Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 20)

 

Joanna tak pernah menyangka kalau hari ini akan menjadi hari terburuk yang pernah ia alami.

Dimulai dari air shower yang tiba-tiba mati ketika ia tengah mandi pagi,  telepon genggam yang bersembunyi entah di mana sehingga membuat ia menghabiskan setengah jam untuk mencarinya, pengendara mobil  belingsatan yang tidak tahu aturan... semuanya entah kenapa bertumpuk dalam satu hari ini. Padahal, ini masih pagi—bahkan belum ada pukul sembilan! Kalau ada satu kejadian buruk lagi yang menimpanya, Joanna bersumpah kalau ia akan menghentikan kebiasaan buruknya untuk mengudap sebelum tidur.

Dan sepertinya, ia harus memperhitungkan untuk benar-benar melakukan hal tersebut. Itu karena saat ia (akhirnya) tiba di TK Sunflower, ia memperoleh kabar bahwa Teacher Tristan berhalangan mengajar hari ini. Sebelumnya, itu bukanlah sebuah masalah besar—Tristan juga pernah tidak hadir beberapa hari lalu—tapi yang membuat Joanna kaget adalah Nathan langsung mengambek habis-habisan! Mungkin karena Tristan sudah  berjanji akan mebawa gantungan kunci yang ia terima dari Nathan di kelas hari ini, jadi saat Nathan mendapati bahwa Tristan tidak datang, amarah bocah itu langsung terpantik.

“Pokoknya Nathan nggak mau sekolah kalau yang ngajar bukan Teacher Tristan!” seru Nathan lantang di depan ibunya. “Pokoknya nggak mau!” ia menjerit, lagi.

“Ta...tapi, Sayang, ki...kita kan udah sampe sini,” ucap Joanna pasrah. Setelah semua yang terjadi pagi ini, pikirannya sudah terlalu semrawut untuk  berurusan dengan Nathan. Ia lantas kembali berusaha membujuk putra semata wayangnya itu, tapi sepertinya hal itu sia-sia belaka. Menyadari bahwa usahanya tidak bedampak, Joanna pun mengerling ke arah guru pengganti Tristan—seorang perempuan yang pernah ia temui berjalan bersama lelaki itu menuju toko aksesorisnya beberapa hari silam. “Te... Teacher Cherry.... Maaf, Nathan memang deket banget sama Teacher Tristan, jadi....”

“Nggak pa-pa, saya ngerti, kok,” sela Cherry. Tristan., ya.... Setelah apa yang terjadi kemarin, Cherry sebenarnya masih belum begitu fit untuk kembali ke kantor. Namun, kelas Tristan harus tetap berjalan, dan—sebagai bukti cintanya terhadap Tristania menawarkan diri untuk menggabungkan kelasnya dengan kelas guru muda itu. Cherry lantas berjalan menuju Nathan yang masih cemberut, lalu dengan setengah berjongkok, berkata, “Nathan, tadi kata Teacher Tristan, Teacher jadi sedih lo kalau Nathan nggak masuk, jadi....” Cherry mengembangkan senyum. “Nathan masuk ya? Biar Teacher Tristan nggak sedih. Habis ini kita ketemu Teacher Tristan, deh,” tambahnya, meski selaksa keraguan menyelinap di hatinya. Tegakah ia menunjukkan sosok Tristan yang terbaring di rumah sakit kepada si kecil ini?

Mendengar  tawaran dari Cherry, Nathan pun langsung menoleh. “Tapi janji ya, Teacher, habis ini kita beneran ketemu Teacher Tristan.”

“Iya, Teacher janji,” balas Cherry lirih. Kemudian, ia lantas meraih tangan Nathan, dan tak lama berselang, mereka sudah berjalan bersama ke dalam ruang kelas.

Sementara itu, Joanna hanya dapat terdiam mendengar perkataan Cherry tadi. Matanya kini memandangi baik Cherry maupun Nathan yang tengah bersiap untuk berdoa bersama—kegiatan rutin TK Sunflower di pagi hari. Memang sebenarnya Teacher Tristan kenapa ya? Kok nggak bisa.... Ah, HP-ku geter. Tangan Joanna dengan sigap lantas mengambil ponselnya yang berada di dalam tas tangan, dan hanya dalam hitungan detik, matanya sudah membelalak.

Tristan?

 

***

 

Masih sambil terkesiap, Joanna menatapi layar HP yang menampilkan sebaris nama yang sudah ia kenal dekat—sangat dekat. Sebuah keheranan yang nyata bergejolak di kepalanya. Ada apa ya? Kenapa Teacher Tristan justru telepon aku? Tapi ah, sudahlah. Kemudian, dengan diiringi oleh sebuah helaan nafas, Joanna pun mengangkat panggilan masuk tersebut. “Halo, Teacher, ada apa?”

“Ini...aku. Maaf kalau aku bukan Tristan.”

Suara itu... Untuk kedua kalinya, Joanna kembali terkesiap. Itu karena alih-alih suara Tristan yang menyahut, ia justru mendengar suara kakak angkat lelaki itu.

Benar. Adam.

 “A...Adam?” Joanna mencetus, dengan sebuah kebingungan antara harus kesal atau khawatir membayangi pertanyaannya. Di satu sisi, suara Adam adalah suara terakhir yang ingin ia dengar hari ini (atau selamaya), sementara di sisi lain, kenyataan bahwa Adam meneleponnya dengan ponsel Tristan menjadi pertanda akan sesuat—seperti Tristan tidak mampu meneleponnya, misalnya? Pada akhirnya, karena tidak tahu bagamana ia harus bersikap, Joanna memutuskan untuk mengklarifikasi keadaan. “Ke...kenapa kamu telpon dengan nomor Tristan?”

“Joanna, aku... Eh, ada kabar buruk,” balas Adam, terbata. “Tristan... dia kecelakaan. Aku udah berusaha telepon kamu dari tadi, tapi kamu nggak ngangkat,” tambahnya. “Akue eh... HP-ku ketinggalan, jadi....”

Dan hari ini secara resmi telah menjadi hari terburuk sepanjang sejarah hidup Joanna.

Perlahan, Joanna membasahi kerongkongannya (yang entah kenapa tiba-tiba saja menjadi kerontang). Tristan...kecelakaan? Tapi kenapa Teacher Cherry nggak... Ah iya. Ada Nathan, ya....tapi tunggu dulu. Apa yang diucapin Adam itu beneran? “Dam, kalau kamu mau bercanda, itu nggak lucu, tahu,” kata Joanna ketus. “Maksudku, dia adik angkatmu, kan, terus...”

“Aku...aku nggak bercanda,” sela Adam. “Kalau nggak percaya, kamu bisa dateng ke rumah sakit ini—aku akan SMS tempatnya,” ia melanjutkan.

“Baik, lakukan kalau begitu,” sahut Joanna. Ia pun lantas memutus sambungan telepon, dan—benar saja—tak sampai lima menit kemudian, sebuah pesan pendek sudah masuk di kotak masuk HP-nya. Dibukanya pesan itu, dan perempuan itu langsung mendapati sederet alamat sebuah rumah sakit, lengkap dengan nama paviliun dan nomor kamar.

Dalam sekejap, kekhawatiran pun mulai merambati diri Joanna. Kelihatannya, apa yang Adam utarakan benar; Tristan benar-benar mengalami kecelakaan.

 

***

 

Sementara itu, di sebuah kamar rumah sakit, seorang pria berbaju biru tua tampak baru saja menurunkan sebuah ponsel. Matanya tidak henti memandangi sosok penuh perban yang tengah terbaring di hadapannya. “Hei, Bro,” ucap Adam perlahan. Meski begitu, sosok yang ia ajak bicara hanya menjawab dengan diam. Adam kemudian menaruh HP adiknya di sebuah meja kecil yang berada di samping ranjang, dan setelah itu berkata, “Sori aku pakai teleponmu, tapi itu satu-satunya cara agar aku bisa mengontak Joanna.”

Tentu saja, Tristan tidak menyahut. Kesadarannya tengah mengawang entah ke mana kini.

“Oh ya, Bro,  nggak kerasa ya, tahu-tahu kita udah sebesar ini,” Adam melanjutkan. “Kita ketemu banyak orang, dan kita ngalamin banyak hal. Tapi, kita menjalani kehidupan kita masing-masing,” tambah lelaki itu. “Kamu jadi guru TK yang sukses, sementara aku? Pecundang besar—sebegitu besarnya sampai aku kabur dari perbuatanku.”

Kembali, Adam berbicara kepada dirinya sendiri.

“Ya, aku tahu kalau aku masih punya tanggung jawab di sini. Setan itu—kamu nggak perlu tahu siapa—berhasil ngebuat aku bertahan supaya aku nggak begitu saja menelantarkan putra kandungku,” Adam kembali melanjutkan. “Tapi, rasanya nggak adil kalau aku turut campur dengan kehidupanmu, jadi....” Adam bangkit dari kursi yang ia duduki sedari tadi. Ia lantas berjalan ke arah Tristan, menepuk bahunya perlahan, dan setelah itu berkata, “Kubuat Joanna menjengukmu. Berterimakasihlah padaku, Bro.

Seperti yang sudah diduga, Tristan tidak menjawab. Seberkas senyuman sedih pun lantas terpatri di wajah Adam. Kemudian, ia kembali menepuk bahu adik angkatnya itu perlahan, sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan ruangan tempat ia dirawat....

 

***

 

Read previous post:  
102
points
(908 words) posted by bl09on 9 years 33 weeks ago
78.4615
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | bl09on storie's | CERFET | kolaborasi | Romantis
Read next post:  

Misi ya om...
Tp kaya na mesti bc bag 1 biar jlas dlo, hho :3

dadun at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 20) (9 years 31 weeks ago)
80

baru sempet baca :D

Writer majnun
majnun at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 20) (9 years 32 weeks ago)
90

hmm..
sepertinya, "alih-alih" jadi kata favoritnya om herjuno..

90

poin

Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 20) (9 years 32 weeks ago)
90

Kayaknya suasana hati Adam dari bagian 18, 19, 20 turun-naik-turun-naik. Hmm2 nunggu perkembangan dan giliran. :D

Writer cat
cat at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 20) (9 years 33 weeks ago)
90

Lanjut ke sapa lagi inih???

Tristan blom siuman jugaaaa??

AaaaaaaaaA.

giliran saya mak! tapi ntar yaaa blom sempet ke warnet.. :D

90

“Tapi janji ya, Teacher, habis ini kita beneran ketemu Teacher Nathan.” ==> ini beneran Teacher Nathan apa Tristan niiiih? Salah? Apa memang 'kecelitut' :D

AAAAAAAAAH. Tapi aku nggak mau kalo Adam menyerah!!! T^T

Writer herjuno
herjuno at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 20) (9 years 33 weeks ago)

Damn! Lagi2 kepeleset! >.<

90

Adam g nurutin Thalita euy. kayaknya udah pasrah Joannanya sama Tristan.
.
geter --> getar
selamaya --> selamanya

100

Junoooooooooooooooooooooooo
ini kenapa Adam terlihat seperti mw menyerah utk mempertahankan Joanna? hiks hiks

Writer herjuno
herjuno at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 20) (9 years 33 weeks ago)

Ayo, ayo... apakah Adam akan menyerah? Atau itu hanya kedoknya saja, karena ia merencanakan sesuatu yang lebih besar?
.
Nantikan di episode selanjutnya!

100

Mungkin karena Tristan sudah  berjanji akan memakai gelang yang ia terima dari Nathan di kelas hari ini --> yng dikasih nthan k tristan itu gntungan kunci, bukan gelang. Gelang itu yg dikasih k cherry.
*
“Aku tahu kalau aku telepon pakai nomorku, kamu nggak akan angkat, jadi.... --> kupikir adam psti udah gnti nomer n joanna ga tau ya
*
Selebihnya nice development