Matar

Aku sedang merayakan ulang tahunku yang ke-17 waktu pertama kali mengenalnya. Malam itu aku mengadakan pesta di halaman belakang rumahku. Jujur saja aku bahkan tak ingat mengundangnya datang ke pestaku. Dia bukan teman sekelasku dan hanya beberapa orang dari luar kelasku yang kuundang. Tapi aku tak ambil pusing waktu itu, tentu saja, aku terlalu overwhelmed dengan ucapan-ucapan selamat, acara menyanyi lagu ulang tahun, potong kue dan lainnya.

Aku hanya samar-samar mengingat saat kami berkenalan. Waktu itu teman sekelasku Erin yang mengenalkannya padaku. Yang aku ingat benar, sepasang mata di balik kacamatanya memandangku tepat di mataku, membuatku sedikit jengah.

Dia mengulurkan tangan dan menyebutkan sebuah nama yang langsung kulupakan. Lalu dia menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus kertas putih berbalut pita biru muda. “Hadiah ulang tahun,” katanya. Kotak itu membuatku sedikit terkesan karena, entah dia mengetahuinya atau tidak, putih dan biru muda adalah kombinasi warna favoritku.

Saat itulah aku merasakan ujung hidungku basah. Aku menengadah, dan hujan turun merintik dari langit, membasahi pipi dan keningku.

Tamu-tamuku mulai berlarian masuk ke dalam rumah, beberapa teman perempuanku berteriak. Aku tentu saja tak ingin rambut dan make-upku berantakan karena hujan dan mengikuti mereka, meninggalkan kue, makanan di meja buffet, dekorasi balon dan lilin-lilin di halaman belakang rumahku berbalut air hujan yang mulai turun dengan deras.

Satu persatu tamu-tamuku pamit pulang. Cara yang hebat untuk mengakhiri pesta sweet seventeen yang kubiayai sendiri dari tabunganku dan hasil mengirimkan foto-foto ke beberapa majalah.

Jadi begitulah. Pertemuan pertamaku dengan laki-laki itu tak mengesankan. Kalaupun ada kesan, itu adalah kesan yang buruk karena dia mengingatkanku pada pestaku yang berantakan. Tapi ketika tengah malam aku memutuskan untuk menghibur diriku dengan membuka kado-kado, sesuatu dalam kotak kecil berwarna putih dan berhias pita biru muda itu membuatku tak bisa melupakan sepasang mata yang menatapku tajam di malam ulang tahunku waktu itu, sesaat sebelum hujan turun.

+++

“Jadi darimana kamu kenal Matar?” Aku bertanya pada Erin keesokan paginya di kelas. Aku bisa melihat matanya berkilat nakal begitu mendengar pertanyaanku. Sejurus kemudian, senyumnya mengembang.

Sial, pikirku, padahal aku sudah menghabiskan hampir lima belas menit penuh membicarakan hal-hal lainnya sebelum mengungkit-ungkit nama laki-laki itu, tapi Erin sepertinya bisa merasakan bahwa bahkan aku sendiripun tak terlalu tertarik membicarakan hal lain apapun selain mengorek semua informasi yang dia punya tentang laki-laki bernama Matar itu.

“Tertarik nih Mei?” Erin balik bertanya, masih dengan kerlingan nakal itu di matanya.

Aku berkelit. “Aku cuma nggak ingat pernah mengundang dia ke pestaku,” kataku. Sedetik kemudian aku menyadari bahwa mungkin saja Matar datang sebagai kencannya Erin.

“Apa dia itu pacarmu?” tanyaku lagi, yang disambut dengan tawa keras dari Erin.

“Hahaha. Not in a million years,” katanya terbahak, “he’s not my type,” tambah Erin.

Aku bisa melihat dengan jelas kenapa Erin bilang begitu. Meskipun ingatanku samar tentang Matar, tapi aku cukup yakin dia tipe orang yang suka bersembunyi di balik buku-buku tebal yang tak seharusnya dibaca anak SMA. A nerd, you may say. Sedangkan Erin, pergelangan tangannya tak pernah sepi dari gelang-gelang kulit, tali-tali dan manik-manik. Cuping hidung kanannya bolong, yang dia tutup dengan anting-anting perak setiap pulang sekolah. Dan aku bisa bersumpah punggungnya ditato (sesuatu dalam bahasa arab, kalau aku tak salah lihat). Menurutku Erin tipe cewek seniman. Aku juga beberapa kali melihatnya dengan laki-laki berambut gimbal, atau yang membawa gitar kemana-mana, pernah juga dengan orang yang tangan dan lehernya penuh dengan tato (kalau yang ini aku benar-benar tak tahu apakah dia itu laki-laki atau perempuan).

And I’m not his type either,” kata Erin. Lalu dia menyodok pinggangku dan menambahkan, “tapi kalau kamu, Mei, lain lagi ceritanya.”

“Maksudmu?”

“Menurutku Matar suka sama kamu. Dia nggak pernah ngomong secara blak-blakan tapi aku bisa lihat tanda-tandanya. Dia itu pemalu banget. Aku mungkin satu-satunya cewek yang bisa ngobrol sama dia di seluruh sekolah ini, cuma karena kami bertetangga dekat,” kata Erin.

“Tunggu. Mungkin kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan, Rin. Memang apa tanda-tandanya dia suka sama aku?” Tanyaku. Mau tak mau aku teringat Rino, temanku di kelas 11. Dia pernah bilang suka sama aku lalu mengejar-ngejarku, berusaha untuk menjadikan aku pacarnya. Padahal aku sudah berkali-kali menolak, tapi dia tetap menelepon malam-malam, meng-sms, mencegatku di gerbang sekolah. Aku bergidik mengingatnya.

“Waktu aku bilang aku di kelas 12-C, dia terdiam, tapi lalu pertanyaan pertamanya adalah apakah aku kenal sama Mei. Aku bilang kenal, lalu aku balik tanya apa dia juga kenal, lalu dia menggeleng kuat-kuat dan mukanya memerah.

“Sejak itu dia beberapa kali membicarakan kamu, dan anehnya, sepertinya dia hapal sekali kebiasaan kamu, Mei. Dia tahu kamu hampir selalu keluar kelas lima menit setelah bel istirahat untuk makan di kantin bawah. Katanya kamu menunggu sampai tangga tidak terlalu penuh dengan orang-orang yang juga mau ke kantin. Lalu dia juga tahu kamu paling sering makan nasi pecel dengan telur dadar di warung bu Harmi di kantin, meskipun kadang-kadang kamu nggak bisa menahan untuk nggak memesan indomie telur di warungnya si Lay,” kata Erin.

Aku mulai merasa ngeri.

Lalu aku mendengar suaraku mendesis: “Sss... stalker.”

Erin terbelalak.

+++

Erin berkali-kali berusaha meyakinkan aku bahwa Matar bukan seorang penguntit seperti yang aku takutkan, dan bahwa dia hanya “innocently in love”. Tapi aku tak bisa sepenuhnya yakin.

“Orang yang jatuh cinta dan psikopat itu bedanya tipis, Rin,” kataku pada Erin.

Jam istirahat hari itu aku menunggu sepuluh menit sebelum akhirnya keluar kelas dan turun ke kantin. Sepanjang perjalanan aku mengawasi sekelilingku, kalau-kalau ada laki-laki itu menguntitku dari kejauhan, memperhatikanku dari balik kacamatanya.

Aku juga memutuskan untuk makan nasi goreng saja kali ini. Aku mungkin paranoid berlebihan, tapi membayangkan ada orang yang menghapalkan kebiasaan-kebiasaanku benar-benar membuatku ngeri.

Sambil makan aku masih beberapa kali menengok ke kanan dan kiri, sedikit berharap bisa menangkap basah Matar menguntitku, mungkin dari balik sebuah buku tebal.

Tapi seharian itu aku tak melihatnya. Bahkan sampai aku meninggalkan gerbang sekolah yang penuh dengan mobil dan para supir yang menjemput siswa-siswa, aku juga tetap tak melihat Matar di antara kerumunan. Mungkin dia, seperti aku, tak punya supir yang menjemputnya. Tapi di halte bus depan sekolah aku pun tak melihatnya.

Jam pulang sekolah memang selalu adalah sebuah siksaan. Atap halte bus tempatku berdiri sudah bolong di beberapa tempat, dan matahari selalu paling terik setiap kali aku menunggu angkot di sini. Dan yang lebih parah, angkot yang kunaiki pasti terkena macet di depan sekolahku karena begitu banyaknya mobil-mobil yang berhenti di sepanjang jalan menunggu orang-orang yang akan dijemput.

Saat begini aku selalu teringat kakek yang pernah beberapa kali membujukku agar memperbolehkan pak Saleh, supir keluarga kami, menjemputku seperti kebanyakan siswa di sekolah ini. Pasti rasanya menyenangkan ada di dalam mobil-mobil itu dengan AC yang dingin dan kursi yang empuk. Tapi aku tahu kakek sudah lama pensiun, dan siapa lagi yang membayar gaji pak Saleh kalau bukan ayah.

Sebisa mungkin aku tak akan makan uang ayah.

Aku memutuskan begitu beberapa tahun yang lalu. Tapi tentu saja sulit untuk seorang anak SMA sepertiku untuk tidak bergantung secara finansial pada orangtua. Apalagi sekolahku adalah sekolah swasta yang SPPnya cukup mahal. Aku juga tidak pernah diijinkan kakek untuk bekerja sambilan. Untungnya aku beberapa kali berhasil menjual foto-foto yang kuambil dengan kamera lama kakek ke beberapa majalah, dan aku sudah berhubungan cukup baik dengan beberapa editornya. Aku bahkan sudah mendapat tawaran untuk menulis tentang kehidupan anak SMA untuk mereka, jadi semoga dalam waktu dekat ini sumber penghasilanku akan bertambah.

Ini bisa jadi latihan mencari uang yang baik untukku sampai waktunya aku kuliah. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan benar-benar mandiri secara finansial saat aku kuliah nanti.

Saat berfikir begitu aku melihatnya: Matar berjalan ke arah halte bus tempatku berdiri! Dia sepertinya belum melihatku karena dia berjalan sambil agak menunduk. Instingku menyuruhku untuk menghindar; laki-laki yang hobi menguntit mungkin bisa berbahaya. Tapi sebelum aku bisa melakukan apapun, dia mengangkat kepalanya dan melihatku.

+++

Dia melihatku, aku yakin. Tapi lalu dia langsung membuang pandangannya. Sepertinya dia mau berpura-pura tak melihatku. Dia terus saja berjalan melewatiku. Dalam hati aku merasa sedikit lega, karena aku sudah teringat lagi pada hari-hari aku harus selalu menghindari Rino. Tapi melihat Matar membuatku teringat lagi pada kotak kecil putih dengan pita biru muda itu dan benda di dalamnya. Aku benar-benar ingin bertanya.

“Matar!” Panggilku.

Mungkin suaraku terlalu kecil karena Matar tak menghentikan langkahnya. Dia semakin jauh, dan aku tak bisa lagi menemukan keberanian untuk memanggilnya.

+++

Malamnya aku memutuskan bukan Matar saja yang bisa jadi penguntit. Aku pun bisa. Setidaknya aku akan menguntitnya di dunia maya. Aku ingin tahu siapa Matar itu.

Aku baru saja akan memulai pencarianku dengan membuka akun facebook-ku ketika sebuah email baru masuk. Dari ayah. Akhir-akhir ini dia makin sering mengirimiku email. Tapi aku malas membacanya. Toh aku sudah tahu apa isinya.

Pertama-tama dia akan menyombongkan tentang negara tempat dia tinggal sekarang – entahlah saat ini dia ada di negara yang mana lagi. Lalu dia akan bercerita tentang pekerjaannya yang membosankan. Lalu diikuti dengan serangkaian pertanyaan rutin tentang kabarku, bagaimana sekolah, apa aku masih punya uang dan sebagainya. Kurasa dia merasa berkewajiban menanyakan itu sebagai seorang ayah.

Aku membatasi membalas emailnya dua-tiga bulan sekali. Mungkin empat. Entahlah. Lagipula email-email itu tak terlalu penting. Dan lagipula, berhubungan dengan ayah selalu membuatku teringat pada mama.

Jadi aku meneruskan membuka halaman facebook. Aku tak tahu nama panjang Matar dan hasil pencarianku berujung pada orang-orang yang bernama Matari atau Mataram; hanya orang-orang dari luar negri yang bernama Matar.

Aku buka akun Erin dan menelusuri satu persatu teman-temannya yang berjumlah 500 lebih. Mungkin Matar memakai nama lain. Tapi aku tak menemukan satu pun yang kucurigai sebagai Matar.

Akun-akun bernama Matar di twitter juga tak mungkin milik Matar yang kucari.

Baiklah, mungkin dia tak punya kehidupan sosial di dunia maya. Menurutku itu sangat depresif.

+++

Esoknya di sekolah aku bertekad untuk mengkonfrontasi Matar. Aku harus menanyakan soal hadiah ulang tahun yang dia berikan padaku. Lalu mungkin aku juga akan memintanya untuk berhenti menguntitku, kalau aku bisa mengumpulkan keberanian.

Aku bertanya pada Erin dan dia memberitahuku bahwa Matar ada di kelas 12-A (oh, tentu saja, kelas untuk semua anak-anak paling pintar di sekolah ini). Begitu bel istirahat berbunyi, aku bergegas ke kelas itu dan mencarinya. Dia sedang menyusun buku-bukunya menjadi satu tumpukan rapih di mejanya. Aku jadi bertanya-tanya apa mungkin dia sedang menunggu sampai waktunya dia akan keluar kelas dan mulai menguntitku. Ah ya, terlalu paranoid, aku tahu.

Aku berjalan pelan ke arahnya, mengira-ngira apa yang akan kukatakan.

“Hei Matar,” kataku begitu sampai di mejanya. Dia melihatku dengan terkejut. Mukanya tegang dan memerah.

“Mm... Mei,” katanya pelan.

“Ya. Ada yang mau kubicarakan,” kataku.

Dia menghela nafas. “Aku tahu. Erin cerita. Kita bicara di luar.”

+++

“Aku bukan stalker,” katanya tegas begitu kami sampai di luar kelas, di bangku panjang yang agak sepi dari anak-anak lain yang berkerumun menikmati jam istirahat.

Di luar hujan mulai turun. Matar menghela nafas lagi. Dia terlihat kesusahan menyusun kata-katanya.

“Aku mungkin... agak sedikit... tertarik sama kamu,” kata Matar. Dia butuh beberapa saat untuk menyelesaikan kalimat itu.

Pipiku langsung panas. Ini bukan pertama kalinya ada laki-laki yang bilang hal seperti ini padaku, tapi entah kenapa kali ini membuatku sedikit berdebar. Mungkin cara Matar mengucapkannya. Mungkin karena seluruh wajah Matar pun memerah.

“Maaf kalau aku malah bikin kamu ketakutan. Jujur saja, siapapun kalau menghabiskan hampir dua tahun memperhatikan kamu, pasti lama-lama akan hapal juga dengan kebiasaan-kebiasaanmu,” kata Matar lagi, kali ini dia mengusap keningnya dan memejamkan mata.

Aku terdiam. Matar juga diam. Untuk beberapa saat tak satupun dari kami yang bicara.

Aku benar-benar tak tahu ada seseorang yang memperhatikanku terus-terusan selama dua tahun ini.

“Hadiah ulang tahun,” kataku tiba-tiba, teringat apa yang ingin kutanyakan, “kenapa kamu kasih hadiah itu? Darimana kamu tahu?”

Matar tak segera menjawabku. Dia sepertinya tak siap dengan pertanyaanku. Dia berfikir lama sampai akhirnya dia mengalihkan pandangannya dariku dan berkata, “tahu tentang apa?”

Dia berpura-pura, aku bisa melihatnya dengan jelas. Dia berpura-pura tak mengerti apa yang kutanyakan. Aku jadi tersinggung.

“Kamu tahu apa yang kumaksud, Matar.” Aku mulai frustasi. Laki-laki ini sulit sekali dibaca. Tapi aku yakin dia tahu sesuatu.

“Lagu itu. Darimana kamu tahu tentang lagu itu? Nggak banyak yang tahu, bahkan aku yakin nggak seorangpun di dunia ini yang tahu kecuali aku dan ... ,” kalimatku terhenti. Aku tak bisa mengucapkannya.

“Maaf, Mei. Aku nggak tahu apa yang kamu maksud. Itu cuma kebetulan saja, aku pikir kamu mungkin akan suka lagu semacam itu,” kata Matar lagi, dia masih tak mau melihatku.

Aku tahu dia berbohong. Aku tak percaya laki-laki ini. Sedetik yang lalu dia bilang menyukai aku, lalu sekarang dia berbohong di mukaku.

“Lalu pita biru muda itu? Dan bungkus kado warna putih?” Aku menyerang lagi. Aku butuh jawaban, meskipun sedikit saja.

Matar masih tak mau melihat ke arahku. Dia diam sebentar lalu membasahi bibirnya. Lalu katanya, “kamu suka? Erin yang pilihkan.”

Itu sebuah kebohongan lainnya. Aku bisa tahu hanya dengan memandang wajah Matar. Tiba-tiba aku jadi sangat marah. Aku merasa kecewa dengan betapa mudahnya Matar mengumbar kebohongan-kebohongan.

Di kepalaku berkelebat ingatan tentang mama.

Sial. Laki-laki ini membuatku sangat kesal.

Aku berdiri. Ketika aku berbicara, suaraku sudah meninggi beberapa oktaf tanpa bisa kutahan.

“Oke kalau kamu nggak mau ngasih aku jawaban yang jujur. Tapi aku tahu kamu tahu sesuatu. Dan aku ga suka dan ga bisa respek sama orang yang begitu mudah berbohong.“

+++

Siang itu aku pulang ke rumah dengan perasaan kesal dan mata yang sedikit berair. Kakek, yang seperti biasa selalu menyambutku di ruang tamu, jadi khawatir melihatku. Dia bertanya apa yang terjadi, dan aku hanya bisa meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja.

Akhirnya kakek menyerah dan tak bertanya lebih jauh. Dia hanya mengusap kepalaku, memperlihatkan senyum dan berkata, “ada sesuatu di kamarmu di atas yang pasti bisa bikin kamu lebih ceria.”

Aku menemukan sebuah bungkusan di atas tempat tidur di kamarku. Begitu melihatnya aku tahu itu adalah hadiah ulang tahun dari ayah. Dikirim lewat paket, seperti tahun lalu.

Dadaku jadi panas. Aku jadi ingat lagi pada Matar dan caranya berbohong tepat di mukaku. Bergegas kuambil kado dari ayah, dan sekuat tenaga kulempar ke dinding kamarku. Barang di dalamnya mengeluarkan suara berderak yang keras. Aku terduduk di samping tempat tidurku, di depanku kado itu teronggok. Sampulnya yang berwarna putih robek di beberapa tempat, dan pita biru mudanya terlepas.

+++

“Mei,” suara itu menyapaku di telepon selularku. Nomornya tak ada di phone book-ku, tapi aku masih ingat suara ini.

“Matar? Mau apa kamu telpon?” kataku tajam. Aku melirik jam dinding kamarku, sudah hampir jam 11 malam.

“Aku harus minta maaf soal yang tadi siang. Dan ada hal mendesak yang harus kuberi tahu,” laki-laki itu berkata tergesa, “Ini tentang ayahmu."

Aku langsung terduduk. Aku sudah tahu dia pasti tahu sesuatu tentang ayah.

“Sebenarnya apa hubungan kamu dengan ayahku?! Kenapa kamu tahu tentang lagu itu?!”

“Nggak ada waktu menjelaskan soal itu, Mei. Dengar, ambil kertas dan pulpen dan catat nomor ini. Ini nomor telepon kamar ayahmu, dia minta kamu meneleponnya. Lakukan sekarang, Mei.” Matar menyebutkan deretan nomor.

“Ayahku akan meneleponku kalau memang dia butuh.”

“Dia memang butuh, Mei. Dia membutuhkan kamu. Tapi dia nggak bisa menelepon kamu, dia takut kamu menolaknya. Mei, dia terlalu sakit,” kata Matar. Kata-katanya menusukku seperti sebuah pisau es.

“... sakit?” Kataku pelan. “Apa maksud kamu?”

“Dia sudah dalam perawatan selama hampir dua tahun di rumah sakit di Jakarta. Dan dia membutuhkan kamu sekarang. Dia ingin dengar suaramu. Telepon dia, Mei.”

“Tapi...,” aku tercekat. Aku hampir tak percaya pada kebenaran dalam kata-kata yang kuucapkan berikutnya: “aku benci ayah.” Airmataku tak bisa kutahan saat itu. Sudah ratusan kali aku mengatakan deretan kata itu pada diriku sendiri, dan bahkan beberapa kali aku mengatakannya langsung pada ayahku.

“Gara-gara dia, mama pergi. Gara-gara dia berkhianat. Sekarang aku bahkan nggak tahu mama ada dimana,” aku terisak keras. Rasanya ingin sekali ada seseorang yang memelukku.

“Aku tahu. Mungkin ini saatnya memaafkan, Mei,” kata Matar. Suaranya lembut. Aku tahu dia benar. Tapi apa aku siap memaafkan ayah?

Aku beringsut ke seberang ruangan. Kado dari ayah masih teronggok di lantai. Kubuka sampulnya dan aku mulai menangis keras sambil memandangi foto ayah memelukku yang masih berusia 12 tahun. Aku memakai gaun dan ayah memakai jas, dia mengajariku caranya berdansa. Di piguranya tertulis: Smile, Mei. You’re the world’s best daughter. Ayah loves you always.

Sekuat tenaga aku berlari ke bawah, ke kamar kakek. Aku akan menelepon ayah. Aku ingin dengar suara ayah. Kakek juga pasti ingin.

+++

Ketika seluruh prosesi pemakaman ayah selesai, aku langsung disibukkan dengan ujian tengah semester dan belum sempat bicara lagi dengan Matar. Baru setelah UTS berakhir aku mencarinya ke kelasnya dan dia, lagi-lagi, sedang menyusun bukunya menjadi satu tumpukan rapih di sudut mejanya.

Kami duduk di bangku panjang yang sama tempat pertama kali kami berbicara, di depan kelasnya. Hari itu hujan turun agak deras.

“Kamu pasti punya banyak pertanyaan,” katanya. Dia tersenyum kecil.

“Aku minta maaf nggak mengatakan yang sebenarnya waktu kamu bertanya pertama kali. Tapi waktu itu aku benar-benar bingung dan nggak siap dengan pertanyaanmu. Lalu aku jadi panik, dan malah berbohong. Padahal aku tahu kamu paling benci dibohongi,” kata Matar.

Lalu dia menjelaskan tentang perkenalannya dengan ayah. Ibunya bekerja sebagai perawat dan dia ditugaskan merawat ayah sejak pertama kali ayah menjalani perawatan sekitar dua tahun lalu.

“Ayahmu cerita banyak hal tentang kamu ke ibu. Lalu suatu hari Ibu menyadari bahwa kamu bersekolah di tempat yang sama denganku dan dia mulai menanyakan soal kamu ke aku. Aku nggak tahu apapun soal kamu waktu itu. Tapi, yaa... lalu, aku jadi tahu, dan...,” suara Matar mengecil. Wajahnya mulai memerah lagi.

Aku tak bisa menahan senyum.

“Bagaimana tepatnya kamu mulai jadi tahu tentang aku?” Tanyaku. Aku ingin sedikit menggodanya.

“Yah. Aku lihat namamu di mading, kamu yang bikin foto-foto untuk mading, kan. Lalu aku jadi tahu kamu di kelas 10-B. Lalu entah kenapa kamu jadi terlihat dimana-mana,” katanya. Dia mengusap keningnya dan memejamkan mata.

“Lalu soal lagu itu?”

“Ah ya. Ayahmu yang menceritakannya padaku. Aku mengunjunginya di rumah sakit beberapa kali. Dia selalu antusias kalau bicara tentang kamu. Dan sepertinya dia juga senang bahwa aku... tertarik sama kamu... dan suatu hari dia menceritakan soal mengajarimu berdansa dengan lagu itu waktu kamu ulang tahun ke-12, dengan baju baru yang dia belikan, warna putih dan pita biru muda.” Matar tersenyum. Dia seperti mengingat kembali saat dia berbicara dengan ayah. Aku mau tak mau jadi sedikit iri padanya.

Aku meraih ke sakuku dan mengeluarkan kotak musik itu, hadiah dari Matar yang selalu mengingatkan aku pada ayah.

“Sekarang aku selalu membawa-bawa ini,” kataku. “Buat kalau aku kangen ayah.”

Aku memandang Matar dan tersenyum. Dia membalas senyumku.

Aku membuka tutup kotak musik itu dan lagu Smile* mengalun.

“Hei,” kataku pada Matar. “Kamu juga.”

“Aku juga apa?” Tanyanya.

“Sekarang ini, terlihat dimana-mana.”

+++

 

*Smile – Charlie Chaplin, 1936

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer elbintang
elbintang at Matar (10 years 42 weeks ago)
80

ahys...senangnya ghe menulis di k.com lagih

tengkiyuh udah datang senior*^_^*

Writer heripurwoko
heripurwoko at Matar (10 years 42 weeks ago)
90

Siti: Sukaaa!
Pongky: Aku juga!!! Cuma aneh aja namanya, Matar.

Writer dian k
dian k at Matar (10 years 42 weeks ago)

Aaaahhh baca karya Ghe lagi *senang*
Thank you for coming ya ^3^

Writer cnt_69
cnt_69 at Matar (10 years 42 weeks ago)
80

Hmm... Asik juga ceritanya. :D

Writer wacau
wacau at Matar (10 years 42 weeks ago)
100

ghe is back !! giliran ngepost puisi kapan neh :p
nice story :D
(salaman)

Writer Villam
Villam at Matar (10 years 42 weeks ago)
80

crappy?
nggak ah, ghe. bagus kok. :-)