dan jaket tebal. Beth kadang mulai menggunakan legging dan kaos oblong yang tidak begitu besar. 
 
Sudah dua bulan sejak Beth berlangganan coklat Bimbim dan dirinya bahkan tidak tahu kalau sudah ditipu dengan alih-alih ‘coklat diet’ itu. Tapi, itu semua sudah bukan masalah lagi. Toh sekarang dirinya sudah bisa menikmati coklat tanpa takut gemuk. Sudah tidak ada lagi program diet ketat karena berat badan Beth sekarang sudah tidak sampai enam puluh kilo.
 
“Beth sekarang cantikan ya!” teriak Bimbim ketika melihat Beth berlari mengitari taman.
 
Beth menghentikan larinya dan menghampiri Bimbim lalu berkata, “Jagoan ngerayu ya lu! Mau jualan apa lagi sekarang? Hehe.”
 
Bimbim hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. Dia pun mengeluarkan sesuatu dari ranselnya dan berkata, “Mau jual bedak, Beth! Biar lu lebih cantik lagi.”
 
Beth tersenyum dan melenggang pergi. Dirinya berlari dengan percaya diri. Sudah tidak perlu diet ketat atau hal lainnya. Beth hanya perlu jadi dirinya sendiri.
 
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nia agustin
nia agustin at Culinary Challenge : Coklat Diet (5 years 15 weeks ago)

aku penasaran sama wajah nya .. kalo langsing katanya cantik

Layanan hipnoterapi sebagai salah satu cara meningkatkan rasa percaya diri yang sudah terbukti

Writer Rendi
Rendi at Culinary Challenge : Coklat Diet (9 years 41 weeks ago)
80

ihiw~ cerita soal diet~
.
gile, ini cerita diet parah nih. baru denger namanya diet broklat. diet kures perut. ga lemes tuh tiap hari begitu?
.
BTW, konklusinya... itu kok bisa ada kesimpulan "Beth tersenyum dan melenggang pergi. Dirinya berlari dengan percaya diri. Sudah tidak perlu diet ketat atau hal lainnya. Beth hanya perlu jadi dirinya sendiri." << ini? agak aneh aja sih setelah dibohongi dan akhirnya dengan lugunya jadi ngerasa bahwa "udahlah lebih baik jadi diri sendiri" < penasaran gimana bisa dapet pemahamannya ^^;
.
note: kalo dibikin jadian~ woh ditipu kuadrat tuh! asem banget ceritanya *langsung ngerage* XD
.
thanks for the story ya XD

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Culinary Challenge : Coklat Diet (9 years 41 weeks ago)

iyeeee.. abis kilat bikinnya.. tau2 udah tanggal 11 desember.. -__-

Writer Rendi
Rendi at Culinary Challenge : Coklat Diet (9 years 40 weeks ago)

hum hum no wonder~

60

Hahahah Bimbim bikin aku pengen ngasih dia suntikan olygomicin biar alergi. Hahhaha

Writer erlangga
erlangga at Culinary Challenge : Coklat Diet (9 years 41 weeks ago)
100

si Bimbim sebenarnya anak baik, tapi ya gitu deh.. kok jadi licik buat jualan, kayak orang ehm, orang mana ya. Wkwkwkwk. Konfliknya kecepetan.. T_T kenapa gak dibikin jadian aja? Idem sama kak Sam n Dansou.

Writer dansou
dansou at Culinary Challenge : Coklat Diet (9 years 41 weeks ago)
90

Saya enggak suka sifatnya Bimbim dan menentang acara jadian mereka berdua XD. Alurnya sedikit kecepetan dan ada beberapa bagian yang terkesan dipaksa. Tapi ini udah bagus kok.
.
Setuju ama Sam, terkadang kekuatan sugesti jauh lebih hebat daripada yang sebenarnya. Kalau di obat-obatan ada efek placebo

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Culinary Challenge : Coklat Diet (9 years 41 weeks ago)

aduuuuuuuuuh saya ga bisa bikin cerita roman.. xD

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Culinary Challenge : Coklat Diet (9 years 41 weeks ago)
100

Seandainya karakter Bimbim ga kaya gitu, saya setuju deh mereka berdua akhirnya jadian atau apalah di ending (ups, ga ada tag romance)
.
Tapi iya ya, kadang sugesti punya kekuatan yang lebih hebat daripada apa yang sebenarnya ada di realita
.
Thanks for the story~!

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Culinary Challenge : Coklat Diet (9 years 41 weeks ago)

abisnya saya mentok-tok-tok-tok buat cerita cinta-cintaan.. xD jadinya ginian doang - -"

80

' 'd jadi penasaran akhirnya bobotnya tinggal berapa =]]

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Culinary Challenge : Coklat Diet (9 years 41 weeks ago)

sebenarnya gak mungkin banget sih dalam dua bulan bisa turun banyak.. tapi ya kalo kata saya sih bisa karena saya juga gitu.. xD