Culinary Challenge : Pemburu Coklat

 

Aqra bergegas membuka sekat transparan ruang pemeriksaan dengan menempelkan sidik jari di tengah telapak tangannya. Peneliti muda itu baru saja mendapat laporan dari anak buahnya bahwa mereka menangkap spesies yang dipercaya sebagai nenek moyang mereka: manusia. Ratusan tahun berlalu, Aqra dan para peneliti mengira makhluk itu telah punah sejak ledakan atmosfir Eruthia. Sekarang dia bisa melihat makhluk purba itu secara langsung.

 

Itu dia, melayang di tengah tabung kaca berisi cairan penidur dosis tinggi. Hewan dengan ukuran tubuh dua kali lebih tinggi dari kaum indigo. Dia masih punya rambut. Warna kulitnya gelap, Aqra jadi penasaran apakah ada tinta dalam tubuhnya. Jari tangannya cuma lima, kakinya juga punya jari. Mulutnya terlalu lebar, hidungnya menonjol, tapi matanya terlalu kecil dan punya lapisan kulit penutup. Dahinya rata, mungkin otaknya juga kecil. Aqra menyimpan semua informasi itu dalam kotak putih di tengah dadanya. Dia tak sabar untuk segera memeriksa isi tubuh makhluk itu.

 

Tiba-tiba manusia itu terbangun. Dia meronta dan berusaha memecahkan tabung kaca kurungannya. Aqra malah takjub melihatnya, berusaha mengerti apa yang dilakukan makhluk itu.

 

"Aqra!! Di mana manusia itu? Jangan bilang kau menyimpannya dalam tabung lyllaby cair!" Sebuah gelombang pendek menggelitik kotak putih Aqra.

 

"Oh, Kelma. Dia sudah sadar. Cepat ke sini, sepertinya makhluk ini tak bisa berenang," balas Aqra sambil tertawa melalui gelombang pikiran yang sama.

 

"Bodoh! Manusia tak bisa bernapas dalam air! Cepat keringkan tabungnya! Kau mau dia mati!?"

 

Dengan panik Aqra segera menuruti perintah Kelma. Untung saja makhluk itu belum mati. Dia tampak terengah lalu kembali bangkit memukul tabung kaca tanpa tenaga. Manusia itu membuka mulut besarnya, mengucapkan seuntai gelombang suara yang tak bisa menembus ketebalan tabung kaca.

 

"Apa? Apa yang ingin kau katakan?" tanya Aqra memakai gelombang yang langsung sampai ke otak makhluk itu. Manusia itu terkejut sambil memegang kepalanya dengan bingung, Aqra juga jadi bingung.

 

"Manusia berkomunikasi dengan gelombang suara yang lebih pendek dari kita. Kau harus membuka tabung kaca kalau ingin mengerti apa yang dia katakan. Aku sudah memakai program penerjemah bahasa purba," sahut seorang gadis indigo mungil sambil mengutak-atik layar di sisi ruang pemeriksaan. Hasilnya tabung kaca pengurung makhluk tinggi itupun terbuka.

 

"Hey! Bagaimana kalau dia menyerang kita?" protes Aqra.

 

"Tenang saja, dia sedang lemah karena tadi kau hampir saja membunuhnya," jawab Kelma memutar bola mata besarnya. "Hai, selamat datang di Xybe. Aku Kelma, dia temanku Aqra." Gadis botak itu berusaha memperkenalkan dirinya dengan menyamakan gelombang suara pendek dari celah bibir segitiganya. Dia memakai Bahasa Inggris yang umum bagi manusia purba.

 

"Aku... Markus. Tolong... Makan... Aku butuh makanan..." rintih manusia itu dalam Bahasa Indonesia. Kelma segera mengganti program penerjemah bahasanya.

 

"Baiklah, kami akan memberimu makanan asalkan kau berjanji akan mengikuti semua proses pemeriksaan dan menjawab semua pertanyaan kami." Suara Kelma terdengar aneh, seperti kicauan burung.

 

"Aku berjanji..."

 

---

 

"Ini yang kalian sebut makanan!? Pil dan busa sabun ini!?" Markus sangat terkejut melihat isi mangkuknya.

 

"Hey, ini makanan kami yang paling bergizi!" Aqra menelan makanannya dalam sekali sedot.

 

Markus sedikit ragu, dia menggigit pil kecil itu untuk mencoba rasanya. "Puhh! Ini sampah! Rasanya tak enak!"

 

"Apa itu enak? Makanan seperti apa yang kalian makan di luar sana?" Kelma menekan tombol hijau di kotak dadanya untuk merekam informasi yang akan diterimanya.

 

"Coklat. Kaum kami makan coklat. Itu adalah makanan paling enak di jagat raya ini. Bentuknya kotak, warnanya coklat, aromanya harum, dan rasanya sangat manis. Masih bisa kubayangkan makanan itu mencair dalam mulutku. Sekali gigit saja kau akan merasa bahagia!"

 

"Tapi kami tak punya taring." Aqra menunjuk isi mulut segitiganya yang sangat kecil.

 

"Kalian juga tak punya lidah?" tanya Markus heran.

 

"Masih ada, dulu kami memakainya untuk menangkap serangga laut." Si gadis indigo menjulurkan pita tipis panjang bergulung berwarna biru cerah dari mulutnya.

 

"Baguslah, coklat gampang mencair meskipun tak digigit, tenang saja. Mungkin dengan makan coklat indra perasa kalian akan kembali. Pokoknya coklat itu sangaaaat enak!" ulang Markus.

 

Aqra menggoyangkan kepala besarnya ke kiri dan ke kanan. "Aku jadi penasaran. Kelma, ayo kita pergi ke luar mencari coklat!"

 

"Jangan! Terlalu berbahaya. Kita hanya akan keluar kalau benar-benar terdesak."

 

---

 

Saat ini Aqra dan Kelma sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan mencari coklat. Keadaan mereka cukup terdesak karena ternyata sistem pencernaan Markus tak bisa menerima makanan yang mereka berikan. Kesehatannya terus menurun, dia harus makan coklat.

 

"Kurasa kalian butuh kacamata, yang besar, udara di daratan sangat kering," saran Markus dari balik sekat transparan yang mengurungnya.

 

"Tak perlu khawatir. Bagaimana denganmu? Sudah merasa baikan?" tanya Kelma cemas.

 

"Begitulah..." Markus memaksakan senyumnya. "Hanya sedikit pusing..."

 

"Kau yakin kota bernama Herozone itu punya pabrik coklat?" Aqra sedang memeriksa sepatu anti gravitasi dan alat penerbangnya sekali lagi.

 

"Kudengar itu kota besar. Pasti ada banyak coklat di sana. Kalau saja aku tak tersesat dan ditangkap oleh kalian, mungkin aku sudah sampai ke sana," keluh Markus.

 

"Kalau begitu kami takkan pernah tahu bahwa nenek moyang kami belum punah. Kami juga takkan pernah tahu tentang dunia di luar Xybe. Dan kami takkan pernah mengenalmu, Markus." Dengan lembut Kelma mengusap sekat yang membatasinya dari Markus.

 

"Sudah saatnya. Ayo kita pergi, Kelma." Aqra menggoyangkan kepalanya dengan gembira. "Tunggu saja, Kawan. Kami akan segera kembali membawa coklat yang enak itu."

 

"Kalau lambungmu sakit lagi cepat tekan tombol darurat. Sampai jumpa." Kelma mengikuti temannya menghilang dalam tabung flip.

 

"Selamat jalan. Semoga kalian beruntung."

 

---

 

Ternyata perjalanan di daratan tak sesulit yang mereka bayangkan. Sejak kecil Aqra dan Kelma terbiasa ikut orangtua mereka menjelajahi lautan di sekitar Xybe untuk meneliti tumbuhan dan hewan liar yang berbahaya. Dibandingkan pengalaman masa kecil mereka, perjalanan ini tak ada apa-apanya. Secara harafiah, memang tak ada apa-apa selain bebatuan dan tanah gersang. Tidak ada hewan purba, tidak ada tanaman purba, manusia purba juga belum mereka temukan. Mereka sedikit terhalang oleh angin badai beracun, namun itupun bukan masalah karena kedua makhluk indigo itu terlindung dalam pesawat berbentuk gelembung raksasa.

 

"Aqra, lihat! Sepertinya ada sesuatu di sana," seru Kelma setelah mereka menempuh perjalanan selama dua putaran vertikal Eruthia.

 

Aqra mengaktifkan sinyal gelombang panjang dari fylandeiv-nya untuk mendeteksi benda padat selain pasir. Sepertinya memang ada substansi kumpulan batu raksasa dalam radius 1~789!Htz ke arah downth. "Kau benar. Mungkin itu kota Herozone yang kita cari. Ayo kita periksa."

 

Mereka berpencar mengelilingi kota tandus itu. Tetap tak ada apa-apa selain reruntuhan bangunan tua. Tiba-tiba Kelma merasa melihat hewan berambut melesat masuk dalam salah satu gedung, mungkin saja itu manusia! Maka mereka memutuskan turun dari fylandeiv untuk mencari makhluk itu karena pesawat mereka tak bisa melewati pintunya.

 

"Aku yakin tadi manusia itu masuk ke sini," kata Kelma ketika mereka sampai di ujung lorong yang buntu.

 

"Mungkin itu bukan manusia." Aqra membuka sarung tangannya dan meraba tiap senti dinding dengan keenambelas jari tangannya untuk mencari jalan atau tombol atau pintu rahasia. "Ada yang aneh dengan tembok bagian sini," komentarnya lalu memancarkan getaran pemeriksa dari kotak putihnya. Dia menambahkan beberapa kode frekuensi seperti menyusun passel sampai dinding tersebut menghilang menampakkan lorong lainnya!

 

Aqra dan Kelma bergegas menyusuri lorong panjang itu sampai ke ruangan luas serba putih yang mirip dengan ruang pemeriksaan di Xybe! Bunyi gemuruh mengerikan mengganggu indra penerima getaran kedua indigo yang sangat sensitif. Sumbernya berasal dari mesin tua raksasa yang bekerja tersendat di tengah ruangan.

 

"Aqra, cepat putuskan sumber tenaganya! Kalau begini terus wavecipper kita bisa rusak!"

 

Aqra menembak kotak berkelip yang paling berisik sampai mesin tua dan gemuruh itu berhenti. Mereka berdua menghela napas lega.

 

"Hey, Kelma. Mungkinkah benda ini yang namanya coklat?" Mata besar Aqra tertuju pada adonan lunak dalam dua cetakan berbentuk persegi panjang.

 

Kelma mendekat, dia mencubit sekeping kecil adonan itu dan memakannya. Saat itulah dia mendapat sensasi luar biasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Makanan itu mencairkan rasa manis lembut di lidah bergulungnya. Mulutnya terasa segar, perasaannya ringan, seolah tubuhnya mendapat kekuatan baru dan otaknya menari riang. Lalu perlahan tubuh Kelma berpendar memancarkan sinar pelangi, terutama kepalanya bercahaya keemasan.

 

Si pemuda indigo tertarik oleh reaksi sahabatnya dan segera ikut mencoba makanan kesukaan manusia itu. Reaksi yang sama terjadi pada tubuh Aqra. Mereka memasukan lebih banyak potongan coklat dalam mulut segitiga mereka. Mereka sangat senang karena telah menemukan makanan terenak sejagat raya!

 

Tiba-tiba seekor makhluk berambut menerjang Aqra dari belakang! Hewan berdahi rata itu memukul dan berusaha mencekik si pemuda indigo. Aqra bisa saja mati kalau Kelma tak segera menembak makhluk itu dengan jarum kristal lyllaby, dia pun jadi tenang lalu tak sadarkan diri.

 

"Apa itu? Manusia?" Aqra bangkit sambil menggosok kulit lehernya yang tergores cakar makhluk berambut.

 

"Ya. Penampilan fisiknya mirip Markus, tapi tubuhnya lebih kecil." Kelma memeriksa keadaan hewan yang memiliki ukuran tubuh sama dengan dirinya. "Aqra, cepat buatkan sekat es sebelum dia sadar!"

 

---

 

Pasangan indigo menunggu manusia kecil itu sadar. Mereka ingin bertanya banyak hal padanya termasuk cara membuat coklat yang enak itu. Setelah beberapa saat akhirnya dia membuka selaput kulit matanya.

 

"Hai. Maaf kami harus mengurungmu. Aku Kelma, dia temanku Aqra. Kami dari Xybe, kota di dasar laut poleupth. Siapa namamu?" tanya Kelma dalam program Bahasa Inggris.

 

"Aku Markus. Ada urusan apa kaum indigo datang ke sini? Tunggu, apakah kalian hasil kloning Arqa dan Kemla!?" seru manusia kecil mengejutkan kedua remaja indigo.

 

"Apa maksudmu!? Kau kenal orangtua kami? Di mana mereka sekarang!?" teriak Aqra.

 

Markus Kecil tak menjawab. Dia malah tertawa terbahak-bahak dengan mulut lebarnya.

 

"Cepat katakan, di mana orangtua kami? Apa mereka ada di kota ini!?" raung pemuda indigo marah.

 

"Mereka sudah lama mati!" tawa Markus Kecil tak berhenti.

 

"Tidaaak! Mengapa...?" Gelembung-gelembung kecil keluar dari mata Kelma.

 

"Aku mau tanya, apakah sekarang di Xybe ada manusia lain sepertiku yang bernama Markus?" Manusia kecil mengangkat satu sudut bibirnya.

 

"Memangnya kenapa? Mengapa namamu juga Markus?" Aqra juga tampak terguncang tapi masih bisa menguasai emosinya.

 

"Haha, kupikir kaum indigo lebih pintar dari kami." Markus Kecil terbahak lagi. "Baiklah, akan kujelaskan semuanya," lanjutnya masih terkikik geli.

 

"Semuanya bermula dari sepuluh putaran Starn yang lalu. Arqa dan Kemla datang ke Herozone ini untuk meneliti sisa peradaban manusia, nenek moyang mereka. Akhirnya mereka berhasil menemukan kerangka utuh seorang manusia. Begitu besarnya keinginan mereka meneliti manusia, mereka melakukan perbuatan terlarang itu. Mereka menghidupkan kembali kerangka itu menggunakan darah dan cairan otak mereka sendiri, lalu lahirlah manusia bernama Markus."

 

Aqra dan Kelma hampir tak percaya dengan informasi yang diucapkan Markus Kecil. Namun mereka tetap diam menunggu kelanjutan penjelasan manusia kecil itu.

 

"Dengan cepat pasangan indigo menyalurkan gelombang pengetahuan yang mereka miliki pada manusia baru itu. Mereka lupa dua hal, manusia memiliki mulut dan sistem pencernaan yang besar. Seperti yang kalian lihat, tak ada benda apapun di sini yang bisa kami makan. Lambung kami tak mungkin puas dengan porsi makanan bergizi kalian. Saat itulah Markus Pertama tak bisa menahan dirinya lagi, dia pun memakan orangtua kalian!" tawa Markus Kecil meledak.

 

"Bohong! Kau manusia pembohong! Manusia purba memang suka berbohong. Tidak mungkin orangtua kami mati..." Gelombang pikiran Aqra bergetar hebat.

 

"Aku belum selesai. Markus Pertama sadar bahwa dia bisa mati kelaparan kalau menghabiskan mereka berdua sekaligus, jadi dia mengolah darah mereka agar lebih tahan lama dan mudah disimpan. Dia juga mengkloning dirinya dan menggunakan darah indigo dalam tubuh kami sebagai persediaan bahan makanan. Tapi semakin banyak kloning yang dibuat, kelezatan darah itu makin hilang. Akhirnya kami berhenti membuat kloning dan saling membunuh memperebutkan darah. Hingga tersisa aku dan Markus di kota kalian. Kalau kalian masih belum mengerti juga, coklat yang kalian makan tadi terbuat dari darah!"

 

Aqra menerjang menghancurkan sekat es pengurung Markus Kecil dan memukul manusia itu berkali-kali. Tapi makhluk kloningan itu terus tertawa meskipun tubuhnya terluka dan mengeluarkan darah coklat. Sementara Kelma tak berhenti mengeluarkan gelembung dari matanya.

 

"Bajingan! Kubunuh kau! Kalian harus membayar perbuatan kalian pada orangtua kami!!" Aqra membenturkan kepala kecil manusia itu ke lantai.

 

"Kau salah, Indigo bodoh! Semua ini akibat perbuatan orangtua kalian! Dan ini bukan saatnya memikirkan orang mati. Kalian pasti tahu apa yang Markus lakukan di Xybe saat ini. Ada banyak makanan lezat di sana! Hwahahahaha!"

 

Tawa Markus Kecil bergaung bersama raungan gelombang keputusasaan Aqra. Mereka, dua ras terakhir di Eruthia.

 


 

Read previous post:  
36
points
(3219 words) posted by yellowmoon 9 years 41 weeks ago
72
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | bulan | bumi | fantasi | sihir
Read next post:  
Writer Rendi
Rendi at Culinary Challenge : Pemburu Coklat (9 years 12 weeks ago)
80

komen pertama: Unik.
komen kedua: cara penceritaan ini benar-benar fantasiah sekali. sudut pandang penjelasannya menarik dan mudah diikuti.
.
culture shocknya keren~ ini jelas2 emang perkenalan dua ras baru yang saling bertukar info.
.
konfliknya menarik, sebuah petualangan di tempat yang eksotis menurut gw~

.
twistnya... wkkwkwk gw dah ngeduga sih pas Markus Kecil bisa diajak ngomong. tapi, asumsi bahwa ras Xybe habis gw rasa kesimpulan yang terlalu buru-buru sih. masih ada senjata kaum Xybe kan (jarum kristal Lyllaby)? dan belum lagi, kondisi Markus bener2 parah dan masih dikurung dalam sekat.

. lalu ini...
Itu dia, melayang di tengah tabung kaca berisi cairan penidur dosis tinggi. Hewan dengan ukuran tubuh dua kali lebih tinggi dari kaum indigo. Dia masih punya rambut. Warna kulitnya gelap, Aqra jadi penasaran apakah ada tinta dalam tubuhnya. Jari tangannya cuma lima, kakinya juga punya jari. Mulutnya terlalu lebar, hidungnya menonjol, tapi matanya terlalu kecil dan punya lapisan kulit penutup. Dahinya rata, mungkin otaknya juga kecil. Aqra menyimpan semua informasi itu dalam kotak putih di tengah dadanya. Dia tak sabar untuk segera memeriksa isi tubuh makhluk itu.

Tiba-tiba manusia itu terbangun. Dia meronta dan berusaha memecahkan tabung kaca kurungannya. Aqra malah takjub melihatnya, berusaha mengerti apa yang dilakukan makhluk itu.

^^ mmm... cairan penidur dosis tinggi, berupa larutan, dan si manusia ga bisa berenang... bukannya meletakkannya di tabung itu sedari awal adalah sebuah kesalahan? dan kok bisa tiba2 bangun? apa jangan2 ada perbedaan penakaran dosis tinggi bagi kaum Indigo dengan Manusia?
.
itu aja sih komen gw~
thanks for the story ya~

mungkin memang kesimpulan yang terburu-buru, tapi bila anda perhatikan status markus di xybe bukan lagi tahanan tapi pasien, dia bisa bebas keluar dengan cara pura-pura sakit
dan saya mempertimbangkan dia bisa jadi sangat kuat melawan semua senjata indigo karena kelaparan
.
ah ya, saya memang tidak menjelaskan secara detil bahwa kaum indigo adalah makhluk air jadi wajar bagi aqra untuk melakukan kesalahan menaruh manusia dalam tabung berisi air
lalu alasan dia bisa terbangun meskipun dalam cairan bius bukan karena dosisnya atau karena dia tak bisa berenang, tapi hanya karena dia tak bisa bernapas dalam air, begitulah ^__^a
terima kasih atas komentarnya ^__^

90

walah... twist-nya
hm.... dengan menggunakan perbandingan dengan wujud manusia, saya jadi bayangin makhluk Indigo ini kayak gambaran alien2 di film sci-fi yang pala besar, badan pucat, mata melotot gede, dsb ya ^^

haha, benar
seperti itulah bentuknya ^__^

90

Sesungguhna, saya enggak gitu ngerti ceritana sih. Saya ga sanggup ngebayangin makhluk seperti apa si Kelma dan Aqra itu. Dan saya juga ga paham twistna. Mungkin cerita ini terlalu tinggi levelna untuk otak sempit saya hehe xp
.
Yang bikin saya ngasih nilai tinggi adalah kau stabil dalam hal menarasikan. Hm... sulit dijelaskan, tapi pokona saya ga nemuin kau goyah dalam nulis ini. Gitu deh.
Dan tampakna kau cukup menikmati menulis ini yah, yellowmoon? :3

begitulah, mungkin sulit dibayangkan karena saya memakai deskripsi perbandingan ^__^a
terima kasih sudah membaca

80

(O___O)
.
.
.
(o___<)b
Ini....unik!

terima kasih ^__^a

Writer Riesling
Riesling at Culinary Challenge : Pemburu Coklat (9 years 12 weeks ago)
90

Ini. Keren.

terima kasih ^__^

100

.....*speechless*
.
Oke, pertama, saya speechless karena kamu membuat tokoh utamanya bukan manusia (heck, bahkan manusia itu nenek moyangnya!). Kedua, saya speechless dengan konfliknya. Ketiga, saya speechless dengan endingnya. Keempat...ah, udah deh.
.
Thumbs up. Tanpa makanan, manusia memang ga akan bisa hidup. Hidup = makan, dan esensi cerita ini dapet banget (lho?)
.
Anyway, thanks for the story~!

wew, saya hanya ingin menggambarkan keadaan saat manusia kehabisan makanan ^__^a
terima kasih