Culinary Challenge - Mitos Hantu Pengiris Bawang

Mentari sayup-sayup melambaikan sinarnya. Burung-burung yang tertidur lelap mulai memecah kesunyian pagi. Nyaring bunyinya membahanakan indahnya alam. Sementara itu, para Ibu mulai menyiapkan sarapan untuk untuk keluarganya. Mereka menyiapkannya, penuh dengan cinta. Di mana, setiap kelembutannya dapat menambah kelezatan makanan.

Di suatu rumah, terdapatlah seorang ibu yang sedang memasak. Aroma masakannya mulai menyatu dengan udara. Harum bahan makanan bercampur menjadi satu dalam mangkuk. Dapat membuat setiap mereka yang menghirup aromanya, keroncongan. Dia sudah selesai memasak, kini saatnya untuk dia menyajikan makanan hasil karyanya. Disajikannya di atas meja yang telah tertata rapi dengan bunga di tengahnya. Sehingga, sangat menarik untuk mata memandangnya.

“Dika, bangun sudah pagi nanti kau terlambat ke sekolah!” Teriak ibu itu kepada anaknya yang berada di lantai atas.

Aku terbangun sambil menguap, diiringi dengan gerak refleks untuk mengusap mata yang berair. Daritadi aku dapat mendengar suara Ibuku mengema dari lantai bawah, memanggil-manggil namaku. Aku tidak tega mendengarkan Ibuku berteriak lebih lama, karena aku tahu bagaimana penderitaannya selama ini semenjak kematian Ayah.

 “Ya, bu. Aku akan turun sebentar lagi.” Jawabku atas panggilan Ibuku.

Beberapa saat, kemudian aku turun. Setelah mandi dan menganti pakaian tidurku dengan seragam sekolahku. Pada saat, aku menuruni satu demi satu anak tangga. Aroma-aroma masakan ibuku mulai terhirup, dan aku tahu pasti itu adalah aroma sayuran. Ya, setidaknya di dalam masakan itu ada campuran sayuran. Tapi, aku tidak tahu betul masakan jenis apa yang Ibuku buat. Lalu, aku duduk di kursi yang berada di dekat meja makan itu. Ibuku juga telah duduk tepat di depanku. Kami lalu berdoa bersama.

Aku mulai membuka pembicaraan atas sayur yang tidak pernah ku sukai, “Ibu aku tidak suka sayur. Jadi, bisakah Ibu memasak sesuatu yang tidak terdapat sayur.”

“Sudahlah, jangan banyak mengeluh. Kau sebaiknya mencobanya. Kemudian, baru kau tentukan. Apakah sayur ibu ini enak atau tidak?” Rayu ibuku dengan lembut.

“Tapi, ibukan tahu. Aku sudah tidak suka sayur. Semenjak ayah meninggal karena sayur yang dimakannya, dirancuni seseorang. Ketika pertemuan penting itu.” Terangku pada Ibu sambil menahan air mata.

Ibuku terdiam, tampaknya dia sedih karena diingati akan kejadian itu. Dia sepertinya juga tak mau memperpanjang permasalahan, karena dia tahu kalau aku juga sedih. Aku sekarang, merasa bersalah dan menjadi tidak enak hati. Lalu, kulahap semua makanan penuh dengan semangat. Kecuali sayur asem yang dimasakan ibuku. Aku menyudahi sarapan pagiku, dan berdiri. Aku berpikir, kalau aku harus meminta maaf sebelum aku keluar dari rumah.

“Ibu maaf, atas kejadian tadi.” Kataku sambil menyalami tangan ibu.

Ibu hanya tersenyum dan itu sudah cukup membuatku bahagia. Aku menutup pintu, dan lalu berangkat kesekolah secepatnya. Di pertengahan jalan, tak sengajaku baca judul utama dari sebuah Koran. Judulnya yaitu Mitos Hantu Pengiris Bawang, Kembali Menghantui Desa Masakan.

Seingatku, itu hanya kisah yang di buat untuk menakuti anak-anak yang tidak menyukai sayur. Ibuku pernah menceritakan itu kepadaku. Tapi, aku tidak pernah terpengaruh akan cerita itu. Cerita bohong yang mengatakan bahwa hantu itu akan datang di malam hari, dengan suara seperti mengiris-iris sesuatu. Sementara, aroma-aroma bawang goreng yang gosong akan keluar. Dari kisah itulah, hantu itu mendapatkan namanya sebagai hantu pengiris bawang. Tapi, bagiku mitos tetaplah saja mitos dan tak akan pernah ada.

“Hai, nak. Kenapa kau tersenyum? Pasti kau tersenyum karena membaca berita hantu yang ada di Koran itukan.” Kata penjual koran yang duduk santai di kursi sebelah barang dagagannya itu.

“ Ah, ya.” Kataku sambil tersenyum dan mengusap-usap kepala. Tak percaya karena dia bisa menebak, aku hanya menganggap itu keberuntungan. Karena, pastinya mereka yang datang semua tak percaya akan mitos itu.

“Kau pasti tidak percaya akan semua itu” Katanya penuh dengan percaya diri.

“Ah, ya.” Kataku sambil tersenyum dan tidak mengusap-usap kepala lagi.  Karena kejadian ini telah terjadi sebelumnya.

“Terserah, kau mau percaya atau tidak. Tapi, aku hanya akan mengingati saja. Bahwa kebanyakkan dari mereka yang menjadi korban hantu itu, adalah mereka yang tidak percaya akan kisah itu. Tentunya juga bagi mereka yang tidak menyukai sayur.” Terangnya kepadaku.

“Terima kasih telah meningatkan.” Kataku sambil tersenyum.

Aku lalu pergi dari situ, melanjutkan perjalanan ku kesekolah. Setiap langkahnya aku terus saja memikirkan perkataan penjual Koran itu. Aku kini mejadi ragu kalau cerita hantu pengiris bawang itu nyata atau tidak sama sekali. Aku mengeleng-gelengkan kepalaku untuk menormalkan pikiranku.

                                                                                                ***                                   

Malam ini begitu dingin, tidak seperti biasanya. Maksudku, udaranya menebarkan aroma seram. Burung hantu berkicau sahut-menyahutan. Sementara, Anjing juga mengong-gong sahut-menyahutan. Tapi, yang anehnya lagi. Biasanya di malam ini, tepatnya di saat ini. Kalau sudah malam sekitar jam-jam sepuluh, para penduduk masih berlalu lalang.

Aku mencoba memejamkan mataku. Memaksa tubuh ini untuk tidur di dalam suramnya malam. Aku tertidur cukup lama, ya begirulah kira-kira. Namun, tepat jam dua belas malam. Aku tidak tahu pasti tapi aku menebak ini sudah jam dua belas malam. Suara aneh itu terdengar suara seperti orang yang mengiris-iris bawang. Bau itu juga mulai terasa menusuk hidungku, bau di mana bawang yang digoreng sampai gosong.

 Aku berpikir kalau ini perbuatan hantu itu. Tetapi, aku ingin bersikap tenang. Walaupun sulit, dan apalagi di malam yang sesuram ini. Dimana, burung hantu dan anjing mulai memecah kesunyian malam. Aku bangun dari tempat tidur, lalu berjalan dan membuka pintu kamar. Tiba-tiba saja terdengar suara dari sumber yang sama.

“Satu, dua, tiga. . .” Begitulah suara yang terdengar, tetapi itu lebih mirip suara ibuku.

“Ibu. Ibu.” Teriakku berulang kali.

Tiba-tiba saja semua menjadi sunyi. Suara mengiris bawang mulai menghilang. Namun, bau bawang goreng yang gosong itu semakin menyengat hidungku. Dari aromanya, aku tahu kalau itu berasal dari dapur. Aku berjalan ke dapur. Ketika, aku mebuka pintu dapur. Tiba-tiba saja, lampu menyala menerangi seisi ruang. Aku melihat seorang wanita di sana sedang mengoreng bawang yang kelihatannya sudah sangat gosong. Tapi, tingginya seperti tinggi ibuku.

“Ibu.” Kataku sambil memenggang pundak perempuan itu.

“Ibu. Siapa yang kau bilang ibu?” Kata wanita itu sambil membalik mukanya.

Itu membuatku sangat terkejut. Kepalanya menjadi bawang. Tetapi masih terdapat alat indera yang lengkap.

“Ka. . .Kau. . . Hantu pengiris bawang.” T eriakku sambil berlari, kekamar ibuku.

“Hi.” Sapa hantu itu, ketika aku sampai kekamar ibuku.

“Ka. . . kau. Lagi.” Teriakku dan berlari keluar rumah.

Ketika aku membuka pintu rumah yang menuntut ku tepat ke halaman. Aku di hadang oleh hantu itu. Tiba-tiba, aku sudah di kerumungi oleh hantu pengiris bawang itu. Aku sama sekali tak bias berteriak kali ini. Bahkan, lidahku sudah tak bisa bergerak lagi bagai telah menjadi es.

“Kau, anak yang tidak suka sayur. Harusnya, kau tidak boleh hidup. Kau harus mati. Kau benci sayur itu artinya kau benci aku. Aku ada roh yang lahir dari mereka-mereka yang membenci sayur. Karena itu aku benci mereka dan ingin membunuh mereka. Hari ini adalah saat kematianmu, tiba.” Kata hantu itu dengan suara datar dan langsung melemparkan sebilah pisau tepat di jantungku.

Aku mulai merasakan nafasku berat, mataku mulai berkunang-kunang, dan jantungku mulai berdetak lemah. Sepertinya, inilah saat kematianku tiba. Maafkan, aku ibu. Aku ingin menjagamu, tapi malah menyusahkanmu. Maafkan aku yang telah membenci semua masakanmu yang berhubungan dengan sayuran. Aku. . . . .

***

Aku terbangunkan oleh sinar mentari yang tersipu-sipu senyum kepada dunia. Senyumnya lebih cerah daripada hari kemarin. Aku masih bisa hidup har ini, dan ternyata itu hanyalah mimpi. Kejadian waktu itu, ketika hantu pengiris bawang melemparkan sebilah pisau hanyalah mimpi

“Aduh. . .” Teriakku sambil memegang dada bagian kiriku.

Sakit, jantungku begitu sakit. Ternyata hantu pengiris bawang itu benar adanya. Seperti, yang dikatakan oleh penjual Koran itu. Aku terlalu ceroboh, sehingga menyebabkan aku begini. Aku takut kalau itu terulang lagi. Aku takut kalau aku benci kepada sayur maka aku tidak akan pernah hidup lagi.

 Pintu mulai terbuka, dan ibu membawakan sup ayam buatannya. Aromanya begitu mengoda. Menurutku, ini adalah masakan terbaik ibu untuk. Ibu duduk di depanku. Dia menyuapkan sesendok demi sesendok sup sampai akhirnya habis.

“Ibu lain kali, buatkan aku sayur asem, yang enak. Aku ingin mencobanya sudah lama aku tidak menikmatinya.” Kataku.

Ibu terdiam beberapa saat dan tersenyum, “Baiklah akan ibu buatkan untukmu.”

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Ada typo.
.
.
Poin plusnya adalah cerita ini ada pesan moralnya! Bagus buat pendidikan! Uooogh!
.
T_T <- soalnya saya tipe yg slalu kalah lomba gara2 gak ada pesan moral
.
.
Back to topic.. Sebenarnya ketegangan udah mulai kebangun waktu ngobrol sama tukang koran, tapi pas ketemu hantunya,..
.
.
Gak bisa bayangin nyokap kepalanya berubah jd bawang...
.
Intinya kurang seram, semacam itu. Mungkin kayak saran Mr. Rendi, dibikin agak lebih slow pacenya. Dan seperti kata Mr. Sam_Riilme, karena gak ada tag horor, jadi gak masalah gak seram. Maafkan kekurangajaran daku~

70

komen pertama gw~ ni cerita potensial bagus, banyak yang bisa dikembangkan dari premis dan pesan moral tapi~
.
not that horror. nuansa keputusasaan dari karakter utama tidak terlalu terlihat. kurang serem overall malah. karena nuansa kurang kebangun dalam dramatisasi *coba pelanin lagi motionnya dengan adegan slow. misalnya: menuju lokasi dengan pelan, mengintip dari balik pintu yang separuh terbuka, dan kasih sedikit gelap ato shade di sana-sini. setidaknya usahakan agar kemunculan si hantu grand entrance XD
.
bikin semacam konflik of disbelief dulu, jangan langsung nuding si anu itu hantu! bisa aja bikin gemeteran dan bilang yang mulai ngeracau cntoh: "Ibu. Ibu sedang bercanda kan?" tak ada respon dari makhluk itu. Aku menelan ludah "itu topeng beli dimana?" tanyaku tercekat. kumohon, jawablah... ibu tahu aku tidak kreatif bertanya kan...

.
“Sudahlah, jangan banyak mengeluh. Kau sebaiknya mencobanya. Kemudian, baru kau tentukan. Apakah sayur ibu ini enak atau tidak?” Rayu ibuku dengan lembut.

“Tapi, ibukan tahu. Aku sudah tidak suka sayur. Semenjak ayah meninggal karena sayur yang dimakannya, dirancuni seseorang. Ketika pertemuan penting itu.” Terangku pada Ibu sambil menahan air mata.
*ini momen emosionalnya agak kurang. gw rasa bisa ditambahin pause sedikit dan/atau suara tercekat. ini jadi keknya cuma dialog lempeng bae*

.
mengingati> mengingatkan?
mmm... benerkah maksudnya mengingatkan ato emang ada arti dari mengingati? ^^;

.
"Aku ada roh yang lahir dari mereka-mereka yang membenci sayur. Karena itu aku benci mereka dan ingin membunuh mereka. Hari ini adalah saat kematianmu, tiba.”
^ maksud lu: adalah? ato gw salah tangkep lagi?
.
dan adegan diatas, “...">Kata hantu itu dengan suara datar dan langsung melemparkan sebilah pisau tepat di jantungku. < ini terlalu cepet. again ketegangannya kurang terasa dari dialog, kalo bisa, secara teknis, lu buat lebih intimidatif lagi. jangan langsung dijleb wae. kalo perlu ditusuk dan diucapin dialog lagi sambil pelan-pelan merasakan dinginnya pisau menembus jantung.
.
maaf ya kalo sotoy, thanks for the story~ XD

60

Hantu pengiris bawang ... hehehe judulnya unik.

1. Ada typo dan harus diperhatikan kembali.
untuk kata Ibu - bila panggilan pake huruf kapital.
2. Di suatu rumah (di sebuah rumah keknya lebih tepat)
3. pengambaran hantu pengiris bawangnya masih kurang membuat ketakutan.
4. apa hubungannya pengiris bawang dengan ketidaksukaan anak memakan sayur.maaf.

Tapi saya suka cerita yang terdapat pesan yang bermanfaat di dalamnya.

practices make perfect.

#lanjut baca lagi ah#

60

Well...saia sedikit banyak menangkap pesan di cerita ini.
Sayang (menurut saia) paragraf pembuka itu terlalu bertele2 dan kesannya agak berlebihan. Sebenarnya cerita bisa dimulai langsung dari paragraf kedua.
.
Idem dengan bang Sam dibawah (halo bang sam :-3). Berusahalah untuk konsisten dalam penggunaan POV. Kalau mau mengubah POV, lebih baik scene/event ditutup dulu. Baru pindah sudut pandang.
.
En...euh...rasanya ini tidak horor sama sekali. Maaf.
.
Anyway...keep on writing (o___<)b

100

Ada beberapa typo seperti kata yang harusnya dipisah malah disambung, awalan yang harusnya ga kapital setelah sebuah dialog, dan salah ketik.. Tapi bukan masalah besar sih buat saya..(baca: males nunjuk satu-satu)
.
Yang ga sreg adalah, perpindahan PoV di awal. Paragraf dimulai pake PoV 3, dan tau-tau jadi PoV 1 di paragraf 4. Aneh kalo buat saya.
.
Dan hantunya. Kayak cuma muncul lalu bilang, jadi kurang berasa seremnya (kalau ini maksudnya horor, tapi karena ga ada tag itu, abaikan saja komentar ini). Saya bahkan ga sadar kalau hantunya banyak, dan masih ga ngeh apa yang sebenernya terjadi sebelum bagian akhir.
.
Anyway, thanks fo the story~!