Kisah Cintaku (Re-write)

 

Aku pernah bilang kalau setiap manusia pasti pernah merasakan yang namanya cinta, dan tentu saja aku juga begitu. Anda kaget? Karena aku pernah jatuh cinta? Atau kaget karena ternyata aku manusia? Yang manapun itu, aku maklum kok.

Kalau kuingat-ingat lagi, kayaknya aku mulai tertarik sama lawan jenis itu sejak kelas 3 SD. Mungkin pendapat orang akan berbeda-beda tentang hal ini. Ada yang bakal bilang, “Cepet amat! Masih SD udah cinta-cintaan!” dan ada juga yang bilang, “Kelas 3? Aku waktu TK aja udah malam mingguan!”

Tapi tentu saja waktu kelas 3 SD itu, aku bukan jatuh cinta, tapi cuma rasa suka biasa. Paling enggak aku sudah mulai dewasa lah, bulu ketek aja udah lebat.

Cewek yang pertama kusukai itu namanya Anggraini, atau panggilannya Ai. Dia tuh anak kelas lain, dan satu kalipun aku gak pernah bicara sama dia. Aku cuma suka aja karena dia tuh cantik, agak-agak bule gitu deh. Waktu kami naik kelas, dia udah pindah sekolah. Jadi pengalaman pertamaku suka sama cewek berakhir sangat tragis. Dia bahkan gak tau aku ada.

Saat di kelas 4, aku suka sama teman sekelasku yang namanya Winda. Orangnya cantik dan pintar, dia juga termasuk cewek supel. Aku lumayan akrab sama nih anak, tapi kali ini juga berakhir begitu aja karena aku yang pindah sekolah.

Aku baru suka lagi sama cewek saat masuk SMP. Ada cewek namanya Ghina. Cantik lah orangnya, apalagi dia pake jilbab, tipe kesukaanku banget. Waktu pertama kali lihat, aku langsung suka. Mungkin ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Beda sama kalau aku liat temanku Hirji, aku langsung pengen ngutang, atau namanya ingin ngutang pada pandangan pertama.

Sehabis masa orientasi SMP, tiba-tiba aja Ghina gak masuk sekolah terus-terusan. Aku langsung merana. Kukira saat itu dia pindah sekolah. Aku jadi malas-malasan dalam menjalani hidup. Males mandi, males kerjain PR dan males belajar. Inilah pertama kalinya aku merasakan apa yang namanya “Galau”.

Seminggu setelah menghilang, Ghina menampakkan diri lagi, ternyata dia habis jalan-jalan ke Malaysia. Aku pun bahagia kembali, walaupun tetep males mandi, males kerjain PR dan males belajar.

Dari temanku Togu, aku tahu kalau Ghina tinggal di komplek yang sama denganku. Cuma tahu itu aja aku senang banget. Rumah Ghina itu tepat di depan rumah Togu. Sejak saat itu aku jadi sering main ke rumah Togu dengan harapan agar Ghina bisa ngeliat aku.

Dan kalau main ke sana, aku akan berlagak keren. Misalnya sebelum sadar Ghina tinggal di depan rumah Togu, aku akan ngajak Togu main dengan teriak-teriak gak jelas didepan rumahnya, “TOGU! TOGU! MAIN SEPEDA YUK!” Sejak sadar, cara ngajak main pun menjadi keren, pertama aku akan mengucapkan salam, lalu memanggil dengan suara yang dibuat berwibawa, “Togu, kita bersepeda mengelilingi komplek mau tidak?”

Apakah Ghina jadi melihat aku sebagai orang keren? Ternyata tetep tidak. Ya wajar aja, dia kan di dalam rumah, ngapain juga dia liat-liat tamu yang ada di depan rumah Togu. Tapi aku tidak menyerah. Aku akan mengambil kesempatan apapun agar bisa dekat dia. Kalau dia bingung kerjain PR, aku akan kasih liat PR-ku. Jika dia bingung saat ujian, aku akan kasih contekan. Dan di akhir semester, dia berakhir dengan nilai yang sama jeleknya dengan aku. Bukannya bantu, ternyata aku malah nyusahin.

Pernah suatu hari dia ajakin aku untuk buat PR bareng di rumahnya sehabis pulang sekolah. Tentu saja aku mengiyakan dengan penuh semangat. Saking semangatnya ngangguk-angguk, aku sampai menyundul teman di depanku. Dia lalu dibawa ambulans.

Di rumah, aku jadi bingung mau pakai apa ke rumahnya. Emang dari dulu aku gak ngerti soal mode. Biasanya aku juga gak peduli bagaimana tampilanku di mata orang, entah itu mirip gembel ataupun alien kesasar. Tapi kali ini beda, aku harus keren.

Setelah memakai pakaian yang (kurasa) keren, aku pergi ke rumah dia. Aku sangat gugup saat mau masuk. Akhirnya aku malah diam aja di depan pintu dia. Yang kupikirkan saat itu kalau aku masuk: Ghina akan kaget melihatku, lalu mengusirku. Ya, emang pikiran aneh. Kenapa juga aku diusir, aku kan bukan copet. Lagian dia juga yang mengundangku ke rumahnya. Tapi tetep aja aku gak berani masuk.

Sampai akhirnya ada temanku yang juga diajak bikin PR bareng datang. Kalau ada teman, kegugupanku jadi berkurang. Waktu dia lihat aku, aku pura-pura aja bilang kalau aku juga baru nyampe, padahal udah lama banget berdiri kayak patung di depan pintu.

Aku pun masuk ke dalam. Ternyata rumahnya gede, sampai tingkat tiga. Ternyata dia selain cantik, dia juga anak orang kaya. Kekagumanku pun bertambah (baca : cowok matre). Setelah melihat dia, aku pun baru sadar kalau aku bodoh memikirkan pakaian tadi sebelum kesini, karena dia masih memakai seragam sekolah.

Ghina lalu mengajak kami ke teras depan rumah, disana kami akan mengerjakan tugas. “Bentar ya, aku ambil buku dulu,” katanya. Saat itulah aku baru sadar, AKU GAK BAWA BUKU KESINI. Lah padahal tujuan utama kesini kan mau kerjain PR, ini malah gak bawa buku.

“Lho Kemal, mana bukunya?” tanya dia ketika kembali.

Gak mau dianggap pelupa, aku berkilah, “Nanti aja, aku sih bisa sendiri kerjainnya.”

“Oh, berarti Kemal ngerti dong? Ajarin ya.” Mampus, padahal aku gak ngerti apa-apa.

“Coba sendiri dulu dong. Kalau langsung diajarin kan namanya gak belajar” jawabku ngeles penuh kebijaksanaan.

“Lho, kalau mau kerjain nanti, ngapain kau datang?” cerocos temanku yang lain. Berisik! Diem aja ko!

Malam harinya, aku senyum-senyum sendiri waktu ingat-ingat kejadian itu. Rasanya aku jadi lebih dekat sama dia. Walaupun pada akhirnya, Ghina gak pernah menganggap aku lebih dari teman.

Ketika naik kelas dua, ternyata Ghina menghilang lagi! Kali ini dia benar-benar pindah sekolah, ke Banjarmasin. Anehnya aku gak ngerasa sedih banget kayak waktu dia  ke Malaysia. Aku sadar kalau aku udah gak suka lagi sama dia, dan berarti yang kurasakan setahun ini bukanlah cinta. Mungkin semacam cinta monyet. Dia cintanya, aku monyetnya.

Lalu setelah itu, aku lama banget gak punya perasaan kayak gitu lagi. Sampai akhirnya di SMA, aku ketemu seseorang yang bernama Iis. Dialah cinta pertamaku.

Aku pertama kali kenal dia saat aku satu kelas sama dia di kelas 2. Waktu kelas 1, aku dan dia beda kelas, makanya aku gak berapa kenal walaupun tahu dia sama-sama aksel.

Ketika pertama ketemu Iis, kesan pertamaku adalah : ini cewek pendek banget ya. Kebetulan saat itu tempat duduk kami berdekatan, dan karena Iis ini orangnya gampang berteman dengan siapa aja, kami pun langsung akrab.

Saat itu aku belum ada perasaan apa-apa sama dia. Malah, kami sering berantem. Aku sering banget ngusilin dia yang berakhir dengan dia nangis. Dia emang cengeng saat SMA dulu.

Aku juga yang menjodohkan dia dengan Asri, temanku yang dari dulu udah suka sama Iis, hingga mereka pacaran.

Aku mulai merasakan ada perasaan suka sama Iis malah ketika kami sudah mau lulus SMA. Aku ngerasa gak enak banget cuma karena mikirin aku sama Iis gak bakal ketemu lagi. Saat itu, Iis masih pacaran sama Asri, sehingga gak mungkin aku nyatain perasaanku sama dia. Mau menantang Asri untuk merebut hati Iis? Ini juga gak bakal guna karena Asri menang segala aspek dariku. Dia itu murid terpintar di aksel, dan walaupun mukanya gak ganteng-ganteng amat, tapi dia juga gak jelek. Bandingkan dengan aku yang selalu memasang target masuk 10 besar dari 14 orang di kelas, dan punya muka jelek. Ini fakta yang menyedihkan.

Akhirnya aku hanya memendam perasaanku dan berharap rasa suka ini akan hilang begitu aja. Setelah lulus, aku pergi ke Bandung buat ikut tes-tes masuk perguruan tinggi disana. Disana, Iis masih sering kasih kabar-kabar ke aku, sekedar untuk menjaga pertemanan. Aku pun mulai melupakan rasa suka ini.

Tapi keadaan berubah saat Iis putus sama Asri. Aku sangat bingung dengan perasaanku saat itu. Aku sedih karena mereka putus, tapi disaat bersamaan aku juga senang karena Iis jomblo lagi. Ya, hina aja aku sesuka kalian.

Aku lalu bertemu lagi dengan dia. Saat itu aku udah diterima di Unpar, dan karena belum mulai kuliah, aku pulang lagi ke Medan. Iis mengajak kumpul lagi bareng teman-teman aksel lain sekalian jalan-jalan. Aku senang banget waktu ketemu dia lagi, walaupun aku masih gak berani buat nyatain perasaanku.

Kami jalan-jalan ke Mall, bukan buat belanja, tapi hanya buat menghabiskan waktu dengan keliling-keliling gak jelas sambil ngobrol-ngobrol. Pulangnya, kebetulan aku dan Iis naik angkot yang sama.

“Aku disini aja ya Mud,” katanya lalu turun dari Angkot. Mud adalah panggilanku yang berasal dari namaku, Kemal Mahmud. Itulah terakhir aku ngeliat dia. Tidak, dia tidak mati. Maksudku aku gak pernah ketemu lagi sama dia karena setelah itu dia diterima kuliah di Unand Padang, dan karena rumah aslinya emang di Padang, dia gak pernah lagi balik ke Medan.

Aku pun lalu kembali ke Bandung. Selama awal-awal kuliah ini, aku sering iseng-iseng sms dia. Tujuannya cuma supaya dia gak lupa aku.

Setelah lama cuma sms-smsan, aku pun mulai memberanikan diri buat ngasih tahu kalau aku suka sama dia. Tentu aja gak langsung blak-blakan kayak di film-film remaja gak jelas itu. Ceweknya lagi enak-enak makan batagor, eh tahu-tahu si cowok main nembak aja.

“Ratih, aku suka kamu. Mau ya jadi pacar aku?”

“Mmhh mmhhh” jawab cewek itu dengan mulut penuh batagor.

Tidak seperti itu. Aku bersandiwara dengan pura-pura curhat ke dia kalau aku lagi suka sama cewek (ya iyalah, masa sama cowok). Iis ternyata mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Emangnya siapa ceweknya Mud?” ketik dia tiba-tiba.

Ini dia saatnya! Aku akan nembak Iis! Tapi lalu aku jadi khawatir sendiri, gimana kalau ditolak ya. Aku jadi bingung mau jawab sms-nya pake kata-kata apa. Akhirnya aku ketik gini, “Kalau misalnya aku suka ko, ko mau gak jadi pacar aku?”

Aku sent, habis itu panik sendiri. Apa yang barusan kukirim itu terlalu terus terang ya? Jangan-jangan dia malah nganggap aku aneh. Dia balas sms-ku, tapi aku jadi takut buat liat jawabannya. Aku pun pelan-pelan mengumpulkan keberanian untuk melihat isi sms-nya.

“Ini bercanda atau serius?”

Langsung aja kujawab, “Tergantung jawabannya.” Gile, keren abis kan aku. Kayaknya kebanyakan nonton film abg labil deh. Sms dia pun datang lagi. Kali ini langsung kubuka karena aku gak mau terlalu lama tegang. Dan jawabannya adalah :

“Kalau ini bercanda, aku gak mau, karena menurutku pacaran itu gak bisa main-main. Tapi kalau serius, aku juga gak mau, karena aku nganggap ko itu cuma teman.”

Jeger! Aku ditolak! Bahkan langsung ditolak dua kali, dalam konteks bercanda dan serius. Kubalas dengan sok ceria, “Haha, emang gitu ya” Padahal aku udah nangis-nangis di bawah hujan. “Kenapa Tuhaann?? Kenapa??” Untung gak dijawab sama Tuhan, “Karena kamu jelek, bego!”

Setelah kejadian menggetarkan jiwa itu, aku jadi malu-malu buat sms dia. Untunglah Iis ini orangnya gak perasa banget, jadi dia bersikap biasa aja sama aku. Kami pun akrab lagi.

Kejadian penolakan itu tadinya gak kuceritain sama siapapun, sampai akhirnya aku merasa harus curhat ke teman. Dan akhirnya aku curhat ke Tommy, temanku yang sama-sama kuliah di Bandung. Entah kenapa, aku malah curhat saat kami lagi berada di supermarket buat beli cemilan.

“Tom, sebenarnya, aku suka sama Iis” kataku.

Tommy mematung. “Ko suka sama Iis??” Nada bicaranya penuh ketidakpercayaan, seperti ngomong “Ko habis makan duren sama kulit-kulitnya? Mustahil!”

Lalu Tommy pun mendengarkan curhatku termasuk saat aku ditolak melalui sms itu. “Aku gak tau ko akhirnya bisa juga suka sama cewek. Emang kayaknya mustahil diterima, tapi pasti kudukung.”

Menerima dukungan kayak gitu (walaupun sedikit terhina), aku pun bersemangat kembali. Aku kini udah gak malu lagi buat bilang suka sama Iis, gak peduli walau dia gak suka aku dan nganggap aku cuma teman. Selama pedekate itu, aku menjadi laki-laki galau. Suka dengar lagu cinta, nonton sinetron remaja, update status-status gak iya banget kayak “Aku akan suka ko sampai kapanpun” atau “Gimana sih cara lupain dia?” dan lain-lain. Galau banget gak tuh?

Kenapa aku bisa sesuka itu sama Iis? Bisa dibilang Iis itu idola para cowok. Pintar, manis, terus baik banget. Bandingin sama aku, jelek, nilai selalu hancur dan beringas kalau nafsu copetnya kambuh. Jadi sangat wajar kan jika aku suka dia. Tapi alasan sebenarnya sampai suka banget adalah karena sifatnya yang cocok sama aku. Dia rajin aku malas, dia pintar aku kurang pintar, dia manis aku hancur, dia suka banget bicara aku lebih suka mendengarkan, dan aku sama dia sama-sama suka bercanda. Lihat? Kami saling melengkapi. Seperti garam yang melengkapi sayur atau setan melengkapi neraka.

Aku tahu dapetin hati Iis itu susah, apalagi aku pedekate dengan dia dari jarak jauh gini. Tapi tetap aja aku gunakan semua cara agar cintaku berbalas. Termasuk dengerin dia curhat tentang cowok yang lagi dia suka. Ini berat banget lho.

Aku juga pernah nulis cerita dimana endingnya aku dan Iis hidup bahagia selama-lamanya. Emang rasanya gak penting, tapi aku suka aja bikinnya. Untungnya, Iis gak pernah marah dengan sikapku yang terkesan maksa itu.

Pada suatu hari, saat aku habis pulang dari acara kampus, tiba-tiba aku terima sms dari Iis. Kubuka lalu kubaca :

“Kenapa ya Mud? Akhir-akhir ini aku jadi selalu mikirin ko.”

Jantungku berhenti. Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik. Akhirnya aku dilarikan ke UGD terdekat.

Enggak sampai gitu kok. Yang jelas, saat itu aku bener-bener kayak melayang ke langit. Kubalas sms-nya, “Mungkin karena ko udah suka sama aku, hehe.”

Dia jawab, “Uh, awas aja kalau sampai gitu.”

Sejak saat itu, kami selalu sms-an setiap hari. Kini ditambah telponan juga. Pertama kali nelpon, gugupnya luar biasa. Aku udah mikir-mikir apa yang akan kubicarain nanti sebelum nelpon, tapi ketika dengar suara dia, semua langsung lupa lagi. Jadinya aku jadi banyak diam. Untunglah dia cerewet.

Tiap hari tak pernah kulewati tanpa sms-an sama dia. Lalu entah sejak kapan, aku tahu kalau dia udah  membalas perasaanku sekarang walaupun dia gak pernah bener-bener ucapin.

Hari pun terus berganti. Hubungan kami tetap begitu-begitu aja, gak pacaran, tapi terlalu mesra buat jadi teman. Aku sebenarnya udah nyaman sama kondisi kayak gini. Jadi ku-sms dia, “Kita kayaknya gak perlu pacaran ya, gini aja udah enak.”

Diluar dugaan, dia ngambek. Saat itu aku gak ngerti apa yang salah. Seharian itu dia gak mau balas sms aku. Karena saat itu sedang bulan puasa, waktu aku lagi buka bareng sama temenku, aku sms dia, “Met buka ya. Jangan ngambek lama-lama.”

Eh ternyata kali ini dibalas, “Ya Mud, met buka.”

Aku pun langsung nanyain kenapa dia ngambek, dia bilang gini, “Habisnya ko bilang gak mau pacaran. Aku gak mau hubungan kita gak jelas gini. Mending aku cari pacar ajalah disini.”

Aku pun buru-buru balas, “Ya udah, kalau gitu nanti malam kutelpon ya. Aku mau nembak ko.” Baru kali ini ada cowok mau nembak cewek pakai diumumin dulu. Dia cuma jawab, “Iya.”

Malamnya, aku pun nelpon dia. Walau kemungkinan besar akan diterima, aku gugup juga waktu mau nembak, takut-takut kalau dia berubah pikiran di saat terakhir. Iis yang tahu aku gugup pun lalu ngajak aku ngobrol biasa dulu untuk beberapa lama.

“Mud, aku udah ngantuk nih,” kata dia. Ini adalah tanda agar aku nembak dia sekarang.

“Gini Is,” aku memulai, “Kita kan udah lama deket kayak gini. Menurutmu gimana kalau kita naikin dikit status kita.” Aku sempat diam bentar karena tegang, “Aku suka ko, mau gak ko jadi pacarku?”

Hening. Aku makin tegang.

“Kau yakin sama aku Mud?” kata dia akhirnya.

“Yakin. Aku udah yakin sejak setahun yang lalu.”

“Tapi mungkin kita belum bisa ketemu lho dalam waktu yang lama.”

“Gak papa kok.”

Hening lagi. “Kalau gitu aku mau.”

“Hah?”

“Aku mau jadi pacarmu Mud.”

“Kalau gitu, kita sekarang pacaran?”

“Ya.”

Saat itu jam 12.44 pagi tanggal 15 Agustus 2010. Malam tidak pernah seindah itu.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer augina putri
augina putri at Kisah Cintaku (Re-write) (9 years 21 weeks ago)
80

ceritanya bagus banget. :) . Saya suka. :)

Writer littleuniquefroggy
littleuniquefroggy at Kisah Cintaku (Re-write) (9 years 28 weeks ago)
100

Ahaha, dari dulu gak pernah kau berubah mal, gaya ceritamu lucu banget dari dulu :) 5 star for u!

Writer Shinichi
Shinichi at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 1 week ago)
100

ahak hak hak
sial sial sial!
saia kliwatan berapa abad niy baca cerita lucu begini.
ahak hak hak

oh, tidak. dia tidak mati.

paling demen yg itu. selebihnya demen jugak. ahak hak hak. keren ih. ahak hak hak. mantabs, om
hihihi
ajarin dong
:D

Writer kemalbarca
kemalbarca at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 1 week ago)

asiiikk kak shinichi juga suka :D

Writer sungaimeriam
sungaimeriam at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 3 weeks ago)
2550

hahahahaha lucu lucu lucu XD XD XD

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 6 weeks ago)
80

cinta itu rumit sekaligus sederhana ya?
hehehehehe ^^

Writer kemalbarca
kemalbarca at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 6 weeks ago)

sepertinya situ master cinta ya? hehe

Writer Fuyuko Fukumitsu
Fuyuko Fukumitsu at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 6 weeks ago)
100

aaah romantiss + full komedi, jadinya SUKAA !! *bentak kemal* :D
cm td ada bbrp typo ya, perhatiin lg Bang :)

Writer kemalbarca
kemalbarca at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 6 weeks ago)

asiik asiik ada yang suka :D

Writer iwan66blogger
iwan66blogger at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 6 weeks ago)
100

apa itu ko?

Writer kemalbarca
kemalbarca at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 6 weeks ago)

liat bawah aja ya

Writer Gitta-chan
Gitta-chan at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 6 weeks ago)
80

ko itu apa?

Writer kemalbarca
kemalbarca at Kisah Cintaku (Re-write) (10 years 6 weeks ago)

ko itu kau atau kamu
kayaknya kecampur sama cara ngomongku sehari-hari